وَسِرُّ الۡمَسۡأَلَةِ أَنَّهُ إِذَا قَالَ: أَنَا لَا أُشۡرِكُ بِاللهِ، فَقُلۡ لَهُ: وَمَا الشِّرۡكُ بِاللهِ فَسِّرۡهُ لِي؟ فَإِنۡ قَالَ: هُوَ عِبَادَةُ الۡأَصۡنَامِ، فَقُلۡ: وَمَا مَعۡنَى عِبَادَةِ الۡأَصۡنَامِ؟ فَسِّرۡهَا لِي. فَإِنۡ قَالَ: أَنَا لَا أَعۡبُدُ إِلَّا اللهَ وَحۡدَهُ، فَقُلۡ: مَا مَعۡنَى عِبَادَةِ اللهِ وَحۡدَهُ فَسِّرۡهَا لِي؟ فَإِنۡ فَسَّرَهَا بِمَا بَيَّنَهُ الۡقُرۡآنُ فَهُوَ الۡمَطۡلُوبُ، وَإِنۡ لَمۡ يَعۡرِفۡهُ فَكَيۡفَ يَدَّعِي شَيۡئًا وَهُوَ لَا يَعۡرِفُهُ؟ وَإِنۡ فَسَّرَ ذٰلِكَ بِغَيۡرِ مَعۡنَاهُ، بَيَّنۡتَ لَهُ الآيَاتِ الۡوَاضِحَاتِ فِي مَعۡنَى الشِّرۡكِ بِاللهِ وَعِبَادَةِ الۡأَوۡثَانِ، أَنَّهُ الَّذِي يَفۡعَلُونَهُ فِي هٰذَا الزَّمَانِ بِعَيۡنِهِ، وَأَنَّ عِبَادَةَ اللهِ وَحۡدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ هِيَ الَّتِي يُنۡكِرُونَ عَلَيۡنَا وَيَصِيحُونَ فِيهِ كَمَا صَاحَ إِخۡوَانُهُمۡ حَيۡثُ قَالُوا: ﴿أَجَعَلَ الآلِهَةَ إِلٰهًا وَاحِدًا إِنَّ هٰذَا لَشَيۡءٌ عُجَابٌ﴾ [سورة ص، الآية: ٥].
Inti dari masalah ini adalah apabila dia berkata: “Aku tidak menyekutukan Allah,” maka katakanlah kepadanya: “Lalu apakah syirik kepada Allah itu? Jelaskanlah kepadaku!”
Jika dia menjawab: “Syirik adalah menyembah berhala,” maka katakanlah: “Apa makna menyembah berhala? Jelaskanlah kepadaku!”
Jika dia berkata: “Aku tidak menyembah kecuali hanya kepada Allah semata,” maka katakanlah: “Apa makna menyembah Allah semata? Jelaskanlah kepadaku!”
Apabila dia menjelaskannya sesuai dengan apa yang diterangkan oleh Al-Qur’an, maka itulah yang diinginkan. Namun, jika dia tidak mengetahuinya, bagaimana mungkin dia mengeklaim sesuatu padahal dia tidak mengetahuinya? Dan jika dia menjelaskan hal tersebut bukan dengan makna yang sebenarnya, maka jelaskanlah kepadanya ayat-ayat yang nyata tentang makna syirik kepada Allah dan penyembahan berhala; bahwa hal itulah yang persis mereka lakukan pada zaman ini, dan bahwa menyembah Allah semata tanpa sekutu bagi-Nya adalah perkara yang mereka ingkari terhadap kita dan mereka teriakkan (keheranannya) sebagaimana saudara-saudara mereka dahulu berteriak seraya berkata: “Mengapa dia menjadikan tuhan-tuhan itu Tuhan Yang Satu saja? Sesungguhnya ini benar-benar suatu hal yang sangat mengherankan.” (QS Sad: 5).
فَإِنۡ قَالَ: إِنَّهُمۡ لَا يكۡفُرُونَ بِدُعَاءِ الۡمَلَائِكَةِ وَالۡأَنۡبِيَاءِ وَإِنَّمَا يَكۡفُرُونَ لَمَّا قَالُوا: الۡمَلَائِكَةُ بَنَاتُ اللهِ؛ فَإِنَّا لَمۡ نَقُلۡ عَبۡدُ الۡقَادِرِ ابۡنُ اللهِ وَلَا غَيۡرُهُ. فَالۡجَوَابُ: إِنَّ نِسۡبَةَ الۡوَلَدِ إِلَى اللهِ كُفۡرٌ مُسۡتَقِلٌّ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿قُلۡ هُوَ ٱللَّهُ أَحَدٌ ٱللَّهُ ٱلصَّمَدُ ﴾ [سورة الإخلاص، الآيتان: ١، ٢]، وَالۡأَحَدُ الَّذِي لَا نَظِيرَ لَهُ، وَالصَّمَدُ الۡمَقۡصُودُ فِي الۡحَوَائِجِ. فَمَنۡ جَحَدَ هٰذَا فَقَدۡ كَفَرَ وَلَوۡ لَمۡ يَجۡحَدۡ السُّورَةَ. وَقَالَ تَعَالَى: ﴿مَا ٱتَّخَذَ ٱللَّهُ مِن وَلَدٍ وَمَا كَانَ مَعَهُۥ مِنۡ إِلَـهٍ ﴾ [سورة المؤمنون، الآية: ٩١]، فَفَرَّقَ بَيۡنَ النَّوۡعَيۡنِ وَجَعَلَ كُلاًّ مِنۡهُمَا كُفۡرًا مُسۡتَقِلاًّ. وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَجَعَلُوا۟ لِلَّهِ شُرَكَآءَ ٱلۡجِنَّ وَخَلَقَهُمۡ وَخَرَقُوا۟ لَهُۥ بَنِينَ وَبَنَـتٍۭ بِغَيۡرِ عِلۡمٍ ﴾ [سورة الۡأنعام: ١٠٠]، فَفَرَّقَ بَيۡنَ كُفۡرَيۡنِ. وَالدَّلِيلُ عَلَى هٰذَا أَيۡضًا أَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِدُعَاءِ اللَّاتِّ مَعَ كَوۡنِهِ رَجُلًا صَالِحًا، لَمۡ يَجۡعَلُوهُ ابۡنَ اللهِ، وَالَّذِينَ كَفَرُوا بِعِبَادَةِ الۡجِنِّ لَمۡ يَجۡعَلُوهُمۡ كَذٰلِكَ، وَكَذٰلِكَ أَيۡضًا الۡعُلَمَاءُ فِي جَمِيعِ الۡمَذَاهِبِ الۡأَرۡبَعَةِ يَذۡكُرُونَ فِي بَابِ حُكۡمِ الۡمُرۡتَدِّ أَنَّ الۡمُسۡلِمَ إِذَا زَعَمَ أَنَّ للهِ وَلَدًا فَهُوَ مُرۡتَدٌّ، وَيُفَرِّقُونَ بَيۡنَ النَّوۡعَيۡنِ، وَهٰذَا فِي غَايَةِ الوُضُوحِ.
Jika dia berkata: “Sesungguhnya mereka tidak menjadi kafir karena berdoa kepada malaikat dan para nabi, melainkan mereka menjadi kafir ketika mereka berkata: ‘Malaikat adalah anak-anak perempuan Allah’; sedangkan kami tidak mengatakan ‘Abdul Qadir adalah putra Allah, tidak pula yang lainnya.”
Maka jawabannya adalah:
Sesungguhnya menisbatkan anak kepada Allah adalah kekafiran tersendiri. Allah taala berfirman: “Katakanlah, ‘Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah tempat meminta segala sesuatu.’” (QS Al-Ikhlas: 1-2). Al-Ahad adalah Zat yang tidak ada tandingan bagi-Nya dan Ash-Shamad adalah Zat yang dituju dalam segala kebutuhan. Siapa saja yang mengingkari hal ini, sungguh ia telah kafir meskipun ia tidak mengingkari surah tersebut.
Allah taala juga berfirman: “Allah tidak mempunyai anak, dan tidak ada tuhan (yang lain) bersama-Nya.” (QS Al-Mu’minun: 91). Di sini Dia membedakan antara dua jenis (kekafiran) tersebut dan menjadikan masing-masing darinya sebagai kekafiran tersendiri. Allah taala juga berfirman: “Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Dialah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka berbohong (dengan menyatakan) bahwa Allah mempunyai anak laki-laki dan anak perempuan tanpa (dasar) pengetahuan.” (QS Al-An’am: 100). Di sini pun Dia membedakan antara dua macam kekafiran.
Dalil atas hal ini juga bahwa orang-orang yang menjadi kafir karena berdoa kepada Al-Lat—padahal dia dahulu adalah seorang lelaki yang saleh—tidaklah menjadikan Al-Lat sebagai putra Allah. Demikian pula orang-orang yang kafir karena menyembah jin, mereka tidak menjadikannya sebagai anak Allah.
Begitu juga para ulama di dalam seluruh mazhab yang empat, mereka menyebutkan di dalam bab hukum orang murtad bahwa seorang muslim apabila menganggap Allah mempunyai anak maka ia murtad, dan apabila ia menyekutukan Allah maka ia juga murtad. Mereka membedakan antara dua jenis tersebut, dan hal ini berada dalam puncak kejelasan.
Be the first to leave a comment