Tata Cara Tasymit (Mendoakan Kebaikan) untuk Orang yang Bersin dan Jawabannya

ismail  

١٠ – وَعَنۡهُ [قَوۡلُهُ: وَعَنۡهُ، يَدُلُّ ظَاهِرُهُ عَلَى أَنَّ هٰذَا مِنۡ حَدِيثِ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ، وَصَوَابُهُ، عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ]، عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمۡ فَلۡيَقُلِ: الۡحَمۡدُ لِلّٰهِ، وَلۡيَقُلۡ لَهُ أَخُوهُ، أَوۡ صَاحِبُهُ: يَرۡحَمُكَ اللّٰهُ، فَإِذَا قَالَ لَهُ: يَرۡحَمُكَ اللّٰهُ، فَلۡيَقُلۡ: يَهۡدِيكُمُ اللّٰهُ، وَيُصۡلِحُ بَالَكُمۡ). أَخۡرَجَهُ الۡبُخَارِيُّ.

10. Darinya (Ucapan mualif: darinya; lahirnya menunjukkan bahwa ini adalah hadis ‘Ali—radhiyallahu ‘anhu—, namun yang benar adalah dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—), dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, beliau bersabda: “Apabila salah seorang di antara kalian bersin, hendaklah ia mengucapkan: Al-Ḥamdu lillāh (Segala puji bagi Allah); dan hendaklah saudaranya atau temannya mendoakannya dengan ucapan: Yarḥamukallāh (Semoga Allah memberimu rahmat). Apabila saudaranya telah mendoakannya ‘Yarḥamukallāh’, hendaklah orang yang bersin mengucapkan: Yahdīkumullāh wa yuṣliḥu bālakum (Semoga Allah memberi kalian petunjuk dan memperbaiki keadaan kalian).”[1] Diriwayatkan oleh Al-Bukhari.

الشَّرۡحُ

Syarah

هٰذَا أَيۡضًا بَيَانٌ لِلۡحَدِيثِ الَّذِي سَبَقَ (حَقُّ الۡمُسۡلِمِ عَلَى الۡمُسۡلِمِ)، وَمِنۡهَا (إِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللّٰهَ فَشَمِّتۡهُ)، فَهٰذَا الۡحَدِيثُ فِيهِ شَرۡحٌ لِلۡحَدِيثِ السَّابِقِ، وَكَيۡفِيَّةِ التَّشۡمِيتِ، وَكَيۡفِيَّةِ الرَّدِّ، أَنَّهُ إِذَا عَطَسَ وَحَمِدَ اللّٰهَ فَإِنَّكَ تَقُولُ: يَرۡحَمُكَ اللّٰهُ، ثُمَّ هُوَ يَرُدُّ وَيَقُولُ: يَهۡدِيكُمُ اللّٰهُ، وَيُصۡلِحُ بَالَكُمۡ.

Ini juga merupakan penjelasan bagi hadis yang telah lewat, yaitu “hak seorang muslim atas muslim lainnya”, yang di antaranya adalah “apabila ia bersin lalu memuji Allah, maka doakanlah”. Hadis ini berisi penjelasan bagi hadis sebelumnya, juga mengenai tata cara tasymit serta tata cara membalasnya; yaitu apabila seseorang bersin dan memuji Allah, maka engkau mengucapkan: Yarḥamukallāh, kemudian ia membalas dan mengucapkan: Yahdīkumullāh wa yuṣliḥu bālakum.

فَالۡعُطَاسُ نِعۡمَةٌ مِنَ اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ، لِأَنَّهُ يُخۡرِجُ الۡبُخَارَ الَّذِي فِي الرَّأۡسِ، وَيَخِفُّ الۡإِنۡسَانُ بَعۡدَ الۡعُطَاسِ وَيَجِدُ رَاحَةً بَعۡدَ الۡعُطَاسِ، فَهُوَ نِعۡمَةٌ، فَلِذٰلِكَ يَحۡمَدُ اللّٰهَ عَلَى هٰذَا وَيَقُولُ: الۡحَمۡدُ لِلّٰهِ، فَإِذَا حَمِدَ اللّٰهَ فَإِنَّ مَنۡ سَمِعَهُ يُشَمِّتُهُ، وَيَقُولُ: يَرۡحَمُكَ اللّٰهُ، ثُمَّ هُوَ يَرُدُّ وَيَقُولُ: يَهۡدِيكُمُ اللّٰهُ وَيُصۡلِحُ بَالَكُمۡ. هٰذَا مِنۡ آدَابِ الۡعُطَاسِ.

Bersin adalah nikmat dari Allah—‘azza wa jalla—, karena ia mengeluarkan uap yang ada di kepala. Seseorang akan merasa ringan setelah bersin dan mendapati rasa nyaman setelahnya, maka itu adalah nikmat. Oleh karena itu, hendaknya ia memuji Allah atas hal ini dan mengucapkan: Al-Ḥamdu lillāh. Apabila ia telah memuji Allah, maka siapa pun yang mendengarnya hendaknya melakukan tasymit kepadanya dengan mengucapkan: Yarḥamukallāh, kemudian ia membalasnya dengan mengucapkan: Yahdīkumullāh wa yuṣliḥu bālakum. Ini termasuk di antara adab-adab bersin.[2]


[1] HR Al-Bukhari nomor 6224.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullah berkata dalam Fath Al-Bari (14/122): “… Ibnu Abu Jamrah berkata: Dalam hadis ini terdapat dalil atas besarnya nikmat Allah kepada orang yang bersin; hal itu diambil dari kebaikan-kebaikan yang ditetapkan setelahnya. Di dalamnya terdapat isyarat akan besarnya karunia Allah kepada hamba-Nya, karena Allah menghilangkan bahaya darinya melalui nikmat bersin, kemudian mensyariatkan baginya pujian yang membuahkan pahala, lalu doa kebaikan demi doa kebaikan. Allah mensyariatkan nikmat-nikmat yang beruntun ini dalam waktu yang singkat sebagai karunia dan kebaikan dari-Nya. Bagi orang yang melihat hal ini dengan hati yang memiliki ilmu, hal ini akan menambah kekuatan imannya hingga ia mendapatkan manfaat yang tidak didapatkan dari ibadah selama berhari-hari. Ia akan merasakan cinta kepada Allah yang telah memberinya nikmat tersebut—sesuatu yang sebelumnya tidak terlintas di benaknya—serta cinta kepada Rasul—shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang melalui perantaraan beliau pengetahuan tentang kebaikan ini sampai, dan cinta kepada ilmu yang dibawa oleh sunahnya dengan nilai yang tidak terkira. Beliau berkata: Tambahan sekecil zarah dari hal ini lebih unggul daripada banyak amal lainnya. Segala pujian yang banyak hanya milik Allah.”

Al-Halimi berkata: Berbagai jenis bala dan musibah semuanya adalah hukuman. Hukuman itu hanyalah karena dosa. Jika dosa telah diampuni dan rahmat mendatangi seorang hamba, maka hukuman tidak akan terjadi. Maka ketika diucapkan kepada orang yang bersin: “Yarhamukallah”, maknanya adalah semoga Allah menjadikan rahmat untukmu agar engkau senantiasa dalam keselamatan. Di dalamnya terdapat isyarat untuk mengingatkan orang yang bersin agar memohon rahmat dan bertobat dari dosa, oleh karena itulah disyariatkan baginya menjawab dengan ucapan: Ghafarallahu lana wa lakum (Semoga Allah mengampuni kami dan kalian).

[2] Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahih-nya dari Salamah bin Al-Akwa’—radhiyallahu ‘anhu—bahwa ia mendengar Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ketika ada seorang laki-laki bersin di dekat beliau, lalu beliau berkata kepadanya, “Yarḥamukallāh.” Kemudian laki-laki itu bersin lagi, maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berkata kepadanya, “Laki-laki ini sedang pilek.”

Diriwayatkan juga oleh At-Tirmidzi nomor 2743 dan di dalamnya disebutkan: Kemudian ia bersin untuk kedua dan ketiga kalinya, maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Ini adalah laki-laki yang sedang pilek.”

Imam Ibnu Al-Qayyim—rahimahullah—berkata: Sabda beliau dalam hadis ini, “Laki-laki ini sedang pilek” merupakan peringatan untuk mendoakannya agar diberikan kesembuhan karena pilek adalah suatu penyakit. Di dalamnya juga terdapat alasan atas tidak dilakukannya tasymit setelah bersin yang ketiga kali. Selain itu, terdapat peringatan bagi orang tersebut akan penyakit ini agar ia segera menanganinya dan tidak membiarkannya sehingga urusannya menjadi sulit. Maka perkataan beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—seluruhnya adalah hikmah, rahmat, ilmu, dan petunjuk…” Zad Al-Ma’ad (2/430).


Sumber: Ithaf Al-Kiram bi Syarh Kitab Al-Jami’ fi Al-Akhlaq wa Al-Adab min Bulugh Al-Maram syarah Syekh Doktor Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *