حكم الصلاة والصيام على الكبير الخرف
🎙️ Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz (wafat 1420 H) rahimahullah
السؤال: أخونا يقول: لي أب كبير في السن لا يستطيع الصلاة أو الصيام بل لا يتقن الصلاة ولا يقوى على الصيام هل أصوم عنه أو أطعم عنه كل يوم مسكيناً وهل يصح أن يصوم عنه أولاده منفردين، أي: متقاسمين الشهر، أفيدونا بارك الله فيكم؟
Pertanyaan: Saudara kami bertanya: Saya memiliki ayah yang sudah lanjut usia, beliau tidak mampu salat atau puasa, bahkan tidak lagi memahami tata cara salat dan tidak kuat berpuasa. Apakah saya harus berpuasa untuknya atau memberi makan orang miskin setiap harinya sebagai pengganti? Apakah sah jika anak-anaknya berpuasa untuknya secara terpisah, yaitu dengan membagi hari dalam sebulan? Mohon penjelasannya, barakallahu fikum.
الجواب: إن كان عقله قد اختل فليس عليه صلاة ولا صوم، إن كان قد اختل العقل بسبب الكبر صار لا يحفظ الأمور ولا يتقنها بل يظهر عليه التخريف ونقص العقل وعدم ضبطه للأمور فلا شيء عليه لا صلاة ولا صوم؛ لأن هذه الأمور مناطة بالعقل، فإذا اختل العقل سقط التكليف بالصوم والصلاة وغير ذلك سوى الحق المالي من الزكاة فيزكى من ماله إذا كان عنده مال على الصحيح الذي عليه جمهور أهل العلم، أما إن كان عقله باقياً ليس فيه خلل بل يعقل فإنه واجب عليه أن يصلي ولو على جنبه ولو مستلقياً، يصلي بالكلام والنية، وهكذا يصوم إن كان يستطيع الصوم فإن كان لا يستطيع لكبر السن فإنه يطعم عنه عن كل يوم مسكين ولا يصام عنه بل يطعم عنه عن كل يوم مسكين نصف الصاع من قوت البلد، كيلو ونصف تقريباً من قوت البلد، تمر أو أرز أو حنطة أو غير هذا مما يتقوته أهل البلد. نعم.
Jawaban:
Jika akalnya telah terganggu, maka tidak ada kewajiban salat maupun puasa baginya. Apabila akal tersebut telah terganggu disebabkan faktor usia sehingga ia tidak lagi bisa mengingat urusan atau tidak memahaminya, bahkan telah tampak padanya tanda-tanda kepikunan, kurangnya akal, dan tidak mampu mengontrol urusan, maka tidak ada beban kewajiban apa pun baginya, baik salat maupun puasa. Hal ini dikarenakan perkara-perkara tersebut bergantung pada akal. Jika akal terganggu, maka gugurlah beban kewajiban untuk puasa, salat, dan selainnya, kecuali hak harta berupa zakat; maka harta miliknya tetap dizakatkan jika ia memiliki harta, menurut pendapat yang sahih dari mayoritas ahli ilmu.
Adapun jika akalnya masih ada dan tidak mengalami gangguan melainkan ia masih sadar, maka wajib baginya untuk salat meskipun sambil berbaring miring atau telentang. Ia salat dengan ucapan dan niat. Demikian pula ia berpuasa jika mampu. Namun, jika ia tidak mampu berpuasa karena faktor usia, maka ia memberi makan satu orang miskin untuk setiap harinya dan tidak perlu dipuasakan oleh orang lain. Cukup baginya memberi makan untuk setiap hari sebanyak setengah sha’ dari makanan pokok negeri tersebut, yaitu sekitar satu setengah kilogram makanan pokok, baik itu kurma, beras, gandum, atau selainnya yang menjadi makanan pokok penduduk setempat. Naam.
المقدم: أخونا يقول: إن والده لا يتقن الصلاة؟
Moderator: Saudara kita mengatakan bahwa ayahnya tidak lagi memahami tata cara salat?
الشيخ: معنى هذا الكلام: أنه مختل الشعور فإذا اختل شعوره فلا شيء عليه، أما إذا كان ما يتقن من أجل المرض، يعني: يضعف عن … يوجه ويرشد حتى يصلي على حسب حاله، إذا كان ما يستطيع على جنب يكون مستلقياً فيكبر ناوياً الصلاة ويقرأ الفاتحة مثلاً ويكبر ناوياً الركوع ويقول: سبحان ربي العظيم، سبحان ربي العظيم، ثم يقول: سمع الله لمن حمده ناوياً الرفع وهو على حاله وهو مستلقي أو على جنب، وهكذا يكبر ناوياً السجود إلى آخره. نعم.
Syekh: Makna dari ucapan ini adalah kesadarannya telah terganggu. Jika kesadarannya telah terganggu, maka tidak ada kewajiban baginya. Namun, jika ia tidak memahami salat karena faktor sakit—maksudnya ia lemah untuk melakukannya—maka ia diarahkan dan dibimbing hingga ia bisa salat sesuai kondisinya. Jika ia tidak mampu (berdiri atau duduk), maka ia salat sambil berbaring miring atau telentang; ia bertakbir dengan niat salat, membaca Al-Fatihah misalnya, lalu bertakbir dengan niat rukuk dan membaca “subhana rabbiyal ‘azhim, subhana rabbiyal ‘azhim“. Kemudian ia membaca “sami’allahu liman hamidah” dengan niat bangkit dari rukuk dalam posisinya yang sedang telentang atau miring tersebut, demikian pula ia bertakbir dengan niat sujud dan seterusnya. Naam.
Sumber fatwa: Situs resmi Syekh Ibnu Baz.
Be the first to leave a comment