ما حكم زيارة الوالد الخرف؟
🎙 Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz (wafat 1420 H) rahimahullah
السؤال:
من المستمع مقحم بركة المطيري رسالة ضمنها سؤالًا يقول فيه: أبي كان يصلي، ويصوم -والحمد لله- والآن كبر في السن، وفقد الذاكرة؛ وأصبح لا يعرف الصلاة، ولا الصوم، هل تجب علي زيارته؟ وجهوني جزاكم الله خيرًا.
Pertanyaan:
Dari pendengar Muqhim Barakah Al-Muthairi, sebuah surat yang berisi pertanyaan, ia berkata di dalamnya: Ayah saya dahulu salat dan berpuasa—walhamdulillah—dan sekarang ia sudah tua serta kehilangan ingatan (pikun); sehingga ia menjadi tidak tahu lagi tentang salat maupun puasa. Apakah wajib bagi saya untuk menziarahinya? Berilah saya petunjuk, semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.
الجواب:
ما دام بهذه الحال لا شيء عليه لاختلال العقل، لا شيء عليه، لا صوم، ولا صلاة .. أما الزيارة فالبر أن تزوره، وأن تلاحظه، وتكرمه، وتجتهد فيما ينفعه، ويصلحه، أو توكل خادمًا يلاحظه مع مراعاتك له أيضًا وزيارته؛ لأن الوالد له حق عظيم، نعم.
Jawaban:
Selama ia dalam kondisi seperti ini, maka tidak ada beban kewajiban baginya karena terganggunya akal. Tidak ada kewajiban baginya, baik puasa maupun salat. Adapun mengenai ziarah, maka termasuk bakti kepada kedua orang tua adalah engkau menziarahinya, memperhatikannya, memuliakannya, dan bersungguh-sungguh dalam hal apa saja yang bermanfaat dan baik baginya. Atau engkau mempekerjakan seorang pelayan yang memperhatikannya dengan tetap engkau pantau pula dan engkau ziarahi; karena ayah memiliki hak yang sangat besar. Naam.
المقدم: جزاكم الله خيرًا.
Moderator: Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.
Sumber fatwa: Situs resmi Syekh Ibnu Baz.
Be the first to leave a comment