Orang yang Berpegang Teguh dengan Sunah akan Mendapatkan Hidayah dan Keselamatan dari Kesesatan dan Penyimpangan

ismail  

Ini adalah perkara yang jelas pula. Penjelasannya sudah kita lewati dalam penyebutan hadis Jabir riwayat Muslim dalam kitab Shahih beliau (nomor 1218), yaitu sabda Nabi,

تَرَكتُ فِيكُم مَا لَن تَضِلُّوا إِنِ اعۡتَصَمۡتُم بِهِ: كِتَابَ اللهِ

“Aku tinggalkan sesuatu untuk kalian jika kalian berpegang teguh dengannya kalian tidak akan sesat, yaitu Al-Qur’an.”

Apa yang ada di dalam Al-Qur’an? Perintah untuk meneladan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Di antaranya adalah firman Allah—jalla wa ‘ala—,

لَّقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِى رَسُولِ ٱللَّهِ أُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كَانَ يَرۡجُوا۟ ٱللَّهَ وَٱلۡيَوۡمَ ٱلۡـَٔاخِرَ وَذَكَرَ ٱللَّهَ كَثِيرًا

“Sungguh telah ada teladan yang baik pada diri Rasulullah untuk kalian bagi siapa saja yang mengharapkan Allah dan hari akhir serta banyak mengingat Allah.”

QS Al-Ahzab: 21

Imam Ibnu Katsir ketika menafsirkan ayat ini, berkata:

Ayat ini adalah dasar utama dalam meneladan Rasulullah—‘alaihish-shalatu was-salam—pada ucapan, perbuatan, dan keadaan beliau. Oleh karenanya, Allah—subhanah—memerintahkan manusia untuk meneladan Nabi—‘alaihish-shalatu was-salam—pada hari perang Ahzab dalam hal kesabaran, ketegaran, kewaspadaan, kesungguhan, dan penungguan jalan keluar dari Tuhannya.

Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim 3/475

Jadi, siapa saja berpegang dengan sunah, niscaya dia selamat dari penyimpangan dan selamat dari kesesatan. Alangkah sering hal ini terjadi.

Imam Az-Zuhri—rahimahullah—berkata, sebagaimana dalam riwayat Ad-Darimi (1/44) dengan sanad yang sahih,

مَن مَضَى مِن عُلَمَائِنَا يَقُولُ: الاعتِصَامُ بِالسُّنَّةِ نَجَاةٌ

Ulama kami yang telah wafat lebih dahulu mengatakan, “Berpegang teguh dengan sunah adalah keselamatan.”

Imam Malik bin Anas—rahimahullah—berkata,

السُّنَّةُ مِثۡلُ سَفِينَةٍ نُوحٍ؛ مَن رَكِبَهَا نَجَا، وَمَن تَخَلَّىٰ عَنۡهَا هَلَكَ

“Sunah bagai perahu Nuh. Siapa saja yang menaikinya akan selamat dan siapa saja yang tidak menaikinya akan celaka.”

Ash-Shiddiq Al-Akbar (orang yang tingkatannya paling tinggi dalam golongan shiddiqin), yaitu Abu Bakr, mengatakan,

لَستُ تَارِكًا شَيئًا كَانَ رَسُولُ اللهِ ﷺ يَعۡمَلُ بِهِ إِلَّا عَمِلتُ بِهِ، وَإِنِّي لَأَحۡشَىٰ إِن تَرَكتُ شَيۡئًا مِن أَمۡرِهِ أَن أَزِيعَ

“Aku tidak meninggalkan satu perkara yang dahulu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—kerjakan kecuali kuamalkan. Sungguh, aku khawatir jika aku meninggalkan sedikit saja dari perkara yang beliau kerjakan, aku akan menyimpang.”

Siapa beliau?!! Beliau adalah ash-shiddiq al-akbar.

Imam Ibnu Baththah di dalam kitab Al-Ibanah Al-Kubra (1/246) mengomentari ucapan Abu Bakr Ash-Shiddiq dengan ucapannya, “Wahai saudara-saudaraku, inilah ash-shiddiq al-akbar. Beliau mengkhawatirkan dirinya akan menyimpang apabila menyelisihi sedikit saja perintah Nabi—‘alaihish-shalatu was-salam—. Lalu bagaimana jadinya dengan zaman di saat orang-orang yang hidup mengolok-olok nabi mereka dan perintah-perintahnya. Mereka bangga menyelisihinya dan melecehkan sunahnya. Kita memohon perlindungan kepada Allah dari ketergelinciran dan memohon keselamatan dari amalan yang buruk.”

Selain itu, siapa saja yang berpegang teguh dengan sunah dengan jujur, dia akan ditunjukkan kepada jalan yang lurus. Allah taala berfirman,

وَكَذَٰلِكَ أَوۡحَيۡنَآ إِلَيۡكَ رُوحًا مِّنۡ أَمۡرِنَا ۚ مَا كُنتَ تَدۡرِى مَا ٱلۡكِتَٰبُ وَلَا ٱلۡإِيمَٰنُ وَلَٰكِن جَعَلۡنَٰهُ نُورًا نَّهۡدِى بِهِۦ مَن نَّشَآءُ مِنۡ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهۡدِىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسۡتَقِيمٍ

“Demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al-Qur’an) dari perintah Kami. Tadinya engkau tidak tahu apa Al-Qur’an itu dan apa iman itu. Akan tetapi Kami menjadikan Al-Qur’an sebagai cahaya yang Kami tunjuki siapa saja yang Kami kehendaki dari hamba-hamba Kami. Sungguh engkau benar-benar menunjuki kepada jalan yang lurus.”

QS Asy-Syura: 52

Alamah As-Sa’di berkata di dalam tafsir beliau:

Adapun penetapan hidayah bagi Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam firman Allah taala,

وَإِنَّكَ لَتَهۡدِىٓ إِلَىٰ صِرَٰطٍ مُّسۡتَقِيمٍ

“Dan sesungguhnya engkau benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (QS Asy-Syura: 52)

Hidayah (petunjuk) yang disebutkan dalam ayat itu adalah petunjuk yang berupa keterangan dan bimbingan. Jadi artinya adalah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menerangkan jalan yang lurus, menganjurkannya, dan mengupayakan semaksimal mungkin agar semua makhluk menempuh jalan itu.

Adapun jika yang dimaksud dengan hidayah adalah memunculkan keimanan dalam hati mereka dan memberi taufik kepada mereka untuk mengamalkannya, maka sama sekali tidak demikian.

Ash-Shirath (jalan) di dalam ayat tersebut ditafsirkan oleh ayat setelahnya, yaitu firman Allah taala,

صِرَٰطِ ٱللَّهِ ٱلَّذِى لَهُۥ مَا فِى ٱلسَّمَٰوَٰتِ وَمَا فِى ٱلۡأَرۡضِ ۗ أَلَآ إِلَى ٱللَّهِ تَصِيرُ ٱلۡأُمُورُ

“Yaitu jalan Allah yang hanya milik Dialah segala apa yang ada di langit dan yang ada di bumi. Ketahuilah, kepada Allahlah seluruh urusan akan kembali.” (QS Asy-Syura: 53).

Imam Ibnu Qudamah—rahimahullah—di dalam kitab Dzamm At-Ta`wil (halaman 38) berkata, “Karena Rasulullah berada di atas jalan yang lurus, maka orang yang menempuh jalan beliau berarti menempuh jalan Allah yang lurus. Tidak mungkin tidak. Jadi, kita wajib mengikuti beliau, berhenti di tempat beliau berhenti, dan diam dari permasalahan yang beliau diamkan.”

Imam Ibnu Al-Qayyim—rahimahullah—berkata di dalam kitab Ighatsah Al-Lahfan min Mashayid Asy-Syaithan (2/887):

Fitnah ada dua macam:

  • Fitnah syubhat-syubhat. Ini fitnah yang paling besar.
  • Fitnah syahwat-syahwat. Terkadang dua jenis fitnah ini berkumpul pada seorang hamba dan terkadang hanya salah satunya.

Fitnah syubhat timbul dari lemahnya dan sedikitnya ilmu. Terlebih ketika disertai dengan buruknya maksud dan munculnya hawa nafsu, maka jadilah fitnah yang paling dahsyat dan musibah yang paling besar. Katakanlah sekehendakmu tentang sesatnya orang yang bertujuan buruk. Dia menjadikan hawa nafsu, bukannya petunjuk, sebagai hakim. Tambah lagi wawasannya lemah dan ilmunya tentang agama yang Allah utus Rasul-Nya dengannya sedikit… Fitnah ini ujung-ujungnya adalah kekufuran dan kemunafikan. Ini adalah fitnah orang-orang munafik dan fitnah ahli bidah sesuai dengan derajat kebidahannya. Mereka semua melakukan kebidahan karena fitnah syubhat yang menyebabkan mereka tidak bisa membedakan antara kebenaran dan kebatilan serta antara petunjuk dan kesesatan.

Tidak ada cara yang menyelamatkan dari fitnah ini kecuali meneladan Rasulullah secara sempurna dan menjadikan beliau sebagai hakim dalam agama baik kecil maupun besar, lahir maupun batin, akidah maupun amalan, hakikat maupun syariat. Yaitu, dengan cara belajar dari beliau tentang hakikat iman, syariat Islam, sifat, perbuatan, dan nama Allah yang Rasulullah tetapkan untuk-Nya dan yang beliau nafikan dari-Nya, sebagaimana pula belajar dari beliau tentang kewajiban salat, waktu, dan jumlah rakaatnya, kadar nisab zakat, orang yang berhak menerimanya, kewajiban wudu dan mandi junub, puasa Ramadan.

Jadi, jangan menjadikan beliau sebagai rasul dalam sebagian perkara agama saja. Tetapi, beliau adalah seorang rasul dalam seluruh urusan agama yang dibutuhkan oleh umat dalam ilmu dan amal. Agama ini tidaklah dipelajari kecuali dari beliau dan tidak diambil kecuali dari beliau. Seluruh petunjuk berkisar pada ucapan dan perbuatan beliau. Segala yang keluar dari cakupan itu adalah kesesatan.

Beliau—rahimahullah—juga mengatakan (Bada`i’ Al-Fawa`id 2/40):

Masalah kedua puluh: Apakah jalan yang lurus itu? Kita akan sebutkan ucapan yang ringkas tentangnya karena manusia mengartikannya dengan ungkapan yang beraneka ragam… Padahal hakikatnya sama, yaitu:

Jalan Allah yang Allah bentangkan untuk para hamba-Nya melalui lisan para rasul-Nya dan Allah menjadikannya sebagai sarana untuk menyampaikan hamba kepada Allah. Tidak ada jalan untuk mereka kepada Allah selain jalan ini, bahkan jalan seluruhnya buntu kecuali jalan ini. Yaitu mengesakan Allah dalam peribadahan dan menunggalkan Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam ketaatan. Jadi dia tidak menyekutukan satu makhluk pun dengan Allah dalam beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan seorang pun dengan Rasul-Nya—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam menaatinya. Sehingga dia memurnikan tauhid dan memurnikan peneladanan kepada Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.


Sumber: Min Tsamarat At-Tamassuk bis-Sunnah karya Syekh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahim Al-Bukhari hafizhahullah

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *