Kasyfusy-Syubuhat

ismail  

وَاعۡلَمۡ أَنَّ اللهَ سُبۡحَانَهُ مِنۡ حِكۡمَتِهِ لَمۡ يَبۡعَثۡ نَبِيًّا بِهٰذَا التَّوۡحِيدِ إِلَّا جَعَلَ لَهُ أَعۡدَاءً، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَكَذٰلِكَ جَعَلۡنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الإِنۡسِ وَالۡجِنِّ يُوحِي بَعۡضُهُمۡ إِلَى بَعۡضٍ زُخۡرُفَ الۡقَوۡلِ غَرُورًا﴾ [سورة الۡأنعام، الآية: ١١٢] وَقَدۡ يَكُونُ لأَعۡدَاءِ التَّوۡحِيدِ عُلُومٌ كَثِيرَةٌ وَكُتُبٌ وَحُجَجٌ كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿فَلَمَّا جَاءَتۡهُمۡ رُسُلُهُمۡ بِالۡبَيِّنَاتِ فَرِحُوا بِمَا عِنۡدَهُمۡ مِنَ الۡعِلۡمِ﴾ [سورة غافر، الآية: ٨٣].

Dan ketahuilah bahwa di antara hikmah Allah—subhanahu wa ta’ala—adalah Dia tidak mengutus seorang nabi pun dengan membawa tauhid ini, melainkan Dia menjadikan musuh-musuh bagi nabi tersebut, sebagaimana firman-Nya taala: “Dan demikianlah untuk setiap nabi telah Kami jadikan musuh yang terdiri dari setan-setan (dari jenis) manusia dan jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan yang indah sebagai tipuan.” (QS Al-An’am: 112).

Terkadang, musuh-musuh tauhid itu memiliki banyak ilmu, kitab-kitab, dan hujah (argumen), sebagaimana firman-Nya taala: “Maka ketika para rasul datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka merasa bangga dengan ilmu yang ada pada mereka.” (QS Ghafir: 83).

إِذَا عَرَفۡتَ ذٰلِكَ وَعَرَفۡتَ أَنَّ الطَّرِيقَ إِلَى اللهِ لَا بُدَّ لَهُ مِنۡ أَعۡدَاءٍ قَاعِدِينَ عَلَيۡهِ أَهۡلِ فَصَاحَةٍ وَعِلۡمٍ وَحُجَجٍ، فَالۡوَاجِبُ عَلَيۡكَ أَنۡ تَتَعَلَّمَ مِنۡ دِينِ اللهِ مَا يَصِيرُ سِلَاحًا لَكَ تُقَاتِلُ بِهِ هٰؤُلَاءِ الشَّيَاطِينَ الَّذِينَ قَالَ إِمَامُهُمۡ وَمُقَدَّمُهُمۡ لِرَبِّكَ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿لَأَقۡعُدَنَّ لَهُمۡ صِرَطَكَ ٱلۡمُسۡتَقِيمَ ثُمَّ لَءَاتِيَنَّهُم مِّنۢ بَيۡنِ أَيۡدِيهِمۡ وَمِنۡ خَلۡفِهِمۡ وَعَنۡ أَيۡمَـنِهِمۡ وَعَن شَمَآئِلِهِمۡ وَلَا تَجِدُ أَكۡثَرَهُمۡ شَـكِرِينَ﴾ [سورة الۡأعراف، الآيتان: ١٦-١٧] وَلَكِنۡ إِذَا أَقۡبَلۡتَ عَلَى اللهِ وَأَصۡغَيۡتَ إِلَى حُجَجِهِ وَبَيِّنَاتِهِ فَلَا تَخَفۡ وَلَا تَحۡزَنۡ: ﴿إِنَّ كَيۡدَ الشَّيۡطَانِ كَانَ ضَعِيفًا﴾ [سورة النساء، الآية: ٧٦] وَالۡعَامِيُ مِنَ الۡمُوَحِّدِينَ يَغۡلِبُ الۡأَلۡفَ مِنۡ عُلَمَاءِ هٰؤُلَاءِ الۡمُشۡرِكِينَ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَإِنَّ جُنۡدَنَا لَهُمُ الۡغَالِبُونَ﴾ [سورة الصافات، الآية: ١٧٣] فَجُنۡدُ اللهِ هُمُ الۡغَالِبُونَ بِالۡحُجَّةِ وَاللِّسَانِ، كَمَا أَنَّهُمۡ هُمُ الۡغَالِبُونَ بِالسَّيۡفِ وَالسِّنَانِ، وَإِنَّمَا الۡخَوۡفُ عَلَى الۡمُوَحِّدِ الَّذِي يَسۡلُكُ الطَّرِيقَ وَلَيۡسَ مَعَهُ سِلَاحٌ، وَقَدۡ مَنَّ اللهُ تَعَالَى عَلَيۡنَا بِكِتَابِهِ الَّذِي جَعَلَهُ: ﴿تِبۡيَانًا لِكُلِّ شَيۡءٍ وَهُدًى وَرَحۡمَةً وَبُشۡرَى لِلۡمُسۡلِمِينَ﴾ [سورة النحل، الآية: ٨٩] فَلَا يَأۡتِي صَاحِبُ بَاطِلٍ بِحُجَّةٍ إِلَّا وَفِي الۡقُرۡآنِ مَا يَنۡقُضُهَا وَيُبَيِّنُ بُطۡلَانَهَا، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَلَا يَأۡتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلَّا جِئۡنَاكَ بِالۡحَقِّ وَأَحۡسَنَ تَفۡسِيرًا﴾ [سورة الفرقان، الآية: ٣٣] قَالَ بَعۡضُ الۡمُفَسِّرِينَ: هٰذِهِ الآيَةُ عَامَّةٌ فِي كُلِّ حُجَّةٍ يَأۡتِي بِهَا أَهۡلُ الۡبَاطِلِ إِلَى يَوۡمِ الۡقِيَامَةِ.

Apabila kamu telah mengetahui hal tersebut, dan mengetahui bahwa jalan menuju Allah pasti memiliki musuh-musuh yang menghadang di atasnya—yaitu orang-orang yang memiliki kefasihan, ilmu, dan hujah-hujah—maka wajib bagimu untuk mempelajari agama Allah apa yang dapat menjadi senjata bagimu untuk memerangi setan-setan ini. Setan-setan yang pemimpin dan pemuka mereka telah berkata kepada Rabmu—‘azza wa jalla—: “Pasti aku akan menghalang-halangi mereka dari jalan-Mu yang lurus, kemudian aku akan mendatangi mereka dari depan dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS Al-A’raf: 16-17).

Akan tetapi, apabila kamu menghadapkan diri kepada Allah dan menyimak hujah-hujah serta keterangan-keterangan-Nya, maka janganlah takut dan janganlah bersedih: “Sesungguhnya tipu daya setan itu adalah lemah.” (QS An-Nisa’: 76).

Seorang awam dari kalangan orang yang bertauhid dapat mengalahkan seribu ulama dari kalangan kaum musyrikin tersebut, sebagaimana firman Allah taala: “Dan sesungguhnya bala tentara Kami itulah yang pasti menang.” (QS As-Saffat: 173).

Maka bala tentara Allah adalah mereka yang menang dengan hujah dan lisan, sebagaimana mereka juga menang dengan pedang dan tombak. Rasa takut itu hanyalah bagi seorang muwahid yang menempuh jalan namun tidak memiliki senjata. Padahal Allah taala telah melimpahkan karunia kepada kita dengan kitab-Nya yang Dia jadikan: “… untuk menjelaskan segala sesuatu dan sebagai petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang muslim.” (QS An-Nahl: 89).

Maka tidaklah pengikut kebatilan membawa suatu hujah, melainkan di dalam Al-Qur’an terdapat apa yang membantahnya dan menjelaskan kebatilannya, sebagaimana firman Allah taala: “Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu membawa sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan penjelasan yang paling baik.” (QS Al-Furqan: 33). Sebagian ahli tafsir berkata: “Ayat ini bersifat umum mencakup setiap hujah yang dibawa oleh pengikut kebatilan hingga hari kiamat.”

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *