Kasyfusy-Syubuhat

ismail  

وَإِنۡ قَالَ: ﴿أَلَآ إِنَّ أَوۡلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ ﴾ [سورة يونس، الآية: ٦٢]. فَقُلۡ: هٰذَا هُوَ الۡحَقُّ، وَلٰكِنۡ لَا يُعۡبَدُونَ، وَنَحۡنُ لَمۡ نَذۡكُرۡ إِلَّا عِبَادَتَهُمۡ مَعَ اللهِ وَشِرۡكَهُمۡ مَعَهُ، وَإِلَّا فَالۡوَاجِبُ عَلَيۡكَ حُبُّهُمۡ وَاتِّبَاعُهُمۡ وَالإِقۡرَارُ بِكَرَامَتِهِمۡ، وَلَا يَجۡحَدُ كَرَامَاتِ الۡأَوۡلِيَاءِ إِلَّا أَهۡلُ الۡبِدَعِ وَالضَّلَالِ… إلخ، وَدِينُ اللهِ وَسَطٌ بَيۡنَ طَرۡفَيۡنِ وَهُدًى بَيۡنَ ضَلَالَتَيۡنِ وَحَقٌّ بَيۡنَ بَاطِلَيۡنِ.

Jika dia berkata: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Yunus: 62).

Maka katakanlah: “Ini adalah kebenaran, akan tetapi mereka tidaklah disembah. Kami tidak menyebutkan (kesalahan) kecuali dalam hal penyembahan mereka di samping Allah dan penyekutuan mereka bersama-Nya. Tetapi wajib bagimu mencintai mereka, mengikuti mereka, dan mengakui karamah mereka. Tidak ada yang mengingkari karamah para wali kecuali ahli bidah dan kesesatan… dst. Dan agama Allah itu berada di tengah-tengah antara dua kutub, merupakan petunjuk di antara dua kesesatan, dan kebenaran di antara dua kebatilan.”

فَإِذَا عَرَفۡتَ أَنَّ هٰذَا الَّذِي يُسَمِّيهِ الۡمُشۡرِكُونَ فِي زَمَانِنَا هٰذَا الإِعۡتِقَادَ، هُوَ الشِّرۡكُ الَّذِي نَزَلَ فِيهِ الۡقُرۡآنُ، وَقَاتَلَ رَسُولُ اللهِ  النَّاسَ عَلَيۡهِ، فَاعۡلَمۡ أَنَّ شِرۡكَ الۡأَوَّلِينَ أَخَفُّ مِنۡ شِرۡكِ أَهۡلِ زَمَانِنَا بِأَمۡرَيۡنِ:

Apabila kamu telah mengetahui bahwa apa yang dinamakan oleh kaum musyrik pada zaman kita ini sebagai al-i’tiqad (keyakinan) adalah kesyirikan yang disebutkan di dalam Al-Qur’an dan yang karenanya Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memerangi manusia, maka ketahuilah bahwa kesyirikan orang-orang terdahulu lebih ringan daripada kesyirikan orang-orang di zaman kita karena dua perkara:

(أَحَدُهُمَا): أَنَّ الۡأَوَّلِينَ لَا يُشۡرِكُونَ وَلَا يَدۡعُونَ الۡمَلَائِكَةَ وَالۡأَوۡلِيَاءَ وَالۡأَوۡثَانَ مَعَ اللهِ إِلَّا فِي الرَّخَاءِ، وَأَمَّا فِي الشِّدَّةِ فَيُخۡلِصُونَ للهِ الدُّعَاءَ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَإِذَا مَسَّكُمُ ٱلضُّرُّ فِى ٱلۡبَحۡرِ ضَلَّ مَن تَدۡعُونَ إِلَّا إِيَّاهُ ۖ فَلَمَّا نَجَّاكُمۡ إِلَى ٱلۡبَرِّ أَعۡرَضۡتُمۡ ۚ وَكَانَ ٱلإِنسَـٰنُ كَفُورًا﴾ [سورة الإسراء، الآية: ٦٧]. وَقَوۡلُهُ: ﴿قُلۡ أَرَءَيۡتَكُمۡ إِنۡ أَتَىكُمۡ عَذَابُ ٱللَّهِ أَوۡ أَتَتۡكُمُ ٱلسَّاعَةُ أَغَيۡرَ ٱللَّهِ تَدۡعُونَ إِن كُنتُمۡ صَـدِقِينَ  بَلۡ إِيَّاهُ تَدۡعُونَ فَيَكۡشِفُ مَا تَدۡعُونَ إِلَيۡهِ إِن شَآءَ وَتَنسَوۡنَ مَا تُشۡرِكُونَ ﴾ [سورة الۡأنعام، الآيتان: ٤٠، ٤١]. وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَإِذَا مَسَّ الإِنۡسَانَ ضُرٌّ دَعَا رَبَّهُ مُنِيبًا﴾ – إِلَى قَوۡلِهِ – ﴿قُلۡ تَمَتَّعۡ بِكُفۡرِكَ قَلِيلًا إِنَّكَ مِنۡ أَصۡحَـٰبِ ٱلنَّارِ﴾ [سورة الزمر، الآية: ٨]. وَقَوۡلُهُ: ﴿وَإِذَا غَشِيَهُم مَّوۡجٌ كَٱلظُّلَلِ دَعَوُا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ ﴾ [سورة لقمان، الآية: ٣٢]، فَمَنۡ فَهِمَ هٰذِهِ الۡمَسۡأَلَةَ الَّتِي وَضَّحَهَا اللهُ فِي كِتَابِهِ وَهِيَ أَنَّ الۡمُشۡرِكِينَ الَّذِينَ قَاتَلَهُمۡ رَسُولُ اللهِ  يَدۡعُونَ اللهَ تَعَالَى وَيَدۡعُونَ غَيۡرَهُ فِي الرَّخَاءِ، وَأَمَّا فِي الضُّرِّ وَالشِّدَّةِ فَلَا يَدۡعُونَ إِلَّا اللهَ وَحۡدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَيَنۡسَوۡنَ سَادَاتِهِمۡ، تَبَيَّنَ لَهُ الۡفَرۡقُ بَيۡنَ شِرۡكِ أَهۡلِ زَمَانِنَا وَشِرۡكِ الۡأَوَّلِينَ وَلَكِنۡ أَيۡنَ مَنۡ يَفۡهَمُ قَلۡبُهُ هٰذِهِ الۡمَسۡأَلَةَ فَهۡمًا جَيِّدًا رَاسِخًا، وَاللهُ الۡمُسۡتَعَانُ.

(Pertama): Bahwa orang-orang terdahulu tidak berbuat syirik dan tidak berdoa kepada malaikat, para wali, serta berhala di samping Allah kecuali dalam keadaan lapang. Adapun dalam keadaan sulit, mereka mengikhlaskan doa hanya kepada Allah, sebagaimana firman-Nya taala: “Dan apabila kalian ditimpa bahaya di lautan, niscaya lenyaplah semua yang kalian seru kecuali Dia. Maka tatkala Dia menyelamatkan kalian ke daratan, kalian berpaling. Dan manusia itu adalah sangat kufur.” (QS Al-Isra: 67).

Dan firman-Nya: “Katakanlah, ‘Terangkanlah kepadaku jika siksaan Allah datang kepada kalian, atau hari kiamat datang kepada kalian, apakah kalian akan menyeru (tuhan) selain Allah jika kalian orang yang benar?’ (Tidak), hanya kepada-Nya kalian berdoa, maka Dia menghilangkan bahaya yang karenanya kalian berdoa kepada-Nya, jika Dia menghendaki, dan kalian tinggalkan sembahan-sembahan yang kalian sekutukan (dengan Allah).” (QS Al-An’am: 40-41).

Allah taala juga berfirman: “Dan apabila manusia ditimpa kemudaratan, dia berdoa kepada Rabnya dengan kembali kepada-Nya”—sampai firman-Nya—“Katakanlah, ‘Bersenang-senanglah dengan kekafiranmu itu sementara waktu; sesungguhnya kamu termasuk penghuni neraka.’” (QS Az-Zumar: 8). Dan firman-Nya: “Dan apabila mereka dilamun ombak yang besar seperti gunung, mereka menyeru Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya.” (QS Luqman: 32).

Maka barang siapa memahami masalah ini yang telah Allah jelaskan dalam kitab-Nya—yaitu bahwa kaum musyrik yang diperangi oleh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berdoa kepada Allah taala dan berdoa kepada selain-Nya dalam keadaan lapang, namun dalam keadaan bahaya dan sulit mereka tidak berdoa kecuali kepada Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, serta melupakan tuan-tuan mereka—niscaya akan jelas baginya perbedaan antara syirik orang-orang di zaman kita dan syirik orang-orang terdahulu. Akan tetapi, di manakah orang yang hatinya memahami masalah ini dengan pemahaman yang baik lagi kokoh? Hanya Allah tempat memohon pertolongan.

وَالۡأَمۡرُ الثَّانِي: أَنَّ الۡأَوَّلِينَ يَدۡعُونَ مَعَ اللهِ أُنَاسًا مُقَرِّبِينَ عِنۡدَ اللهِ إِمَّا أَنۡبِيَاءَ وَإِمَّا أَوۡلِيَاءَ وَإِمَّا مَلَائِكَةَ أَوۡ يَدۡعُونَ أَشۡجَارًا وَأَحۡجَارًا مُطِيعَةً للهِ لَيۡسَتۡ عَاصِيَةً، وَأَهۡلُ زَمَانِنَا يَدۡعُونَ مَعَ اللهِ أُنَاسًا مِنۡ أَفۡسَقِ النَّاسِ، وَالَّذِينَ يَدۡعُونَهُمۡ هُمُ الَّذِينَ يَحۡكُوۡنَ عَنۡهُمُ الۡفُجُورَ مِنَ الزِّنَا وَالسَّرِقَةِ وَتَرۡكِ الصَّلَاةِ وَغَيۡرِ ذٰلِكَ، وَالَّذِي يَعۡتَقِدُ فِي الصَّالِحِ وَالَّذِي لَا يَعۡصِي مِثۡلِ الۡخَشَبِ وَالۡحَجَرِ أَهۡوَنُ مِمَّنۡ يَعۡتَقِدُ فِيمَنۡ يُشَاهَدُ فِسۡقَهُ وَفَسَادَهُ وَيَشۡهَدُ بِهِ.

Dan perkara kedua: Bahwa orang-orang terdahulu menyeru di samping Allah orang-orang yang dekat di sisi Allah, baik itu para nabi, para wali, maupun malaikat; atau mereka menyeru pohon-pohon dan batu-batu yang taat kepada Allah serta tidak bermaksiat. Sedangkan orang-orang di zaman kita menyeru di samping Allah orang-orang yang termasuk paling fasik di antara manusia. Mereka yang diseru itu adalah orang-orang yang diceritakan sendiri tentang kefajirannya, mulai dari zina, pencurian, meninggalkan salat, dan selain itu. Seseorang yang memiliki keyakinan (salah) terhadap orang saleh atau terhadap sesuatu yang tidak bermaksiat seperti kayu dan batu, itu lebih ringan daripada orang yang memiliki keyakinan terhadap orang yang nyata-nyata terlihat dan disaksikan sendiri kefasikan serta kerusakannya.

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *