Kasyfusy-Syubuhat

ismail  

وَأَنَا أَذۡكُرُ لَكَ أَشۡيَاءَ مِمَّا ذَكَرَ اللهُ فِي كِتَابِهِ جَوَابًا لِكَلَامٍ احۡتَجَّ بِهِ الۡمُشۡرِكَونَ فِي زَمَانِنَا عَلَيۡنَا فَنَقُولُ: جَوَابُ أَهۡلِ الۡبَاطِلِ مِنۡ طَرِيقَيۡنِ: مُجۡمَلٍ وَمُفَصَّلٍ، أَمَّ الۡمُجۡمَلُ: فَهُوَ الۡأَمۡرُ الۡعَظِيمُ، وَالۡفَائِدَةُ الۡكَبِيرَةُ لِمَنۡ عَقَلَهَا، وَذٰلِكَ قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿هُوَ الَّذِي أَنۡزَلَ عَلَيۡكَ الۡكِتَابَ مِنۡهُ آيَاتٌ مُحۡكَمَاتٌ هُنَّ أُمُّ الۡكِتَابِ وَأُخَرُ مُتَشَابِهَاتٌ فَأَمَّ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٌ فَيَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنۡهُ ابۡتِغَاءَ الۡفِتۡنَةِ وَابۡتِغَاءَ تَأۡوِيلِهِ﴾ [سورة آل عمران، الآية: ٧] وَقَدۡ صَحَّ عَنۡ رَسُولِ اللهِ  أَنَّهُ قَالَ: (إِذَا رَأَيۡتُمُ الَّذِينَ يَتَّبِعُونَ مَا تَشَابَهَ مِنۡهُ فَأُولٰئِكَ الَّذِينَ سَمَّى اللهُ فَاحۡذَرُوهُمۡ)، مِثَالُ ذٰلِكَ إِذَا قَالَ لَكَ بَعۡضُ الۡمُشۡرِكُونَ: ﴿أَلَآ إِنَّ أَوۡلِيَآءَ ٱللَّهِ لَا خَوۡفٌ عَلَيۡهِمۡ وَلَا هُمۡ يَحۡزَنُونَ﴾ [سورة يونس، الآية: ٦٢]، وَأَنَّ الشَّفَاعَةَ حَقٌّ، وَأَنَّ الۡأَنۡبِيَاءَ لَهُمۡ جَاهٌ عِنۡدَ اللهِ، أَوۡ ذَكَرَ كَلَامًا لِلنَّبِيِّ  يَسۡتَدِلُّ بِهِ عَلَى شَيۡءٍ مِنۡ بَاطِلِهِ، وَأَنۡتَ لَا تَفۡهَمُ مَعۡنَى الۡكَلَامِ الَّذِي ذَكَرَهُ، فَجَاوِبۡهُ بِقَوۡلِكَ: إِنَّ اللهَ ذَكَرَ فِي كِتَابِهِ أَنَّ الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِمۡ زَيۡغٌ يَتۡرُكُونَ الۡمُحۡكَمَ وَيَتَّبِعُونَ الۡمُتَشَابِهَ، وَمَا ذَكَرۡتُهُ لَكَ مِنۡ أَنَّ اللهَ تَعَالَى ذَكَرَ أَنَّ الۡمُشۡرِكِينَ يُقِرُّونَ بِالرُّبُوبِيَّةِ، وَأَنَّهُ كَفَّرَهُمۡ بِتَعَلُّقِهِمۡ عَلَى الۡمَلَائِكَةِ وَالۡأَنۡبِيَاءِ وَالۡأَوۡلِيَاءِ، مَعَ قَوۡلِهِمۡ: ﴿هَـٓؤُلَآءِ شُفَعَـٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ﴾ [سورة يونس، الآية: ١٨] هٰذَا أَمۡرٌ مُحۡكَمٌ بَيِّنٌ لَا يَقۡدِرُ أَحَدٌ أَنۡ يُغَيِّرَ مَعۡنَاهُ، وَمَا ذَكَرۡتَ لِي أَيُّهَا الۡمُشۡرِكُ مِنَ الۡقُرۡآنِ أَوۡ كَلَامِ النَّبِيِّ  لَا أَعۡرِفُ مَعۡنَاهُ. وَلَكِنۡ أَقۡطَعُ أَنَّ كَلَامَ اللهِ لَا يَتَنَاقَضُ، وَأَنَّ كَلَامَ النَّبِيِّ  لَا يُخَالِفُ كَلَامَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَهٰذَا جَوَابٌ جَيِّدٌ سَدِيدٌ، وَلَكِنۡ لَا يَفۡهَمُهُ إِلَّا مَنۡ وَفَّقَهُ اللهُ تَعَالَى، فَلَا تَسۡتَهِنۡ بِهِ. فَإِنَّهُ كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ﴾ [سورة فصلت، الآية: ٣٥].

Aku akan menyebutkan kepadamu beberapa hal dari yang telah Allah sebutkan dalam kitab-Nya sebagai jawaban atas ucapan yang dijadikan hujah oleh kaum musyrikin zaman sekarang terhadap kita. Maka kita katakan: Jawaban bagi pengikut kebatilan itu ada dua jalan: secara garis besar dan secara terperinci.

Adapun jawaban secara garis besar, ia merupakan perkara yang agung dan manfaat yang besar bagi siapa saja yang memahaminya, yaitu firman Allah taala: “Dialah yang menurunkan Kitab (Al-Qur’an) kepadamu. Di antaranya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al-Qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyabihat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya cenderung kepada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya.” (QS Ali Imran: 7).

Dan telah sahih dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bahwa beliau bersabda, “Jika kalian melihat orang-orang yang mengikuti ayat-ayat yang mutasyabihat, maka mereka itulah orang-orang yang telah disebutkan (namanya) oleh Allah, maka waspadalah terhadap mereka.”

Contohnya: apabila sebagian kaum musyrikin berkata kepadamu: “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Yunus: 62), dan (mereka berkata) bahwa syafaat itu benar adanya, serta para nabi memiliki kedudukan di sisi Allah, atau dia menyebutkan perkataan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—yang ia jadikan dalil atas kebatilannya, sedangkan kamu tidak memahami makna perkataan yang ia sebutkan itu.

Maka jawablah dia dengan ucapanmu: “Sesungguhnya Allah telah menyebutkan dalam kitab-Nya bahwa orang-orang yang di dalam hatinya terdapat kesesatan akan meninggalkan yang muhkam dan mengikuti yang mutasyabihat. Adapun apa yang telah aku sampaikan kepadamu bahwa Allah taala menyebutkan kaum musyrikin mengakui rububiyah, namun Allah tetap mengafirkan mereka karena ketergantungan mereka kepada malaikat, para nabi, dan para wali—di samping ucapan mereka: ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah’ (QS Yunus: 18)—maka ini adalah perkara muhkam yang sangat jelas, yang tidak ada seorang pun mampu mengubah maknanya. Sedangkan apa yang kamu sebutkan kepadaku, wahai musyrik, baik dari Al-Qur’an maupun perkataan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, aku tidak mengetahui maknanya. Akan tetapi, aku yakin sepenuhnya bahwa firman Allah tidak mungkin saling bertentangan, dan perkataan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tidak mungkin menyelisihi firman Allah—‘azza wa jalla.”

Ini adalah jawaban yang sangat baik lagi tepat, namun tidak ada yang memahaminya kecuali orang yang telah diberi taufik oleh Allah taala, maka janganlah kamu meremehkannya. Karena sesungguhnya hal itu sebagaimana firman Allah taala: “Dan (sifat-sifat yang baik itu) tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar.” (QS Fussilat: 35).

وَأَمَّا الۡجَوَابُ الۡمُفَصَّلُ، فَإِنَّ أَعۡدَاءَ اللهِ لَهُمۡ اعۡتِرَاضَاتٌ كَثِيرَةٌ عَلَى دِينِ الرُّسُلِ، يَصُدُّونَ بِهَا النَّاسَ عَنۡهُ، مِنۡهَا قَوۡلُهُمۡ: نَحۡنُ لَا نُشۡرِكُ بِاللهِ، بَلۡ نَشۡهَدُ أَنَّهُ لَا يَخۡلُقُ وَلَا يَرۡزُقُ وَلَا يَنۡفَعُ وَلَا يَضُرُّ إِلَّا اللهُ وَحۡدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَنَّ مُحَمَّدًا  لَا يَمۡلِكُ لِنَفۡسِهِ نَفۡعًا وَلَا ضَرًّا، فَضۡلًا عَنۡ عَبۡدِ الۡقَادِرِ أَوۡ غَيۡرِهِ، وَلَكِنۡ أَنَا مُذۡنِبٌ، وَالصَّالِحُونَ لَهُمۡ جَاهٌ عِنۡدَ اللهِ، وَأَطۡلُبُ مِنَ اللهِ بِهِمۡ. فَجَاوِبۡهُ بِمَا تَقَدَّمَ، وَهُوَ أَنَّ الَّذِينَ قَاتَلَهُمۡ رَسُولُ اللهِ  مُقِرُّونَ بِمَا ذَكَرۡتَ، وَمُقِرُّونَ أَنَّ أَوۡثَانَهُمۡ لَا تُدَبِّرُ شَيۡئًا وَإِنَّمَا أَرَادُوا الۡجَاهَ وَالشَّفَاعَةَ. وَاقۡرَأۡ عَلَيۡهِ مَا ذَكَرَ اللهُ فِي كِتَابِهِ وَوَضَّحَهُ، فَإِنۡ قَالَ: هٰؤُلَاءِ الآيَاتُ نَزَلَتۡ فِيمَنۡ يَعۡبُدُ الۡأَصۡنَامَ، كَيۡفَ تَجۡعَلُونَ الصَّالِحِينَ مِنَ الۡأَصۡنَامِ أَمۡ كَيۡفَ تَجۡعَلُونَ الۡأَنۡبِيَاءَ أَصۡنَامًا. فَجَاوِبۡهُ بِمَا تَقَدَّمَ فَإِنَّهُ إِذَا أَقَرَّ أَنَّ الۡكُفَّارَ يَشۡهَدُونَ بِالرُّبُوبِيَّةِ كُلِّهَا للهِ، وَأَنَّهُمۡ مَا أَرَادُوا مِمَّنۡ قَصَدُوا إِلَّا الشَّفَاعَةَ، وَلَكِنۡ أَرَادَ أَنۡ يُفَرِّقَ بَيۡنَ فِعۡلِهِمۡ وَفِعۡلِهِ بِمَا ذَكَرَ، فَاذۡكُرۡ لَهُ أَنَّ الۡكُفَّارَ مِنۡهُمۡ مَنۡ يَدۡعُو الۡأَصۡنَامَ، وَمِنۡهُمۡ مَنۡ يَدۡعُو الۡأَوۡلِيَاءَ الَّذِينَ قَالَ اللهُ فِيهِمۡ: ﴿أُو۟لَـٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ يَبۡتَغُونَ إِلَىٰ رَبِّهِمُ ٱلۡوَسِيلَةَ أَيُّهُمۡ أَقۡرَبُ﴾ [سورة الإسراء، الآية: ٥٧] وَيَدۡعُونَ عِيسَى ابۡنَ مَرۡيَمَ وَأُمَّهُ، وَقَدۡ قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿مَّا ٱلۡمَسِيحُ ٱبۡنُ مَرۡيَمَ إِلَّا رَسُولٌ قَدۡ خَلَتۡ مِن قَبۡلِهِ ٱلرُّسُلُ وَأُمُّهُۥ صِدِّيقَةٌ كَانَا يَأۡكُلَانِ ٱلطَّعَامَ ٱنظُرۡ كَيۡفَ نُبَيِّنُ لَهُمُ ٱلۡءَايَـتِ ثُمَّ ٱنظُرۡ أَنَّى يُؤۡفَكُونَ  قُلۡ أَتَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَا لَا يَمۡلِكُ لَكُمۡ ضَرًّا وَلَا نَفۡعًا وَٱللَّهُ هُوَ ٱلسَّمِيعُ ٱلۡعَلِيمُ﴾ [سورة المائدة، الآيتان: ٧٥، ٧٦] وَاذۡكُرۡ قَوۡلَهُ تَعَالَى: ﴿وَيَوۡمَ يَحۡشُرُهُمۡ جَمِيعًا ثُمَّ يَقُولُ لِلۡمَلَـٰٓئِكَةِ أَهَـٰٓؤُلآءِ إِيَّاكُمۡ كَانُوا۟ يَعۡبُدُونَ قَالُوا۟ سُبۡحَـٰنَكَ أَنتَ وَلِيُّنَا مِن دُونِهِم ۖ بَلۡ كَانُوا۟ يَعۡبُدُونَ ٱلۡجِنَّ ۖ أَكۡثَرُهُم بِهِم مُّؤۡمِنُونَ﴾ [سورة سبأ، الآيتان: ٤٠، ٤١] وَقَوۡلَهُ تَعَالَى: ﴿وَإِذۡ قَالَ ٱللَّهُ يَـعِيسَى ٱبۡنَ مَرۡيَمَ ءَأَنتَ قُلۡتَ لِلنَّاسِ ٱتَّخِذُونِى وَأُمِّىَ إِلَـهَيۡنِ مِن دُونِ ٱللَّهِ قَالَ سُبۡحَـنَكَ مَا يَكُونُ لِىٓ أَنۡ أَقُولَ مَا لَيۡسَ لِى بِحَقٍّ إِن كُنتُ قُلۡتُهُۥ فَقَدۡ عَلِمۡتَهُۥ تَعۡلَمُ مَا فِى نَفۡسِى وَلَآ أَعۡلَمُ مَا فِى نَفۡسِكَ إِنَّكَ أَنتَ عَلَّـمُ ٱلۡغُيُوبِ ﴾ الآية [سورة المائدة، الآية: ١١٦] فَقُلۡ لَهُ عَرَفۡتَ أَنَّ اللهَ كَفَّرَ مَنۡ قَصَدَ الۡأَصۡنَامَ وَكَفَّرَ أَيۡضًا مَنۡ قَصَدَ الصَّالِحِينَ وَقَاتَلَهُمۡ رَسُولُ اللهِ . فَإِنۡ قَالَ: الكُفَّارُ يُرِيدُونَ مِنۡهُمۡ، وَأَنَا أَشۡهَدُ أَنَّ اللهَ هُوَ النَّافِعُ الضَّارُّ الۡمُدَبِّرُ لَا أُرِيدُ إِلَّا مِنۡهُ، وَالصَّالِحُونَ لَيۡسَ لَهُمۡ مِنَ الۡأَمۡرِ شَيۡءٌ، وَلَكِنۡ أَقۡصُدُهُمۡ أَرۡجُو مِنَ اللهِ شَفَاعَتَهُمۡ، فَالۡجَوَابُ: أَنَّ هٰذَا قَوۡلُ الۡكُفَّارِ سَوَاءٌ بِسَوَاءٍ فَاقۡرَأۡ عَلَيۡهِ قَوۡلَهُ تَعَالَى: ﴿وَٱلَّذِينَ ٱتَّخَذُوا۟ مِن دُونِهِۦٓ أَوۡلِيَآءَ مَا نَعۡبُدُهُمۡ إِلَّا لِيُقَرِّبُونَآ إِلَى ٱللَّهِ زُلۡفَىٓ ﴾ [سورة الزمر، الآية: ٣] وَقَوۡلَهُ تَعَالَى: ﴿وَيَقُولُونَ هَـٓؤُلَآءِ شُفَعَـٓؤُنَا عِندَ ٱللَّهِ ﴾ [سورة يونس، الآية: ١٨].

Adapun jawaban secara terperinci, sesungguhnya musuh-musuh Allah memiliki banyak sanggahan terhadap agama para rasul yang mereka gunakan untuk menghalang-halangi manusia darinya. Di antaranya adalah ucapan mereka: “Kami tidak berbuat syirik kepada Allah, bahkan kami bersaksi bahwa tidak ada yang menciptakan, memberi rezeki, memberi manfaat, maupun mendatangkan mudarat kecuali Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan sesungguhnya Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tidak memiliki kuasa untuk memberi manfaat maupun mudarat bagi dirinya sendiri, apalagi Syekh ‘Abdul Qadir atau selainnya. Akan tetapi, aku adalah orang yang berdosa, sedangkan orang-orang saleh memiliki kedudukan di sisi Allah, maka aku memohon kepada Allah melalui perantaraan mereka.”

Maka jawablah dia dengan apa yang telah lewat, yaitu bahwa orang-orang yang diperangi oleh Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—mengakui apa yang kamu sebutkan itu. Mereka mengakui bahwa berhala-berhala mereka tidak mengatur sesuatu pun dan sesungguhnya mereka hanyalah menginginkan kedudukan serta syafaat. Bacakanlah kepadanya apa yang telah Allah sebutkan dan jelaskan dalam kitab-Nya.

Jika dia berkata: “Ayat-ayat ini turun mengenai orang-orang yang menyembah berhala, bagaimana mungkin kalian menyamakan orang-orang saleh dengan berhala, atau bagaimana mungkin kalian menjadikan para nabi sebagai berhala?”

Maka jawablah dengan apa yang telah lewat. Karena apabila dia telah mengakui bahwa orang-orang kafir bersaksi atas seluruh rububiyah hanya milik Allah, dan bahwa mereka tidak menginginkan dari apa yang mereka tuju melainkan syafaat, namun dia ingin membedakan antara perbuatan mereka dengan perbuatannya melalui alasan tadi, maka sebutkanlah kepadanya bahwa di antara orang-orang kafir itu ada yang menyembah berhala, dan ada pula yang menyembah para wali yang Allah telah berfirman tentang mereka: “Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rab mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat.” (QS Al-Isra: 57).

Mereka juga menyeru ‘Isa putra Maryam dan ibunya, padahal Allah taala telah berfirman: “Al-Masih putra Maryam itu hanyalah seorang rasul yang sesungguhnya telah berlalu sebelumnya beberapa rasul, dan ibunya seorang yang sangat benar, keduanya biasa memakan makanan. Perhatikan bagaimana Kami menjelaskan kepada mereka ayat-ayat (kekuasaan Kami), kemudian perhatikanlah bagaimana mereka berpaling (dari kebenaran). Katakanlah, ‘Mengapa kalian menyembah selain Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan mudarat kepada kalian dan tidak (pula) memberi manfaat?’ Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS Al-Maidah: 75-76).

Dan sebutkanlah firman-Nya taala: “Dan (ingatlah) pada hari (ketika) Allah mengumpulkan mereka semuanya, kemudian Dia berfirman kepada para malaikat, ‘Apakah kepada kamu mereka ini dahulu menyembah?’ Para malaikat itu menjawab, ‘Maha Suci Engkau, Engkaulah Pelindung kami, bukan mereka; bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu.’” (QS Saba: 40-41).

Dan firman-Nya taala: “Dan (ingatlah) ketika Allah berfirman, ‘Wahai ‘Isa putra Maryam! Engkaukah yang mengatakan kepada manusia, Jadikanlah aku dan ibuku dua tuhan selain Allah?’ ‘Isa menjawab, ‘Maha Suci Engkau, tidaklah patut bagiku mengatakan apa yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya maka tentulah Engkau mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui segala yang gaib.’” (QS Al-Maidah: 116).

Maka katakanlah kepadanya: “Kamu telah mengetahui bahwa Allah mengafirkan orang yang menujukan (ibadah) kepada berhala, Allah juga mengafirkan orang yang menujukan (ibadah) kepada orang-orang saleh, serta Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memerangi mereka semua.”

Jika dia berkata: “Orang-orang kafir menginginkan (manfaat) dari mereka (sesembahan itu), sedangkan aku bersaksi bahwa Allah-lah Yang Maha Memberi manfaat, Maha Mendatangkan mudarat, dan Maha Mengatur; aku tidak menginginkan (manfaat) kecuali dari-Nya, dan orang-orang saleh itu tidak memiliki kuasa sedikit pun atas urusan tersebut, namun aku menujukan maksud kepada mereka dengan harapan mendapatkan syafaat mereka di sisi Allah.”

Maka jawabannya adalah: “Sesungguhnya ini adalah ucapan orang-orang kafir, sama persis.” Bacakanlah kepadanya firman Allah taala: “Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata), ‘Kami tidak menyembah mereka melainkan agar mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya.’” (QS Az-Zumar: 3). Serta firman-Nya taala: “Dan mereka berkata, ‘Mereka itu adalah pemberi syafaat kami di sisi Allah.’” (QS Yunus: 18).

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *