Kasyfusy-Syubuhat

ismail  

وَاعۡلَمۡ أَنَّ هٰذِهِ الشُّبَهَ الثَّلَاثَ هِيَ أَكۡبَرُ مَا عِنۡدَهُمۡ، فَإِذَا عَرَفۡتَ أَنَّ اللهَ وَضَّحَهَا فِي كِتَابِهِ وَفَهِمۡتَهَا فَهۡمًا جَيِّدًا فَمَا بَعۡدَهَا أَيۡسَرُ مِنۡهَا، فَإِنۡ قَالَ: أَنَا لَا أَعۡبُدُ إِلَّا اللهَ وَهٰذَا الإِلۡتِجَاءُ إِلَى الصَّالِحِينَ وَدُعَاءُهُمۡ لَيۡسَ بِعِبَادَةٍ، فَقُلۡ لَهُ: أَنۡتَ تُقِرُّ أَنَّ اللهَ افۡتَرَضَ عَلَيۡكَ إِخۡلَاصَ الۡعِبَادَةِ وَهُوَ حَقُّهُ عَلَيۡكَ؟ فَإِذَا قَالَ: نَعَمۡ، فَقُلۡ لَهُ: بَيِّنۡ لِي هٰذَا الَّذِي فَرَّضَهُ اللهُ عَلَيۡكَ وَهُوَ إِخۡلَاصُ الۡعِبَادَةِ للهِ وَحۡدَهُ وَهُوَ حَقُّهُ عَلَيۡكَ، فَإِنَّهُ لَا يَعۡرِفُ الۡعِبَادَةَ وَلَا أَنۡوَاعَهَا.

Dan ketahuilah bahwa tiga syubhat ini adalah yang paling besar yang mereka miliki. Apabila kamu telah mengetahui bahwa Allah telah menjelaskannya dalam kitab-Nya dan kamu memahaminya dengan pemahaman yang baik, maka syubhat setelahnya akan lebih mudah daripada itu.

Jika dia berkata: “Aku tidak menyembah kecuali kepada Allah, dan tindakan berlindung kepada orang-orang saleh serta berdoa kepada mereka ini bukanlah suatu ibadah.”

Maka katakanlah kepadanya: “Apakah kamu mengakui bahwa Allah telah mewajibkan kepadamu pengikhlasan ibadah, dan hal itu merupakan hak-Nya atasmu?”

Apabila dia menjawab: “Ya,” maka katakanlah kepadanya: “Jelaskanlah kepadaku kewajiban yang Allah fardukan atasmu ini, yaitu pengikhlasan ibadah hanya kepada Allah semata yang merupakan hak-Nya atasmu.” Karena sesungguhnya dia tidak mengetahui apa itu ibadah dan tidak pula mengetahui jenis-jenisnya.

فَبَيِّنۡهَا لَهُ بِقَوۡلِكَ: قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿ٱدۡعُوا۟ رَبَّكُمۡ تَضَرُّعًا وَخُفۡيَةً﴾ [سورة الۡأعراف، الآية: ٥٥] فَإِذَا أَعۡلَمۡتَهُ بِهٰذَا فَقُلۡ لَهُ: هَلۡ عَلِمۡتَ هٰذَا عِبَادَةً للهِ؟ فَلَا بُدَّ أَنۡ يَقُولَ: نَعَمۡ، وَالدُّعَاءُ مُخُّ الۡعِبَادَةِ، فَقُلۡ لَهُ: إِذَا أَقۡرَرۡتَ أَنَّهَا عِبَادَةٌ للهِ وَدَعَوۡتَ اللهَ لَيۡلًا وَنَهَارًا خَوۡفًا وَطَمَعًا، ثُمَّ دَعَوۡتَ فِي تِلۡكَ الۡحَاجَةِ نَبِيًّا أَوۡ غَيۡرَهُ، هَلۡ أَشۡرَكۡتَ فِي عِبَادَةِ اللهِ غَيۡرَهُ؟ فَلَا بُدَّ أَنۡ يَقُولَ: نَعَمۡ. فَقُلۡ لَهُ: إِذَا عَلِمۡتَ بِقَوۡلِ اللهِ تَعَالَى: ﴿فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانۡحَرۡ﴾ [سورة الكوثر، الآية: ٢] وَأَطَعۡتَ اللهَ وَنَحَرۡتَ لَهُ، هَلۡ هٰذَا عِبَادَةٌ، فَلَا بُدَّ أَنۡ يَقُولَ: نَعَمۡ، فَقُلۡ لَهُ: فَإِنۡ نَحَرۡتَ لِمَخۡلُوقٍ، نَبِيٍّ، أَوۡ جِنِيٍّ، أَوۡ غَيۡرِهِمَا، هَلۡ أَشۡرَكۡتَ فِي هٰذِهِ الۡعِبَادَةِ غَيۡرَ اللهِ؟ فَلَا بُدَّ أَنۡ يُقِرَّ وَيَقُولَ: نَعَمۡ، وَقُلۡ لَهُ أَيۡضًا: الۡمُشۡرِكُونَ الَّذِينَ نَزَلَ فِيهِمُ الۡقُرۡآنُ هَلۡ كَانُوا يَعۡبُدُونَ الۡمَلَائِكَةَ وَالصَّالِحِينَ وَاللَّاتَ وَغَيۡرَ ذٰلِكَ؟ فَلَا بُدَّ أَنۡ يَقُولَ: نَعَمۡ، فَقُلۡ لَهُ: وَهَلۡ كَانَتۡ عِبَادَتُهُمۡ إِيَّاهُمۡ إِلَّا فِي الدُّعَاءِ وَالذَّبۡحِ وَالإِلۡتِجَاءِ وَنَحۡوِ ذٰلِكَ؟ وَإِلَّا فَهُمۡ مُقِرُّونَ أَنَّهُمۡ عَبِيدُهُ وَتَحۡتَ قَهۡرِهِ، وَأَنَّ اللهَ هُوَ الَّذِي يُدَبِّرُ الۡأَمۡرَ، وَلَكِنۡ دَعَوۡهُمۡ وَالۡتَجَئُوا إِلَيۡهِمۡ لِلۡجَاهِ وَالشَّفَاعَةِ، وَهٰذَا ظَاهِرٌ جِدًّا.

Jelaskanlah hal itu kepadanya dengan ucapanmu: “Allah taala berfirman: ‘Berdoalah kepada Rab kalian dengan rendah hati dan suara yang lembut.’” (QS Al-A’raf: 55). Apabila kamu telah memberitahunya dengan (ayat) ini, maka katakanlah: “Apakah kamu tahu bahwa perbuatan doa ini adalah ibadah kepada Allah?” Maka dia pasti akan menjawab: “Ya,” karena doa adalah inti ibadah.

Lalu katakanlah kepadanya: “Jika kamu mengakui bahwa doa adalah ibadah kepada Allah, dan kamu berdoa kepada Allah siang dan malam dengan penuh rasa takut dan harap, kemudian dalam hajat yang sama kamu berdoa kepada seorang nabi atau selainnya, apakah kamu telah menyekutukan selain Allah dalam ibadah kepada-Nya?” Dia pasti akan menjawab: “Ya.”

Katakanlah pula: “Jika kamu mengetahui firman Allah taala: ‘Maka laksanakanlah salat karena Rabmu, dan berkurbanlah!’ (QS Al-Kautsar: 2), lalu kamu menaati Allah dan berkurban untuk-Nya, apakah ini sebuah ibadah?” Dia pasti akan menjawab: “Ya.” Katakanlah: “Jika kamu berkurban untuk makhluk, baik itu nabi, jin, atau selain keduanya, apakah kamu telah menyekutukan selain Allah dalam ibadah ini?” Dia pasti akan mengaku dan menjawab: “Ya.”

Katakan lagi kepadanya: “Orang-orang musyrik yang menjadi sebab turunnya Al-Qur’an, apakah mereka dahulu menyembah malaikat, orang-orang saleh, Al-Lat, dan selain itu?” Dia pasti akan menjawab: “Ya.” Katakanlah: “Bukankah penyembahan mereka kepada itu semua hanyalah dalam bentuk doa, penyembelihan, perlindungan, dan semisalnya? Karena jika bukan karena itu, nyatanya mereka tetap mengakui bahwa semua itu adalah hamba-hamba Allah dan berada di bawah kekuasaan-Nya, serta mengakui bahwa Allah-lah yang mengatur segala urusan. Akan tetapi, mereka berdoa dan berlindung kepada mereka hanya untuk mendapatkan kedudukan dan syafaat. Hal ini sangatlah jelas.”

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *