Kasyfusy-Syubuhat

ismail  

(فَإِنۡ قَالَ): أَتُنۡكِرُ شَفَاعَةَ رَسُولِ اللهِ  وَتَبۡرَأُ مِنۡهَا؟ فَقُلۡ: لَاأُنۡكِرُهَا وَلَا أَتَبَرَّأُ مِنۡهَا، بَلۡ هُوَ  الشَّافِعُ وَالۡمُشَفَّعُ، وَأَرۡجُو شَفَاعَتَهُ، لَكِنۡ الشَّفَاعَةُ كُلُّهَا للهِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿قُل لِّلَّهِ ٱلشَّفَـعَةُ جَمِيعًا ﴾ [سورة الزمر، الآية: ٤٤] وَلَا تَكُونُ إِلَّا مِنۡ بَعۡدِ إِذۡنِ اللهِ، كَمَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿مَنۡ ذَا الَّذِي يَشۡفَعُ عِنۡدَهُ إِلَّا بِإِذۡنِهِ﴾ [سورة البقرة، الآية: ٢٥٥] وَلَا يَشۡفَعُ فِي أَحَدٍ إِلَّا مِنۡ بَعۡدِ أَنۡ يَأۡذَنَ اللهُ فِيهِ، كَمَا قَالَ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَلَا يَشۡفَعُونَ إِلَّا لِمَنِ ارۡتَضَى﴾ [سورة الۡأنبياء، الآية: ٢٨] وَهُوَ سُبۡحَانَهُ لَا يَرۡضَى إِلَّا التَّوۡحِيدَ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَن يَبۡتَغِ غَيۡرَ ٱلإِسۡلَـٰمِ دِينًا فَلَن يُقۡبَلَ مِنۡهُ﴾ [سورة آل عمران، الآية: ٨٥] فَإِذَا كَانَتۡ الشَّفَاعَةُ كُلُّهَا للهِ، وَلَا تَكُونُ إِلَّا مِنۡ بَعۡدِ إِذۡنِهِ وَلَا يَشۡفَعُ النَّبِيُّ  وَلَا غَيۡرُهُ فِي أَحَدٍ حَتَّى يَأۡذَنَ اللهُ فِيهِ، وَلَا يَأۡذَنُ اللهُ تَعَالَى إِلَّا لأَهۡلِ التَّوۡحِيدِ، تَبَيَّنَ لَكَ أَنَّ الشَّفَاعَةَ كُلَّهَا للهِ، وَأَطۡلُبُهَا مِنۡهُ فَأَقُولُ: اللّٰهُمَّ لَا تَحۡرِمۡنِي شَفَاعَتَهُ، اللّٰهُمَّ شَفِّعۡهُ فِيَّ، وَأَمۡثَالَ هٰذَا.

(Jika dia berkata): “Apakah kamu mengingkari syafaat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan berlepas diri darinya?”

Maka katakanlah:

Aku tidak mengingkarinya dan tidak pula berlepas diri darinya. Bahkan, beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—adalah pemberi syafaat dan yang diberi izin untuk memberi syafaat, dan aku mengharapkan syafaat beliau. Akan tetapi, syafaat itu seluruhnya adalah milik Allah, sebagaimana firman-Nya taala: “Katakanlah: Syafaat itu semuanya hanya milik Allah.” (QS Az-Zumar: 44).

Syafaat tersebut tidak akan ada kecuali setelah adanya izin dari Allah, sebagaimana firman-Nya—‘azza wa jalla—: “Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi-Nya tanpa izin-Nya?” (QS Al-Baqarah: 255). Dan beliau tidak akan memberi syafaat kepada siapa pun kecuali setelah Allah memberi izin bagi orang tersebut, sebagaimana firman-Nya—‘azza wa jalla—: “Dan mereka tidak memberi syafaat melainkan kepada orang yang diridai (Allah).” (QS Al-Anbiya’: 28). Sedangkan Dia—subhanahu wa ta’ala—tidak rida kecuali kepada tauhid, sebagaimana firman-Nya taala: “Dan barang siapa mencari agama selain Islam, maka sekali-kali tidak akan diterima (agama itu) darinya.” (QS Ali Imran: 85).

Apabila syafaat itu seluruhnya milik Allah, dan tidak akan ada kecuali setelah izin-Nya, serta Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—maupun selain beliau tidak dapat memberi syafaat kepada siapa pun hingga Allah memberi izin bagi orang tersebut, dan Allah taala tidak memberi izin kecuali bagi ahli tauhid, maka jelaslah bagimu bahwa syafaat itu seluruhnya milik Allah. Oleh karena itu, aku memintanya kepada-Nya dengan berucap: “Ya Allah, janganlah Engkau menghalangi aku dari syafaat beliau. Ya Allah, jadikanlah beliau pemberi syafaat bagiku,” dan yang semisal dengan ini.

فَإِنۡ قَالَ: النَّبِيُّ  أُعۡطِيَ الشَّفَاعَةَ وَأَنَا أَطۡلُبُهُ مِمَّا أَعۡطَاهُ اللهُ، فَالۡجَوَابُ: أَنَّ اللهَ أَعۡطَاهُ الشَّفَاعَةَ وَنَهَاكَ عَنۡ هٰذَا. فَقَالَ تَعَالَى: ﴿فَلَا تَدۡعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًا ﴾ [سورة الجن، الآية: ١٨]. فَإِذَا كُنۡتَ تَدۡعُو اللهَ أَنۡ يُشَفِّعَ نَبِيَّهُ فِيكَ فَأَطِعۡهُ فِي قَوۡلِهِ: ﴿فَلَا تَدۡعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًا ﴾ [سورة الجن، الآية: ١٨] وَأَيۡضًا فَإِنَّ الشَّفَاعَةَ أُعۡطِيَهَا غَيۡرُ النَّبِيِّ ، فَصَحَّ أَنَّ الۡمَلَائِكَةَ يَشۡفَعُونَ، وَالۡأَفۡرَاطَ يَشۡفَعُونَ وَالۡأَوۡلِيَاءَ يَشۡفَعُونَ، أَتَقُولُ: إِنَّ اللهَ أَعۡطَاهُمُ الشَّفَاعَةَ فَاطۡلُبۡهَا مِنۡهُمۡ، فَإِنۡ قُلۡتَ هٰذَا رَجَعۡتَ إِلَى عِبَادَةِ الصَّالِحِينَ الَّتِي ذَكَرَ اللهُ فِي كِتَابِهِ، وَإِنۡ قُلۡتَ لَا بَطَلَ قَوۡلُكَ أَعۡطَاهُ اللهُ الشَّفَاعَةَ وَأَنَا أَطۡلُبُهُ مِمَّا أَعۡطَاهُ اللهُ.

Jika dia berkata: “Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah diberi syafaat, dan aku meminta kepada beliau apa yang telah Allah berikan kepadanya.”

Maka jawabannya adalah:

Sesungguhnya Allah telah memberikan beliau syafaat, namun Dia melarangmu dari perbuatan (meminta kepada selain Allah) ini. Allah taala berfirman: “Maka janganlah kalian menyembah apa pun di samping (menyembah) Allah.” (QS Al-Jinn: 18). Apabila kamu berdoa kepada Allah agar Dia menjadikan Nabi-Nya sebagai pemberi syafaat bagimu, maka taatilah Dia dalam firman-Nya: “Maka janganlah kalian menyembah apa pun di samping (menyembah) Allah.” (QS Al-Jinn: 18).

Selain itu, sesungguhnya syafaat juga diberikan kepada selain Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Telah sahih bahwa malaikat memberi syafaat, anak-anak yang wafat sebelum balig memberi syafaat, dan para wali pun memberi syafaat. Apakah kamu akan mengatakan: “Sesungguhnya Allah telah memberikan mereka syafaat, maka mintalah syafaat itu kepada mereka?”

Jika kamu mengatakan hal ini, berarti kamu kembali kepada perbuatan menyembah orang-orang saleh yang telah Allah sebutkan dalam kitab-Nya. Namun jika kamu mengatakan tidak, maka batallah ucapanmu bahwa “Allah telah memberi beliau syafaat dan aku meminta kepada beliau apa yang telah Allah berikan kepadanya.”

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *