Kasyfusy-Syubuhat

ismail  

وَيُقَالُ أَيۡضًا: الَّذِينَ قَالَ اللهُ فِيهِمۡ: ﴿يَحۡلِفُونَ بِٱللَّهِ مَا قَالُوا۟ وَلَقَدۡ قَالُوا۟ كَلِمَةَ ٱلۡكُفۡرِ وَكَفَرُوا۟ بَعۡدَ إِسۡلَـٰمِهِمۡ ﴾ [سورة التوبة، الآية: ٧٤] أَمَا سَمِعۡتَ أَنَّ اللهَ كَفَّرَهُمۡ بِكَلِمَةٍ مَعَ كَوۡنِهِمۡ فِي زَمَنِ رَسُولِ اللهِ  يُجَاهِدُونَ مَعَهُ وَيُصَلُّونَ مَعَهُ وَيُزَكُّونَ وَيَحُجُّونَ وَيُوَحِّدُونَ؟ وَكَذٰلِكَ الَّذِينَ قَالَ اللهُ فِيهِمۡ: ﴿قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَـٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ  لَا تَعۡتَذِرُوا۟ قَدۡ كَفَرۡتُم بَعۡدَ إِيمَـٰنِكُمۡ ﴾ [سورة التوبة، الآيتان: ٦٥، ٦٦] فَهٰؤُلَاءِ الَّذِينَ صَرَّحَ اللهُ أَنَّهُمۡ كَفَرُوا بَعۡدَ إِيمَانِهِمۡ وَهُمۡ مَعَ رَسُولِ اللهِ  فِي غَزۡوَةِ تَبُوكٍ، قَالُوا كَلِمَةً ذَكَرُوا أَنَّهُمۡ قَالُوهَا عَلَى وَجۡهِ الۡمَزۡحِ، فَتَأَمَّلۡ هٰذِهِ الشُّبۡهَةَ، وَهِيَ قَوۡلُهُمۡ: تُكَفِّرُونَ مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ أُنَاسًا يَشۡهَدُونَ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَيُصَلُّونَ وَيَصُومُونَ، (ثُمَّ تَأَمَّلۡ) جَوَابَهَا فَإِنَّهُ مِنۡ أَنۡفَعِ مَا فِي هٰذِهِ الۡأَوۡرَاقِ.

Dikatakan pula: Orang-orang yang Allah firmankan tentang mereka: “Mereka (orang-orang munafik itu) bersumpah dengan (nama) Allah bahwa mereka tidak mengatakan (sesuatu yang menyakitimu), padahal sungguh mereka telah mengucapkan perkataan kekafiran dan mereka menjadi kafir setelah keislaman mereka.” (QS At-Taubah: 74). Tidakkah kamu mendengar bahwa Allah mengafirkan mereka hanya karena satu kalimat, padahal mereka hidup di zaman Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, berjihad bersama beliau, salat, membayar zakat, menunaikan haji, dan menauhidkan Allah?

Demikian pula orang-orang yang Allah firmankan tentang mereka: “Katakanlah, ‘Apakah terhadap Allah, ayat-ayat-Nya, dan Rasul-Nya kalian selalu berolok-olok?’ Tidak usah kalian meminta maaf, karena kalian telah kafir setelah beriman.” (QS At-Taubah: 65-66). Mereka inilah orang-orang yang Allah nyatakan secara tegas telah kafir setelah keimanan mereka, padahal mereka sedang bersama Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dalam Perang Tabuk. Mereka mengucapkan satu kalimat yang mereka akui sendiri diucapkan hanya dalam bentuk candaan.

Maka renungkanlah syubhat ini, yaitu ucapan mereka: “Kalian mengafirkan orang-orang muslim yang bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, mendirikan salat, dan berpuasa,” (kemudian renungkanlah) jawabannya, karena sesungguhnya jawaban ini termasuk hal yang paling bermanfaat di dalam lembaran-lembaran ini.

وَمِنَ الدَّلِيلِ عَلَى ذٰلِكَ أَيۡضًا مَا حَكَى اللهُ عَنۡ بَنِي إِسۡرَائِيلَ مَعَ إِسۡلَامِهِمۡ وَعِلۡمِهِمۡ وَصَلَاحِهِمۡ، أَنَّهُمۡ قَالُوا لِمُوسَى: ﴿اجۡعَلۡ لَنَا إِلٰهًا كَمَا لَهُمۡ آلِهَةٌ﴾ [سورة الۡأعراف، الآية: ١٣٨]، وَقَوۡلُ أُنَاسٍ مِنَ الصَّحَابَةِ: اجۡعَلۡ لَنَا ذَاتَ أَنۡوَاطٍ فَحَلَفَ رَسُولُ اللهِ  أَنَّ هٰذَا مِثۡلُ قَوۡلِ بَنِي إِسۡرَائِيلَ لِمُوسَى: (اجۡعَلۡ لَنَا إِلٰهًا).

Dan di antara dalil atas hal itu juga adalah apa yang Allah ceritakan tentang Bani Israil, padahal mereka telah Islam serta memiliki ilmu dan kesalehan, bahwa mereka berkata kepada Musa: “Buatlah untuk kami sebuah tuhan sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan.” (QS Al-A’raf: 138). Begitu pula ucapan beberapa orang dari kalangan sahabat: “Buatlah untuk kami Dzat Anwath,” maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersumpah bahwa ini serupa dengan ucapan Bani Israil kepada Musa: “Buatlah untuk kami sebuah tuhan.”

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *