ثُمَّ يَقۡرَأُ الۡفَاتِحَةَ مُرَتَّبَةً مُتَوَالِيَةً مُشَدَّدَةً، وَهِيَ رُكۡنٌ فِي كُلِّ رَكۡعَةٍ، كَمَا فِي الۡحَدِيثِ: (لَا صَلَاةَ لِمَنۡ لَمۡ يَقۡرَأۡ بِفَاتِحَةِ الۡكِتَابِ).
Kemudian ia membaca Al-Fatihah secara tertib, berturut-turut, dan dengan memperhatikan tempat-tempat tasydidnya. Membaca Al-Fatihah ini merupakan rukun pada setiap rakaat sebagaimana dalam hadis: “Tidak ada salat bagi orang yang tidak membaca Pembuka Kitab (Al-Fatihah).”
وَتُسَمَّى أُمَّ الۡقُرۡآنِ، لِأَنَّ فِيهَا الۡإِلَهِيَّاتِ، وَالۡمَعَادَ، وَالنُّبُوَّاتِ، وَإِثۡبَاتَ الۡقَدَرِ، فَالۡآيَتَانِ الۡأُولَيَانِ يَدُلَّانِ عَلَى الۡإِلَهِيَّاتِ، ﴿مَٰلِكِ يَوۡمِ ٱلدِّينِ﴾ يَدُلُّ عَلَى الۡمَعَادِ، وَ﴿إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ﴾ الۡأَمۡرِ وَالنَّهۡيِ وَالتَّوَكُّلِ وَإِخۡلَاصِ ذٰلِكَ كُلِّهِ لِلَّهِ، وَفِيهَا التَّنۡبِيهُ عَلَى طَرِيقِ الۡحَقِّ وَأَهۡلِهِ الۡمُقۡتَدَى بِهِمۡ، وَالتَّنۡبِيهُ عَلَى طَرِيقِ الۡغَيِّ وَالضَّلَالِ.
Surah Al-Fatihah ini dinamakan Ummul-Qur’an (induk Al-Qur’an) karena di dalamnya terdapat pembahasan tentang ketuhanan, hari kebangkitan, kenabian, dan penetapan takdir. Dua ayat pertama menunjukkan tentang ketuhanan. “Māliki yaumid-dīn (Yang menguasai di Hari Pembalasan)” (QS Al-Fatihah: 4) menunjukkan tentang hari kebangkitan. Sementara “iyyāka na‘budu wa iyyāka nasta‘īn (hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepada Engkaulah kami meminta pertolongan)” (QS Al-Fatihah: 5) menunjukkan tentang perintah, larangan, tawakal, serta pengikhlasan semua hal tersebut hanya untuk Allah semata. Di dalam surah ini juga terdapat peringatan tentang jalan yang benar beserta orang-orang yang berhak diikuti, serta peringatan tentang jalan kesesatan dan penyimpangan.
وَيُسۡتَحَبُّ أَنۡ يَقِفَ عِنۡدَ كُلِّ آيَةٍ لِقِرَاءَتِهِ ﷺ.
Dan disunahkan untuk berhenti pada setiap ayat berdasarkan cara membaca Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.
وَهِيَ أَعۡظَمُ سُورَةٍ فِي الۡقُرۡآنِ، وَأَعۡظَمُ آيَةٍ فِيهِ آيَةُ الۡكُرۡسِيِّ، وَفِيهَا إِحۡدَى عَشۡرَةَ تَشۡدِيدَةً، وَيُكۡرَهُ الۡإِفۡرَاطُ فِي التَّشۡدِيدِ وَالۡإِفۡرَاطُ فِي الۡمَدِّ.
Surah Al-Fatihah ini adalah surah yang paling agung dalam Al-Qur’an, sedangkan ayat yang paling agung di dalamnya adalah ayat kursi. Di dalam surah Al-Fatihah terdapat sebelas tasydid. Dimakruhkan berlebihan dalam mentasydidkan dan berlebihan dalam memanjangkan bacaan (mad).
فَإِذَا فَرَغَ قَالَ آمِينَ بَعۡدَ سَكۡتَةٍ لَطِيفَةٍ، لِيُعۡلَمَ أَنَّهَا لَيۡسَتۡ مِنَ الۡقُرۡآنِ، وَمَعۡنَاهَا: اللّٰهُمَّ اسۡتَجِبۡ، يَجۡهَرُ بِهَا إِمَامٌ وَمَأۡمُومٌ مَعًا فِي صَلَاةٍ جَهۡرِيَّةٍ، وَيُسۡتَحَبُّ سُكُوتُ الۡإِمَامِ بَعۡدَهَا فِي صَلَاةٍ جَهۡرِيَّةٍ لِحَدِيثِ سَمُرَةَ.
Apabila telah selesai, ia mengucapkan: “Amin” setelah diam sejenak agar diketahui bahwa kata tersebut bukanlah bagian dari Al-Qur’an, dan maknanya adalah ya Allah kabulkanlah. Imam dan makmum sama-sama mengeraskan bacaan tersebut dalam salat jahriyyah (yang bacaannya dikeraskan). Dan disunahkan bagi imam untuk diam sejenak setelahnya dalam salat jahriyyah berdasarkan hadis Samurah.
![]()
Be the first to leave a comment