Hukum Penghormatan Militer dan Hukum Penghormatan dengan Isyarat

ismail  

حكم التحية العسكرية وحكم التحية بالإشارة

🎙️ Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin wafat 1421 H rahimahullah 

السؤال:

Pertanyaan:

ما حكم التحية العسكرية مع العلم أنها إلزامية على الجندي؟

Apa hukum penghormatan militer dengan mengetahui bahwa hal tersebut bersifat wajib bagi seorang prajurit?

الجواب:

Jawaban:

الجمع بين السلام القولي، والإشارة لا بأس به، مثل أن يقول: السلام عليكم.

Menggabungkan antara ucapan salam dan isyarat tangan hukumnya tidak mengapa, contohnya seperti ia mengucapkan: As-salamu ‘alaikum.

لكن الضرب بالرجل هذا ليس له أصل إطلاقاً، ولا ينبغي أن يضرب بالرجل، فربما يؤثر على رجله أو يؤثر على الأرض التي تحته إذا كانت من خشب، أو ما أشبه ذلك.

Akan tetapi, mengentakkan kaki itu sama sekali tidak ada asalnya, dan tidak sepantasnya seseorang mengentakkan kakinya; karena terkadang hal itu bisa berdampak buruk pada kakinya atau berdampak buruk pada lantai di bawahnya jika terbuat dari kayu atau yang sejenis dengannya.

ولكن نرجو الله -سبحانه وتعالى- أن يهدي المسلمين إلى إلغاء مثل هذه الأمور، وإلى أن ينظروا إلى من سبقهم من هذه الأمة لا إلى من تخلف عنهم من الأمم الحاضرة، نحن مسلمون والأولى بنا أن نقتدي بهدي المسلمين، إذا مر قال: السلام عليكم، وإذا كان بعيداً جمع بين الإشارة والقول، وإذا كان أصم جمع له أيضاً بين القول، والإشارة، أما بدون ذلك مثل أن نقتصر على الإشارة فقط فهذا غلط، ثم إني رأيت بعض الجنود صاروا يسلمون تسليماً غريباً يعكف يده على صدره، نسأل من الله أن يهدي المسئولين إلى اتباع هدي السلف الصالح، إذا مر الضابط عليه أن يسلم فيقول: السلام عليكم؛ لأن أخاه هذا مسلم، وإن كان أقل منه رتبة، والثاني يقول: وعليكم السلام، والله لو فعلوا هذا كان هذا دعاء، وعبادة وثواب وأجر، الآن الجيش كلهم معتادون الدعاء لهم بالسلامة، فهل أفضل أن نقول: السلام عليكم؛ لأنهم كلهم يريدون السلامة، فنرجو الله -تعالى- أن يفطن المسئولون لهذا الأمر، وأن يكون لهم شعار خاص، وهو الشعار الذي كان عليه الرسول -عليه الصلاة والسلام- وأصحابه.

Namun kita berharap kepada Allah—subhanahu wa ta’ala—semoga memberi petunjuk kepada kaum muslimin untuk menghapuskan perkara-perkara semacam ini, dan agar mereka melihat kepada orang-orang yang telah mendahului mereka dari umat ini, bukan kepada orang-orang yang tertinggal dari mereka dari umat-umat masa kini. Kita adalah kaum muslimin dan yang lebih utama bagi kita adalah meneladani petunjuk kaum muslimin. Apabila ia lewat, ia mengucapkan: As-salamu ‘alaikum. Apabila jaraknya jauh, ia menggabungkan antara isyarat tangan dan ucapan. Dan apabila orang tersebut tuli, digabungkan pula untuknya antara ucapan dan isyarat. Adapun tanpa hal itu, seperti kita mencukupkan diri pada isyarat saja, maka ini adalah kesalahan.

Kemudian, sungguh saya telah melihat sebagian prajurit melakukan penghormatan dengan cara yang aneh, ia menekuk tangannya di dada. Kita memohon kepada Allah semoga memberi petunjuk kepada para pejabat berwenang untuk mengikuti petunjuk salaf saleh. Apabila seorang perwira lewat, ia semestinya mengucapkan salam dengan berkata: As-salamu ‘alaikum, karena saudaranya ini adalah seorang muslim meskipun pangkatnya lebih rendah darinya, dan yang kedua menjawab: Wa ‘alaikumus-salam. Demi Allah, seandainya mereka melakukan hal ini, tentu ini menjadi doa, ibadah, pahala, dan ganjaran.

Sekarang seluruh tentara butuh didoakan keselamatan untuk mereka, maka bukankah lebih utama kita mengucapkan: As-salamu ‘alaikum? Karena mereka semua menginginkan keselamatan. Maka kita berharap kepada Allah taala semoga para pejabat berwenang menyadari perkara ini dan agar mereka memiliki syiar khusus, yaitu syiar yang dahulu berada di atasnya Rasul—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan para sahabatnya.

Sumber fatwa: Situs resmi Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.

Loading

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *