Hukum Mengucapkan: “Amin” Setelah Al-Fatihah

ismail  

حكم قول: (آمين) بعد الفاتحة

🎙 Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz (wafat 1420) rahimahullah

السؤال: أيضاً لدى فؤاد محمد أحمد علي سؤال آخر يقول: عرفونا عن آية من سورة الفاتحة وهي آمين، الذي تأتي بعد: وَلا الضَّالِّينَ [الفاتحة:7] فهل هي آية أم سنة أم مستحبة؟

Pertanyaan: Juga dari Fu’ad Muhammad Ahmad ‘Ali, ada pertanyaan lain, ia berkata: “Beri tahu kami tentang satu ayat dari surah Al-Fatihah, yaitu Amin, yang dibaca setelah: waladh-dhallin (QS Al-Fatihah: 7)—apakah ia merupakan satu ayat, sunah, atau dianjurkan (mustahab)?”

الجواب: أيها السائل! قول (آمين) بعد الفاتحة ليست من آيات القرآن، وليست من آيات الفاتحة، وإنما هي دعاء بمعنى: استجب يا ربنا، فـ (آمين) معناها: اللهم استجب، فهي سنة وليست واجبة بل سنة بعد الفاتحة يقولها القاري في الصلاة وغيرها، يقول: (آمين) إذا قرأ الفاتحة، يقولها الإمام.. يقولها المأموم.. يقولها المنفرد في الصلاة وخارجها، آمين، هذه السنة، ليست واجبة ولكنها مستحبة، وهي دعاء وليست آية من الفاتحة ولا من غيرها، وإنما هي دعاء. نعم.

Jawaban:

Wahai penanya, ucapan Amin setelah Al-Fatihah bukanlah bagian dari ayat-ayat Al-Qur’an, dan bukan pula bagian dari ayat-ayat Al-Fatihah. Ucapan itu hanyalah sebuah doa yang bermakna: Kabulkanlah wahai Rab kami. Amin artinya adalah: Ya Allah, kabulkanlah. Oleh karena itu, hukumnya adalah sunah dan tidak wajib, melainkan sunah setelah Al-Fatihah yang diucapkan oleh pembaca di dalam salat maupun di luar salat. Dibaca oleh imam, dibaca oleh makmum, serta dibaca oleh orang yang salat sendirian (munfarid), baik di dalam salat maupun di luar salat: Amin. Ini adalah sunah, tidak wajib melainkan dianjurkan. Ia adalah sebuah doa, dan bukan merupakan ayat dari Al-Fatihah maupun surah lainnya, melainkan hanyalah sebuah doa. Naam.

Sumber fatwa: Situs resmi Syekh Ibnu Baz.

Loading

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *