Adabul-Masyyi ilash-Shalah

ismail  

بَابُ صِفَةِ الصَّلَاةِ

Bab Sifat Salat

يُسْتَحَبُّ أَنْ يَقُومَ إِلَيْهَا عِنْدَ قَوْلِ الْمُؤَذِّنِ: قَدْ قَامَتِ الصَّلَاةُ إِنْ كَانَ الْإِمَامُ فِي الْمَسْجِدِ وَإِلَّا إِذَا رَآهُ.

Disunahkan untuk berdiri menunaikan salat saat muazin mengucapkan: Qad qāmatiṣ-ṣalāh, jika imam sudah berada di dalam masjid, dan jika belum ada, maka saat melihatnya.

قِيلَ لِلْإِمَامِ أَحْمَدَ: قَبْلَ التَّكْبِيرِ تَقُولُ شَيْئًا؟ قَالَ: لَا؛ إِذْ لَمْ يُنْقَلْ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ وَلَا عَنْ أَحَدٍ مِنْ أَصْحَابِهِ.

Imam Ahmad ditanya, “Apakah Anda mengucapkan sesuatu sebelum takbir?”

Beliau menjawab, “Tidak, karena hal itu tidak dinukilkan dari Nabi Muhammad–shallallahu ‘alaihi wa sallam–maupun dari seorang pun sahabat beliau.”

ثُمَّ يُسَوِّي الْإِمَامُ الصُّفُوفَ بِمُحَاذَاةِ الْمَنَاكِبِ وَالْأَكْعُبِ، وَيُسَنُّ تَكْمِيلُ الصَّفِّ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ، وَتَرَاصُّ الْمَأْمُومِينَ، وَسَدُّ خَلَلِ الصُّفُوفِ.

Kemudian imam merapikan saf dengan menyejajarkan bahu dan mata kaki. Disunahkan menyempurnakan saf pertama lalu berikutnya, serta jemaah saling merapatkan barisan dan menutup celah-celah saf.

وَيَمْنَةُ كُلِّ صَفٍّ أَفْضَلُ.

Sisi kanan setiap saf adalah yang lebih utama.

وَقُرْبُ الْأَفْضَلِ مِنَ الْإِمَامِ لِقَوْلِهِ ﷺ: (لِيَلِيَنِي مِنْكُمْ أُولُو الْأَحْلَامِ وَالنُّهَى).

Begitu pula kedekatan orang yang lebih utama di antara jemaah dengan imam berdasarkan sabda Nabi Muhammad–shallallahu ‘alaihi wa sallam–: “Hendaknya yang berdiri di dekatku adalah orang-orang yang dewasa dan berakal di antara kalian.”

وَخَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا، وَشَرُّهَا آخِرُهَا، وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا.

Sebaik-baik saf laki-laki adalah yang paling depan dan seburuk-buruknya adalah yang paling belakang, sedangkan sebaik-baik saf perempuan adalah yang paling belakang dan seburuk-buruknya adalah yang paling depan.

ثُمَّ يَقُولُ وَهُوَ قَائِمٌ مَعَ الْقُدْرَةِ: (اللهُ أَكْبَرُ)، لَا يُجْزِئُهُ غَيْرُهَا، وَالْحِكْمَةُ فِي افْتِتَاحِهَا بِذَلِكَ لِيَسْتَحْضِرَ عَظَمَةَ مَنْ يَقُومُ بَيْنَ يَدَيْهِ فَيَخْشَعَ، فَإِنْ مَدَّ هَمْزَةَ (اللهُ) أَوْ (أَكْبَرُ) أَوْ قَالَ: (أَكْبَارُ) لَمْ تَنْعَقِدْ.

Kemudian ia mengucapkan takbir dalam keadaan berdiri jika mampu: “Allāhu akbar”. Tidak sah dengan selainnya. Hikmah pembukaan salat dengan kalimat tersebut adalah agar seseorang menghadirkan keagungan Zat yang ia berdiri di hadapan-Nya sehingga ia menjadi khusyuk. Maka jika ia memanjangkan hamzah pada kata “Allah” atau “akbar”, atau mengucapkan “akbār”, salatnya tidak sah.

وَالْأَخْرَسُ يُحْرِمُ بِقَلْبِهِ، وَلَا يُحَرِّكُ لِسَانَهُ، وَكَذَا حُكْمُ الْقِرَاءَةِ وَالتَّسْبِيحِ وَغَيْرِهِمَا.

Adapun orang yang bisu, ia melakukan takbiratulihram dengan hatinya dan tidak perlu menggerakkan lidahnya. Demikian pula hukum membaca Al-Qur’an, tasbih, dan lainnya.

Loading

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *