وَيُسَنُّ جَهْرُ الْإِمَامِ بِالتَّكْبِيرِ، لِقَوْلِهِ ﷺ: (إِذَا كَبَّرَ الْإِمَامُ فَكَبِّرُوا)، وَبِالتَّسْمِيعِ لِقَوْلِهِ: (وَإِذَا قَالَ: سَمِعَ اللهُ لِمَنْ حَمِدَهُ، فَقُولُوا: رَبَّنَا وَلَكَ الْحَمْدُ)، وَيُسِرُّ مَأْمُومٌ وَمُنْفَرِدٌ.
Disunahkan bagi imam mengeraskan suara saat takbir berdasarkan sabda Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, “Apabila imam bertakbir, maka bertakbirlah kalian.” Demikian pula saat tasmi’ (mengucapkan sami‘allāhu liman ḥamidah) berdasarkan sabda beliau, “Dan apabila ia mengucapkan sami‘allāhu liman ḥamidah, maka ucapkanlah: Rabbanā wa lakal-ḥamd.” Sedangkan makmum dan orang yang salat sendirian melirihkan suara.
وَيَرْفَعُ يَدَيْهِ مَمْدُودَتَيِ الْأَصَابِعِ، مَضْمُومَةً، وَيَسْتَقْبِلُ بِبُطُونِهِمَا الْقِبْلَةَ إِلَى حَذْوِ مَنْكِبَيْهِ، إِنْ لَمْ يَكُنْ عُذْرٌ، وَيَرْفَعُهُمَا إِشَارَةً إِلَى كَشْفِ الْحِجَابِ بَيْنَهُ وَبَيْنَ رَبِّهِ، كَمَا أَنَّ السَّبَّابَةَ إِشَارَةٌ إِلَى الْوَحْدَانِيَّةِ.
Ia mengangkat kedua tangannya dengan jari-jari yang dibentangkan lagi dirapatkan, serta menghadapkan telapak tangannya ke arah kiblat hingga setinggi bahu jika tidak ada uzur. Ia mengangkat keduanya sebagai isyarat tersingkapnya tabir antara dirinya dengan Rabnya, sebagaimana jari telunjuk sebagai isyarat akan keesaan (Allah).
ثُمَّ يَقْبِضُ كُوعَهُ الْأَيْسَرَ بِكَفِّهِ الْأَيْمَنِ، وَيَجْعَلُهَا تَحْتَ سُرَّتِهِ، وَمَعْنَاهُ ذُلٌّ بَيْنَ يَدَيْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ.
Kemudian ia menggenggam pergelangan tangan kirinya dengan telapak tangan kanan dan meletakkannya di bawah pusar, yang maknanya adalah kerendahan diri di hadapan Rabnya–‘azza wa jalla.
وَيُسْتَحَبُّ نَظَرُهُ إِلَى مَوْضِعِ سُجُودِهِ فِي كُلِّ حَالَاتِ الصَّلَاةِ، إِلَّا فِي التَّشَهُّدِ فَيَنْظُرُ إِلَى سَبَّابَتِهِ.
Dianjurkan pula pandangannya tertuju ke tempat sujud dalam setiap keadaan salat, kecuali saat tasyahud, ia melihat ke arah jari telunjuknya.
ثُمَّ يَسْتَفْتِحُ سِرًّا فَيَقُولُ: (سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ وَبِحَمْدِكَ) وَمَعْنَى: (سُبْحَانَكَ اللّٰهُمَّ) أَي أُنَزِّهُكَ التَّنْزِيهَ اللَّائِقَ بِجَلَالِكَ يَا اللهُ، وَقَوْلُهُ: (وَبِحَمْدِكَ) قِيلَ مَعْنَاهُ: أَجْمَعُ لَكَ بَيْنَ التَّسْبِيحِ وَالْحَمْدِ، (وَتَبَارَكَ اسْمُكَ) أَي: الْبَرَكَةُ تُنَالُ بِذِكْرِكَ، (وَتَعَالَى جَدُّكَ) أَي: جَلَّتْ عَظَمَتُكَ، (وَلَا إِلٰهَ غَيْرُكَ) أَي: لَا مَعْبُودَ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ بِحَقٍّ سِوَاكَ يَا اللهُ، وَيَجُوزُ الِاسْتِفْتَاحُ بِكُلِّ مَا وَرَدَ.
Kemudian ia membaca doa istiftah (iftitah) secara lirih dengan mengucapkan: “Subḥānakallāhumma wa biḥamdika (Maha Suci Engkau, ya Allah, dan dengan memuji-Mu).” Makna “subḥānakallāhumma”yaitu aku menyucikan-Mu dengan penyucian yang layak bagi keagungan-Mu, ya Allah. Adapun ucapannya “wa biḥamdika”, dikatakan maknanya adalah aku menghimpun antara tasbih dan tahmid untuk-Mu. “Wa tabārakasmuka (Dan Maha Berkah nama-Mu) artinya keberkahan diraih dengan menyebut nama-Mu. “Wa ta‘ālā jadduka (Dan Maha Tinggi keagungan-Mu) artinya agunglah kemuliaan-Mu. “Wa lā ilāha gairuka (Dan tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Engkau)” artinya tidak ada sembahan di bumi maupun di langit secara benar selain Engkau, ya Allah. Dan diperbolehkan membaca doa istiftah dengan doa apa pun yang telah diriwayatkan (dari Nabi).
ثُمَّ يَتَعَوَّذُ سِرًّا فَيَقُوْلُ: أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ، وَكَيْفَمَا تَعَوَّذَ مِنَ الْوَارِدِ فَحَسَنٌ.
Kemudian, ia membaca taawuz secara lirih dengan mengucapkan: “A‘ūżu billāhi minasy-syaiṭānir-rajīm.” Bagaimanapun cara ia bertaawuz berdasarkan riwayat yang datang, maka itu baik.
ثُمَّ يُبَسْمِلُ سِرًّا وَلَيْسَتْ مِنَ الْفَاتِحَةِ وَلَا غَيْرِهَا، بَلْ هِيَ آيَةٌ مِنَ الْقُرْآنِ قَبْلَهَا، وَبَيْنَ كُلِّ سُوْرَتَيْنِ سِوَى بَرَاءَةَ وَالْأَنْفَالِ.
Lalu, ia membaca basmalah secara lirih. Basmalah bukan bagian dari Al-Fatihah dan bukan pula bagian dari surah lainnya, melainkan satu ayat Al-Qur’an yang terletak sebelum Al-Fatihah dan di antara setiap dua surah, kecuali surah At-Taubah dan Al-Anfal.
وَتُسَنُّ كِتَابَتُهَا أَوَائِلَ الْكُتُبِ كَمَا كَتَبَهَا سُلَيْمَانُ عَلَيْهِ السَّلَامُ، وَكَمَا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَفْعَلُ، وَتُذْكَرُ فِي ابْتِدَاءِ جَمِيْعِ الْأَفْعَالِ، وَهِيَ تَطْرُدُ الشَّيْطَانَ، قَالَ أَحْمَدُ: لَا تُكْتَبُ أَمَامَ الشِّعْرِ وَلَا مَعَهُ.
Disunnahkan menulisnya pada awal kitab-kitab sebagaimana Sulaiman–‘alaihis-salām–menulisnya, dan sebagaimana Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melakukannya. Basmalah juga diucapkan pada awal setiap perbuatan; ia dapat mengusir setan. Ahmad berkata: Basmalah tidak ditulis di depan syair dan tidak pula menyertainya.
![]()
Be the first to leave a comment