Adabul-Masyyi ilash-Shalah

ismail  

ثُمَّ يَجۡلِسُ لِلتَّشَهُّدِ مُفۡتَرِشًا، جَاعِلًا يَدَيۡهِ عَلَى فَخِذَيۡهِ، بَاسِطًا أَصَابِعَ يُسۡرَاهُ مَضۡمُومَةً، مُسۡتَقۡبِلًا بِهَا الۡقِبۡلَةَ، قَابِضًا مِنۡ يُمۡنَاهُ الۡخِنۡصِرَ وَالۡبِنۡصِرَ، مُحَلِّقًا إِبۡهَامَهُ مَعَ وُسۡطَاهُ،

Kemudian ia duduk untuk tasyahud secara iftirasy dengan meletakkan kedua tangannya di atas kedua pahanya, seraya membentangkan jari-jemari tangan kirinya dalam keadaan dirapatkan dan dihadapkan ke arah kiblat, serta menggenggam jari kelingking dan jari manis dari tangan kanannya, lalu membuat lingkaran antara ibu jari dengan jari tengahnya.

ثُمَّ يَتَشَهَّدُ سِرًّا وَيُشِيرُ بِسَبَّابَتِهِ الۡيُمۡنَى فِي تَشَهُّدِهِ إِشَارَةً إِلَى التَّوۡحِيدِ، وَيُشِيرُ بِهَا أَيۡضًا عِنۡدَ دُعَائِهِ فِي صَلَاةٍ وَغَيۡرِهَا، لِقَوۡلِ ابۡنِ الزُّبَيۡرِ: (كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يُشِيرُ بِأُصۡبُعِهِ إِذَا دَعَا وَلَا يُحَرِّكُهَا) رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ، فَيَقُولُ: (التَّحِيَّاتُ لِلهِ وَالصَّلَوَاتُ وَالطَّيِّبَاتُ، السَّلَامُ عَلَيۡكَ أَيُّهَا النَّبِيُّ وَرَحۡمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، السَّلَامُ عَلَيۡنَا وَعَلَى عِبَادِ اللهِ الصَّالِحِينَ، أَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَشۡهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبۡدُهُ وَرَسُولُهُ)، وَأَيُّ تَشَهُّدٍ تَشَهَّدَهُ مِمَّا صَحَّ عَنِ النَّبِيِّ ﷺ جَازَ، وَالۡأَوۡلَى تَخۡفِيفُهُ وَعَدَمُ الزِّيَادَةِ عَلَيۡهِ، وَهٰذَا التَّشَهُّدُ الۡأَوَّلُ،

Kemudian ia membaca tasyahud secara pelan (sir) dan berisyarat dengan jari telunjuk kanannya saat tasyahud sebagai isyarat tauhid. Ia juga berisyarat dengannya ketika berdoa dalam salat maupun di luar salat, berdasarkan perkataan Ibnu Az-Zubair: “Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dahulu berisyarat dengan jarinya apabila berdoa dan tidak menggerak-gerakkannya.” Diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Lalu ia mengucapkan: “At-Taḥiyyātu lillāhi waṣ-ṣalawātu waṭ-ṭayyibāt. As-Salāmu ‘alaika ayyuhan-nabiyyu wa raḥmatullāhi wa barakātuh, as-salāmu ‘alainā wa ‘alā ‘ibādillāhiṣ-ṣāliḥīn. Asyhadu allā ilāha illallāhu wa asyhadu anna Muḥammadan ‘abduhū wa rasūluh. (Segala penghormatan milik Allah, begitu pula selawat dan kebaikan-kebaikan. Keselamatan semoga tercurah kepadamu, wahai Nabi, serta rahmat Allah dan berkah-Nya. Keselamatan semoga tercurah kepada kami dan kepada hamba-hamba Allah yang saleh. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang benar selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya).”

Tasyahud mana pun yang ia baca dari riwayat yang sahih dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—adalah boleh, dan yang lebih utama adalah meringankannya serta tidak menambahinya. Ini adalah tasyahud awal.

ثُمَّ إِنۡ كَانَتِ الصَّلَاةُ رَكۡعَتَيۡنِ فَقَطۡ صَلَّى عَلَى النَّبِيِّ ﷺ فَيَقُولُ: (اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيۡتَ عَلَى آلِ إِبۡرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ، وَبَارِكۡ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكۡتَ عَلَى آلِ إِبۡرَاهِيمَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ)، وَيَجُوزُ أَنۡ يُصَلِّيَ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ مِمَّا وَرَدَ، وَآلُ مُحَمَّدٍ: أَهۡلُ بَيۡتِهِ، وَقَوۡلُهُ (التَّحِيَّاتُ): أَيۡ جَمِيعُ التَّحِيَّاتِ لِلهِ تَعَالَى اسۡتِحۡقَاقًا وَمِلۡكًا، وَ(الصَّلَوَاتُ): الدَّعَوَاتُ، وَ(الطَّيِّبَاتُ): الۡأَعۡمَالُ الصَّالِحَةُ، فَهُوَ سُبۡحَانَهُ يُحَيَّى وَلَا يُسَلَّمُ عَلَيۡهِ، لِأَنَّ السَّلَامَ دُعَاءٌ.

Kemudian jika salat tersebut hanya dua rakaat, ia berselawat kepada Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dengan mengucapkan: “Allāhumma ṣalli ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā ṣallaita ‘alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd, wa bārik ‘alā Muḥammad wa ‘alā āli Muḥammad, kamā bārakta ‘alā āli Ibrāhīm, innaka ḥamīdun majīd. (Ya Allah, berilah selawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberi selawat kepada keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia; dan berkahilah Muhammad dan keluarga Muhammad sebagaimana Engkau telah memberkahi keluarga Ibrahim, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia).”

Diperbolehkan membaca selawat kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dari redaksi lain yang bersumber dari riwayat. “Keluarga Muḥammad” adalah ahli bait beliau. Adapun ucapannya: “At-Taḥiyyāt” artinya seluruh penghormatan adalah milik Allah taala secara hak dan kepemilikan. “Aṣ-Ṣalawāt” adalah doa-doa. “Aṭ-Ṭayyibāt” adalah amal-amal saleh. Maka Dia—yang Maha Suci—dihormati dan tidak disampaikannya salam atas-Nya, karena salam adalah doa.

Loading

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *