وَتَرۡتِيبُ الۡآيَاتِ وَاجِبٌ لِأَنَّهُ بِالنَّصِّ، وَتَرۡتِيبُ السُّوَرِ بِالۡاِجۡتِهَادِ لَا بِالنَّصِّ فِي قَوۡلِ جُمۡهُورِ الۡعُلَمَاءِ، فَتَجُوزُ قِرَاءَةُ هٰذِهِ قَبۡلَ هٰذِهِ، وَلِهٰذَا تَنَوَّعَتۡ مَصَاحِفُ الصَّحَابَةِ فِي كِتَابَتِهَا، وَكَرِهَ أَحۡمَدُ قِرَاءَةَ حَمۡزَةَ وَالۡكِسَائِيِّ، وَالۡإِدۡغَامَ الۡكَبِيرَ لِأَبِي عَمۡرٍو.
Urutan ayat-ayat adalah wajib karena ditentukan berdasarkan nas, sedangkan urutan surah-surah ditentukan berdasarkan ijtihad bukan nas menurut pendapat mayoritas ulama. Oleh karena itu, boleh membaca surah ini sebelum surah ini (tidak berurutan), dan karena alasan inilah mushaf para sahabat bervariasi dalam penulisannya. Imam Ahmad memakruhkan qiraah Hamzah dan Al-Kisa`i, serta idgam kabir milik Abu ‘Amr.
ثُمَّ يَرۡفَعُ يَدَيۡهِ كَرَفۡعِهِ الۡأَوَّلِ بَعۡدَ فَرَاغِهِ مِنَ الۡقِرَاءَةِ وَبَعۡدَ أَنۡ يَثۡبُتَ قَلِيلًا حَتَّى يَرۡجِعَ إِلَيۡهِ نَفَسُهُ، وَلَا يَصِلُ قِرَاءَتَهُ بِتَكۡبِيرِ الرُّكُوعِ، وَيُكَبِّرُ فَيَضَعُ يَدَيۡهِ مُفَرَّجَتَيِ الۡأَصَابِعِ عَلَى رُكۡبَتَيۡهِ مُلۡقِمًا كُلَّ يَدٍ رُكۡبَةً، وَيَمُدُّ ظَهۡرَهُ مُسۡتَوِيًا، وَيَجۡعَلُ رَأۡسَهُ حِيَالَهُ لَا يَرۡفَعُهُ وَلَا يَخۡفِضُهُ، لِحَدِيثِ عَائِشَةَ، وَيُجَافِي مِرۡفَقَيۡهِ عَنۡ جَنۡبَيۡهِ لِحَدِيثِ أَبِي حُمَيۡدٍ، وَيَقُولُ فِي رُكُوعِهِ: سُبۡحَانَ رَبِّيَ الۡعَظِيمِ، لِحَدِيثِ حُذَيۡفَةَ رَوَاهُ مُسۡلِمٌ، وَأَدۡنَى الۡكَمَالِ ثَلَاثٌ، وَأَعۡلَاهُ فِي حَقِّ الۡإِمَامِ عَشۡرٌ، وَكَذَا حُكۡمُ سُبۡحَانَ رَبِّيَ الۡأَعۡلَى فِي السُّجُودِ، وَلَا يَقۡرَأُ فِي الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ لِنَهۡيِهِ ﷺ عَنۡ ذٰلِكَ.
Kemudian ia mengangkat kedua tangannya seperti angkatan yang pertama setelah selesai membaca (surah) dan setelah diam tegak sejenak sampai nafasnya kembali teratur, serta tidak menyambung bacaannya dengan takbir rukuk. Ia bertakbir lalu meletakkan kedua tangannya dengan jari-jari yang direnggangkan di atas kedua lututnya seraya menggenggamkan setiap tangan pada lutut. Ia meluruskan punggungnya secara rata dan memosisikan kepalanya sejajar dengan punggungnya, tidak mendongakkannya dan tidak pula menundukkannya, berdasarkan hadis ‘Aisyah. Ia menjauhkan kedua sikunya dari kedua lambungnya berdasarkan hadis Abu Humaid. Ia mengucapkan di dalam rukuknya: “Subḥāna rabbiyal-‘aẓīm” berdasarkan hadis Hudzaifah yang diriwayatkan oleh Muslim; tingkat kesempurnaan minimal adalah tiga kali, dan tingkat maksimal bagi imam adalah sepuluh kali. Demikian pula hukum ucapan “Subḥāna rabbiyal-a‘lā” di dalam sujud. Ia tidak membaca Al-Qur’an saat rukuk dan sujud karena adanya larangan Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dari hal tersebut.
ثُمَّ يَرۡفَعُ رَأۡسَهُ وَيَدَيۡهِ كَرَفۡعِهِ الۡأَوَّلِ، قَائِلًا – إِمَامٌ وَمُنۡفَرِدٌ -: سَمِعَ اللهُ لِمَنۡ حَمِدَهُ وُجُوبًا، وَمَعۡنَى سَمِعَ: اسۡتَجَابَ. فَإِذَا اسۡتَتَمَّ قَائِمًا قَالَ: رَبَّنَا وَلَكَ الۡحَمۡدُ، مِلۡءَ السَّمَاوَاتِ وَمِلۡءَ الۡأَرۡضِ، وَمِلۡءَ مَا شِئۡتَ مِنۡ شَيۡءٍ بَعۡدُ، وَإِنۡ شَاءَ زَادَ: أَهۡلَ الثَّنَاءِ وَالۡمَجۡدِ، أَحَقُّ مَا قَالَ الۡعَبۡدُ، وَكُلُّنَا لَكَ عَبۡدٌ، لَا مَانِعَ لِمَا أَعۡطَيۡتَ، وَلَا مُعۡطِيَ لِمَا مَنَعۡتَ، وَلَا يَنۡفَعُ ذَا الۡجَدِّ مِنۡكَ الۡجَدُّ، وَلَهُ أَنۡ يَقُولَ غَيۡرَهَا مِمَّا وَرَدَ، وَإِنۡ شَاءَ قَالَ: اللّٰهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الۡحَمۡدُ، بِلَا وَاوٍ، لِوُرُودِهِ فِي حَدِيثِ أَبِي سَعِيدٍ وَغَيۡرِهِ، فَإِنۡ أَدۡرَكَ الۡمَأۡمُومُ الۡإِمَامَ فِي هٰذَا الرُّكُوعِ فَهُوَ مُدۡرِكٌ لِلرَّكۡعَةِ.
Kemudian ia mengangkat kepalanya dan mengangkat kedua tangannya seperti angkatan yang pertama seraya mengucapkan—baik imam maupun orang yang salat sendiri (munfarid)—: “Sami‘allāhu liman ḥamidah” secara wajib. Makna sami‘a adalah mengabulkan. Apabila ia telah tegak berdiri, ia mengucapkan: “Rabbanā wa lakal-ḥamdu mil’as-samāwāti wa mil’al-arḍi wa mil’a mā syi’ta min syai’in ba‘du”. Jika mau, ia boleh menambahkan: “Ahlaṡ-ṡanā’i wal-majdi aḥaqqu mā qālal-‘abdu wa kullunā laka ‘abdun, lā māni‘a limā a‘ṭaita wa lā mu‘ṭiya limā mana‘ta wa lā yanfa‘u żal-jaddi minkal-jaddu”. Ia juga diperbolehkan mengucapkan zikir lain yang bersumber dari riwayat. Jika mau, ia boleh mengucapkan: “Allāhumma rabbanā lakal-ḥamdu” tanpa huruf wawu karena hal itu terdapat dalam hadis Abu Sa’id dan selainnya. Jika makmum mendapati imam dalam keadaan rukuk ini, ia berarti telah mendapatkan rakaat tersebut.
ثُمَّ يُكَبِّرُ وَيَخِرُّ سَاجِدًا، وَلَا يَرۡفَعُ يَدَيۡهِ، فَيَضَعُ رُكۡبَتَيۡهِ ثُمَّ يَدَيۡهِ ثُمَّ وَجۡهَهُ، وَيُمَكِّنُ جَبۡهَتَهُ وَأَنۡفَهُ وَرَاحَتَيۡهِ مِنَ الۡأَرۡضِ، وَيَكُونُ عَلَى أَطۡرَافِ أَصَابِعِ رِجۡلَيۡهِ، مُوَجِّهًا أَطۡرَافَهَا إِلَى الۡقِبۡلَةِ، وَالسُّجُودُ عَلَى هٰذِهِ الۡأَعۡضَاءِ السَّبۡعَةِ رُكۡنٌ، وَيُسۡتَحَبُّ مُبَاشَرَةُ الۡمُصَلَّى بِبُطُونِ كَفَّيۡهِ، وَضَمُّ أَصَابِعِهِمَا مُوَجَّهَةً إِلَى الۡقِبۡلَةِ غَيۡرَ مَقۡبُوضَةٍ، رَافِعًا مِرۡفَقَيۡهِ، وَتُكۡرَهُ الصَّلَاةُ فِي مَكَانٍ شَدِيدِ الۡحَرِّ أَوۡ شَدِيدِ الۡبَرۡدِ، لِأَنَّهُ يُذۡهِبُ الۡخُشُوعَ، وَيُسَنُّ لِلسَّاجِدِ أَنۡ يُجَافِيَ عَضُدَيۡهِ عَنۡ جَنۡبَيۡهِ، وَبَطۡنَهُ عَنۡ فَخِذَيۡهِ، وَفَخِذَيۡهِ عَنۡ سَاقَيۡهِ، وَيَضَعُ يَدَيۡهِ حَذۡوَ مَنۡكِبَيۡهِ، وَيُفَرِّقُ بَيۡنَ رُكۡبَتَيۡهِ وَرِجۡلَيۡهِ.
Kemudian ia bertakbir dan turun bersujud tanpa mengangkat kedua tangannya, lalu meletakkan kedua lututnya, kemudian kedua tangannya, lalu wajahnya. Ia menempelkan dengan mantap dahi, hidung, dan kedua telapak tangannya ke tanah, serta bertumpu pada ujung jari-jemari kedua kakinya dengan menghadapkan ujung-ujung jari tersebut ke arah kiblat. Bersujud di atas tujuh anggota badan ini merupakan rukun. Disunahkan menyentuhkan langsung bagian dalam telapak tangan ke tempat salat serta merapatkan jari-jemari keduanya dengan dihadapkan ke arah kiblat tanpa digenggam, seraya mengangkat kedua sikunya.
Dimakruhkan salat di tempat yang sangat panas atau sangat dingin karena hal itu dapat menghilangkan kekhusyukan. Disunahkan bagi orang yang sujud untuk menjauhkan kedua lengan atasnya dari kedua lambungnya, perutnya dari kedua pahanya, dan kedua pahanya dari kedua betisnya, serta meletakkan kedua tangannya sejajar dengan kedua pundaknya, dan merenggangkan antara kedua lutut serta kedua kakinya.
![]()
Be the first to leave a comment