الأسئلة:
Pertanyaan-Pertanyaan
س: قول من تعار من الليل وذكر الله ثم دعا يعني الدعاء؟
T: Pertanyaan mengenai ucapan orang yang terbangun di malam hari lalu berzikir kepada Allah kemudian berdoa, apakah maksudnya adalah doa (secara umum)?
الشيخ: يرجى له، يقول ﷺ: ما من عبد يتعار من الليل -يعني يستيقظ- فيقول: لا إله إلا الله وحده لا شريك له، له الملك وله الحمد وهو على كل شيء قدير، سبحان الله، والحمد لله، ولا إله إلا الله، والله أكبر، ولا حول ولا قوة إلا بالله، ثم يقول: اللهم اغفر لي أو يدعو فيستجاب له، فإن قام وصلى قبلت صلاته هذا من أسباب الإجابة إذا أتى بهذا الذكر ثم قال: اللهم اغفر لي، أو دعا اللهم أصلحني، اللهم يسر لي زوجة صالحة، اللهم ارزقني ذرية طيبة، إلى غير هذا، هذا من أسباب الإجابة، فإذا قام مع هذا توضأ وصلى قبلت صلاته، هذا في الصحيحين من حديث عبادة حديث عظيم صحيح.
Syekh: Doa itu diharapkan terkabul baginya. Beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda,
“Tidak ada seorang hamba pun yang terbangun di malam hari—yakni terjaga—lalu mengucapkan:
Lā ilāha illallāh waḥdahu lā syarīka lah, lahul mulk wa lahul ḥamd, wa huwa ‘alā kulli syai`in qadīr. Alḥamdulillāh, wa subḥanallāh, wa lā ilāha illallāh, wallāhu akbar, wa lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.
(Tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tidak ada sekutu bagi-Nya. Milik-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu. Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Allah Maha Besar, serta tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah),
kemudian ia mengucapkan: ‘Ya Allah, ampunilah aku,’ atau ia berdoa, melainkan akan dikabulkan baginya. Jika ia bangkit lalu salat, maka salatnya akan diterima.”
Ini adalah salah satu sebab pengabulan doa apabila ia mendatangkan zikir ini kemudian mengucapkan: “Ya Allah, ampunilah aku,”
Atau ia berdoa, “Ya Allah, perbaikilah diriku,” “Ya Allah, mudahkanlah bagiku istri yang saleh,” “Ya Allah, karuniakanlah kepadaku keturunan yang baik,” dan yang lainnya. Ini termasuk sebab-sebab pengabulan doa. Jika di samping itu ia bangkit mengambil wudu lalu salat, maka salatnya diterima. Hadis ini terdapat dalam Ash-Shahihain1 (HR Al-Bukhari nomor 1154) dari riwayat ‘Ubadah, sebuah hadis agung yang sahih.
س: الدعاء قبل الصلاة وإلا بعد؟
T: Apakah doa tersebut dilakukan sebelum salat atau sesudahnya?
الشيخ: قبل الصلاة وبعد الصلاة وفي الصلاة كلها.
Syekh: Sebelum salat, sesudah salat, dan di dalam salat, semuanya (merupakan tempat berdoa).
س: قوله الله أكثر؟
T: Mengenai sabda beliau: “Allah lebih banyak”?
الشيخ: يعني أكثر إجابة وأكثر خيرا منك أيها العبد أكثر إجابة وأكثر خيرا.
Syekh: Maknanya adalah Allah lebih banyak pengabulan-Nya dan lebih banyak kebaikan-Nya daripada dirimu, wahai hamba. Lebih banyak pengabulan dan lebih banyak kebaikan.
س: توضيح مسألة ارتباط القدر بالدعاء؟
T: Penjelasan mengenai masalah keterkaitan takdir dengan doa?
الشيخ: لا يرد القدر إلا الدعاء معناه أن الله جل وعلا كتب كل شيء، وقد يعلق بعض الأشياء بأفعال العبد، يكون هذا مقدرا زواجه، مقدر بدعوته زواجه، مقدر بعمله الصالح الفلاني حجه صلاته صدقاته، الأقدار قسمان: قسم مبتوت فيه، ما هو علق بشيء مثل الموت وأشباهه، هذا لا حيلة فيه، وقسم معلق: فلان يطول عمره لأنه سوف يصل رحمه، قد كتب الله هذا فهو يوفق ييسر لما خلق له من صلة الرحم ومن الصدقات التي هي أسباب طول عمره وهدايته كما قال ﷺ: اعملوا فكل ميسر لما خلق له، أما أهل السعادة فييسرون لعمل أهل السعادة، وأما أهل الشقاء فييسرون لعمل أهل الشقاء أشياء مربوطة بأقدارها.
Syekh: “Tidak ada yang dapat menolak takdir kecuali doa,” maknanya adalah bahwa Allah—jalla wa ‘ala—telah menuliskan segala sesuatu, dan terkadang Dia menggantungkan sebagian perkara dengan perbuatan hamba. Contohnya, pernikahannya telah ditakdirkan, ditakdirkan pernikahannya itu dengan doanya. Ditakdirkan pula dengan amal salehnya yang ini dan itu, seperti hajinya, salatnya, dan sedekah-sedekahnya.
Takdir itu ada dua macam: Pertama, takdir yang sudah pasti, yaitu yang tidak digantungkan pada sesuatu pun seperti kematian dan yang semisal dengannya; hal ini tidak ada celah untuk mengubahnya. Kedua, takdir yang digantungkan: si Fulan dipanjangkan umurnya karena ia akan menyambung tali silaturahmi. Allah telah menuliskan hal ini, maka ia diberi taufik dan dimudahkan menuju apa yang ia diciptakan untuknya, berupa silaturahmi dan sedekah-sedekah yang menjadi sebab panjangnya umur dan hidayahnya, sebagaimana sabda beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Beramallah kalian, karena masing-masing akan dimudahkan menuju apa yang ia diciptakan untuknya. Adapun orang-orang yang berbahagia, mereka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan orang-orang yang berbahagia. Sedangkan orang-orang yang sengsara, mereka akan dimudahkan untuk mengamalkan amalan orang-orang yang sengsara.”2 (HR Al-Bukhari nomor 1362 dan Muslim nomor 2647).
Segala sesuatu itu terikat dengan takdirnya masing-masing.
س: يجوز رفع الكفين أثناء الدعاء؟
T: Apakah boleh mengangkat kedua telapak tangan ketika berdoa?
الشيخ: سنة من أسباب الإجابة.
Syekh: Itu adalah sunah dan termasuk sebab pengabulan doa.
س: بعد الفرض وإلا بعد السنة؟
T: Apakah dilakukan setelah salat fardu atau setelah salat sunah?
الشيخ: في كل وقت إلا فيما يتعلق بالأوقات التي ما رفع فيها النبي ﷺ مثل بعد الفريضة ما يرفع لأن الرسول ﷺ ما رفع فيها، ومثل خطبة الجمعة وخطبة العيد لا يرفع إلا إذا استسقى كان النبي ﷺ يدعو في الخطبة ولا يرفع يديه خطبة الجمعة والعيد، أما إذا استسقى يرفع يديه في الجمعة أو في الاستسقاء أو في أي مكان إذا دعا للاستسقاء يطلب الغيث من الله يرفع يديه هذه السنة ويرفع الناس أيديهم، وهكذا إذا دعا في غير ذلك دعا في بيته دعا في سيارته دعا في طائرته دعا في مصلاه يرفع يديه من أسباب الإجابة إلا المواضع التي ما رفع فيها النبي ﷺ، إذا سلم من الفريضة لا يرفع، ما كان النبي ﷺ يرفع بعد الفريضة؛ لا ظهر ولا عصر ولا مغرب ولا عشاء ولا فجر، ما كان يرفع في هذا عليه الصلاة والسلام، ولا بين السجدتين ولا في آخر الصلاة ما كان يرفع، يدعو بدون رفع لأن الرسول ﷺ ما كان يرفع.
Syekh: Di setiap waktu, kecuali pada waktu-waktu yang memang Nabi ﷺ tidak mengangkat tangan di dalamnya. Contohnya, setelah salat fardu tidak perlu mengangkat tangan karena Rasulullah ﷺ tidak mengangkat tangan di waktu tersebut. Contoh lainnya adalah ketika khotbah Jumat dan khotbah Id, tidak perlu mengangkat tangan kecuali jika meminta hujan. Dahulu Nabi ﷺ berdoa dalam khotbahnya dan tidak mengangkat kedua tangannya pada khotbah Jumat maupun Id. Adapun jika beliau meminta hujan, beliau mengangkat kedua tangannya pada hari Jumat, atau dalam salat Istiska, atau di tempat mana saja ketika beliau berdoa untuk istisqa guna meminta hujan kepada Allah, maka beliau mengangkat kedua tangannya; ini adalah sunah dan orang-orang pun ikut mengangkat tangan mereka.
Demikian pula jika berdoa di luar waktu tersebut; berdoa di rumahnya, berdoa di mobilnya, berdoa di pesawatnya, atau berdoa di tempat salatnya, ia mengangkat kedua tangannya karena itu termasuk sebab pengabulan doa, kecuali pada tempat-tempat yang memang Nabi ﷺ tidak mengangkat tangan di dalamnya. Jika telah salam dari salat fardu, jangan mengangkat tangan. Dahulu Nabi ﷺ tidak pernah mengangkat tangan setelah salat fardu; tidak pada salat zuhur, asar, magrib, isya, maupun subuh. Beliau—‘alaihish-shalatu was-salam—tidak pernah mengangkat tangan pada waktu-waktu ini. Tidak pula di antara dua sujud, dan tidak pula di akhir salat, beliau tidak pernah mengangkat tangan. Berdoalah tanpa mengangkat tangan karena Rasulullah ﷺ dahulu tidak mengangkatnya.
س: بالنسبة لدعاء اللهم إني لا أسألك رد القضاء ولكن أسألك اللطف فيه؟
T: Bagaimana dengan doa: “Ya Allah, sesungguhnya aku tidak meminta kepada-Mu penolakan atas takdir, tetapi aku meminta kepada-Mu kelembutan di dalamnya”?
الشيخ: هذا ما له أصل، يدعو: اللهم إني أسألك الخير كله، وأعوذ بك من الشر كله يسأل ربه الخير ويستعيذ بالله من الشر، هذا المشروع.
Syekh: Doa ini tidak ada asalnya. Hendaknya ia berdoa: “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu seluruh kebaikan, dan aku berlindung kepada-Mu dari seluruh keburukan.” Ia meminta kebaikan kepada Rabnya dan memohon perlindungan kepada Allah dari keburukan; inilah yang disyariatkan.
س: يحرم الدعاء بذلك؟
T: Apakah diharamkan berdoa dengan lafaz tersebut?
الشيخ: .. لا أسألك رد القضاء ولكن أسألك اللطف فيه هذا ما له أصل، اللهم إني أسألك الخير كله، وأعوذ بك من الشر كله.
Syekh: Ucapan … “Aku tidak meminta kepada-Mu penolakan atas takdir, tetapi aku meminta kepada-Mu kelembutan di dalamnya,” ini tidak ada asalnya. (Berdoalah): “Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu seluruh kebaikan, dan aku berlindung kepada-Mu dari seluruh keburukan.”
س: اللهم إني أشكو إليك ضعف قوتي يصح إلى النبي ﷺ؟
T: Doa: “Ya Allah, sesungguhnya aku mengadukan kepada-Mu lemahnya kekuatanku,” apakah sahih berasal dari Nabi ﷺ?
الشيخ: للنبي ﷺ وغير النبي، لكن يروى عن النبي ﷺ لما انصرف من الطائف لكن في سنده نظر، لكنه يروى عنه لما انصرف من الطائف لما رد عليه أهل الطائف.
Syekh: Boleh untuk Nabi ﷺ maupun selain Nabi. Akan tetapi, doa ini diriwayatkan dari Nabi ﷺ ketika beliau bertolak kembali dari Taif, namun di dalam sanadnya ada tinjauan. Hanya saja, memang diriwayatkan dari beliau ketika bertolak kembali dari Taif saat penduduk Taif menolak beliau.
س: الدعاء بقنوت النوازل؟
T: Berdoa dengan kunut nazilah?
الشيخ: لو دعا به ما في شيء.
Syekh: Jika ia berdoa dengannya, tidak mengapa.
س: هل ورد نص في رفع اليدين أثناء القنوت؟
T: Apakah ada teks riwayat tentang mengangkat kedua tangan saat kunut?
الشيخ: نعم ورد في القنوت أنه رفع يديه في قنوت النوازل، وقنوت الوتر مثله الأصل مثله لأن كله قنوت، كله دعاء جاء النص بقنوت النوازل وقنوت الوتر مثله.
Syekh: Ya, ada riwayat mengenai kunut bahwa beliau mengangkat kedua tangannya pada kunut nazilah. Kunut witir pun hukum asalnya sama dengannya karena semuanya adalah kunut dan semuanya adalah doa. Teks riwayat telah datang pada kunut nazilah, dan kunut witir pun sama dengannya.
Sumber: Situs resmi Syekh Ibnu Baz.
![]()
Be the first to leave a comment