
اَلتَّحۡذِيرُ مِنۡ دَفۡعِ الرِّشۡوَةِ
﷽
مِنۡ عَبۡدِ الۡعَزِيزِ بۡنِ عَبۡدِ اللهِ بۡنِ بَازٍ إِلَى مَنۡ يَرَاهُ أَوۡ يَسۡمَعُهُ مِنۡ إِخۡوَانِيَ الۡمُسۡلِمِينَ سَلَكَ اللهُ بِيۡ وَبِهِمۡ صِرَاطَهُ الۡمُسۡتَقِيمَ وَوَقَانِي وَإِيَّاهُمۡ عَذَابَ الۡجَحِيمِ سَلَامٌ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ، أَمَّا بَعۡدُ:
Dari ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz kepada siapa saja yang melihatnya atau mendengarnya dari saudara-saudara muslimku. Semoga Allah menuntun aku dan mereka ke jalan-Nya yang lurus, serta melindungi aku dan mereka dari azab neraka Jahim. Salam ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Amabakdu:
فَإِنَّ مِمَّا حَرَّمَهُ الۡإِسۡلَامُ، وَغَلَّظَ فِيۡ تَحۡرِيمِهِ: اَلرِّشۡوَةَ، وَهِيَ دَفۡعُ الۡمَالِ فِيۡ مُقَابِلِ قَضَاءِ مَصۡلَحَةٍ يَجِبُ عَلَى الۡمَسۡئُولِ عَنۡهَا قَضَاؤُهَا بِدُونِهِ
Sesungguhnya di antara apa yang diharamkan oleh Islam dan ditekankan keharamannya adalah suap (risywah). Suap adalah pemberian harta sebagai imbalan atas penunaian suatu kepentingan yang mana orang yang bertanggung jawab atasnya wajib menunaikannya tanpa imbalan tersebut.
وَيَشۡتَدُّ التَّحۡرِيمُ إِنۡ كَانَ الۡغَرَضُ مِنۡ دَفۡعِ هٰذَا الۡمَالِ إِبۡطَالَ حَقٍّ أَوۡ إِحۡقَاقَ بَاطِلٍ أَوۡ ظُلۡمًا لِأَحَدٍ. وَقَدۡ ذَكَرَ ابۡنُ عَابِدِينَ رَحِمَهُ اللهُ فِي حَاشِيَتِهِ: أَنَّ (الرِّشۡوَةَ هِيَ: مَا يُعۡطِيهِ الشَّخۡصُ لِحَاكِمٍ أَوۡ غَيۡرِهِ لِيَحۡكُمَ لَهُ، أَوۡ يَحۡمِلَهُ عَلَى مَا يُرِيدُ) وَوَاضِحٌ مِنۡ هٰذَا التَّعۡرِيفِ أَنَّ الرِّشۡوَةَ أَعَمُّ مِنۡ أَنۡ تَكُونَ مَالًا أَوۡ مَنۡفَعَةً يُمَكِّنُهُ مِنۡهَا، أَوۡ يَقۡضِيهَا لَهُ. وَالۡمُرَادُ بِالۡحَاكِمِ: اَلۡقَاضِي، وَغَيۡرُهُ كُلُّ مَنۡ يُرۡجَى عِنۡدَهُ قَضَاءُ مَصۡلَحَةِ الرَّاشِي، سَوَاءٌ كَانَ مِنۡ وُلَاةِ الدَّوۡلَةِ وَمُوَظَّفِيۡهَا، أَوِ الۡقَائِمِينَ بِأَعۡمَالٍ خَاصَّةٍ كَوُكَلَاءِ التُّجَّارِ وَالشَّرِكَاتِ وَأَصۡحَابِ الۡعَقَارَاتِ وَنَحۡوِهِمۡ، وَالۡمُرَادُ بِالۡحُكۡمِ لِلرَّاشِي، وَحَمۡلِ الۡمُرۡتَشِي عَلَى مَا يُرِيدُهُ الرَّاشِي: تَحۡقِيقُ رَغۡبَةِ الرَّاشِي وَمَقۡصَدِهِ، سَوَاءٌ كَانَ ذٰلِكَ حَقًّا أَوۡ بَاطِلًا.
Keharaman tersebut menjadi makin berat jika tujuan dari pemberian harta ini adalah untuk membatalkan kebenaran, membenarkan kebatilan, atau menzalimi seseorang. Ibnu ‘Abidin—rahimahullah—telah menyebutkan dalam kitab Hasyiyah-nya, “Suap adalah pemberian seseorang kepada hakim atau selainnya agar hakim itu memutuskan perkara untuk kemenangannya atau mendorongnya melakukan keinginannya.”
Jelas dari definisi ini bahwa suap itu lebih umum daripada sekadar berupa harta, bisa juga berupa suatu manfaat yang diberikan kepadanya atau suatu manfaat yang ditunaikan untuknya. Yang dimaksud dengan hakim adalah kadi (pemutus hukum), sedangkan selainnya adalah setiap orang yang diharapkan darinya penunaian kepentingan pihak penyuap, baik ia termasuk jajaran penguasa negara dan pegawainya, maupun orang-orang yang mengelola bisnis swasta seperti agen pedagang, perusahaan, pemilik properti, dan sejenisnya. Adapun yang dimaksud dengan memenangkan penyuap dan mendorong penerima suap untuk melakukan apa yang diinginkan penyuap adalah mewujudkan keinginan dan tujuan penyuap, baik hal itu berupa kebenaran maupun kebatilan.
وَالرِّشۡوَةُ – أَيُّهَا الۡإِخۡوَةُ فِي اللهِ – مِنۡ كَبَائِرِ الذُّنُوبِ الَّتِي حَرَّمَهَا اللهُ عَلَى عِبَادِهِ، وَلَعَنَ رَسُولُهُ ﷺ مَنۡ فَعَلَهَا، فَالۡوَاجِبُ اجۡتِنَابُهَا وَالۡحَذَرُ مِنۡهَا، وَتَحۡذِيرُ النَّاسِ مِنۡ تَعَاطِيۡهَا، لِمَا فِيهَا مِنَ الۡفَسَادِ الۡعَظِيمِ، وَالۡإِثۡمِ الۡكَبِيرِ، وَالۡعَوَاقِبِ الۡوَخِيمَةِ، وَهِيَ مِنَ الۡإِثۡمِ وَالۡعُدۡوَانِ اللَّذَيۡنِ نَهَى اللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى عَنِ التَّعَاوُنِ عَلَيۡهِمَا فِيۡ قَوۡلِهِ عَزَّ مِنۡ قَائِلٍ: ﴿وَتَعَاوَنُوا عَلَى الۡبِرِّ وَالتَّقۡوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الۡإِثۡمِ وَالۡعُدۡوَانِ﴾ [المائدة: ٢].
Suap—wahai saudara-saudara seiman karena Allah—termasuk dosa-dosa besar yang diharamkan Allah atas hamba-hamba-Nya. Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melaknat orang yang melakukannya. Jadi, wajib untuk menjauhinya dan berhati-hati darinya, serta memperingatkan manusia agar tidak melakukannya, karena di dalamnya terdapat kerusakan yang besar, dosa yang berat, dan dampak buruk yang mengerikan. Suap juga termasuk dalam perbuatan dosa dan permusuhan yang Allah—subhanahu wa ta’ala—larang untuk saling tolong-menolong di dalamnya melalui firman-Nya yang mulia:
وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِ
Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.
QS Al-Maidah: 2
وَقَدۡ نَهَى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَنۡ أَكۡلِ أَمۡوَالِ النَّاسِ بِالۡبَاطِلِ، فَقَالَ سُبۡحَانَهُ: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَأۡكُلُوا أَمۡوَالَكُمۡ بَيۡنَكُمۡ بِالۡبَاطِلِ إِلَّا أَنۡ تَكُونَ تِجَارَةً عَنۡ تَرَاضٍ مِنۡكُمۡ ٢٩﴾ [النساء: ٢٩] وَقَالَ سُبۡحَانَهُ: ﴿وَلَا تَأۡكُلُوا أَمۡوَالَكُمۡ بَيۡنَكُمۡ بِالۡبَاطِلِ وَتُدۡلُوا بِهَا إِلَى الۡحُكَّامِ لِتَأۡكُلُوا فَرِيقًا مِنۡ أَمۡوَالِ النَّاسِ بِالۡإِثۡمِ وَأَنۡتُمۡ تَعۡلَمُونَ﴾ [البقرة: ١٨٨] وَالرِّشۡوَةُ مِنۡ أَشَدِّ أَنۡوَاعِ أَكۡلِ الۡأَمۡوَالِ بِالۡبَاطِلِ، لِأَنَّهَا دَفۡعُ الۡمَالِ إِلَى الۡغَيۡرِ لِقَصۡدِ إِحَالَتِهِ عَنِ الۡحَقِّ. وَقَدۡ شَمَلَ التَّحۡرِيمُ فِي الرِّشۡوَةِ أَرۡكَانَهَا الثَّلَاثَةَ، وَهُمۡ اَلرَّاشِي، وَالۡمُرۡتَشِي، وَالرَّائِشُ، وَهُوَ الۡوَسِيطُ بَيۡنَهُمَا، فَقَدۡ رُوِيَ عَنۡ رَسُولِ اللهِ ﷺ أَنَّهُ (لَعَنَ الرَّاشِيَ وَالۡمُرۡتَشِيَ وَالرَّائِشَ) رَوَاهُ أَحۡمَدُ وَالطَّبَرَانِيُّ مِنۡ حَدِيثِ ثَوۡبَانَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ.
Allah—‘azza wa jalla—benar-benar telah melarang memakan harta manusia dengan cara yang batil. Allah—subhanahu—berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ لَا تَأۡكُلُوٓا۟ أَمۡوَٰلَكُم بَيۡنَكُم بِٱلۡبَٰطِلِ إِلَّآ أَن تَكُونَ تِجَٰرَةً عَن تَرَاضٍ مِّنكُمۡ ۚ
Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian saling memakan harta sesama kalian dengan jalan yang batil, kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kalian.
QS An-Nisa’: 29
Allah—subhanahu—berfirman,
وَلَا تَأۡكُلُوٓا۟ أَمۡوَٰلَكُم بَيۡنَكُم بِٱلۡبَٰطِلِ وَتُدۡلُوا۟ بِهَآ إِلَى ٱلۡحُكَّامِ لِتَأۡكُلُوا۟ فَرِيقًا مِّنۡ أَمۡوَٰلِ ٱلنَّاسِ بِٱلۡإِثۡمِ وَأَنتُمۡ تَعۡلَمُونَ
Dan janganlah kalian makan harta di antara kalian dengan jalan yang batil, dan (janganlah) kalian menyuap dengan harta itu kepada para hakim dengan maksud agar kalian dapat memakan sebagian harta orang lain itu dengan jalan dosa, padahal kalian mengetahui.
QS Al-Baqarah: 188
Suap merupakan salah satu jenis memakan harta dengan cara batil yang paling berat, karena ia adalah pemberian harta kepada orang lain dengan tujuan untuk memalingkannya dari kebenaran.
Keharaman dalam masalah suap ini mencakup ketiga rukunnya, yaitu: penyuap (rasyi), penerima suap (murtasyi), dan perantara (ra-isy), yaitu orang yang menjadi penghubung di antara keduanya. Sungguh, Ahmad dan Ath-Thabarani telah meriwayatkan dari hadis Tsauban—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata: Diriwayatkan dari Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bahwasanya beliau melaknat penyuap, penerima suap, dan perantara (antara keduanya).1 (HR Ahmad nomor 22762)
وَاللَّعۡنُ مِنَ اللهِ هُوَ: اَلطَّرۡدُ وَالۡإِبۡعَادُ عَنۡ مَظَانِّ رَحۡمَتِهِ نَعُوۡذُ بِاللهِ مِنۡ ذٰلِكَ، وَهُوَ لَا يَكُونُ إِلَّا فِي كَبِيرَةٍ، كَمَا أَنَّ الرِّشۡوَةَ مِنۡ أَنۡوَاعِ السُّحۡتِ الۡمُحَرَّمِ بِالۡقُرۡآنِ وَالسُّنَّةِ، فَقَدۡ ذَمَّ اللهُ الۡيَهُودَ وَشَنَّعَ عَلَيۡهِمۡ لِأَكۡلِهِمُ السُّحۡتَ فِي قَوۡلِهِ سُبۡحَانَهُ: ﴿سَمَّاعُونَ لِلۡكَذِبِ أَكَّالُونَ لِلسُّحۡتِ﴾ [المائدة: ٤٢] كَمَا قَالَ تَعَالَى عَنۡهُمۡ: ﴿وَتَرَى كَثِيرًا مِنۡهُمۡ يُسَارِعُونَ فِي الۡإِثۡمِ وَالۡعُدۡوَانِ وَأَكۡلِهِمُ السُّحۡتَ لَبِئۡسَ مَا كَانُوا يَعۡمَلُونَ ٦٢ لَوۡلَا يَنۡهَاهُمُ الرَّبَّانِيُّونَ وَالۡأَحۡبَارُ عَنۡ قَوۡلِهِمُ الۡإِثۡمَ وَأَكۡلِهِمُ السُّحۡتَ لَبِئۡسَ مَا كَانُوا يَصۡنَعُونَ﴾ [المائدة: ٦٢، ٦٣] وَقَالَ تَعَالَى: ﴿فَبِظُلۡمٍ مِنَ الَّذِينَ هَادُوا حَرَّمۡنَا عَلَيۡهِمۡ طَيِّبَاتٍ أُحِلَّتۡ لَهُمۡ وَبِصَدِّهِمۡ عَنۡ سَبِيلِ اللَّهِ كَثِيرًا ١٦٠ وَأَخۡذِهِمُ الرِّبَا وَقَدۡ نُهُوا عَنۡهُ وَأَكۡلِهِمۡ أَمۡوَالَ النَّاسِ بِالۡبَاطِلِ﴾ [النساء: ١٦٠، ١٦١].
Laknat dari Allah artinya adalah pengusiran dan penjauhan dari tempat-tempat yang diduga kuat terdapat rahmat-Nya—kita berlindung kepada Allah dari hal itu—dan laknat tidak terjadi melainkan dalam dosa besar. Sebagaimana suap juga termasuk salah satu macam dari harta haram (suht) yang diharamkan dalam Al-Qur’an dan sunah. Allah—subhanahu—telah mencela kaum Yahudi dan mengecam mereka karena memakan harta haram melalui firman-Nya—subhanahu—:
سَمَّٰعُونَ لِلۡكَذِبِ أَكَّٰلُونَ لِلسُّحۡتِ ۚ
Mereka sangat suka mendengar berita bohong, banyak memakan (makanan/harta) yang haram.
QS Al-Maidah: 42
Dan sebagaimana firman Allah taala mengenai mereka:
وَتَرَىٰ كَثِيرًا مِّنۡهُمۡ يُسَٰرِعُونَ فِى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِ وَأَكۡلِهِمُ ٱلسُّحۡتَ ۚ لَبِئۡسَ مَا كَانُوا۟ يَعۡمَلُونَ ٦٢ لَوۡلَا يَنۡهَىٰهُمُ ٱلرَّبَّٰنِيُّونَ وَٱلۡأَحۡبَارُ عَن قَوۡلِهِمُ ٱلۡإِثۡمَ وَأَكۡلِهِمُ ٱلسُّحۡتَ ۚ لَبِئۡسَ مَا كَانُوا۟ يَصۡنَعُونَ
Dan kamu akan melihat banyak di antara mereka (orang-orang Yahudi) berlomba-lomba dalam berbuat dosa, permusuhan dan memakan yang haram. Sungguh, sangat buruk apa yang telah mereka kerjakan. Mengapa para ulama dan pendeta mereka tidak melarang mereka dari mengucapkan perkataan bohong dan memakan yang haram? Sungguh, sangat buruk apa yang telah mereka perbuat.
QS Al-Ma’idah: 62-63
Dan Allah taala berfirman,
فَبِظُلۡمٍ مِّنَ ٱلَّذِينَ هَادُوا۟ حَرَّمۡنَا عَلَيۡهِمۡ طَيِّبَٰتٍ أُحِلَّتۡ لَهُمۡ وَبِصَدِّهِمۡ عَن سَبِيلِ ٱللَّهِ كَثِيرًا ١٦٠ وَأَخۡذِهِمُ ٱلرِّبَوٰا۟ وَقَدۡ نُهُوا۟ عَنۡهُ وَأَكۡلِهِمۡ أَمۡوَٰلَ ٱلنَّاسِ بِٱلۡبَٰطِلِ ۚ
Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka makanan yang baik-baik yang (dahulunya) pernah dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan karena mereka menjalankan riba, padahal sungguh mereka telah dilarang darinya, dan karena mereka memakan harta orang dengan cara yang batil.
QS An-Nisa’: 160-161
وَقَدۡ وَرَدَتۡ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ فِي التَّحۡذِيرِ مِنۡ هٰذَا الۡمُحَرَّمِ وَبَيَانِ عَاقِبَةِ مُرۡتَكِبِيهِ: مِنۡهَا مَا رَوَاهُ ابۡنُ جَرِيرٍ عَنِ ابۡنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا عَنِ النَّبِيِّ ﷺ قَالَ: (كُلُّ لَحۡمٍ أَنۡبَتَهُ السُّحۡتُ فَالنَّارُ أَوۡلَى بِهِ) قِيۡلَ: وَمَا السُّحۡتُ؟ قَالَ: (اَلرِّشۡوَةُ فِي الۡحُكۡمِ)، وَرَوَى الۡإِمَامُ أَحۡمَدُ عَنۡ عَمۡرِو بۡنِ الۡعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: سَمِعۡتُ رَسُوۡلَ اللهِ ﷺ يَقُوۡلُ: (مَا مِنۡ قَوۡمٍ يَظۡهَرُ فِيهِمُ الرِّبَا إِلَّا أُخِذُوا بِالسَّنَةِ، وَمَا مِنۡ قَوۡمٍ يَظۡهَرُ فِيهِمُ الرِّشَا إِلَّا أُخِذُوا بِالرُّعۡبِ)، وَرَوَى الطَّبَرَانِيُّ عَنِ ابۡنِ مَسۡعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ: (اَلسُّحۡتُ: اَلرِّشۡوَةُ فِي الدِّيۡنِ)، وَقَالَ أَبُو مُحَمَّدٍ مُوَفَّقُ الدِّينِ ابۡنُ قُدَامَةَ رَحِمَهُ اللهُ فِي الۡمُغۡنِي: قَالَ الۡحَسَنُ وَسَعِيدُ بۡنُ جُبَيۡرٍ فِي تَفۡسِيرِ قَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿أَكَّالُونَ لِلسُّحۡتِ﴾ هُوَ الرِّشۡوَةُ، وَقَالَ: إِذَا قَبِلَ الۡقَاضِي الرِّشۡوَةَ بَلَغَتۡ بِهِ الۡكُفۡرَ لِأَنَّهُ مُسۡتَعِدٌّ لِلۡحُكۡمِ بِغَيۡرِ مَا أَنۡزَلَ اللهُ ﴿وَمَنۡ لَمۡ يَحۡكُمۡ بِمَا أَنۡزَلَ اللهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الۡكَافِرُونَ﴾ [المائدة: ٤٤]
Sungguh telah ada banyak hadis yang memperingatkan dari perkara yang diharamkan ini dan menjelaskan akibat bagi para pelakunya. Di antaranya adalah hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu ‘Umar—radhiyallahu ‘anhuma—, dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Setiap daging yang tumbuh dari harta haram (suht), maka neraka lebih utama baginya.”
Ditanyakan kepada beliau, “Apakah suht itu?”
Beliau menjawab, “Suap dalam memutuskan hukum”.
Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Amr bin Al-‘Ash—radhiyallahu ‘anhu—berkata: Aku mendengar Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Tidaklah suatu kaum merajalela riba di tengah mereka melainkan mereka akan ditimpa paceklik dan tidaklah suatu kaum merajalela suap-menyuap di tengah mereka melainkan mereka akan ditimpa ketakutan.”
Ath-Thabarani meriwayatkan dari Ibnu Mas’ud—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata, “Suht adalah suap dalam urusan agama.”
Abu Muhammad Muwaffaquddin Ibnu Qudamah—rahimahullah—berkata dalam kitab Al-Mughni: Al-Hasan dan Sa’id bin Jubair berkata dalam menafsirkan firman Allah taala: “banyak memakan (makanan/harta) yang haram”, hal itu adalah suap.
Beliau juga berkata: Jika kadi menerima suap, maka perkara itu mengantarkannya pada kekufuran; karena ia telah bersiap untuk memutuskan hukum dengan selain apa yang diturunkan Allah.
وَمَن لَّمۡ يَحۡكُم بِمَآ أَنزَلَ ٱللَّهُ فَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَٰفِرُونَ
Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir.
QS Al-Maidah: 44
وَرَوَى مُسۡلِمٌ عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لَا يَقۡبَلُ إِلَّا طَيِّبًا وَإِنَّ اللهَ أَمَرَ الۡمُؤۡمِنِيۡنَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الۡمُرۡسَلِينَ) فَقَالَ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الرُّسُلُ كُلُوا مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَاعۡمَلُوا صَالِحًا﴾ [المؤمنون: ٥١] وَقَالَ تَعَالَى ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنۡ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقۡنَاكُمۡ﴾ [البقرة: ١٧٢] ثُمَّ ذَكَرَ (الرَّجُلَ يُطِيلُ السَّفَرَ أَشۡعَثَ أَغۡبَرَ يَمُدُّ يَدَيۡهِ إِلَى السَّمَاءِ يَا رَبِّ يَا رَبِّ، وَمَطۡعَمُهُ حَرَامٌ، وَمَشۡرَبُهُ حَرَامٌ، وَمَلۡبَسُهُ حَرَامٌ، وَغُذِيَ بِالۡحَرَامِ فَأَنَّى يُسۡتَجَابُ لَهُ؟)
Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sesungguhnya Allah taala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik. Dan sesungguhnya Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti apa yang diperintahkan-Nya kepada para rasul.” Maka Allah taala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلرُّسُلُ كُلُوا۟ مِنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَٱعۡمَلُوا۟ صَٰلِحًا ۖ
Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik dan kerjakanlah kebajikan.
QS Al-Mu’minun: 51
Dan Allah taala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُلُوا۟ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ
Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian.
QS Al-Baqarah: 172
Kemudian beliau menceritakan seorang laki-laki yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut dan badannya berdebu, ia menengadahkan kedua tangannya ke langit seraya berdoa, “Wahai Rabku, wahai Rabku”, padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia diberi asupan dari yang haram, maka bagaimanakah doanya akan dikabulkan?2 (HR Muslim nomor 1015)
فَاتَّقُوا اللهَ أَيُّهَا الۡمُسۡلِمُونَ، وَاحۡذَرُوا سَخَطَهُ، وَتَجَنَّبُوا أَسۡبَابَ غَضَبِهِ فَإِنَّهُ جَلَّ وَعَلَا غَيُورٌ إِذَا انۡتُهِكَتۡ مَحَارِمُهُ، وَقَدۡ وَرَدَ فِي الۡحَدِيۡثِ الصَّحِيۡحِ (لَا أَحَدَ أَغۡيَرُ مِنَ اللهِ)، وَجَنِّبُوا أَنۡفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمُ الۡمَالَ الۡحَرَامَ، وَالۡأَكۡلَ الۡحَرَامَ، نَجَاةً بِأَنۡفُسِكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ مِنَ النَّارِ الَّتِي جَعَلَهَا اللهُ أَوۡلَى بِكُلِّ لَحۡمٍ نَبَتَ مِنَ الۡحَرَامِ كَمَا أَنَّ الۡمَأۡكَلَ الۡحَرَامَ سَبَبٌ لِحَجۡبِ الدُّعَاءِ وَعَدَمِ الۡإِجَابَةِ، لِمَا مَرَّ مِنۡ حَدِيثِ أَبِيۡ هُرَيۡرَةَ عِنۡدَ مُسۡلِمٍ، وَلِمَا رَوَاهُ الطَّبَرَانِيُّ عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ، رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا قَالَ: (تُلِيَتۡ عِنۡدَ رَسُولِ اللهِ ﷺ هٰذِهِ: ﴿يَا أَيُّهَا النَّاسُ كُلُوا مِمَّا فِي الۡأَرۡضِ حَلَالًا طَيِّبًا﴾ [البقرة: ١٦٨] فَقَامَ سَعۡدُ بۡنُ أَبِي وَقَّاصٍ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ ادۡعُ اللهَ أَنۡ يَجۡعَلَنِيۡ مُسۡتَجَابَ الدَّعۡوَةِ، فَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (يَا سَعۡدُ: أَطِبۡ مَطۡعَمَكَ، تَكُنۡ مُسۡتَجَابَ الدَّعۡوَةِ، وَالَّذِي نَفۡسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ إِنَّ الۡعَبۡدَ لَيَقۡذِفُ اللُّقۡمَةَ الۡحَرَامَ فِي جَوۡفِهِ مَا يَقۡبَلُ اللهُ مِنۡهُ عَمَلًا أَرۡبَعِينَ يَوۡمًا، وَأَيُّمَا عَبۡدٍ نَبَتَ لَحۡمُهُ مِنۡ سُحۡتٍ فَالنَّارُ أَوۡلَى بِهِ) ذَكَرَ ذٰلِكَ الۡحَافِظُ ابۡنُ رَجَبٍ رَحِمَهُ اللهُ فِي جَامِعِ الۡعُلُومِ وَالۡحِكَمِ عَنۡ رِوَايَةِ الطَّبَرَانِيِّ رَحِمَهُ اللهُ، فَدَلَّ ذٰلِكَ عَلَى أَنَّ عَدَمَ إِطَابَةِ الۡمَطۡعَمِ وَحِلِّيَّةِ الۡمَأۡكَلِ مَانِعٌ مِنۡ اسۡتِجَابَةِ الدُّعَاءِ، حَاجِبٌ عَنۡ رَفۡعِهِ إِلَى اللهِ، وَكَفَى بِذٰلِكَ وَبَالًا وَخُسۡرَانًا عَلَى صَاحِبِهِ نَعُوۡذُ بِاللهِ مِنۡ ذٰلِكَ. وَقَدۡ دَعَاكُمُ اللهُ إِلَى وِقَايَةِ أَنۡفُسِكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ مِنَ النَّارِ، وَالنَّجَاةِ بِهَا مِنۡ عَذَابِ اللهِ وَأَلِيمِ عِقَابِهِ، حَيۡثُ قَالَ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنۡفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعۡصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ﴾ [التحريم: ٦] فَاسۡتَجِيبُوا أَيُّهَا الۡمُسۡلِمُونَ لِنِدَاءِ رَبِّكُمۡ وَأَطِيعُوا أَمۡرَهُ، وَاجۡتَنِبُوۡا نَهۡيَهُ، وَاحۡذَرُوا أَسۡبَابَ غَضَبِهِ، تَسۡعَدُوا فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسۡتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمۡ لِمَا يُحۡيِيكُمۡ وَاعۡلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيۡنَ الۡمَرۡءِ وَقَلۡبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيۡهِ تُحۡشَرُونَ ٢٤ وَاتَّقُوا فِتۡنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنۡكُمۡ خَاصَّةً وَاعۡلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الۡعِقَابِ﴾ [الأنفال: ٢٤، ٢٥]
Bertakwalah kepada Allah wahai kaum muslimin, berhati-hatilah terhadap kemurkaan-Nya, dan jauhilah sebab-sebab kemarahan-Nya, karena Dia—jalla wa ‘ala—Maha Cemburu apabila kehormatan-kehormatan-Nya dilanggar. Sungguh telah disebutkan dalam hadis yang sahih: “Tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah.”3 (HR Al-Bukhari nomor 4634)
Jagalah diri kalian dan keluarga kalian dari harta yang haram dan makanan yang haram, demi menyelamatkan diri kalian dan keluarga kalian dari neraka yang telah Allah jadikan lebih berhak bagi setiap daging yang tumbuh dari harta yang haram. Sebagaimana makanan yang haram juga menjadi sebab terhalangnya doa dan tidak dikabulkannya doa berdasarkan hadis Abu Hurairah riwayat Muslim yang telah lalu, dan berdasarkan apa yang diriwayatkan oleh Ath-Thabarani dari Ibnu ‘Abbas—radhiyallahu ‘anhuma—. Ia berkata: Ayat berikut ini dibacakan di dekat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—: “Wahai manusia, makanlah dari apa yang ada di bumi yang halal lagi baik.” (QS Al-Baqarah: 168). Maka Sa’d bin Abu Waqqash berdiri lalu berkata, “Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar menjadikanku orang yang dikabulkan doanya”.
Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Wahai Sa’d, perbaikilah makananmu niscaya kamu menjadi orang yang dikabulkan doanya. Demi Allah yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya seorang hamba benar-benar memasukkan satu suapan yang haram ke dalam perutnya, maka Allah tidak akan menerima amalnya selama empat puluh hari. Dan hamba mana saja yang dagingnya tumbuh dari harta haram (suht), maka neraka lebih berhak baginya.”
Al-Hafizh Ibnu Rajab—rahimahullah—menyebutkan hal itu dalam kitab Jami’ Al-‘Ulum wal-Hikam dari riwayat Ath-Thabarani—rahimahullah—. Hal ini menunjukkan bahwa tidak memperbaiki makanan dan tidak memastikan kehalalan makanan merupakan penghalang dari dikabulkannya doa, serta penghambat naiknya doa kepada Allah. Cukuplah hal itu sebagai dampak buruk dan kerugian bagi pelakunya—kita berlindung kepada Allah dari hal itu—.
Allah benar-benar telah menyeru kalian untuk menjaga diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka, serta menyelamatkannya dari azab Allah dan siksaan-Nya yang kepedihan, yang mana Allah—subhanahu wa ta’ala—berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ عَلَيۡهَا مَلَٰٓئِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعۡصُونَ ٱللَّهَ مَآ أَمَرَهُمۡ وَيَفۡعَلُونَ مَا يُؤۡمَرُونَ
Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap semua yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.
QS At-Tahrim: 6
Maka penuhilah wahai kaum muslimin seruan Rab kalian, taatilah perintah-Nya, jauhilah larangan-Nya, dan berhati-hatilah terhadap sebab-sebab kemarahan-Nya, niscaya kalian akan bahagia di dunia dan akhirat. Allah taala berfirman,
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسۡتَجِيبُوا۟ لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمۡ لِمَا يُحۡيِيكُمۡ ۖ وَٱعۡلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ يَحُولُ بَيۡنَ ٱلۡمَرۡءِ وَقَلۡبِهِۦ وَأَنَّهُۥٓ إِلَيۡهِ تُحۡشَرُونَ ٢٤ وَٱتَّقُوا۟ فِتۡنَةً لَّا تُصِيبَنَّ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ مِنكُمۡ خَآصَّةً ۖ وَٱعۡلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ
Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul, apabila dia menyeru kalian kepada sesuatu yang memberi kehidupan kepada kalian, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan. Dan peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kalian. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.
QS Al-Anfal: 24-25
وَاللهُ الۡمَسۡؤُولُ أَنۡ يَجۡعَلَنَا وَإِيَّاكُمۡ مِمَّنۡ يَسۡتَمِعُونَ الۡقَوۡلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحۡسَنَهُ، وَمِنَ الۡمُتَعَاوِنِينَ عَلَى الۡبِرِّ وَالتَّقۡوَى، الۡمُلۡتَزِمِينَ بِكِتَابِ اللهِ، وَسُنَّةِ رَسُوۡلِ اللهِ ﷺ، وَأَنۡ يُعِيذَنَا وَإِيَّاكُمۡ مِنۡ شُرُورِ أَنۡفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعۡمَالِنَا، وَأَنۡ يَنۡصُرَ دِينَهُ، وَيُعۡلِيَ كَلِمَتَهُ، وَيُوَفِّقَ وُلَاةَ أَمۡرِنَا لِكُلِّ مَا فِيهِ صَالِحُ الۡعِبَادِ وَالۡبِلَادِ. إِنَّهُ وَلِيُّ ذٰلِكَ وَالۡقَادِرُ عَلَيۡهِ.
Allah adalah Zat yang dimohon agar menjadikan kami dan kalian termasuk orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti yang paling baik di antaranya, serta termasuk orang-orang yang saling tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa, yang berkomitmen pada kitab Allah dan sunah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Dan semoga Dia melindungi kami serta kalian dari keburukan diri kami dan kejelekan amal perbuatan kami, menolong agama-Nya, meninggikan kalimat-Nya, serta memberikan taufik kepada para pemimpin kami menuju setiap hal yang di dalamnya terdapat kebaikan bagi para hamba dan negeri. Sesungguhnya Dia adalah Penguasa hal itu dan yang Mahakuasa atasnya.
وَالسَّلَامُ عَلَيۡكُمۡ وَرَحۡمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ؛؛؛
As-Salamu ‘alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
![]()
Be the first to leave a comment