Di Antara Adab Berpakaian

ismail  

مِنۡ آدَابِ اللِّبَاسِ

١٣ – وَعَنۡهُ [أَيۡ: عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ] رضي الله عنه قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (إِذَا انۡتَعَلَ أَحَدُكُمۡ فَلۡيَبۡدَأۡ بِالۡيَمِينِ، وَإِذَا نَزَعَ فَلۡيَبۡدَأۡ بِالشِّمَالِ، لِتَكُنِ الۡيُمۡنَى أَوَّلَهُمَا تُنۡعَلُ وَآخِرَهُمَا تُنۡزَعُ). مُتَّفَقٌ عَلَيۡهِ.

13. Dan dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam— bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian memakai alas kaki, maka hendaklah ia memulai dengan yang kanan, dan apabila melepasnya maka hendaklah memulai dengan yang kiri. Hendaknya yang kanan menjadi yang pertama kali dipakai dan yang terakhir kali dilepas.”[1] Muttafaq ‘alaih.

١٤ – وَعَنۡهُ رضي الله عنه [أَيۡ: عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ] قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا يَمۡشِ أَحَدُكُمۡ فِي نَعۡلٍ وَاحِدَةٍ، لِيُنۡعِلۡهُمَا جَمِيعًا أَوۡ لِيَخۡلَعۡهُمَا جَمِيعًا). مُتَّفَقٌ عَلَيۡهِ.

14. Dan dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—. Beliau berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Janganlah salah seorang di antara kalian berjalan dengan satu alas kaki saja. Hendaklah ia memakai keduanya sekaligus atau melepas keduanya sekaligus.”[2] Muttafaq ‘alaih.

الشَّرۡحُ

Syarah

مِنۡ آدَابِ اللِّبَاسِ: لُبۡسُ النَّعۡلَيۡنِ، يُلۡبِسُ الرِّجۡلَ الۡيُمۡنَى قَبۡلَ الۡيُسۡرَى، وَفِي الۡخَلۡعِ بِالۡعَكۡسِ، يَخۡلَعُ مِنَ الۡيُسۡرَى قَبۡلَ الۡيُمۡنَى؛ لِأَنَّ اللِّبَاسَ مِنۡ شَأۡنِهِ الۡإِكۡرَامُ وَالتَّجَمُّلُ فَيَبۡدَأُ بِالۡيَمِينِ، وَالۡيَمِينُ يُقَدِّمُهَا لِكُلِّ مُسۡتَطَابٍ مِنَ الۡأَكۡلِ وَالشُّرۡبِ وَالۡأَخۡذِ وَالۡإِعۡطَاءِ وَدُخُولِ الۡمَسۡجِدِ، وَمَا مِنۡ شَأۡنِهِ التَّنۡظِيفُ وَإِزَالَةُ الۡأَذَى يُقَدِّمُ لَهَا الۡيَدَ الۡيُسۡرَى، فَإِذَا أَرَادَ أَنۡ يَخۡرُجَ مِنَ الۡمَسۡجِدِ يُقَدِّمُ رِجۡلَهُ الۡيُسۡرَى، وَعِنۡدَ الدُّخُولِ يُقَدِّمُ رِجۡلَهُ الۡيُمۡنَى؛ لِأَنَّ الدُّخُولَ إِلَى الۡمَسۡجِدِ إِكۡرَامٌ وَعِبَادَةٌ، وَعِنۡدَ الدُّخُولِ فِي الۡحَمَّامِ يُقَدِّمُ رِجۡلَهُ الۡيُسۡرَى، وَعِنۡدَ الۡخُرُوجِ يُقَدِّمُ رِجۡلَهُ الۡيُمۡنَى، وَعِنۡدَ الۡوُضُوءِ يَغۡسِلُ الۡيُمۡنَى قَبۡلَ الۡيُسۡرَى، وَعِنۡدَ اللِّبَاسِ يُدۡخِلُ يَدَهُ الۡيُمۡنَى فِي اللِّبَاسِ قَبۡلَ أَنۡ يُدۡخِلَ يَدَهُ الۡيُسۡرَى، وَعِنۡدَ الۡخَلۡعِ بِالۡعَكۡسِ، يَخۡلَعُ يَدَهُ الۡيُسۡرَى مِنَ اللِّبَاسِ قَبۡلَ الۡيُمۡنَى، هٰذِهِ مِنۡ آدَابِ اللِّبَاسِ.

Di antara adab berpakaian: memakai kedua alas kaki. Memakaikan alas kaki ke kaki kanan sebelum kaki kiri. Dalam melepasnya berlaku sebaliknya, yaitu melepas alas kaki kiri sebelum kaki kanan; karena berpakaian bertujuan untuk memuliakan dan memperindah diri, maka dimulai dengan yang kanan. Sisi kanan didahulukan untuk setiap hal yang baik, seperti makan, minum, mengambil, memberi, dan masuk masjid. Adapun hal yang bertujuan untuk pembersihan dan menghilangkan gangguan, maka didahulukan tangan kiri untuk melakukannya.

Maka, apabila seseorang ingin keluar dari masjid, ia mendahulukan kaki kirinya, dan saat masuk ia mendahulukan kaki kanannya; karena masuk ke masjid adalah kemuliaan dan ibadah. Sedangkan saat masuk ke kamar mandi, ia mendahulukan kaki kirinya, dan saat keluar ia mendahulukan kaki kanannya. Saat berwudu, ia membasuh yang kanan sebelum yang kiri. Saat berpakaian, ia memasukkan tangan kanannya ke dalam pakaian sebelum memasukkan tangan kirinya, dan saat melepasnya berlaku sebaliknya, yaitu melepas tangan kirinya dari pakaian sebelum yang kanan. Ini semua termasuk bagian dari adab berpakaian.[3]

وَكَذٰلِكَ مِنۡ آدَابِ لُبۡسِ النَّعۡلَيۡنِ: أَنَّهُ لَا يَمۡشِي بِنَعۡلٍ وَاحِدَةٍ، بَلۡ يُنۡعِلُ رِجۡلَيۡهِ جَمِيعًا أَوۡ يَخۡلَعُهُمَا جَمِيعًا، أَمَّا أَنَّهُ يَلۡبَسُ نَعۡلًا وَيَمۡشِي بِهَا وَالۡأُخۡرَى حَافِيَةٌ، هٰذَا مَنۡهِيٌّ عَنۡهُ، وَقَدۡ جَاءَ فِيهِ أَنَّهُ مِشۡيَةُ الشَّيۡطَانِ، فَلَا يَمۡشِي بِنَعۡلٍ وَاحِدَةٍ.

Demikian pula termasuk adab memakai kedua alas kaki: tidak berjalan dengan satu alas kaki saja, melainkan memakai alas kaki pada kedua kakinya sekaligus atau melepas keduanya sekaligus. Adapun memakai satu alas kaki lalu berjalan dengannya sementara kaki yang lainnya bertelanjang kaki, hal ini dilarang, dan telah ada riwayat yang menyebutkan bahwa itu adalah cara berjalan setan[4], maka janganlah berjalan dengan satu alas kaki.


[1] HR Al-Bukhari nomor 5855 dan Muslim nomor 2097.

[2] HR Al-Bukhari nomor 5856 dan Muslim nomor 2097.

[3] Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sangat menyukai mendahulukan yang kanan dalam setiap urusannya, sebagaimana yang dikeluarkan oleh Imam Al-Bukhari dalam Shahih-nya nomor 5380 dari hadis ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—. Ia berkata: “Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sangat menyukai mendahulukan yang kanan selagi beliau mampu dalam bersuci, memakai alas kaki, dan menyisir rambut beliau …”

[4] Barangkali Syekh yang mulia—hafizhahullah—mengisyaratkan kepada hadis yang dikeluarkan oleh Imam Ath-Thahawi—rahimahullah—dalam Syarh Musykil Al-Atsar (3/387): Dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melarang berjalan dengan satu alas kaki dan bersabda, “Sesungguhnya setan berjalan dengan satu alas kaki.”

Alamah Al-Albani—rahimahullah—telah menilai sahih sanad hadis ini dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah nomor 348.


Sumber: Ithaf Al-Kiram bi Syarh Kitab Al-Jami’ fi Al-Akhlaq wa Al-Adab min Bulugh Al-Maram syarah Syekh Doktor Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah

Loading

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *