Sikap Al-Hasan Al-Bashri terhadap Fitnah

ismail  

🎙️ Syekh Dr. Khalid bin Dhahwi Azh-Zhafiri hafizhahullahu ta’ala
🕌Masjid As-Sa’idi, Al-Jahra
📅 2 Rajab 1432 H

إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَمَّا بَعْدُ:

فَإِنَّ أَصْدَقَ الْحَدِيثِ كَلَامُ اللهِ وَخَيْرَ الْهَدْيِ هَدْيُ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ —صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ— وَشَرَّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ وَكُلَّ ضَلَالَةٍ فِي النَّارِ، أَمَّا بَعْدُ:

Wahai hamba-hamba Allah, sesungguhnya para ulama ahli sunah yang jujur adalah teladan yang agung dalam mengikuti sunah dan meninggalkan bidah. Jika engkau menoleh pada sejarah hidup mereka, engkau akan tahu bahwa mereka berjalan di atas kebenaran dan bersabar di atas sunah.

Di antara mereka adalah para sahabat yang mulia, tabiin yang agung, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, seperti Imam ahli sunah waljamaah yang sesungguhnya, Imam Ahmad bin Hanbal—semoga Allah taala merahmatinya—, Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah—semoga Allah taala merahmatinya—, dan Syaikhul-Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab—semoga Allah taala merahmatinya—.

Kita akan berhenti sejenak pada seorang imam dari para imam ini yang memiliki sikap agung dalam menghadapi dan menangani fitnah, serta mengingkari orang yang menyelisihi ahli sunah dalam cara berinteraksi dengan fitnah, yaitu Imam Abu Sa’id Al-Hasan bin Abul-Hasan Al-Bashri—semoga Allah taala merahmatinya—. Imam ini hidup pada masa fitnah besar yang menimpa kaum muslimin, yaitu kepemimpinan Al-Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi yang zalim, kejam, dan perusak terhadap penduduk Irak, serta pemberontakan Ibnu Al-Asy’ats beserta pengikutnya yang menuntut perubahan dan menolak kezaliman. Maka terjadilah fitnah besar yang mengakibatkan banyak kaum muslimin terbunuh.

Lantas, bagaimana sikap imam yang teguh di atas sunah ini? Apakah beliau mendorong mereka untuk memberontak dan melakukan perubahan? Apakah beliau ikut serta berperang bersama mereka? Sama sekali tidak! Bahkan beliau—semoga Allah merahmatinya—adalah orang yang sangat keras pengingkarannya terhadap orang yang berpendapat untuk memberontak atau mengajak kepadanya. Beliau memiliki banyak perkataan dalam hal ini, serta dalam menahan orang-orang agar tidak terjun ke dalam fitnah dan memerintahkan mereka untuk bersabar sampai Allah memberikan jalan keluar. Oleh karena itu, Yunus bin ‘Ubaid—semoga Allah merahmatinya—berkata, “Demi Allah, Al-Hasan adalah termasuk pemimpin ulama dalam urusan fitnah dan pertumpahan darah.”


Ketika dikatakan kepada Al-Hasan, “Wahai Abu Sa’id, apa pendapatmu tentang penguasa?”

Beliau menjawab, “Apa yang bisa kukatakan tentang kaum yang mengurusi lima perkara urusan kita: salat Jumat, salat jemaah, harta fai, perbatasan negara, dan penegakan hukum hudud. Agama tidak akan tegak melainkan dengan adanya mereka, meskipun mereka berbuat melampaui batas dan zalim. Sungguh, apa yang Allah perbaiki melalui mereka lebih banyak daripada apa yang mereka rusak.”


Namun, meskipun beliau bersikap demikian, Ibnu Al-Asy’ats memaksanya untuk ikut keluar bersamanya. Akan tetapi, beliau melarikan diri, tidak melanjutkan bersamanya, dan tidak ikut berperang. Beliau justru lari saat ada kesempatan. Hal ini menunjukkan ketidaksetujuannya sama sekali. Ayyub berkata, “Dikatakan kepada Ibnu Al-Asy’ats: ‘Jika engkau ingin orang-orang terbunuh di sekitarmu (karena mati-matian membelamu) sebagaimana mereka terbunuh di sekitar unta ‘Aisyah, maka ajaklah Al-Hasan ikut keluar.’ Maka ia mengirim utusan lalu memaksanya.”

Dan dari Ibnu ‘Aun—semoga Allah merahmatinya—, ia berkata, “Orang-orang merasakan turunnya semangat pasukan pada masa Ibnu Al-Asy’ats, lalu mereka berkata: ‘Ajak Syekh ini (maksudnya Al-Hasan Al-Bashri) ikut memberontak.'”

Ibnu ‘Aun berkata, “Aku melihat beliau di antara dua jembatan dengan memakai serban hitam. Ketika pasukan Ibnu Al-Asy’ats lengah, beliau menceburkan diri ke salah satu sungai hingga selamat dari mereka. Beliau hampir binasa saat itu.”

Lihatlah bagaimana beliau lari dari keikutsertaan bersama mereka karena tahu bahayanya hal tersebut. Oleh karena itu, penduduk Bashrah memuji sikap beliau ini dan kedudukannya semakin tinggi di mata mereka. Hal ini menunjukkan bahwa beliau tidak bersama Ibnu Al-Asy’ats. Ibnu ‘Aun berkata, “Muslim bin Yasar dahulu lebih tinggi kedudukannya di sisi penduduk Bashrah daripada Abu Sa’id (Al-Hasan Al-Bashri), sampai akhirnya ia bertindak ceroboh bersama Ibnu Al-Asy’ats (ikut memberontak) sedangkan yang lain (Al-Hasan Al-Bashri) menahan diri. Sejak saat itu, kedudukan Al-Hasan Al-Bashri terus naik, sedangkan Muslim bin Yasar jatuh.”


Dan Al-Hasan Al-Bashri—semoga Allah merahmatinya—ketika mendengar seorang laki-laki mendoakan keburukan bagi Al-Hajjaj, beliau berkata, “Jangan lakukan itu, sesungguhnya kalian ditimpa keburukan akibat ulah kalian sendiri. Kami khawatir jika Al-Hajjaj dilengserkan atau mati, kalian akan dikuasai oleh kera dan babi.”

Beliau—semoga Allah merahmatinya—apabila dikatakan kepadanya, “Tidakkah engkau keluar memberontak untuk melakukan perubahan?”

Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah hanyalah mengubah dengan tobat dan tidak mengubah dengan pedang.”

Dengarlah kejadian ini dan pelajaran yang terkandung di dalamnya, serta bagaimana kesabaran para imam di atas sunah dan kepatuhan mereka kepadanya.


Sulaiman bin ‘Ali Ar-Raba’i—semoga Allah merahmatinya—berkata: Ketika terjadi fitnah, yaitu fitnah Ibnu Al-Asy’ats, saat memerangi Al-Hajjaj bin Yusuf, berangkatlah ‘Uqbah bin ‘Abdul Ghafir, Abu Al-Jauza’, dan ‘Abdullah bin Ghalib bersama sekelompok orang yang setara dengan mereka. Mereka menemui Al-Hasan, lalu bertanya, “Wahai Abu Sa’id, apa pendapatmu tentang memerangi tagut ini yang telah menumpahkan darah yang haram, mengambil harta yang haram, meninggalkan salat, dan melakukan begini dan begitu?” Sulaiman berkata: Mereka menyebutkan perbuatan Al-Hajjaj.

Lalu Al-Hasan berkata, “Aku berpendapat agar kalian tidak berperang. Jika ini adalah hukuman dari Allah, kalian tidak akan bisa menolak hukuman Allah dengan pedang kalian. Jika ini adalah ujian, bersabarlah sampai Allah memberi keputusan, dan Dia adalah sebaik-baik pemberi keputusan.”

Sulaiman berkata: Lalu mereka keluar dari sisi beliau sambil berkata, “Kita menaati si ‘alj (orang non-Arab yang kasar/bodoh) ini?!” Padahal mereka adalah orang Arab. Lalu mereka keluar bersama Ibnu Al-Asy’ats, dan semuanya terbunuh. Mereka tidak mendengar nasihat imam ini, maka itulah akibat bagi mereka. Sampai-sampai salah satu dari mereka, yaitu ‘Uqbah bin ‘Abdul Ghafir, ditemukan tewas pada Hari Jamajim (hari peperangan mereka bersama Ibnu Al-Asy’ats saat mereka kalah), dia berkata sebelum ajalnya, “Dunia dan akhirat telah hilang.”

Dia menyadari bahwa perbuatannya tidak menghasilkan kemaslahatan di dunia dan tidak pula mendapatkan pahala di akhirat karena kerusakan yang terjadi.


Al-Hasan Al-Bashri—semoga Allah merahmatinya—juga mengingkari Sa’id bin Jubair dan orang-orang yang bersamanya. Dari Ayyub, ia berkata: Al-Hasan berkata kepadaku, “Tidakkah engkau heran dengan Sa’id bin Jubair, ia menemuiku lalu bertanya tentang memerangi Al-Hajjaj bersama beberapa pemimpin (pasukan Ibnu Al-Asy’ats).”


Demikian pula beliau mengingkari saudaranya sendiri, Sa’id bin Abul Hasan, saat mendorong untuk keluar memberontak bersama Ibnu Al-Asy’ats. Dari Abut-Tayyah, ia berkata:

Aku menyaksikan Al-Hasan dan Sa’id bin Abul Hasan ketika Ibnu Al-Asy’ats datang. Al-Hasan—semoga Allah merahmatinya—melarang pemberontakan terhadap Al-Hajjaj dan memerintahkan untuk menahan diri, sedangkan Sa’id bin Abul Hasan memprovokasi untuk memberontak. Kemudian Sa’id berkata di antara perkataannya, “Bagaimana pendapatmu tentang penduduk Syam jika kita bertemu mereka besok, lalu kita katakan: ‘Demi Allah, kami tidak mencopot Amirulmukminin dan kami tidak ingin mencopotnya, akan tetapi kami benci penunjukan Al-Hajjaj olehnya, maka pecatlah dia dari kami!'”

Setelah Sa’id selesai berbicara, Al-Hasan—semoga Allah merahmatinya—berbicara, beliau memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian berkata, “Wahai manusia, demi Allah, tidaklah Allah menguasakan Al-Hajjaj atas kalian melainkan sebagai hukuman. Janganlah kalian melawan hukuman Allah dengan pedang, akan tetapi hendaknya kalian bersikap tenang dan merendahkan diri. Adapun apa yang engkau tanyakan tentang pendapatku mengenai penduduk Syam, sesungguhnya pendapatku tentang mereka adalah jika mereka datang lalu Al-Hajjaj menyuapkan dunia kepadanya, niscaya tidaklah ia membebani mereka suatu urusan kecuali mereka akan melaksanakannya. Itulah pendapatku tentang mereka.”


Ini adalah contoh yang jelas dan terang dari sikap para ulama dalam menghadapi fitnah dan menanganinya sesuai dengan batasan syariat. Tidak ada pemberontakan, tidak ada demonstrasi, tidak ada peperangan, tidak ada caci maki, dan tidak pula selain itu.

Sekumpulan ulama selain Al-Hasan Al-Bashri pun telah mengingkari keterlibatan dalam fitnah besar ini. Di antaranya adalah pengingkaran Abu Qilabah terhadap Muslim bin Yasar, demikian pula Mutharif bin ‘Abdullah Asy-Syikhkhir—semoga Allah merahmatinya—mengingkari mereka saat beliau diajak.

Dari Humaid bin Hilal, ia berkata:

Beberapa orang mendatangi Mutharif bin ‘Abdullah pada masa Ibnu Al-Asy’ats, mereka mengajaknya untuk memerangi Al-Hajjaj. Ketika mereka terus mendesaknya, ia berkata, “Apa pendapat kalian tentang apa yang kalian ajak kepadaku ini, apakah ia lebih dari sekadar jihad di jalan Allah?”

Mereka menjawab, “Tidak.”

Ia berkata, “Maka aku tidak akan mempertaruhkan nyawaku di antara kebinasaan yang pasti aku alami dan keutamaan yang belum pasti aku dapatkan.”

Dikatakan juga kepadanya, “Ini ‘Abdurrahman bin Al-Asy’ats telah datang.”

Ia berkata, “Demi Allah, sungguh ia terlihat di antara dua perkara: jika ia menang, agama Allah tidak akan tegak, dan jika ia dikalahkan, mereka akan terus terhina sampai hari kiamat.”


Maka dari itu, tidak ada kemaslahatan syariat dari pemberontakan tersebut, melainkan hanyalah tuntutan materi dan demi dunia. Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyyah—semoga Allah merahmatinya—berkata, “Dahulu orang-orang terbaik di kalangan kaum muslimin melarang pemberontakan dan peperangan saat fitnah, sebagaimana ‘Abdullah bin ‘Umar, Sa’id bin Al-Musayyib, ‘Ali bin Al-Husain, dan selain mereka melarang pemberontakan terhadap Yazid pada tahun Al-Harrah. Sebagaimana pula Al-Hasan Al-Bashri, Mujahid, dan selain keduanya melarang pemberontakan dalam fitnah Ibnu Al-Asy’ats. Karena itulah prinsip ahli sunah telah tetap untuk meninggalkan peperangan saat fitnah berdasarkan hadis-hadis sahih yang tetap dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Mereka mulai menyebutkan hal ini dalam akidah mereka, dan memerintahkan untuk bersabar atas kezaliman para pemimpin serta meninggalkan peperangan terhadap mereka.” —Selesai perkataan beliau—semoga Allah merahmatinya—.

اللَّهُمَّ ثَبِّتْنَا عَلَى السُّنَّةِ، أَقُولُ مَا تَسْمَعُونَ وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيمَ لِي وَلَكُمْ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.

Khotbah Kedua

الْحَمْدُ لِلَّهِ وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى رَسُولِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَمَنِ اتَّبَعَ هُدَاهُ، أَمَّا بَعْدُ:

Wahai hamba-hamba Allah.. Sesungguhnya termasuk dari terbaliknya konsep dan pengambilan dalil yang keliru adalah pendalilan banyak orang yang memberontak dengan perbuatan orang yang keluar memberontak bersama Ibnu Al-Asy’ats melawan Al-Hajjaj. Apa yang telah disebutkan sebelumnya tentang pengingkaran para imam terhadap mereka dan penjelasan bahwa mereka telah menyelisihi dalil, menunjukkan bahwa perbuatan mereka adalah mungkar dan batil serta tidak boleh dijadikan hujah. Hujah itu adalah dengan dalil syariat, bukan dengan perkataan dan perbuatan orang yang menyelisihinya. Terlebih lagi, bagaimana mungkin kita berdalil dengan perbuatan kaum yang telah tobat dari perbuatannya dan menyadari bahwa mereka telah salah serta menyelisihi dalil?

Hal ini ditunjukkan oleh penyesalan orang-orang yang memberontak bersama Ibnu Al-Asy’ats dari kalangan para qurra’ (ahli Al-Qur’an) yang masih hidup dan tidak terbunuh. Ayyub—semoga Allah taala merahmatinya— berkata, “Aku tidak tahu seorang pun yang terbunuh melainkan tidak ada orang lain yang ingin mati seperti itu, dan tidak ada yang selamat melainkan telah menyesali perbuatannya.”


Al-‘Ala’ bin ‘Abdul Karim—semoga Allah taala merahmatinya—berkata: Aku tertawa, lalu Thalhah bin Musharrif berkata kepadaku—dan ia termasuk yang ikut serta dalam Hari Jamajim (peperangan bersama Ibnu Al-Asy’ats)—: “Sesungguhnya engkau tertawa dengan tawa seorang lelaki yang tidak menyaksikan Hari Jamajim.”

Ditanyakan kepadanya, “Wahai Abu Muhammad, apakah engkau menyaksikan Hari Jamajim?”

Ia menjawab, “Ya, dan aku telah melepaskan beberapa anak panah di sana yang tidak sampai pada sasaran, dan sungguh aku lebih suka jika tanganku dipotong dari sini—ia menunjuk ke sikunya—dan aku tidak menyaksikannya.”


Begitu pula penyesalan Muslim bin Yasar. Abu Qilabah—semoga Allah merahmatinya—menceritakan bahwa ia berkumpul bersama Muslim bin Yasar—yang saat itu Muslim ikut memberontak bersama Ibnu Al-Asy’ats—. Mereka membicarakan hal itu, lalu Muslim berkata, “Aku memang keluar bersamanya, namun demi Allah, aku tidak menghunus pedang, tidak melepaskan anak panah, dan tidak menusukkan tombak.”

Abu Qilabah berkata kepadanya, “Akan tetapi, sungguh seseorang telah melihatmu berdiri (di barisan pasukan), lalu ia berkata: ‘Ini Muslim bin Yasar sedang berdiri untuk berperang,’ maka ia pun melepaskan anak panahnya, menusukkan tombaknya, dan memukulkan pedangnya.”

Muslim pun menangis, hingga Abu Qilabah berkata, “Sampai aku berandai-andai seandainya aku tidak mengatakan apa pun.”


Demikian pula kembalinya Imam Asy-Sya’bi dari pemberontakannya pada Hari Jamajim bersama para qurra’ melawan Yazid dan Al-Hajjaj, serta penyesalannya atas hal itu dan pengakuannya atas dosanya. Ia berkata kepada Al-Hajjaj, “Semoga Allah memperbaiki urusan gubernur, kami telah terkecoh oleh fitnah, maka kami di dalamnya bukanlah orang-orang baik yang bertakwa dan bukan pula orang-orang pembangkang yang kuat. Aku telah menulis surat kepada Yazid bin Abu Muslim untuk memberitahukan penyesalanku atas kesalahan masa lalu dan pengakuanku terhadap kebenaran yang sempat aku selisihi, dan aku memohon kepadanya agar mengabarkan hal itu kepada gubernur dan mengambil jaminan keamanan untukku darinya, namun ia belum melakukannya.”


Maka wajib bagi kalian, wahai hamba-hamba Allah, untuk berhujah dengan dalil-dalil syariat dan mendahulukannya di atas perkataan siapa pun. Dalil-dalil tersebut semuanya menunjukkan kewajiban mendengar dan taat dalam perkara yang bukan maksiat, bersabar atas kezaliman mereka, memberikan nasihat kepada mereka sesuai batasan syariat, mendoakan mereka, dan hak-hak mereka yang lainnya.

​اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفِتَنِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفِتَنِ، اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، اللَّهُمَّ احْفَظْنَا وَاحْفَظْ بِلَادَ الْمُسْلِمِينَ، اللَّهُمَّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ وَبِلَادَ الْمُسْلِمِينَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا سَخَاءً رَخَاءً، اللَّهُمَّ ابْعِدْ عَنَّا وَأَهْلِ الْمُسْلِمِينَ الْفِتَنَ، اللَّهُمَّ ابْعِدْ عَنَّا وَأَهْلِ الْمُسْلِمِينَ الْفِتَنَ.

رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الْأَحْيَاءَ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ.

Sumber: Situs resmi Syekh Khalid Azh-Zhafiri.

Loading

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *