Daftar Isi
ثُمَّ لَمَّا ذَكَرَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ الۡإِنۡسَانَ بِحَالِهِ مُنۡذُ خُلِقَ مِنۡ نُطۡفَةٍ حَتَّى بَقِيَ فِي الدُّنۡيَا وَعَاشَ، ذَكَرَ حَالَهُ الۡآخِرَةَ فِي قَوۡلِهِ:
Kemudian ketika Allah—‘azza wa jalla—menyebutkan manusia dengan keadaannya sejak ia diciptakan dari nutfah hingga ia menetap di dunia dan hidup, Dia menyebutkan keadaannya di akhirat dalam firman-Nya:
﴿فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ ٣٣ يَوۡمَ يَفِرُّ ٱلۡمَرۡءُ مِنۡ أَخِيهِ ٣٤ وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ ٣٥ وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ ٣٦ لِكُلِّ ٱمۡرِئٍ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٍ شَأۡنٌ يُغۡنِيهِ ٣٧ وُجُوهٌ يَوۡمَئِذٍ مُّسۡفِرَةٌ ٣٨ ضَاحِكَةٌ مُّسۡتَبۡشِرَةٌ ٣٩ وَوُجُوهٌ يَوۡمَئِذٍ عَلَيۡهَا غَبَرَةٌ ٤٠ تَرۡهَقُهَا قَتَرَةٌ ٤١ أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَفَرَةُ ٱلۡفَجَرَةُ﴾ [عبس: ٣٣—٤٢].
- Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua),
- pada hari ketika manusia lari dari saudaranya,
- dari ibu dan bapaknya,
- dari istri dan anak-anaknya.
- Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.
- Banyak muka pada hari itu berseri-seri,
- tertawa dan bergembira ria,
- dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu,
- dan ditutup lagi oleh kegelapan.
- Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka.
Ayat 33-36
﴿فَإِذَا جَآءَتِ ٱلصَّآخَّةُ﴾ يَعۡنِي: الصَّيۡحَةَ الۡعَظِيمَةَ الَّتِي تَصُخُّ الۡآذَانَ، وَهٰذَا هُوَ النَّفۡخُ فِي الصُّورِ. ﴿يَوۡمَ يَفِرُّ ٱلۡمَرۡءُ مِنۡ أَخِيهِ﴾ مِنۡ أَخِيهِ شَقِيقِهِ أَوۡ لِأَبِيهِ أَوۡ لِأُمِّهِ ﴿وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ﴾ الۡأُمُّ وَالۡأَبُ الۡمُبَاشِرُ، وَالۡأَجۡدَادُ أَيۡضًا وَالۡجَدَّاتُ، يَفِرُّ مِنۡ هَؤُلَاءِ كُلِّهِمۡ، ﴿وَصَٰحِبَتِهِۦ﴾ زَوۡجَتِهِ ﴿وَبَنِيهِ﴾، وَهُمۡ أَقۡرَبُ النَّاسِ إِلَيۡهِ وَأَحَبُّ النَّاسِ إِلَيۡهِ، وَيَفِرُّ مِنۡ هَؤُلَاءِ كُلِّهِمۡ.
“Maka apabila suara yang memekakkan datang” (QS Abasa: 33), yakni teriakan dahsyat yang memekakkan telinga, dan ini adalah tiupan pada sangkakala. “Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya” (QS Abasa: 34), baik saudara kandung, seayah, maupun seibu. “Dan dari ibu dan ayahnya” (QS Abasa: 35), yaitu ibu dan ayah kandung, juga kakek dan nenek; ia lari dari mereka semua. “Dan dari shahibah-nya” (QS Abasa: 36) yaitu istrinya, “dan anak-anaknya” (QS Abasa: 36), padahal mereka adalah orang yang paling dekat dan paling dicintainya. Ia lari dari mereka semua.
قَالَ أَهۡلُ الۡعِلۡمِ: يَفِرُّ مِنۡهُمۡ لِئَلَّا يُطَالِبُوهُ بِمَا فَرَّطَ بِهِ فِي حَقِّهِمۡ مِنۡ أَدَبٍ وَغَيۡرِهِ؛ لِأَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ فِي ذٰلِكَ الۡيَوۡمِ لَا يُحِبُّ أَبَدًا أَنۡ يَكُونَ لَهُ أَحَدٌ يُطَالِبُهُ بِشَيۡءٍ.
Ahli ilmu berkata: Ia lari dari mereka agar mereka tidak menuntutnya atas kelalaian yang ia lakukan terhadap hak-hak mereka, baik berupa adab maupun lainnya. Karena pada hari itu, setiap orang sama sekali tidak ingin ada seorang pun yang menuntut sesuatu darinya.
Ayat 37
﴿لِكُلِّ ٱمۡرِئٍ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٍ شَأۡنٌ يُغۡنِيهِ﴾ كُلُّ إِنۡسَانٍ مُشۡتَغِلٌ بِنَفۡسِهِ، لَا يَنۡظُرُ إِلَى غَيۡرِهِ؛ وَلِهٰذَا لَمَّا قَالَ النَّبِيُّ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: (إِنَّكُمۡ تُحۡشَرُونَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ حُفَاةً عُرَاةً غُرۡلًا) قَالَتۡ عَائِشَةُ رَضِيَ اللهُ عَنۡهَا: (الرِّجَالُ وَالنِّسَاءُ يَنۡظُرُ بَعۡضُهُمۡ إِلَى بَعۡضٍ؟) قَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (الۡأَمۡرُ أَعۡظَمُ مِنۡ أَنۡ يَنۡظُرُ بَعۡضُهُمۡ إِلَى بَعۡضٍ).
“Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya” (QS Abasa: 37). Setiap manusia sibuk dengan dirinya sendiri dan tidak menoleh kepada orang lain.
Oleh karena itu, ketika Nabi— ‘alaihish-shalatu was-salam—bersabda, “Sesungguhnya kalian akan dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang, dan belum dikhitan,” ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha—bertanya, “Laki-laki dan perempuan akan saling melihat satu sama lain?”
Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menjawab, “Urusan pada hari itu lebih dahsyat daripada sekadar melihat satu sama lain.”1 (HR Al-Bukhari nomor 6527 dan Muslim nomor 2859 dari hadis ‘Aisyah—radhiyallahu ‘anha).
Ayat 38-39
ثُمَّ قَسَّمَ اللهُ النَّاسَ فِي ذٰلِكَ الۡيَوۡمِ إِلَى قِسۡمَيۡنِ؛ فَقَالَ: ﴿وُجُوهٌ يَوۡمَئِذٍ﴾ يَعۡنِي: يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ ﴿مُّسۡفِرَةٌ﴾ مُسۡفِرَةٌ مِنَ الۡإِسۡفَارِ وَهُوَ الۡوُضُوحُ؛ لِأَنَّهَا وُجُوهُ الۡمُؤۡمِنِينَ تُسۡفِرُ عَمَّا فِي قُلُوبِهِمۡ مِنَ السُّرُورِ وَالۡاِنۡشِرَاحِ. ﴿ضَاحِكَةٌ﴾ يَعۡنِي: مُتَبَسِّمَةً، وَهٰذَا مِنۡ كَمَالِ سُرُورِهِمۡ ﴿مُّسۡتَبۡشِرَةٌ﴾؛ أَيۡ: قَدۡ بُشِّرَتۡ بِالۡخَيۡرِ؛ لِأَنَّ الۡمَلَائِكَةَ تَتَلَقَّاهُمۡ بِالۡبُشۡرَى يَقُولُونَ: ﴿سَلَٰمٌ عَلَيۡكُمُ﴾ [النحل: ٣٢].
Kemudian Allah membagi manusia pada hari itu menjadi dua golongan, Dia berfirman, “Banyak muka pada hari itu” yakni hari kiamat “berseri-seri” (QS Abasa: 38), musfirah berasal dari kata al-isfar yaitu kejelasan, karena wajah-wajah orang beriman menampakkan kegembiraan dan kelapangan yang ada di dalam hati mereka. “Tertawa” (QS Abasa: 39) yakni tersenyum, dan ini merupakan kesempurnaan kebahagiaan mereka. “Gembira” (QS Abasa: 39) yakni telah diberi kabar gembira dengan kebaikan, karena malaikat menyambut mereka dengan berita gembira seraya berucap, “Salāmun ‘alaikum (Keselamatan bagi kalian).” (QS An-Nahl: 32).
Ayat 40-42
﴿وَوُجُوهٌ يَوۡمَئِذٍ﴾ يَعۡنِي: يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ ﴿عَلَيۡهَا غَبَرَةٌ﴾؛ أَيۡ: شَيۡءٌ كَالۡغُبَارِ؛ لِأَنَّهَا ذَمِيمَةٌ قَبِيحَةٌ ﴿تَرۡهَقُهَا قَتَرَةٌ﴾؛ أَيۡ: ظُلۡمَةٌ ﴿أُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلۡكَفَرَةُ ٱلۡفَجَرَةُ﴾ الَّذِينَ جَمَعُوا بَيۡنَ الۡكُفۡرِ وَالۡفُجُورِ، نَسۡأَلُ اللهَ الۡعَافِيَةَ، وَنَسۡأَلُ اللهَ تَعَالَى أَنۡ يَجۡعَلَنَا مِمَّنۡ وُجُوهُهُمۡ مُسۡفِرَةٌ ضَاحِكَةٌ مُسۡتَبۡشِرَةٌ، إِنَّهُ جَوَادٌ كَرِيمٌ.
“Dan banyak (pula) muka pada hari itu” yakni hari kiamat “tertutup debu” (QS Abasa: 40), yakni sesuatu seperti debu; karena wajah-wajah itu hina dan buruk. “Ditutup lagi oleh qatarah” (QS Abasa: 41) qatarah adalah kegelapan. “Mereka itulah orang-orang kafir lagi durhaka” (QS Abasa: 42) yang menghimpun antara kekafiran dan kedurhakaan. Kita memohon keselamatan kepada Allah, dan kita memohon kepada Allah taala agar menjadikan kita termasuk orang-orang yang wajahnya berseri-seri, tertawa, lagi gembira, sesungguhnya Dia Maha Pemurah lagi Maha Mulia.
Sumber: Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Juz ‘Amma, surah Abasa, karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin (wafat 1421 H) rahimahullah
Be the first to leave a comment