إبطال دعوى أن جدة ميقات لجميع الوافدين إلى مكة للحج أو العمرة
📝 Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz (wafat 1420 H) rahimahullah
الحمد لله رب العالمين، والصلاة والسلام على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين، وبعد:
Segala puji bagi Allah, Rab semesta alam. Selawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabat beliau seluruhnya. Amabakdu:
فإن رسول الله ﷺ بين مواقيت الإحرام التي لا يجوز لمن مر بها يريد الحج أو العمرة تجاوزها بدون إحرام وهي:
Sesungguhnya Rasulullah ﷺ telah menjelaskan mikat-mikat ihram yang tidak boleh dilewati oleh siapa pun yang hendak melaksanakan haji atau umrah tanpa berihram, yaitu:
- ذو الحليفة (أبيار علي): لأهل المدينة ومن جاء عن طريقهم.
- والجحفة: لأهل الشام ومصر والمغرب ومن جاء عن طريقهم.
- ويلملم (السعدية): لأهل اليمن ومن جاء عن طريقهم.
- وقرن المنازل (السيل الكبير): لأهل نجد وأهل المشرق ومن جاء عن طريقهم.
- وذات عرق: لأهل العراق ومن جاء عن طريقهم.
- Dzul Hulaifah (Abyar ‘Ali): Untuk penduduk Madinah dan mereka yang datang melalui rute tersebut.
- Al-Juhfah: Untuk penduduk Syam, Mesir, Maroko, dan mereka yang datang melalui rute tersebut.
- Yalamlam (As-Sa’diyah): Untuk penduduk Yaman dan mereka yang datang melalui rute tersebut.
- Qarnul Manazil (As-Sailul Kabir): Untuk penduduk Najd, penduduk wilayah Timur, dan mereka yang datang melalui rute tersebut.
- Dzatu ‘Irqin: Untuk penduduk Irak dan mereka yang datang melalui rute tersebut.
ومن كان منزله دون هذه المواقيت مما يلي مكة فإنه يحرم من منزله حتى أهل مكة يحرمون من مكة للحج، وأما العمرة فيحرمون بها من أدنى الحل.
Barang siapa yang tempat tinggalnya berada di dalam batas mikat-mikat tersebut (lebih dekat ke arah Makkah), maka ia berihram dari tempat tinggalnya. Bahkan penduduk Makkah pun berihram dari Makkah untuk haji. Adapun untuk umrah, mereka berihram dari tanah halal terdekat.
ومن مر بهذه المواقيت قادمًا إلى مكة وهو لا يريد حجًّا ولا عمرة فإنه لا يلزمه إحرام على الصحيح، لكن لو بدا له أن يحج أو يعتمر بعد ما تجاوزها فإنه يحرم من المكان الذي نوى فيه الحج أو العمرة، إلا إذا نوى العمرة وهو في مكة فإنه يخرج إلى أدنى الحل ويحرم -كما سبق- فالإحرام يجب من هذه المواقيت على كل من مر بها أو حاذاها برًا أو بحرًا أو جوًا وهو يريد الحج أو العمرة.
Barang siapa melewati mikat-mikat ini saat menuju Makkah namun tidak berniat haji atau umrah, maka menurut pendapat yang kuat ia tidak wajib berihram. Namun, jika kemudian muncul keinginan untuk haji atau umrah setelah melewati mikat tersebut, maka ia berihram dari tempat ia berniat. Kecuali jika ia berniat umrah saat sudah berada di dalam Makkah, maka ia harus keluar ke tanah halal untuk berihram—sebagaimana penjelasan sebelumnya. Jadi, ihram wajib dilakukan dari mikat-mikat ini bagi setiap orang yang melaluinya atau sejajar dengannya, baik melalui darat, laut, maupun udara, apabila ia berniat haji atau umrah.
والذي أوجب نشر هذا البيان أنه صدر من بعض الأخوة في هذه الأيام كتيب اسمه: (أدلة الإثبات أن جدة ميقات) يحاول فيه إيجاد ميقات زائد على المواقيت التي وقتها رسول الله ﷺ حيث ظن أن جدة تكون ميقاتًا للقادمين في الطائرات إلى مطارها أو القادمين إليها عن طريق البحر أو عن طريق البر فلكل هؤلاء أن يؤخروا الإحرام إلى أن يصلوا إلى جدة ويحرموا منها، لأنه بزعمه وتقديره تحاذي ميقاتي السعدية والجحفة فهي ميقات
Hal yang melatarbelakangi penerbitan pernyataan ini adalah munculnya sebuah buklet karya sebagian saudara kita akhir-akhir ini yang berjudul: Adillatul Itsbat anna Jiddah Miqat (Dalil-Dalil Pembukti bahwa Jeddah adalah Mikat). Penulis mencoba menciptakan mikat tambahan di luar mikat yang telah ditentukan oleh Rasulullah ﷺ. Ia menyangka bahwa Jeddah bisa menjadi mikat bagi mereka yang datang dengan pesawat ke bandaranya, atau yang datang melalui laut maupun darat. Menurutnya, mereka semua boleh menunda ihram hingga sampai di Jeddah lalu berihram dari sana, karena dalam anggapan dan perkiraannya, Jeddah sejajar dengan mikat As-Sa’diyah dan Al-Juhfah.
وهذا خطأ واضح يعرفه كل من له بصيرة ومعرفة بالواقع؛ لأن جدة داخل المواقيت والقادم إليها لابد أن يمر بميقات من المواقيت التي حددها رسول الله ﷺ أو يحاذيه برًا أو بحرًا أو جوًا فلا يجوز له تجاوزه بدون إحرام إذا كان يريد الحج أو العمرة لقوله ﷺ لما حدد هذه المواقيت: «هن لهن ولمن أتى عليهن من غير أهلهن ممن يريد الحج أو العمرة» فلا يجوز للحاج والمعتمر أن يخترق هذه المواقيت إلى جدة بدون إحرام ثم يحرم منها لأنها داخل المواقيت.
Ini adalah kesalahan nyata yang diketahui oleh setiap orang yang memiliki mata hati dan pengetahuan tentang realitas geografis. Sebab, Jeddah berada di dalam (setelah) mikat. Orang yang menuju ke sana pasti akan melewati salah satu mikat yang telah ditetapkan Rasulullah ﷺ atau sejajar dengannya, baik lewat darat, laut, maupun udara. Maka tidak boleh baginya melewati mikat tersebut tanpa ihram jika ia ingin haji atau umrah, berdasarkan sabda Nabi ﷺ saat menentukan mikat-mikat ini: “Mikat-mikat itu adalah bagi penduduk wilayah tersebut dan bagi orang selain penduduk wilayah tersebut yang melewatinya yang ingin melaksanakan haji atau umrah.”1 (HR Al-Bukhari nomor 1524 dan Muslim nomor 1181). Oleh karena itu, jemaah haji dan umrah tidak boleh menembus mikat-mikat ini menuju Jeddah tanpa ihram, lalu baru berihram dari sana, karena Jeddah berada di dalam area mikat.
ولما تسرع بعض العلماء منذ سنوات إلى مثل ما تسرع إليه صاحب هذا الكتيب فأفتى بأن جدة ميقات للقادمين إليها صدر عن هيئة كبار العلماء قرار بإبطال هذا الزعم وتفنيده جاء فيه ما نصه:
Ketika beberapa ulama beberapa tahun lalu tergesa-gesa melakukan hal serupa dengan penulis buklet ini dan berfatwa bahwa Jeddah adalah mikat bagi pendatang, Dewan Ulama Senior (Haiah Kibaril Ulama) telah mengeluarkan keputusan untuk membatalkan dan menyanggah klaim tersebut. Berikut kutipan keputusannya:
وبعد الرجوع إلى الأدلة وما ذكره أهل العلم في المواقيت المكانية ومناقشة الموضوع من جميع جوانبه فإن المجلس يقرر بإجماع ما يلي:
Setelah merujuk pada dalil-dalil dan penjelasan para ulama mengenai batas tempat mikat serta mendiskusikan masalah ini dari segala sisi, maka Dewan memutuskan secara mufakat hal-hal berikut:
- أن الفتوى الصادرة بجواز جعل جدة ميقاتًا لركاب الطائرات الجوية والسفن البحرية فتوى باطلة لعدم استنادها إلى نص من كتاب الله أو سنة رسوله ﷺ أو إجماع سلف الأمة، ولم يسبقه إليها أحد من علماء المسلمين الذين يعتد بأقوالهم.
- ولا يجوز لمن مر بميقات من المواقيت المكانية أو حاذى واحدًا منها جوًا أو برًا أو بحرًا أن يتجاوزها من غير إحرام كما تشهد لذلك الأدلة، وكما قرره أهل العلم رحمهم الله تعالى.
- Fatwa yang menyatakan bolehnya menjadikan Jeddah sebagai mikat bagi penumpang pesawat udara dan kapal laut adalah fatwa yang batil, karena tidak bersandar pada nas dari Kitabullah, Sunah Rasul-Nya ﷺ, maupun ijmak salaf umat ini. Tidak ada satu pun ulama kaum muslimin yang perkataannya diakui yang mendahului pendapat ini.
- Tidak diperbolehkan bagi siapa pun yang melewati salah satu batas tempat mikat atau yang sejajar dengannya—baik melalui udara, darat, maupun laut—untuk melewatinya tanpa berihram, sebagaimana disaksikan oleh dalil-dalil dan ditetapkan oleh para ulama rahimahumullah taala.
ولواجب النصح لله ولعباده رأيت أنا وأعضاء اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء إصدار هذا البيان حتى لا يغتر أحد بالكتيب المذكور” انتهى.2 صدرت من مكتب سماحته، وفي جريدة (الندوة) العدد 11064 في 19/11/1415هـ، وفي جريدة (المسلمون) العدد 533 في 21/11/1415هـ وفي غيرها من الصحف المحلية. (مجموع فتاوى ومقالات الشيخ ابن باز 17/ 30).
Sebagai kewajiban dalam memberi nasihat karena Allah dan kepada hamba-hamba-Nya, saya bersama anggota Komite Tetap untuk Riset Ilmiah dan Fatwa (Lajnah Daimah) memandang perlu untuk menerbitkan penjelasan ini agar tidak ada orang yang tertipu oleh buklet tersebut.3 Diterbitkan dari kantor Yang Mulia, dan dalam surat kabar An-Nadwah nomor 11064 pada 19/11/1415 H, serta dalam surat kabar Al-Muslimun nomor 533 pada 21/11/1415 H dan di berbagai surat kabar lokal lainnya. (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Asy-Syaikh Ibnu Baz 17/30).
هذا وبالله التوفيق، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم.
Hanya kepada Allah kita memohon taufik. Semoga selawat dan salam tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan para sahabatnya.
Sumber artikel: Situs resmi Syekh Ibnu Baz.
Be the first to leave a comment