حكم استقبال القبلة في الصلاة في السفر
🎙️ Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz (wafat 1420 H) rahimahullah
السؤال:
Pertanyaan:
استقبال القبلة في السفر؟
Menghadap kiblat saat safar?
الجواب:
Jawaban:
إذا كان في سفر له أن يصلي على الدابة في النافلة، والفريضة إذا دعت الحاجة، أما في النافلة فيصلي في السفر والحضر…..، أما الفريضة لا، لا بدّ يقف ويستقبل القبلة إلا عند الضرورة مثل سيل حدر، ومطر فوقه، يصلي على الدابة ويستقبل القبلة بالإيماء، كما فعل النبي ﷺ.
Apabila seseorang dalam perjalanan (safar), ia diperbolehkan salat di atas kendaraan untuk salat sunah. Adapun untuk salat fardu, dilakukan jika ada keperluan mendesak. Untuk salat sunah, seseorang boleh mengerjakannya baik saat safar maupun mukim. Namun, untuk salat fardu tidak boleh; ia harus berhenti dan menghadap kiblat kecuali dalam keadaan darurat, seperti adanya aliran air (banjir) atau hujan di atasnya. Dalam kondisi itu, ia salat di atas kendaraan dan menghadap kiblat dengan isyarat, sebagaimana yang dilakukan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
س: استقبالها واجب؟
Tanya: Apakah menghadap kiblat itu wajib?
الشيخ: واجب في الفريضة، أما في النافلة فيصلي جهة سيره، في النافلة على دابته أو سيارته في جهة السير، وإذا أحرم للقبلة يكون أفضل ثم يستقبل جهة السير، قال أنس : «كان النبي ﷺ إذا حضرت النافلة استقبل القبلة ثم توجه إلى جهة سيره» هذا أفضل، وإن صلى إلى جهة سيره مطلقًا ولو في أول الإحرام فلا بأس، كما أخبر عامر بن ربيعة وغيره، وأنس وغيره، أخبروا أنه ﷺ كان في السفر يصلي إلى جهة سيره عليه الصلاة والسلام، يعني في النافلة.
Syekh: Wajib dalam salat fardu. Adapun dalam salat sunah, ia salat searah dengan tujuan perjalanannya; baik di atas hewan tunggangan atau mobilnya sesuai arah jalan. Jika ia menghadap kiblat saat takbiratulihram, itu lebih utama, kemudian setelah itu menghadap ke arah perjalanannya. Anas berkata, “Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam apabila hendak melaksanakan salat sunah, beliau menghadap kiblat (saat memulai), kemudian menghadap ke arah perjalanannya.”1 (HR Abu Dawud nomor 1225)
Ini lebih utama. Namun, jika ia salat menghadap arah perjalanannya secara mutlak—walaupun sejak awal takbiratulihram—maka tidak mengapa, sebagaimana dikabarkan oleh ‘Amir bin Rabi’ah dan selainnya, serta Anas dan selainnya. Mereka mengabarkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam saat safar terbiasa salat menghadap ke arah perjalanannya, maksudnya dalam salat sunah.
أما في الفريضة ينزل في الأرض ويستقبل القبلة ويركع ويسجد، لكن عند الضرورة في الفريضة لا بأس أن يصلي على الراحلة ويستقبل القبلة ويوقف الإبل إذا لم يستطع أن ينزل، مثل مطر وأرض تحته تسيل، ومثل مريض مربوط على الدابة ما يستطيع ينزل، مريض أو خائف لو نزل يخشى؛ يصلي على الدابة إلى جهة القبلة.
Adapun dalam salat fardu, ia harus turun ke tanah, menghadap kiblat, serta melakukan rukuk dan sujud. Akan tetapi, dalam keadaan darurat pada salat fardu, tidak mengapa salat di atas kendaraan dengan tetap menghadap kiblat dan memberhentikan untanya jika ia tidak mampu untuk turun. Contohnya seperti saat hujan dan tanah di bawahnya mengalir air, atau seperti orang sakit yang terikat di atas kendaraan dan tidak mampu turun, atau orang yang merasa takut jika ia turun; maka ia salat di atas kendaraan dengan menghadap ke arah kiblat.
Sumber fatwa: Situs resmi Syekh Ibnu Baz.
Be the first to leave a comment