Bab Hujah bagi Orang yang Berpendapat Bahwa Kewajiban bagi yang Jauh adalah Menghadap ke Arah Ka’bah, Bukan ke Titik Fisik Ka’bah

ismail  

🎙 Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz (wafat 1420 H) rahimahullah

بَابُ حُجَّةِ مَنْ رَأَى فَرْضَ الْبَعِيدِ إصَابَةَ الْجِهَةِ لَا الْعَيْنِ

– عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ: أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ قَالَ: مَا بَيْنَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ قِبْلَةٌ رَوَاهُ ابْنُ مَاجَهْ، وَالتِّرْمِذِيُّ وَصَحَّحَهُ.

وَقَوْلُهُ عَلَيْهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فِي حَدِيثِ أَبِي أَيُّوبَ: وَلَكِنْ شَرِّقُوا أَوْ غَرِّبُوا يُعَضِّدُ ذَلِكَ.

Dari Abu Hurairah: Bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda: “Apa yang ada di antara timur dan barat adalah kiblat.” Diriwayatkan oleh Ibnu Majah1 nomor 1011 dan At-Tirmidzi2 nomor 342, 343, dan 344, dan beliau (At-Tirmidzi) menilainya sahih.

Serta sabda beliau ﷺ dalam hadis Abu Ayyub3 HR Al-Bukhari nomor 144, 394 dan Muslim nomor 264: “Akan tetapi, menghadaplah ke timur atau ke barat,” itu memperkuat hal tersebut.

الشيخ: بسم الله الرحمن الرحيم، الحمد لله، وصلى الله وسلم على رسول الله، وعلى آله وأصحابه ومَن اهتدى بهداه.

أما بعد: فهذان الحديثان يدلان على أنَّ الجهة هي القبلة في حقِّ البعيد، وهذا نصّ القرآن، يقول الله جلَّ وعلا: وَمِنْ حَيْثُ خَرَجْتَ فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ [البقرة:150]، على الجميع أن يُولوا وجوههم شطر المسجد الحرام، فالمشرق والمغرب، والجنوب والشمال كلهم عليهم أن يستقبلوا جهة الكعبة، أما الذين في المسجد الحرام يرون الكعبة، فهؤلاء يستقبلون عينها، أما مَن كان لا يراها بل هو بعيدٌ عنها فإنه يستقبل الجهة؛ ولهذا قال ﷺ: ما بين المشرق والمغرب قبلة يعني: بالنسبة إلى الشمال والجنوب، أما مَن كان في المشرق والمغرب فيُقال: ما بين الجنوب والشمال قبلة.

وهكذا قوله في حديث أبي أيوب: شرِّقوا أو غرِّبوا بالنسبة إلى المدينة.

والمقصود أنَّ على المؤمن أن يستقبل الجهة، وإذا كان يقضي حاجته كذلك ينصرف عن القبلة، لا يستقبلها.

Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz berkata: Bismillahir-rahmanir-rahim, segala puji bagi Allah, semoga selawat dan salam tercurah kepada Rasulullah, keluarganya, para sahabatnya, dan siapa pun yang mengikuti petunjuknya.

Amabakdu. Kedua hadis ini menunjukkan bahwa arah adalah kiblat bagi orang yang jauh (dari Ka’bah) dan ini merupakan nas Al-Qur’an. Allah jalla wa ‘ala berfirman,

وَمِنۡ حَيۡثُ خَرَجۡتَ فَوَلِّ وَجۡهَكَ شَطۡرَ ٱلۡمَسۡجِدِ ٱلۡحَرَامِ ۚ وَحَيۡثُ مَا كُنتُمۡ فَوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمۡ شَطۡرَهُۥ

Dan dari mana saja engkau keluar, maka hadapkanlah wajahmu ke arah Masjidilharam. Dan di mana saja kamu berada, maka hadapkanlah wajahmu ke arahnya.

QS Al-Baqarah: 150

Kewajiban bagi semuanya adalah menghadapkan wajah mereka ke arah Masjidilharam. Maka orang-orang di timur, barat, selatan, dan utara semuanya wajib menghadap ke arah Ka’bah. Adapun orang-orang yang berada di Masjidilharam dan melihat Ka’bah, maka mereka wajib menghadap ke titik fisiknya. Sedangkan orang yang tidak melihatnya karena jauh darinya, maka ia menghadap ke arahnya; oleh karena itu Nabi ﷺ bersabda, “Apa yang ada di antara timur dan barat adalah kiblat,” maksudnya bagi penduduk utara dan selatan. Adapun bagi orang yang berada di timur atau barat, maka dikatakan: “Apa yang ada di antara selatan dan utara adalah kiblat.”

Demikian pula sabda beliau dalam hadis Abu Ayyub: “Menghadaplah ke timur atau ke barat” dikaitkan dengan kondisi di Madinah.

Maksudnya adalah seorang mukmin wajib menghadap ke arah tersebut, dan jika ia sedang buang hajat pun demikian, hendaknya ia berpaling dari kiblat, tidak menghadapnya.

س: سماحة الشيخ، هناك بُوصلات تُعين القبلة، هل يُعتمد مثل ذلك؟

Tanya: Syekh yang terhormat, di sana ada kompas yang membantu menentukan kiblat. Apakah hal seperti itu bisa dijadikan sandaran?

الشيخ: نعم، إذا كانت جُربت وجيدة لا بأس، تُعتمد، إذا جُربت وعُلم أنها طيبة صحيحة يُستعان بها.

Syekh: Ya, jika sudah diuji dan kualitasnya bagus tidak mengapa. Itu bisa dijadikan sandaran. Jika sudah dicoba dan diketahui hasilnya baik serta akurat, boleh meminta bantuan alat tersebut.

س: يزور الإنسانُ قريبًا له أو صديقًا، ثم يُصلي عنده إلى جهةٍ يظنّها القبلة، وبعد الصلاة يتبين له أنَّ الأمر خلاف ذلك، فهل تلزمه الإعادة؟

Tanya: Seseorang mengunjungi kerabat atau temannya, lalu ia salat di sana menghadap ke arah yang ia duga sebagai kiblat. Setelah salat, ternyata diketahuinya arahnya salah. Apakah ia wajib mengulangi salatnya?

الشيخ: نعم، إذا كان في البلد تلزمه الإعادة؛ لأنه في إمكانه أن يسأل عن القبلة، لا يجتهد، ما هي محل اجتهادٍ، البلدان ما هي محل اجتهادٍ، الاجتهاد في الصَّحراء والبرية والسفر، أما في البلد فيسأل أهل البلد عن القبلة وينظر مساجدهم.

Syekh: Ya, jika ia berada di dalam kota maka wajib mengulanginya; karena ia memungkinkan untuk bertanya tentang kiblat. Ia tidak boleh berijtihad sendiri, sebab kota bukanlah tempat untuk berijtihad. Ijtihad itu dilakukan di padang pasir, wilayah terbuka, atau saat perjalanan. Adapun di dalam kota, hendaknya ia bertanya kepada penduduk kota tentang kiblat dan melihat ke masjid-masjid mereka.

س: إذا كان الإنسانُ يُصلي النافلة على المركوب، هل يجب عليه أولًا الاتجاه إلى القبلة؟

Tanya: Jika seseorang melaksanakan salat sunah di atas kendaraan, apakah ia wajib menghadap kiblat terlebih dahulu?

الشيخ: إذا كانت فريضةً يُصلي على الأرض، إذا كانت فريضةً يلزمه استقبال القبلة، وأن يكون على الأرض؛ حتى يركع ويسجد، إلا إذا عجز: كالمريض المربوط على الدابة، أو الأرض فيها سيول ما يستطيع أن ينزل؛ يُصلي على الدابة، ويستقبل القبلة، أما إذا كان يستطيع أن ينزل يُصلي على الأرض ويستقبل القبلة.

أما النَّافلة: فالمسافر جهة سيره قبلته، لكن الأفضل أن يستقبل القبلة عند الإحرام، ثم تكون جهة سيره في قبلته في النافلة، كما كان النبيُّ يفعل عليه الصلاة والسَّلام.

Syekh: Jika itu salat fardu, ia harus salat di tanah. Jika fardu, ia wajib menghadap kiblat dan berada di tanah agar bisa rukuk dan sujud, kecuali jika ia tidak mampu: seperti orang sakit yang terikat di atas hewan tunggangan, atau tanah yang tergenang banjir sehingga tidak bisa turun; maka ia salat di atas tunggangan dan tetap menghadap kiblat. Adapun jika ia mampu turun, maka ia salat di tanah dan menghadap kiblat.

Adapun salat sunah: Bagi musafir, arah perjalanannya adalah kiblatnya. Namun yang lebih utama adalah menghadap kiblat saat takbiratulihram, kemudian setelah itu barulah mengikuti arah perjalanannya dalam salat sunah tersebut, sebagaimana yang dahulu dilakukan oleh Nabi ﷺ.

س: صلاة الفريضة في الراحلة هل تجوز؟ وما الحكم إذا كانت تتغير وجهتها؟ هل يلزم المصلي أن يستدير يمينًا وشمالًا؟

Tanya: Apakah salat fardu di atas kendaraan diperbolehkan? Dan bagaimana hukumnya jika arah kendaraannya berubah-ubah? Apakah orang yang salat wajib berputar ke kanan dan ke kiri?

الشيخ: يلزمه أن ينزل ويُصلي في الأرض، ولا يُصلي على الراحلة في الفريضة، ويستقبل القبلة، إلا إذا عجز: كالمربوط على الدابة لمرضه، أو عجزه عن النزول، أو كالذي في بريةٍ ما يستطيع النزول للسيول التي تحته، ولا يستطيع الصلاة في الأرض للسيل الذي قد غمرها، فهذا يُصلي على الراحلة ويوقفها ويُوجهها إلى القبلة ويستقبل القبلة ويُصلي إلى القبلة على الراحلة.

Syekh: Ia wajib turun dan salat di tanah. Tidak boleh salat di atas kendaraan untuk salat fardu dan ia wajib menghadap kiblat. Kecuali jika ia tidak mampu: seperti orang yang terikat di atas tunggangan karena sakitnya, atau karena ketidakmampuannya untuk turun, atau seperti orang di alam terbuka yang tidak bisa turun karena banjir di bawahnya, dan tidak mungkin salat di tanah karena air telah menenggelamkannya. Maka orang ini salat di atas kendaraan, menghentikannya, mengarahkannya ke kiblat, lalu salat menghadap kiblat di atas kendaraan tersebut.

س: أخيرًا إذا خرج الناسُ إلى البرِّ وقرب البلد، إذا خرجوا هل يُلزمون بالذهاب إلى أقرب مسجدٍ لتحديد القبلة أم يكفي الاجتهاد؟

Tanya: Terakhir, jika orang-orang keluar ke alam terbuka yang dekat dengan kota, apakah mereka diwajibkan pergi ke masjid terdekat untuk menentukan kiblat atau cukup dengan ijtihad?

الشيخ: إذا كان المسجدُ قريبًا يأخذون القبلة من المسجد، وإن كان بعيدًا يجتهدون.

Syekh: Jika masjidnya dekat, mereka mengambil arah kiblat dari masjid tersebut. Namun jika jauh, mereka boleh berijtihad.


Dikutip dari situs resmi Syekh Ibnu Baz.

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *