مِنۡ وَصَايَا النَّبِيِّ الۡكَرِيمِ ﷺ
١٦ – وَعَنۡ عَمۡرِو بۡنِ شُعَيۡبٍ، عَنۡ أَبِيهِ، عَنۡ جَدِّهِ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمۡ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (كُلۡ وَاشۡرَبۡ، وَالۡبَسۡ، وَتَصَدَّقۡ فِي غَيۡرِ سَرَفٍ وَلَا مَخِيلَةٍ). أَخۡرَجَهُ أَبُو دَاوُدَ، وَأَحۡمَدُ، وَعَلَّقَهُ الۡبُخَارِيُّ.
16. ‘Amr bin Syu’aib meriwayatkan dari ayahnya, dari kakeknya—radhiyallahu ‘anhum—. Ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa berlebihan dan tidak pula disertai rasa sombong.”[1] Abu Dawud dan Ahmad meriwayatkannya, dan Al-Bukhari menyebutkannya secara mu’allaq.
الشَّرۡحُ
Syarah
قَوۡلُهُ: (عَلَّقَهُ الۡبُخَارِيُّ): أَيۡ أَنَّهُ يَذۡكُرُ الۡحَدِيثَ بِدُونِ سَنَدٍ، هٰذِهِ الۡمُعَلَّقَاتُ عِنۡدَ الۡبُخَارِيِّ.
Perkataan beliau: “Al-Bukhari menyebutkannya secara mu’allaq” artinya bahwa ia menyebutkan hadis tanpa sanad. Inilah hadis-hadis mu’allaq menurut Al-Bukhari.
وَالۡحَدِيثُ هٰذَا يَقُولُ فِيهِ ﷺ: (كُلۡ وَاشۡرَبۡ، وَالۡبَسۡ وَتَصَدَّقۡ مِنۡ غَيۡرِ سَرَفٍ وَلَا مَخِيلَةٍ)، هٰذَا فِيهِ أَمۡرُ الۡإِنۡسَانِ أَنۡ يَأۡكُلَ مِمَّا رَزَقَهُ اللهُ، وَيَشۡرَبَ مِمَّا رَزَقَهُ اللهُ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡأَشۡرِبَةِ الۡمُبَاحَةِ، وَيَلۡبَسَ مِمَّا رَزَقَهُ اللهُ مِنۡ مَلَابِسِ الزِّينَةِ وَالتَّجَمُّلِ، فَالۡأَصۡلُ الۡإِبَاحَةُ وَلِلهِ الۡحَمۡدُ، لِأَنَّ اللهَ أَبَاحَ لَنَا الطَّيِّبَاتِ، وَحَرَّمَ عَلَيۡنَا الۡخَبَائِثَ، فَيَأۡكُلُ الۡإِنۡسَانُ مَا تَيَسَّرَ لَهُ مِنۡ أَنۡوَاعِ الطَّعَامِ، وَلَوۡ كَانَ مِنَ الطَّعَامِ الۡجَيِّدِ، فَقَدۡ أَبَاحَ اللهُ لَهُ ذٰلِكَ، فَلَا حَرَجَ أَنۡ يَأۡكُلَ مِنَ الۡجَيِّدِ، وَيَأۡكُلَ مِنَ الۡمُتَوَسِّطِ، وَيَأۡكُلَ مِمَّا تَيَسَّرَ لَهُ، وَيَشۡرَبَ كَذٰلِكَ مِنَ الۡأَشۡرِبَةِ الطَّيِّبَةِ اللَّذِيذَةِ مِنَ الۡمَاءِ وَالۡعَصَائِرِ الطَّيِّبَةِ، عُصَارِ الۡفَوَاكِهِ، وَالۡخَلِّ وَالنَّبِيذِ الَّذِي لَمۡ يَصِلۡ إِلَىٰ حَدِّ الۡإِسۡكَارِ، كُلُّ هٰذَا مِنَ الۡأَشۡرِبَةِ الۡمُبَاحَةِ، فَيَشۡرَبُ مَا تَيَسَّرَ لَهُ وَإِنۡ كَانَ لَذِيذًا، أَوۡ يَأۡكُلُ مَا تَيَسَّرَ لَهُ وَإِنۡ كَانَ لَذِيذًا.
Dan hadis ini, di dalamnya beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah tanpa berlebihan dan tidak pula disertai rasa sombong.” Dalam hadis ini terdapat perintah bagi manusia untuk memakan dari apa yang telah Allah karuniakan kepadanya, meminum dari apa yang telah Allah karuniakan kepadanya berupa jenis-jenis minuman yang diperbolehkan, dan memakai dari apa yang telah Allah karuniakan kepadanya berupa pakaian perhiasan dan untuk memperindah diri. Maka hukum asal segala sesuatu adalah mubah. Segala puji bagi Allah, karena Allah telah menghalalkan bagi kita hal-hal yang baik dan mengharamkan atas kita hal-hal yang buruk. Oleh karena itu, manusia memakan apa yang dimudahkan baginya dari jenis-jenis makanan, dan walaupun berupa makanan yang baik, maka Allah telah membolehkan hal itu baginya. Tidak ada dosa untuk memakan yang baik, memakan yang pertengahan, ataupun memakan apa yang dimudahkan baginya. Demikian pula ia boleh meminum dari minuman yang baik lagi lezat, baik berupa air maupun sari-sari yang baik—yaitu perasan buah-buahan—, cuka, dan nabidz (rendaman buah) yang belum mencapai batas memabukkan. Semua ini termasuk minuman yang mubah. Ia boleh meminum apa yang dimudahkan baginya meskipun lezat atau memakan apa yang dimudahkan baginya meskipun lezat.
قَالَ تَعَالَىٰ: ﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلرُّسُلُ كُلُوا۟ مِنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَٱعۡمَلُوا۟ صَٰلِحًا ﴾ [المؤمنون: ٥١]، وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (إِنَّ اللهَ أَمَرَ الۡمُؤۡمِنِينَ بِمَا أَمَرَ بِهِ الۡمُرۡسَلِينَ)، قَالَ تَعَالَىٰ: ﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلرُّسُلُ كُلُوا۟ مِنَ ٱلطَّيِّبَٰتِ وَٱعۡمَلُوا۟ صَٰلِحًا ﴾، وَقَالَ تَعَالَىٰ: ﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ كُلُوا۟ مِن طَيِّبَٰتِ مَا رَزَقۡنَٰكُمۡ وَٱشۡكُرُوا۟ لِلَّهِ إِن كُنتُمۡ إِيَّاهُ تَعۡبُدُونَ﴾ [البقرة: ١٧٢]، فَيَأۡكُلُ الۡإِنۡسَانُ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَالۡمُسۡتَلَذَّاتِ، وَيَشۡرَبُ مِنَ الشَّرَابِ الطَّيِّبِ وَاللَّذِيذِ، وَلٰكِنۡ (مِنۡ غَيۡرِ سَرَفٍ). وَالسَّرَفُ: هُوَ الزِّيَادَةُ عَنِ الۡحَدِّ الۡكَافِي.
Allah taala berfirman, “Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah kebajikan.” (QS Al-Mu’minun: 51).
Dan Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Sesungguhnya Allah memerintahkan orang-orang mukmin dengan apa yang Dia perintahkan kepada para rasul.”[2]
Allah taala berfirman, “Wahai para rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah kebajikan.”
Dan Allah taala berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik yang Kami berikan kepada kalian dan bersyukurlah kepada Allah, jika kalian hanya menyembah kepada-Nya.” (QS Al-Baqarah: 172).
Jadi, manusia boleh memakan dari hal-hal yang baik dan melezatkan, serta meminum dari minuman yang baik lagi lezat, akan tetapi “tanpa saraf (berlebihan)”. Dan saraf adalah melebihi batas yang mencukupi.
(وَلَا مَخِيلَةٍ) وَالۡمَخِيلَةُ هِيَ الۡكِبۡرُ (كُلۡ وَاشۡرَبۡ وَالۡبَسۡ وَتَصَدَّقۡ) تَصَدَّقۡ عَلَى النَّاسِ وَعَلَى الۡمُحۡتَاجِينَ (مِنۡ غَيۡرِ سَرَفٍ وَلَا مَخِيلَةٍ) وَالسَّرَفُ هُوَ أَنۡ يَزِيدَ الۡإِنۡسَانُ مِنَ الۡأَكۡلِ وَالشَّرۡبِ، فَالسَّرَفُ: هُوَ الزِّيَادَةُ الۡكَثِيرَةُ مِنَ الۡمُبَاحِ.
“Dan tidak pula disertai rasa sombong” dan makhilah adalah kesombongan. “Makanlah, minumlah, berpakaianlah, dan bersedekahlah” bersedekahlah kepada orang-orang dan kepada orang-orang yang membutuhkan “tanpa berlebihan dan tidak pula disertai rasa sombong”. Berlebihan itu adalah manusia menambah makan dan minum (dari porsi yang mencukupi). Jadi, berlebihan adalah penambahan yang sangat banyak dari sesuatu yang mubah.
وَالتَّبۡذِيرُ: هُوَ الۡإِنۡفَاقُ فِي غَيۡرِ طَاعَةٍ، حَتَّىٰ وَلَوۡ كَانَ دِرۡهَمًا وَاحِدًا، إِذَا أَنۡفَقَ شَيۡئًا فِي مَعۡصِيَةٍ فَهُوَ تَبۡذِيرٌ، قَالَ تَعَالَىٰ: ﴿… وَلَا تُبَذِّرۡ تَبۡذِيرًا ٢٦ إِنَّ ٱلۡمُبَذِّرِينَ كَانُوٓا۟ إِخۡوَٰنَ ٱلشَّيَٰطِينِ ﴾ [الإسراء].
Sedangkan tabdzir (penghambur-hamburan) adalah membelanjakan sesuatu bukan dalam ketaatan, meskipun hanya satu dirham. Jika seseorang membelanjakan sesuatu dalam kemaksiatan, maka itu adalah tabdzir. Allah taala berfirman, “… dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (QS Al-Isra: 26-27).
[1] Ibnu Majah meriwayatkannya dalam Kitab Al-Libas, Bab Berpakaianlah Sesukamu Selama Tidak Disertai Sikap Berlebihan atau Sombong, nomor 3605; Ahmad meriwayatkannya dalam Musnad-nya (2/181); Abu Dawud Ath-Thayalisi meriwayatkannya dengan nomor 2375; dan Al-Bukhari menyebutkannya secara mu’allaq dalam Shahih-nya dengan bentuk kepastian di awal Kitab Al-Libas.
Syaikh Al-Albani berkata di dalam Mukhtashar Shahih Al-Imam Al-Bukhari (4/32), “Ath-Thayalisi dan Al-Harits bin Abu Usamah menjadikannya di dalam kedua Musnad mereka, serta Ibnu Abu Ad-Dunya dalam Kitab Asy-Syukr dari hadis ‘Amr bin Syu’aib, dari ayahnya, dari kakeknya secara marfuk dan sanadnya hasan, sedangkan At-Tirmidzi dan Ibnu Majah meriwayatkan sebagian darinya.” Selesai.
Untuk faedah tambahan mengenai takhrij hadis ini, lihat kitab Minhah Al-‘Allam fi Syarh Bulugh Al-Maram (10/74) karya Syaikh yang mulia Al-Alamah ‘Abdullah bin Shalih Al-Fauzan.
[2] HR Muslim nomor 1015.
Sumber: Ithaf Al-Kiram bi Syarh Kitab Al-Jami’ fi Al-Akhlaq wa Al-Adab min Bulugh Al-Maram syarah Syekh Doktor Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah
![]()
Be the first to leave a comment