﴿وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ﴾ يَعۡنِي: لَا يُمۡكِنُ أَنۡ تَشَاؤُوا شَيۡئًا إِلَّا وَقَدۡ شَاءَهُ اللهُ مِنۡ قَبۡلُ، فَمَشِيئَةُ الۡإِنۡسَانِ مَا كَانَتۡ إِلَّا بَعۡدَ مَشِيئَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، لَوۡ شَاءَ اللهُ لَمۡ يَشَأۡ، وَلَوۡ شَاءَ اللهُ أَنۡ لَا يَكُونَ الشَّيۡءُ مَا كَانَ وَلَوۡ شِئۡتَهُ. حَتَّىٰ لَوۡ شِئۡتَهُ وَاللهُ تَعَالَىٰ لَمۡ يَشَأۡ فَإِنَّهُ لَنۡ يَكُونَ، بَلۡ يُقَيِّضُ اللهُ تَعَالَىٰ أَسۡبَابًا تَحُولُ بَيۡنَكَ وَبَيۡنَهُ حَتَّىٰ لَا يَقَعَ.
“Dan kalian tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah” artinya tidak mungkin kalian menghendaki sesuatu melainkan Allah telah menghendakinya terlebih dahulu. Maka kehendak manusia itu tidaklah ada melainkan setelah kehendak Allah—‘azza wa jalla—. Seandainya Allah menghendaki (dia tidak berkehendak), niscaya dia tidak akan berkehendak. Seandainya Allah menghendaki sesuatu itu tidak ada, niscaya hal itu tidak akan ada walaupun kamu menghendakinya. Bahkan, jika kamu menghendakinya sedangkan Allah taala tidak menghendakinya, niscaya hal itu tidak akan pernah terjadi. Sebaliknya, Allah taala akan menetapkan berbagai sebab yang menghalangi antara dirimu dengan sesuatu tersebut sehingga hal itu tidak terjadi.
وَهٰذِهِ مَسۡأَلَةٌ يَجِبُ عَلَى الۡإِنۡسَانِ أَنۡ يَنۡتَبِهَ لَهَا، أَنۡ يَعۡلَمَ أَنَّ فِعۡلَهُ بِمَشِيئَتِهِ مَشِيئَةً تَامَّةً بِلَا إِكۡرَاهٍ، لٰكِنَّ هٰذِهِ الۡمَشِيئَةَ مُقۡتَرِنَةٌ بِمَشِيئَةِ اللهِ، يَعۡلَمُ أَنَّهُ مَا شَاءَ الشَّيۡءَ إِلَّا بَعۡدَ أَنۡ شَاءَ اللهُ، وَأَنَّ اللهَ لَوۡ شَاءَ أَلَّا يَكُونَ لَمۡ يَشَأۡهُ الۡإِنۡسَانُ، أَوۡ شَاءَهُ الۡإِنۡسَانُ، وَلٰكِنۡ يَحُولُ اللهُ بَيۡنَهُ وَبَيۡنَهُ بِأَسۡبَابٍ وَمَوَانِعَ.
Ini adalah suatu permasalahan yang wajib bagi manusia untuk memperhatikannya, yaitu dia harus mengetahui bahwa perbuatannya itu terjadi dengan kehendaknya sendiri secara penuh tanpa ada paksaan, akan tetapi kehendak ini berkaitan dengan kehendak Allah. Dia mengetahui bahwa dia tidaklah menghendaki sesuatu melainkan setelah Allah menghendakinya, dan bahwasanya seandainya Allah menghendaki sesuatu itu tidak ada, niscaya manusia tidak akan menghendakinya, atau manusia menghendakinya namun Allah menghalangi antara dirinya dengan sesuatu tersebut melalui berbagai sebab dan rintangan.
﴿رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ﴾ قَالَ: ﴿رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ﴾ إِشَارَةٌ إِلَىٰ عُمُومِ رُبُوبِيَّةِ اللهِ، وَأَنَّ رُبُوبِيَّةَ اللهِ تَعَالَىٰ عَامَّةٌ، وَلٰكِنۡ يَجِبُ أَنۡ نَعۡلَمَ أَنَّ الۡعَالَمِينَ هُنَا لَيۡسَتۡ كَالۡعَالَمِينَ فِي قَوۡلِهِ: ﴿إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٌ لِّلۡعَٰلَمِينَ﴾ فَالۡعَالَمِينَ الۡأُولَىٰ ﴿ذِكۡرٌ لِّلۡعَٰلَمِينَ﴾ مَنۡ أُرۡسِلَ إِلَيۡهِمُ الرَّسُولُ، أَمَّا هُنَا ﴿رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ﴾ فَالۡمُرَادُ بِالۡعَالَمِينَ كُلُّ مَنۡ سِوَى اللهِ، فَكُلُّ مَنۡ سِوَى اللهِ فَهُوَ عَالَمٌ؛ لِأَنَّهُ مَا ثَمَّ إِلَّا رَبٌّ وَمَرۡبُوبٌ، فَإِذَا قِيلَ: رَبُّ الۡعَالَمِينَ. تَعَيَّنَ أَنۡ يَكُونَ الۡمُرَادُ بِالۡعَالَمِينَ كُلَّ مَنۡ سِوَى اللهِ، كَمَا قَالَ الۡإِمَامُ شَيۡخُ الۡإِسۡلَامِ مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ رَحِمَهُ اللهُ: (وَكُلُّ مَا سِوَى اللهِ فَهُوَ عَالَمٌ، وَأَنَا وَاحِدٌ مِنۡ ذٰلِكَ الۡعَالَمِ).
“Rab semesta alam.” Allah berfirman, “Rab semesta alam” merupakan isyarat atas keumuman rububiah Allah dan bahwasanya rububiah Allah taala itu bersifat umum.
Akan tetapi, kita harus mengetahui bahwa kata al-‘alamin di sini tidaklah sama dengan kata al-‘alamin pada firman-Nya: “Al-Qur’an itu tidak lain adalah peringatan bagi seluruh alam.” (QS At-Takwir: 27). Kata al-‘alamin yang pertama pada ayat “peringatan bagi seluruh alam” maknanya adalah orang-orang yang Rasul diutus kepada mereka. Adapun di sini pada ayat “Rab semesta alam”, maka yang dimaksud dengan al-‘alamin adalah segala sesuatu selain Allah. Jadi, segala sesuatu selain Allah adalah alam; karena tidak ada di sana melainkan Rab (Pencipta/Pengatur) dan marbub (yang diciptakan/diatur). Oleh karena itu, apabila dikatakan “Rabbul-‘alamin (Rab semesta alam)”, tentulah yang dimaksud dengan al-‘alamin adalah segala sesuatu selain Allah, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Syaikhul-Islam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab—rahimahullah—, “Segala sesuatu selain Allah adalah alam, dan aku adalah salah satu dari alam tersebut.”1 Al-Ushul Ats-Tsalatsah.
وَالۡحَاصِلُ: أَنَّ هٰذِهِ السُّورَةَ سُورَةٌ عَظِيمَةٌ، فِيهَا تَذۡكِرَةٌ وَمَوۡعِظَةٌ يَنۡبَغِي لِلۡمُؤۡمِنِ أَنۡ يَقۡرَأَهَا بِتَدَبُّرٍ وَتَمَهُّلٍ، وَأَنۡ يَتَّعِظَ بِمَا فِيهَا، كَمَا أَنَّ الۡوَاجِبَ عَلَيۡهِ فِي جَمِيعِ سُوَرِ الۡقُرۡآنِ وَآيَاتِهِ أَنۡ يَكُونَ كَذٰلِكَ حَتَّىٰ يَكُونَ مِمَّنِ اتَّعَظَ بِكِتَابِ اللهِ وَانۡتَفَعَ بِهِ.
Kesimpulannya, bahwasanya surah ini adalah surah yang agung. Di dalamnya terdapat peringatan dan nasihat yang seyogianya bagi seorang mukmin untuk membacanya dengan tadabur dan perlahan-lahan, serta mengambil pelajaran dari kandungannya. Sebagaimana halnya dia juga wajib bersikap demikian pada seluruh surah Al-Qur’an dan ayat-ayatnya, agar dia termasuk orang yang mengambil pelajaran dengan kitab Allah dan mengambil manfaat darinya.
نَسۡأَلُ اللهَ تَعَالَىٰ أَنۡ يَعِظَنَا وَإِيَّاكُمۡ بِكِتَابِهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ وَآيَاتِهِ الۡكَوۡنِيَّةِ إِنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيۡءٍ قَدِيرٌ.
Kami memohon kepada Allah taala agar memberikan nasihat kepada kami dan kepada kalian dengan kitab-Nya, sunah Rasul-Nya—shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam—, serta tanda-tanda kekuasaan-Nya yang ada di alam semesta ini. Sesungguhnya Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Sumber: Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Juz ‘Amma, surah At-Takwir, karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin (wafat 1421 H) rahimahullah
![]()
Be the first to leave a comment