Tafsir Surah At-Takwir

ismail  

Ayat 15—29

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿فَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلۡخُنَّسِ ۝١٥ ٱلۡجَوَارِ ٱلۡكُنَّسِ ۝١٦ وَٱلَّيۡلِ إِذَا عَسۡعَسَ ۝١٧ وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ ۝١٨ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ ۝١٩ ذِى قُوَّةٍ عِندَ ذِى ٱلۡعَرۡشِ مَكِينٍ ۝٢٠ مُّطَاعٍ ثَمَّ أَمِينٍ ۝٢١ وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجۡنُونٍ ۝٢٢ وَلَقَدۡ رَءَاهُ بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡمُبِينِ ۝٢٣ وَمَا هُوَ عَلَى ٱلۡغَيۡبِ بِضَنِينٍ ۝٢٤ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٍ رَّجِيمٍ ۝٢٥ فَأَيۡنَ تَذۡهَبُونَ ۝٢٦ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٌ لِّلۡعَٰلَمِينَ ۝٢٧ لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ ۝٢٨ وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلۡعَٰلَمِينَ﴾ [التكوير: ١٥-٢٩].

Allah—‘azza wa jalla—berfirman:

  1. Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang,
  2. yang beredar dan terbenam,
  3. demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya,
  4. dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing,
  5. sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril),
  6. yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi Allah yang mempunyai arasy,
  7. yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.
  8. Dan teman kalian (Muhammad) itu bukanlah sekali-kali orang yang gila.
  9. Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang.
  10. Dan dia (Muhammad) bukanlah orang yang bakhil untuk menerangkan yang gaib.
  11. Dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk,
  12. maka ke manakah kalian akan pergi?
  13. Al-Qur’an itu tiada lain hanyalah peringatan bagi semesta alam,
  14. (yaitu) bagi siapa di antara kalian yang mau menempuh jalan yang lurus.
  15. Dan kalian tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.

Ayat Ke-15

﴿فَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلۡخُنَّسِ﴾ قَوۡلُهُ تَعَالَىٰ: ﴿فَلَآ أُقۡسِمُ﴾ قَدۡ يَظُنُّ بَعۡضُ النَّاسِ أَنَّ ﴿لَآ﴾ نَافِيَةٌ، وَلَيۡسَ كَذٰلِكَ، بَلۡ هِيَ مُثۡبِتَةٌ لِلۡقَسَمِ، وَيُؤۡتَىٰ بِهَا بِمِثۡلِ هٰذَا التَّرۡكِيبِ لِلتَّأۡكِيدِ. فَالۡمَعۡنَىٰ: أُقۡسِمُ بِالۡخُنَّسِ، وَالۡخُنَّسُ جَمۡعُ خَانِسَةٍ، وَهِيَ النُّجُومُ الَّتِي تَخۡنَسُ، أَيۡ: تَرۡجِعُ، فَبَيۡنَمَا تَرَاهَا فِي أَعۡلَى الۡأُفُقِ إِذَا بِهَا رَاجِعَةٌ إِلَىٰ آخِرِ الۡأُفُقِ، وَذٰلِكَ -وَاللهُ أَعۡلَمُ- لِارۡتِفَاعِهَا وَبُعۡدِهَا، فَيَكُونُ مَا تَحۡتَهَا مِنَ النُّجُومِ أَسۡرَعَ مِنۡهَا فِي الۡجَرۡيِ بِحَسَبِ رُؤۡيَةِ الۡعَيۡنِ.

“Sungguh, Aku bersumpah demi bintang-bintang.” Firman Allah taala: “Sungguh, Aku bersumpah”, sebagian orang mungkin menyangka bahwa “lā” di sana berfungsi meniadakan, padahal tidak demikian. Sebaliknya, ia justru mengukuhkan sumpah dan didatangkan dalam struktur seperti ini untuk penekanan (taukid). Maka, maknanya adalah: Aku bersumpah demi bintang-bintang.

Al-Khunnas adalah bentuk jamak dari khanisah, yaitu bintang-bintang yang takhnas, artinya kembali. Saat engkau melihatnya di ufuk tertinggi, tiba-tiba ia kembali ke ujung ufuk. Hal itu—wallahualam—saking tinggi dan jauhnya bintang tersebut, sehingga bintang-bintang yang berada di bawahnya tampak lebih cepat pergerakannya menurut penglihatan mata.

Ayat Ke-16

﴿ٱلۡجَوَارِ﴾ أَصۡلُهَا: (الۡجَوَارِي) بِالۡيَاءِ، لٰكِنۡ حُذِفَتِ الۡيَاءُ لِلتَّخۡفِيفِ، وَ﴿ٱلۡكُنَّسِ﴾ هِيَ الَّتِي تَكۡنُسُ أَيۡ: تَدۡخُلُ فِي مَغِيبِهَا، فَأَقۡسَمَ اللهُ بِهٰذِهِ النُّجُومِ.

Al-Jawār (Yang beredar)” asalnya adalah al-jawari dengan huruf ya, namun huruf ya tersebut dihapus untuk meringankan pengucapan. Sedangkan “Al-Kunnas (yang terbenam)” adalah yang masuk ke tempat terbenamnya.

Allah bersumpah dengan bintang-bintang ini.

Ayat Ke-17 dan 18

ثُمَّ أَقۡسَمَ بِاللَّيۡلِ وَالنَّهَارِ فَقَالَ: ﴿وَٱلَّيۡلِ إِذَا عَسۡعَسَ ۝١٧ وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ﴾ مَعۡنَى قَوۡلِهِ: ﴿عَسۡعَسَ﴾ يَعۡنِي: أَقۡبَلَ، وَقِيلَ: مَعۡنَاهُ: أَدۡبَرَ، وَذٰلِكَ أَنَّ الۡكَلِمَةَ ﴿عَسۡعَسَ﴾ فِي اللُّغَةِ الۡعَرَبِيَّةِ تَصۡلُحُ لِهٰذَا وَهٰذَا، لٰكِنَّ الَّذِي يَظۡهَرُ أَنَّ مَعۡنَاهَا: (أَقۡبَلَ) لِيُوَافِقَ أَوۡ لِيُطَابِقَ مَا بَعۡدَهُ مِنَ الۡقَسَمِ وَهُوَ قَوۡلُهُ: ﴿وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ﴾، فَيَكُونُ اللهُ أَقۡسَمَ بِاللَّيۡلِ حَالَ إِقۡبَالِهِ، وَبِالنَّهَارِ حَالَ إِقۡبَالِهِ، وَإِنَّمَا أَقۡسَمَ اللهُ تَعَالَىٰ بِهٰذِهِ الۡمَخۡلُوقَاتِ؛ لِعِظَمِهَا وَكَوۡنِهَا مِنۡ آيَاتِهِ الۡكُبۡرَىٰ، فَمَنۡ يَسۡتَطِيعُ أَنۡ يَأۡتِيَ بِالنَّهَارِ إِذَا كَانَ اللَّيۡلُ، وَمَنۡ يَسۡتَطِيعُ أَنۡ يَأۡتِيَ بِاللَّيۡلِ إِذَا كَانَ النَّهَارُ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِن جَعَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكُمُ ٱلَّيۡلَ سَرۡمَدًا إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ مَنۡ إِلَٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِ يَأۡتِيكُم بِضِيَآءٍ ۖ أَفَلَا تَسۡمَعُونَ ۝٧١ قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِن جَعَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكُمُ ٱلنَّهَارَ سَرۡمَدًا إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ مَنۡ إِلَٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِ يَأۡتِيكُم بِلَيۡلٍ تَسۡكُنُونَ فِيهِ ۖ أَفَلَا تُبۡصِرُونَ ۝٧٢ وَمِن رَّحۡمَتِهِۦ جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ لِتَسۡكُنُوا۟ فِيهِ وَلِتَبۡتَغُوا۟ مِن فَضۡلِهِۦ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ﴾ [القصص: ٧١-٧٣].

Kemudian Allah bersumpah demi malam dan siang, lalu berfirman,

وَٱلَّيۡلِ إِذَا عَسۡعَسَ ۝١٧ وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ

“dan demi malam apabila ‘as‘asa, dan demi subuh apabila fajar telah menyingsing.” (QS At-Takwir: 17-18). Makna firman-Nya: “‘as‘asa” berarti datang, dan ada yang berpendapat maknanya adalah pergi. Hal itu karena kata “‘as‘asa” dalam bahasa Arab bisa bermakna keduanya. Namun, yang tampak kuat adalah maknanya “datang” agar sesuai atau selaras dengan sumpah setelahnya, yaitu firman-Nya: “dan demi subuh apabila fajar telah menyingsing”. Dengan demikian, Allah bersumpah demi malam saat kedatangannya, dan demi siang saat kedatangannya.

Hanyalah Allah taala bersumpah dengan makhluk-makhluk ini karena keagungannya dan keberadaannya sebagai bagian dari tanda-tanda kebesaran-Nya yang utama. Maka, siapakah yang mampu mendatangkan siang jika malam telah tiba, dan siapakah yang mampu mendatangkan malam jika siang telah tiba?

Allah—‘azza wa jalla—berfirman,

قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِن جَعَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكُمُ ٱلَّيۡلَ سَرۡمَدًا إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ مَنۡ إِلَٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِ يَأۡتِيكُم بِضِيَآءٍ ۖ أَفَلَا تَسۡمَعُونَ ۝٧١ قُلۡ أَرَءَيۡتُمۡ إِن جَعَلَ ٱللَّهُ عَلَيۡكُمُ ٱلنَّهَارَ سَرۡمَدًا إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَٰمَةِ مَنۡ إِلَٰهٌ غَيۡرُ ٱللَّهِ يَأۡتِيكُم بِلَيۡلٍ تَسۡكُنُونَ فِيهِ ۖ أَفَلَا تُبۡصِرُونَ ۝٧٢ وَمِن رَّحۡمَتِهِۦ جَعَلَ لَكُمُ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ لِتَسۡكُنُوا۟ فِيهِ وَلِتَبۡتَغُوا۟ مِن فَضۡلِهِۦ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untuk kalian malam itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepada kalian? Apakah kalian tidak mendengar?” Katakanlah: “Terangkanlah kepadaku, jika Allah menjadikan untuk kalian siang itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah tuhan selain Allah yang akan mendatangkan malam kepada kalian sebagai waktu istirahat kalian? Apakah kalian tidak melihat?” Dan karena rahmat-Nya, Dia jadikan untuk kalian malam dan siang, agar kalian beristirahat pada malam hari dan agar kalian mencari sebagian karunia-Nya (pada siang hari) dan agar kalian bersyukur. (QS Al-Qasas: 71-73).

Ayat Ke-19

فَهٰذِهِ الۡمَخۡلُوقَاتُ الۡعَظِيمَةُ يُقۡسِمُ اللهُ بِهَا لِعِظَمِ الۡمُقۡسَمِ عَلَيۡهِ، وَهُوَ قَوۡلُهُ: ﴿إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ﴾ ﴿إِنَّهُۥ﴾؛ أَيِ: الۡقُرۡآنُ ﴿لَقَوۡلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ﴾ هُوَ جِبۡرِيلُ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، فَإِنَّهُ رَسُولُ اللهِ إِلَى الرُّسُلِ بِالۡوَحۡيِ الَّذِي يُنَزِّلُهُ عَلَيۡهِمۡ، وَوَصَفَهُ اللهُ بِالۡكَرَمِ؛ لِحُسۡنِ مَنۡظَرِهِ كَمَا قَالَ تَعَالَىٰ فِي آيَةٍ أُخۡرَىٰ: ﴿ذُو مِرَّةٍ فَٱسۡتَوَىٰ﴾ [النجم: ٦]، ﴿ذُو مِرَّةٍ﴾ قَالَ الۡعُلَمَاءُ: الۡمِرَّةُ: الۡخَلۡقُ الۡحَسَنُ وَالۡهَيۡئَةُ الۡجَمِيلَةُ، فَكَانَ جِبۡرِيلُ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ مَوۡصُوفًا بِهٰذَا الۡوَصۡفِ: ﴿كَرِيمٍ﴾.

Maka, makhluk-makhluk yang agung ini dijadikan sumpah oleh Allah karena agungnya sesuatu yang ditegaskan dalam sumpah tersebut, yaitu firman-Nya,

إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ

“Sesungguhnya ia itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia.”

“Sesungguhnya ia” maksudnya Al-Qur’an “benar-benar perkataan utusan yang mulia” yaitu Jibril—‘alaihish-shalatu was-salam—, karena sesungguhnya ia adalah utusan Allah kepada para rasul untuk membawa wahyu yang ia turunkan kepada mereka.

Allah menyifatkannya dengan kemuliaan karena elok penampilannya, sebagaimana yang Allah taala firmankan dalam ayat lain,

ذُو مِرَّةٍ فَٱسۡتَوَىٰ

“yang mempunyai mirrah; maka ia menampakkan diri (dengan rupa yang asli).” (QS An-Najm: 6).

“yang mempunyai mirrah”, para ulama berkata: Al-Mirrah adalah perangai yang baik dan perawakan yang indah. Maka, Jibril—‘alaihish-shalatu was-salam—disifati dengan sifat ini: “yang mulia”.

Ayat Ke-20

﴿ذِى قُوَّةٍ عِندَ ذِى ٱلۡعَرۡشِ مَكِينٍ﴾ ﴿ذِي قُوَّةٍ﴾ وَصَفَهُ اللهُ تَعَالَىٰ بِالۡقُوَّةِ الۡعَظِيمَةِ، فَإِنَّ الرَّسُولَ ﷺ رَآهُ عَلَىٰ صُورَتِهِ الَّتِي خَلَقَهُ اللهُ عَلَيۡهَا لَهُ سِتُّمِائَةِ جَنَاحٍ قَدۡ سَدَّ الۡأُفُقَ كُلَّهُ مِنۡ عَظَمَتِهِ عَلَيۡهِ السَّلَامُ، وَقَوۡلُهُ: ﴿عِندَ ذِى ٱلۡعَرۡشِ﴾؛ أَيۡ: عِنۡدَ صَاحِبِ الۡعَرۡشِ وَهُوَ اللهُ جَلَّ وَعَلَا، وَالۡعَرۡشُ فَوۡقَ كُلِّ شَيۡءٍ، وَفَوۡقَ الۡعَرۡشِ رَبُّ الۡعَالَمِينَ عَزَّ وَجَلَّ، قَالَ اللهُ تَعَالَىٰ: ﴿رَفِيعُ ٱلدَّرَجَٰتِ ذُو ٱلۡعَرۡشِ يُلۡقِى ٱلرُّوحَ مِنۡ أَمۡرِهِۦ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦ﴾ [غافر: ١٥]، فَذُو الۡعَرۡشِ هُوَ اللهُ.

“Yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki Arasy.”

“Yang mempunyai kekuatan”, Allah taala menyifati Jibril dengan kekuatan yang besar, karena Rasul—shallallahu ‘alaihi wa sallam—pernah melihatnya dalam wujud aslinya saat diciptakan Allah; ia memiliki enam ratus sayap yang telah menutupi seluruh ufuk karena besarnya fisik Jibril—‘alaihis-salam.

Dan firman-Nya:

عِندَ ذِى ٱلۡعَرۡشِ

“Di sisi (Allah) yang memiliki arasy” maksudnya di sisi pemilik arasy, yaitu Allah—jalla wa ‘ala—. Arasy itu berada di atas segala sesuatu dan di atas arasy adalah Rab semesta alam—‘azza wa jalla—. Allah taala berfirman,

رَفِيعُ ٱلدَّرَجَٰتِ ذُو ٱلۡعَرۡشِ يُلۡقِى ٱلرُّوحَ مِنۡ أَمۡرِهِۦ عَلَىٰ مَن يَشَآءُ مِنۡ عِبَادِهِۦ

“(Dialah) Yang Maha Tinggi derajat-Nya, yang memiliki arasy, yang mengutus Jibril dengan (membawa) perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di antara hamba-hamba-Nya.” (QS Ghafir: 15).

Maka, pemilik arasy adalah Allah.

وَقَوۡلُهُ: ﴿مَكِينٍ﴾؛ أَيۡ: ذُو مَكَانَةٍ، أَيۡ: أَنَّ جِبۡرِيلَ عِنۡدَ اللهِ ذُو مَكَانَةٍ وَشَرَفٍ؛ وَلِهٰذَا خَصَّهُ اللهُ بِأَكۡبَرِ النِّعَمِ الَّتِي أَنۡعَمَ بِهَا عَلَىٰ عِبَادِهِ، وَهُوَ الۡوَحۡيُ، فَإِنَّ النِّعَمَ لَوۡ نَظَرۡنَا إِلَيۡهَا لَوَجَدۡنَا أَنَّهَا قِسۡمَانِ: نِعَمٌ يَسۡتَوِي فِيهَا الۡبَهَائِمُ وَالۡإِنۡسَانُ، وَهِيَ نِعۡمَةُ مُتۡعَةِ الۡبَدَنِ: الۡأَكۡلُ وَالشُّرۡبُ وَالنِّكَاحُ وَالسَّكَنُ، هٰذِهِ النِّعَمُ يَسۡتَوِي فِيهَا الۡإِنۡسَانُ وَالۡحَيَوَانُ، فَالۡإِنۡسَانُ يَتَمَتَّعُ بِمَا يَأۡكُلُ، وَبِمَا يَشۡرَبُ، وَبِمَا يَنۡكِحُ، وَبِمَا يَسۡكُنُ، وَالۡبَهَائِمُ كَذٰلِكَ.

Dan firman-Nya:

مَكِينٍ

maksudnya memiliki kedudukan, yakni bahwa Jibril di sisi Allah memiliki kedudukan dan kemuliaan. Oleh karena itu, Allah mengkhususkannya dengan nikmat terbesar yang Dia anugerahkan kepada hamba-hamba-Nya, yaitu wahyu. Sebab, jika kita memerhatikan nikmat-nikmat yang ada, kita akan mendapati bahwa nikmat itu terbagi menjadi dua bagian:

Pertama, nikmat yang sama-sama dimiliki oleh hewan ternak dan manusia, yaitu nikmat kesenangan fisik berupa makan, minum, perkawinan, dan tempat tinggal. Dalam nikmat-nikmat ini, manusia dan hewan adalah sama; manusia menikmati apa yang ia makan, apa yang ia minum, apa yang ia nikahi, dan apa yang ia tinggali, begitu pula dengan hewan ternak.

وَنِعَمٌ أُخۡرَىٰ يَخۡتَصُّ بِهَا الۡإِنۡسَانُ، وَهِيَ الشَّرَائِعُ الَّتِي أَنۡزَلَهَا اللهُ عَلَى الرُّسُلِ لِتَسۡتَقِيمَ حَيَاةُ الۡخَلۡقِ؛ لِأَنَّهُ لَا يُمۡكِنُ أَنۡ تَسۡتَقِيمَ حَيَاةُ الۡخَلۡقِ الَّتِي تَكُونُ بِهَا سَعَادَةُ الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ إِلَّا بِالشَّرَائِعِ ﴿مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٌ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجۡزِيَنَّهُمۡ أَجۡرَهُم بِأَحۡسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعۡمَلُونَ﴾ [النحل: ٩٧].

Dan nikmat-nikmat lainnya yang khusus bagi manusia, yaitu syariat-syariat yang Allah turunkan kepada para rasul agar kehidupan makhluk menjadi lurus. Hal itu karena tidak mungkin kehidupan makhluk yang mendatangkan kebahagiaan dunia dan akhirat bisa menjadi lurus kecuali dengan syariat. “Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari amalan yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl: 97).

فَالۡمُؤۡمِنُ الۡعَامِلُ بِالصَّالِحَاتِ هُوَ الَّذِي لَهُ الۡحَيَاةُ الطَّيِّبَةُ فِي الدُّنۡيَا وَالثَّوَابُ الۡجَزِيلُ فِي الۡآخِرَةِ، ​وَوَاللّٰهِ لَوۡ فَتَّشۡتَ الۡمُلُوكَ وَأَبۡنَاءَ الۡمُلُوكِ، وَالۡوُزَرَاءَ وَأَبۡنَاءَ الۡوُزَرَاءِ، وَالۡأُمَرَاءَ وَأَبۡنَاءَ الۡأُمَرَاءِ، وَالۡأَغۡنِيَاءَ وَأَبۡنَاءَ الۡأَغۡنِيَاءِ، مِمَّنۡ لَيۡسُوا مِنۡ أَهۡلِ الۡإِيمَانِ وَالۡعَمَلِ الصَّالِحِ، لَوۡ فَتَّشۡتَهُمۡ وَفَتَّشۡتَ مَنۡ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا لَوَجَدۡتَ الثَّانِيَ أَطۡيَبَ عِيشَةً، وَأَنۡعَمَ بَالًا، وَأَشۡرَحَ صَدۡرًا؛ لِأَنَّ اللّٰهَ عَزَّ وَجَلَّ الَّذِي بِيَدِهِ مَقَالِيدُ السَّمٰوَاتِ وَالۡأَرۡضِ تَكَفَّلَ فَقَالَ: ﴿مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٌ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً﴾ فَتَجِدُ الۡمُؤۡمِنَ الۡعَامِلَ لِلصَّالِحَاتِ مَسۡرُورَ الۡقَلۡبِ، مُنۡشَرِحَ الصَّدۡرِ، رَاضِيًا بِقَضَاءِ اللّٰهِ وَقَدَرِهِ، إِنۡ أَصَابَهُ خَيۡرٌ شَكَرَ اللّٰهَ عَلٰى ذٰلِكَ، وَإِنۡ أَصَابَهُ ضِدُّهُ صَبَرَ عَلٰى ذٰلِكَ وَاعۡتَذَرَ إِلَى اللّٰهِ مِمَّا صَنَعَ، وَعَلِمَ أَنَّهُ إِنَّمَا أَصَابَهُ بِذُنُوبِهِ فَرَجَعَ إِلَى اللّٰهِ عَزَّ وَجَلَّ، قَالَ النَّبِيُّ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: (عَجَبًا لِلۡمُؤۡمِنِ إِنَّ أَمۡرَهُ كُلَّهُ خَيۡرٌ، وَلَيۡسَ ذٰلِكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلۡمُؤۡمِنِ، إِنۡ أَصَابَتۡهُ سَرَّاءُ شَكَرَ، فَكَانَ خَيۡرًا لَهُ، وَإِنۡ أَصَابَتۡهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيۡرًا لَهُ)، وَصَدَقَ النَّبِيُّ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ.

Maka orang mukmin yang beramal saleh itulah yang akan mendapatkan kehidupan yang baik di dunia dan pahala yang melimpah di akhirat. Demi Allah, seandainya engkau memeriksa para raja dan anak-anak raja, para menteri dan anak-anak menteri, para amir dan anak-anak amir, serta orang-orang kaya dan anak-anak orang kaya, dari kalangan mereka yang bukan termasuk ahli iman dan amal saleh; seandainya engkau memeriksa mereka dan engkau memeriksa orang yang beriman serta beramal saleh, niscaya engkau akan dapati golongan kedua (orang beriman) lebih baik kehidupannya, lebih tenang batinnya, dan lebih lapang dadanya. Karena Allah—‘azza wa jalla—yang di tangan-Nya kunci-kunci langit dan bumi telah menjamin hal itu. Dia berfirman,

مَنۡ عَمِلَ صَٰلِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوۡ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤۡمِنٌ فَلَنُحۡيِيَنَّهُۥ حَيَوٰةً طَيِّبَةً

​“Barang siapa mengerjakan kebajikan, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, pasti akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS An-Nahl: 97).

​Engkau akan dapati seorang mukmin yang beramal saleh, hatinya merasa bahagia, dadanya lapang, rida terhadap ketetapan dan takdir Allah. Jika ia ditimpa kebaikan, ia bersyukur kepada Allah atas hal itu. Jika ia ditimpa kebalikannya, ia bersabar atas hal itu dan memohon ampun kepada Allah atas perbuatannya. Ia menyadari bahwa musibah itu menimpanya tidak lain karena dosa-dosanya, sehingga ia pun kembali kepada Allah—‘azza wa jalla.

​Nabi Muhammad—‘alaihish-shalatu was-salam—bersabda, “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin, sesungguhnya semua urusannya adalah baik, dan hal itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh seorang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan, ia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya. Dan jika ia ditimpa kesusahan, ia bersabar, maka itu adalah kebaikan baginya.” Dan benarlah apa yang disabdakan oleh Nabi—‘alaihish-shalatu was-salam.

إِذَنۡ: أَكۡبَرُ نِعۡمَةٍ أَنۡزَلَهَا اللّٰهُ عَلَى الۡخَلۡقِ هِيَ نِعۡمَةُ الدِّينِ الَّذِي بِهِ قَوَامُ حَيَاةِ الۡإِنۡسَانِ فِي الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةِ، وَالۡحَيَاةُ الۡحَقِيقِيَّةُ هِيَ حَيَاةُ الۡآخِرَةِ، وَالدَّلِيلُ قَوۡلُهُ تَعَالَى فِي سُورَةِ الۡفَجۡرِ: ﴿يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِى قَدَّمۡتُ لِحَيَاتِى﴾ [الفجر: ٢٤].

Maka dari itu, nikmat terbesar yang Allah turunkan kepada makhluk adalah nikmat agama, yang dengannya tegak kehidupan manusia di dunia dan akhirat. Dan kehidupan yang hakiki adalah kehidupan akhirat, dalilnya adalah firman Allah taala dalam surah Al-Fajr:

يَقُولُ يَٰلَيۡتَنِى قَدَّمۡتُ لِحَيَاتِى

“Dia berkata: Alangkah baiknya kiranya dahulu aku mengerjakan (kebajikan) untuk hidupku ini.” (QS Al-Fajr: 24).

فَالدُّنۡيَا لَيۡسَتۡ بِشَيۡءٍ، الۡحَيَاةُ الۡحَقِيقِيَّةُ حَيَاةُ الۡآخِرَةِ، وَالَّذِي يَعۡمَلُ لِلۡآخِرَةِ يَحۡيَا حَيَاةً طَيِّبَةً فِي الدُّنۡيَا، فَالۡمُؤۡمِنُ الۡعَامِلُ لِلصَّالِحَاتِ هُوَ الَّذِي كَسَبَ الۡحَيَاتَيۡنِ: حَيَاةَ الدُّنۡيَا، وَحَيَاةَ الۡآخِرَةِ، وَالۡكَافِرُ هُوَ الَّذِي خَسِرَ الدُّنۡيَا وَالۡآخِرَةَ ﴿قُلۡ إِنَّ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُمۡ وَأَهۡلِيهِمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ ۗ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ﴾ [الزُّمَرِ: ١٥].

​Maka dunia itu bukanlah apa-apa. Kehidupan yang sesungguhnya adalah kehidupan akhirat. Orang yang beramal untuk akhirat akan menjalani kehidupan yang baik di dunia. Maka orang mukmin yang beramal saleh adalah orang yang beruntung mendapatkan kedua kehidupan: kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Sedangkan orang kafir adalah orang yang merugi di dunia dan akhirat.

قُلۡ إِنَّ ٱلۡخَٰسِرِينَ ٱلَّذِينَ خَسِرُوٓا۟ أَنفُسَهُمۡ وَأَهۡلِيهِمۡ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ ۗ أَلَا ذَٰلِكَ هُوَ ٱلۡخُسۡرَانُ ٱلۡمُبِينُ

​“Katakanlah: Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat. Ingatlah, yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.” (QS Az-Zumar: 15).

Ayat Ke-21

​﴿مُّطَاعٍ ثَمَّ﴾؛ أَيۡ: هُنَاكَ ﴿أَمِينٍ﴾ عَلَى مَا كُلِّفَ بِهِ. جِبۡرِيلُ هُوَ الۡمُطَاعُ، فَمَنۡ الَّذِي يُطِيعُهُ؟ قَالَ الۡعُلَمَاءُ: تُطِيعُهُ الۡمَلَائِكَةُ؛ لِأَنَّهُ يَنۡزِلُ بِالۡأَمۡرِ مِنَ اللّٰهِ، فَيَأۡمُرُ الۡمَلَائِكَةَ فَتُطِيعُ، فَلَهُ إِمۡرَةٌ وَلَهُ طَاعَةٌ عَلَى الۡمَلَائِكَةِ، ثُمَّ الرُّسُلُ عَلَيۡهِمُ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ الَّذِينَ يَنۡزِلُ جِبۡرِيلُ عَلَيۡهِمۡ بِالۡوَحۡيِ، لَهُمۡ إِمۡرَةٌ وَطَاعَةٌ عَلَى الۡمُكَلَّفِينَ ﴿وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَٱحۡذَرُوا۟ ۚ فَإِن تَوَلَّيۡتُمۡ فَٱعۡلَمُوٓا۟ أَنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ﴾ [المائدة: ٩٢].

“(Yang) dipatuhi tsamma” maksudnya: di sana “(lagi) dipercaya” atas apa yang dibebankan kepadanya.

​Jibril adalah sosok yang dipatuhi, lalu siapakah yang mematuhinya? Para ulama mengatakan: Malaikat mematuhinya karena ia turun membawa perintah dari Allah, lalu ia memerintah para malaikat dan mereka pun patuh. Maka ia memiliki wewenang memerintah dan ia memiliki hak untuk ditaati oleh para malaikat.

​Kemudian para rasul—‘alaihimush shalatu was-salam—yang Jibril turun kepada mereka membawa wahyu, mereka pun memiliki wewenang memerintah dan hak untuk ditaati oleh para mukalaf (orang yang dibebani syariat).

وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَأَطِيعُوا۟ ٱلرَّسُولَ وَٱحۡذَرُوا۟ ۚ فَإِن تَوَلَّيۡتُمۡ فَٱعۡلَمُوٓا۟ أَنَّمَا عَلَىٰ رَسُولِنَا ٱلۡبَلَٰغُ ٱلۡمُبِينُ

​“Dan taatlah kalian kepada Allah dan taatlah kalian kepada Rasul serta berwaspadalah. Jika kalian berpaling, maka ketahuilah bahwa kewajiban rasul Kami hanyalah menyampaikan (amanat) dengan jelas.” (QS Al-Maidah: 92).

فِي هٰذِهِ الۡآيَاتِ ﴿إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ ۝١٩ ذِى قُوَّةٍ عِندَ ذِى ٱلۡعَرۡشِ مَكِينٍ﴾ أَقۡسَمَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى أَنَّ هٰذَا الۡقُرۡآنَ قَوۡلُ هٰذَا الرَّسُولِ الۡكَرِيمِ الۡمَلَكِيِّ جِبۡرِيلَ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، وَفِي آيَةٍ أُخۡرَى بَيَّنَ اللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى وَأَقۡسَمَ أَنَّ هٰذَا الۡقُرۡآنَ قَوۡلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ بَشَرِيٍّ فِي قَوۡلِهِ تَعَالَى: ﴿فَلَآ أُقۡسِمُ بِمَا تُبۡصِرُونَ ۝٣٨ وَمَا لَا تُبۡصِرُونَ ۝٣٩ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ ۝٤٠ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ﴾ [الحاقة: ٣٨-٤١].

Di dalam ayat-ayat ini:

إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ ۝١٩ ذِى قُوَّةٍ عِندَ ذِى ٱلۡعَرۡشِ مَكِينٍ

“Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar perkataan utusan yang mulia, yang memiliki kekuatan, serta berkedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki arasy,”

Allah—‘azza wa jalla—bersumpah bahwa Al-Qur’an ini adalah perkataan utusan mulia dari golongan malaikat, yaitu Jibril—‘alaihish-shalatu was-salam.

Sedangkan dalam ayat lain, Allah—subhanahu wa ta’ala—menjelaskan dan bersumpah bahwa Al-Qur’an ini adalah perkataan utusan mulia dari golongan manusia dalam firman Allah taala:

فَلَآ أُقۡسِمُ بِمَا تُبۡصِرُونَ ۝٣٨ وَمَا لَا تُبۡصِرُونَ ۝٣٩ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ ۝٤٠ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ

“Maka Aku bersumpah demi apa yang kalian lihat dan apa yang tidak kalian lihat. Sesungguhnya Al-Qur’an benar-benar perkataan utusan yang mulia, dan ia bukanlah perkataan seorang penyair.” (QS Al-Haqqah: 38-41).

فَالرَّسُولُ هُنَا فِي سُورَةِ التَّكۡوِيرِ رَسُولٌ مَلَكِيٌّ، أَيۡ: مِنَ الۡمَلَائِكَةِ وَهُوَ جِبۡرِيلُ عَلَيۡهِ السَّلَامُ، وَالرَّسُولُ هُنَاكَ رَسُولٌ بَشَرِيٌّ وَهُوَ مُحَمَّدٌ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، وَالدَّلِيلُ عَلَى هٰذَا وَاضِحٌ؛ هُنَا قَالَ: ﴿إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ ۝١٩ ذِى قُوَّةٍ عِندَ ذِى ٱلۡعَرۡشِ مَكِينٍ﴾ وَهٰذَا الۡوَصۡفُ لِجِبۡرِيلَ، لِأَنَّهُ هُوَ الَّذِي عِنۡدَ اللهِ، أَمَّا مُحَمَّدٌ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ فَهُوَ فِي الۡأَرۡضِ، هُنَاكَ قَالَ: ﴿فَلَآ أُقۡسِمُ بِمَا تُبۡصِرُونَ ۝٣٨ وَمَا لَا تُبۡصِرُونَ ۝٣٩ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ ۝٤٠ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ﴾ رَدًّا لِقَوۡلِ الۡكُفَّارِ الَّذِينَ قَالُوا: إِنَّ مُحَمَّدًا شَاعِرٌ. ﴿وَلَا بِقَوۡلِ كَاهِنٍ﴾ [الحاقة: ٤٢]، فَأَيُّهُمَا أَعۡظَمُ قَسَمًا ﴿فَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلۡخُنَّسِ ۝١٥ ٱلۡجَوَارِ ٱلۡكُنَّسِ ۝١٦ وَٱلَّيۡلِ إِذَا عَسۡعَسَ ۝١٧ وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ ۝١٨ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ ۝١٩ ذِى قُوَّةٍ﴾ أَوۡ ﴿فَلَآ أُقۡسِمُ بِمَا تُبۡصِرُونَ ۝٣٨ وَمَا لَا تُبۡصِرُونَ ۝٣٩ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ﴾؟ الثَّانِي أَعۡظَمُ، لَيۡسَ فِيهِ شَيۡءٌ أَعَمُّ مِنۡهُ.

Maka, utusan di sini dalam surah At-Takwir adalah utusan dari golongan malaikat, yaitu Jibril—‘alaihis-salam—. Sedangkan utusan di sana (surah Al-Haqqah) adalah utusan dari golongan manusia, yaitu Muhammad—‘alaihish-shalatu was-salam—, dan dalil mengenai hal ini sangat jelas. Di sini Allah berfirman,

إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ ۝١٩ ذِى قُوَّةٍ عِندَ ذِى ٱلۡعَرۡشِ مَكِينٍ

“Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar perkataan utusan yang mulia, yang memiliki kekuatan, serta berkedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki arasy.”

Sifat ini adalah milik Jibril karena dialah yang berada di sisi Allah, adapun Muhammad—‘alaihish-shalatu was-salam— berada di bumi.

Di sana Allah berfirman,

فَلَآ أُقۡسِمُ بِمَا تُبۡصِرُونَ ۝٣٨ وَمَا لَا تُبۡصِرُونَ ۝٣٩ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ ۝٤٠ وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَاعِرٍ

“Maka Aku bersumpah demi apa yang kalian lihat dan apa yang tidak kalian lihat. Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) benar-benar perkataan utusan yang mulia, dan ia bukanlah perkataan seorang penyair,”

sebagai bantahan terhadap perkataan orang-orang kafir yang menyebut Muhammad adalah seorang penyair.

وَلَا بِقَوۡلِ كَاهِنٍ

“dan bukan pula perkataan seorang tukang tenung.”

Lalu, sumpah manakah yang lebih agung? Antara:

فَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلۡخُنَّسِ ۝١٥ ٱلۡجَوَارِ ٱلۡكُنَّسِ ۝١٦ وَٱلَّيۡلِ إِذَا عَسۡعَسَ ۝١٧ وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ ۝١٨ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ ۝١٩ ذِى قُوَّةٍ

“Sungguh, Aku bersumpah dengan bintang-bintang, yang beredar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya, dan demi subuh apabila fajarnya mulai menyingsing, sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar perkataan utusan yang mulia, yang mempunyai kekuatan,”

ataukah sumpah:

فَلَآ أُقۡسِمُ بِمَا تُبۡصِرُونَ ۝٣٨ وَمَا لَا تُبۡصِرُونَ ۝٣٩ إِنَّهُۥ لَقَوۡلُ رَسُولٍ كَرِيمٍ

“Maka Aku bersumpah demi apa yang kalian lihat dan apa yang tidak kalian lihat. Sesungguhnya ia benar-benar perkataan utusan yang mulia.”?

Sumpah yang kedua lebih agung karena tidak ada sesuatu pun yang lebih umum darinya.

﴿بِمَا تُبۡصِرُونَ ۝٣٨ وَمَا لَا تُبۡصِرُونَ﴾ كُلُّ الۡأَشۡيَاءِ إِمَّا نُبۡصِرُهَا أَوۡ لَا نُبۡصِرُهَا.

“Demi apa yang kalian lihat dan apa yang tidak kalian lihat,” segala sesuatu itu ada yang bisa kita lihat dan ada yang tidak bisa kita lihat.

إِذَنۡ أَقۡسَمَ اللهُ بِكُلِّ شَيۡءٍ، وَهُنَا أَقۡسَمَ بِالۡآيَاتِ الۡعُلۡوِيَّةِ ﴿فَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلۡخُنَّسِ ۝١٥ ٱلۡجَوَارِ ٱلۡكُنَّسِ ۝١٦ وَٱلَّيۡلِ إِذَا عَسۡعَسَ ۝١٧ وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ﴾ هٰذِهِ آيَاتٌ عُلۡوِيَّةٌ أُفُقِيَّةٌ تُنَاسِبُ الرَّسُولَ الَّذِي أُقۡسِمَ عَلَى أَنَّهُ قَوۡلُهُ وَهُوَ جِبۡرِيلُ؛ لِأَنَّ جِبۡرِيلَ عِنۡدَ اللهِ.

Jadi, Allah bersumpah dengan segala sesuatu.

Adapun di sini (surah At-Takwir) Allah bersumpah dengan tanda-tanda kekuasaan-Nya yang berada di atas (langit):

فَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلۡخُنَّسِ ۝١٥ ٱلۡجَوَارِ ٱلۡكُنَّسِ ۝١٦ وَٱلَّيۡلِ إِذَا عَسۡعَسَ ۝١٧ وَٱلصُّبۡحِ إِذَا تَنَفَّسَ

“Maka Aku bersumpah demi bintang-bintang yang beredar dan terbenam, demi malam apabila telah hampir meninggalkan gelapnya, dan demi subuh apabila fajar mulai menyingsing.”

Tanda-tanda kekuasaan di ufuk tinggi ini sesuai dengan utusan yang dipergunakan sebagai sumpah bahwa Al-Qur’an adalah perkataannya, yaitu Jibril; karena Jibril berada di sisi Allah.

فَإِذَا قَالَ قَائِلٌ: كَيۡفَ يَصِفُ اللهُ الۡقُرۡآنَ بِأَنَّهُ قَوۡلُ الرَّسُولِ الۡبَشَرِيِّ، وَالرَّسُولِ الۡمَلَكِيِّ؟

​Jika ada yang bertanya: Bagaimana Allah mensifati Al-Qur’an sebagai perkataan rasul dari kalangan manusia dan rasul dari kalangan malaikat?

​فَنَقُولُ: نَعَمۡ، الرَّسُولُ الۡمَلَكِيُّ بَلَّغَهُ إِلَى الرَّسُولِ الۡبَشَرِيِّ، وَالرَّسُولِ الۡبَشَرِيُّ بَلَّغَهُ إِلَى الۡأُمَّةِ، فَصَارَ قَوۡلَ هٰذَا بِالنِّيَابَةِ؛ قَوۡلَ جِبۡرِيلَ بِالنِّيَابَةِ وَقَوۡلَ مُحَمَّدٍ بِالنِّيَابَةِ، وَالۡقَائِلُ الۡأَوَّلُ هُوَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَالۡقُرۡآنُ قَوۡلُ اللهِ حَقِيقَةً؛ لِأَنَّهُ الۡمُتَكَلِّمُ بِهِ ابۡتِدَاءً، وَقَوۡلُ جِبۡرِيلَ بِاعۡتِبَارِ أَنَّهُ بَلَّغَهُ لِمُحَمَّدٍ، وَقَوۡلُ مُحَمَّدٍ بِاعۡتِبَارِ أَنَّهُ بَلَّغَهُ إِلَى الۡأُمَّةِ.

​Maka kita katakan: Ya, rasul dari kalangan malaikat menyampaikannya kepada rasul dari kalangan manusia, dan rasul dari kalangan manusia menyampaikannya kepada umat. Maka ia menjadi perkataan sosok ini secara penyampaian (perwakilan), perkataan Jibril secara penyampaian, dan perkataan Muhammad secara penyampaian. Sedangkan yang mengucapkannya pertama kali adalah Allah—‘azza wa jalla—. Maka Al-Qur’an adalah firman Allah secara hakiki; karena Dia adalah yang mengucapkannya pertama kali, dan merupakan perkataan Jibril dengan tinjauan bahwa ia menyampaikannya kepada Muhammad, serta merupakan perkataan Muhammad dengan tinjauan bahwa beliau menyampaikannya kepada umat.

Ayat Ke-22

﴿وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجۡنُونٍ﴾؛ أَيۡ: مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ وَتَأَمَّلۡ أَنَّهُ قَالَ: ﴿وَمَا صَاحِبُكُم﴾ فَأَضَافَهُ إِلَيۡهِمۡ؛ لِيَكُونَ أَشَدَّ لَوۡمًا وَتَوۡبِيخًا لَهُمۡ حِينَ رَدُّوا دَعۡوَتَهُ، كَأَنَّهُ قَالَ: مَا صَاحِبُكُمُ الَّذِي تَعۡرِفُونَهُ وَأَنۡتُمۡ وَإِيَّاهُ دَائِمًا، بَقِيَ فِيهِمۡ أَرۡبَعِينَ سَنَةً فِي مَكَّةَ قَبۡلَ النُّبُوَّةِ يَعۡرِفُونَهُ، وَيَعۡرِفُونَ صِدۡقَهُ وَأَمَانَتَهُ، حَتَّى كَانُوا يُطۡلِقُونَ عَلَيۡهِ اسۡمَ الۡأَمِينِ، ﴿وَمَا صَاحِبُكُم بِمَجۡنُونٍ﴾ يَعۡنِي لَيۡسَ مَجۡنُونًا، بَلۡ هُوَ أَعۡقَلُ الۡعُقَلَاءِ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، أَكۡمَلُ النَّاسِ عَقۡلًا بِلَا شَكٍّ وَأَسَدُّهُمۡ رَأۡيًا.

“Dan teman kalian itu bukanlah orang gila” yakni Muhammad Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Perhatikanlah bahwa Allah berfirman: “Dan teman kalian itu”, Dia menyandarkannya kepada mereka agar menjadi celaan dan kecaman yang lebih keras bagi mereka saat mereka menolak dakwahnya. Seolah-olah Dia berfirman: Bukanlah teman kalian yang kalian kenal dan kalian selalu bersamanya; beliau tinggal di tengah-tengah mereka selama empat puluh tahun di Makkah sebelum kenabian dalam keadaan mereka mengenal beliau, mengenal kejujuran dan amanahnya, hingga mereka menjuluki beliau dengan nama Al-Amin. “Dan teman kalian itu bukanlah orang gila” artinya bukan orang gila, melainkan beliau adalah orang yang paling berakal di antara orang-orang yang berakal—‘alaihish-shalatu was-salam—, orang yang paling sempurna akalnya tanpa ragu dan yang paling tepat pendapatnya.

Ayat Ke-23 dan 24

﴿وَلَقَدۡ رَءَاهُ﴾؛ أَيۡ: رَأَى مُحَمَّدٌ جِبۡرِيلَ ﴿بِٱلۡأُفُقِ ٱلۡمُبِينِ﴾؛ الۡأُفُقُ: جَانِبُ السَّمَاءِ، وَالۡمُبِينُ أَيِ: الۡبَيِّنُ الظَّاهِرُ الۡعَالِي، فَإِنَّ الرَّسُولَ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ رَأَى جِبۡرِيلَ عَلَى صُورَتِهِ الَّتِي خُلِقَ عَلَيۡهَا مَرَّتَيۡنِ: مَرَّةً فِي غَارِ حِرَاءٍ، وَمَرَّةً فِي السَّمَاءِ السَّابِعَةِ لَمَّا عُرِجَ بِهِ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، وَهٰذِهِ الرُّؤۡيَةُ هِيَ الَّتِي فِي غَارِ حِرَاءٍ، لِأَنَّهُ يَقُولُ: ﴿رَءَاهُ بِٱلۡأُفُقِ﴾ إِذَنۡ مُحَمَّدٌ فِي الۡأَرۡضِ ﴿وَمَا هُوَ﴾ يَعۡنِي مَا مُحَمَّدٌ ﷺ ﴿عَلَى ٱلۡغَيۡبِ﴾ يَعۡنِي: عَلَى الۡوَحۡيِ الَّذِي جَاءَهُ مِنۡ عِنۡدِ اللهِ ﴿بِضَنِينٍ﴾ بِالضَّادِ أَيۡ: بِبَخِيلٍ، فَهُوَ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ لَيۡسَ بِمُتَّهَمٍ فِي الۡوَحۡيِ وَلَا بَاخِلٍ بِهِ، بَلۡ هُوَ أَشَدُّ النَّاسِ بَذۡلًا لِمَا أُوحِيَ إِلَيۡهِ، يُعَلِّمُ النَّاسَ فِي كُلِّ مُنَاسَبَةٍ، وَهُوَ أَبۡعَدُ النَّاسِ عَنِ التُّهۡمَةِ؛ لِكَمَالِ صِدۡقِهِ وَأَمَانَتِهِ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ، وَفِي قِرَاءَةٍ: (بِظَنِينٍ) بِالظَّاءِ الۡمُشَالَةِ، أَيۡ: بِمُتَّهَمٍ، مِنَ الظَّنِّ وَهُوَ التُّهۡمَةُ.

“Dan sungguh dia telah melihatnya” yakni Muhammad melihat Jibril “di ufuk yang terang”. Ufuk adalah penjuru langit dan al-mubin artinya yang jelas, tampak, lagi tinggi. Sesungguhnya Rasul—‘alaihish-shalatu was-salam—melihat Jibril dalam wujud aslinya saat diciptakan sebanyak dua kali: sekali di Gua Hira` dan sekali di langit ketujuh saat beliau—‘alaihish-shalatu was-salam—dimikrajkan. Penglihatan yang ini adalah yang di Gua Hira`, karena Allah berfirman “melihatnya di ufuk”, maka berarti Muhammad berada di bumi. “Dan dia” yakni Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—“terhadap yang gaib” yakni terhadap wahyu yang datang kepadanya dari sisi Allah “bukanlah seorang yang dhanin” dengan huruf ḍad, artinya bukan orang yang bakhil. Beliau—‘alaihish-shalatu was-salam—tidak tertuduh dalam masalah wahyu dan tidak pula bakhil terhadapnya, bahkan beliau adalah orang yang paling gigih dalam mencurahkan apa yang diwahyukan kepadanya. Beliau mengajari manusia dalam setiap kesempatan dan beliau adalah orang yang paling jauh dari tuduhan karena sempurnanya kejujuran dan keamanahan beliau—‘alaihish-shalatu was-salam—. Dalam qiraat lain dibaca (bi-zhanin) dengan huruf ẓa bertangkai, artinya: orang yang tertuduh, diambil dari kata azh-zhann yang maknanya adalah tuduhan.

Ayat Ke-25

﴿وَمَا هُوَ بِقَوۡلِ شَيۡطَٰنٍ رَّجِيمٍ﴾؛ أَيۡ: لَيۡسَ الۡقُرۡآنُ بِقَوۡلِ أَحَدٍ مِّنَ الشَّيَاطِينِ، وَهُمُ الۡكَهَنَةُ الَّذِينَ تُوحِي إِلَيۡهِمُ الشَّيَاطِينُ الۡوَحۡيَ وَيَكۡذِبُونَ مَعَهُ وَيُخۡبِرُونَ النَّاسَ فَيَظُنُّونَهُمۡ صَادِقِينَ.

​“Dan Al-Qur’an itu bukanlah perkataan setan yang terkutuk” (QS At-Takwir: 25) maksudnya Al-Qur’an bukanlah perkataan salah seorang dari setan, dan mereka adalah para dukun yang dibisikkan wahyu oleh setan-setan, lalu mereka (para dukun) menambahinya dengan kebohongan dan mengabarkannya kepada manusia, sehingga manusia menyangka bahwa mereka adalah orang-orang yang jujur.

Ayat Ke-26 dan 27

﴿فَأَيۡنَ تَذۡهَبُونَ ۝٢٦ إِنۡ هُوَ إِلَّا ذِكۡرٌ لِّلۡعَٰلَمِينَ﴾ ﴿إِنۡ﴾ هُنَا بِمَعۡنَى: (مَا)، وَهَٰذِهِ قَاعِدَةٌ: (أَنَّهُ إِذَا جَاءَتۡ (إِلَّا) بَعۡدَ (إِنۡ) فَهِيَ بِمَعۡنَى: (مَا))، أَيۡ: أَنَّهَا تَكُونُ نَافِيَةً؛ لِأَنَّ (إِنۡ) تَأۡتِي نَافِيَةً، وَتَأۡتِي شَرۡطِيَّةً، وَتَأۡتِي مُخَفَّفَةً مِنَ الثَّقِيلَةِ، وَالَّذِي يُبَيِّنُ هَٰذِهِ الۡمَعَانِيَ هُوَ السِّيَاقُ، فَإِذَا جَاءَتۡ (إِنۡ) وَبَعۡدَهَا (إِلَّا) فَهِيَ نَافِيَةٌ، أَيۡ: مَا هُوَ -أَيِ: الۡقُرۡءَانُ الَّذِي جَاءَ بِهِ مُحَمَّدٌ ﷺ، وَنَزَلَ بِهِ جِبۡرِيلُ عَلَىٰ قَلۡبِهِ- ﴿إِلَّا ذِكۡرٌ لِّلۡعَٰلَمِينَ﴾، ذِكۡرٌ بِمَعۡنَى: التَّذۡكِيرِ وَالتَّذَكُّرِ، فَهُوَ تَذۡكِيرٌ لِّلۡعَالَمِينَ، وَتَذَكُّرٌ لَّهُمۡ، أَيۡ: أَنَّهُمۡ يَتَذَكَّرُونَ بِهِ وَيَتَّعِظُونَ بِهِ.

“Maka ke manakah kalian akan pergi? Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah peringatan bagi seluruh alam.” (QS At-Takwir: 26-27).

In di sini bermakna ma (negasi), dan ini adalah sebuah kaidah: “Bahwa apabila kata illa datang setelah in, maka ia bermakna ma.” Maksudnya, ia menjadi nafiyah (penyangkalan) karena in bisa bermakna nafiyah, syarthiyyah (syarat), dan mukhaffafah minats tsaqilah (peringan dari inna). Yang menjelaskan makna-makna ini adalah konteksnya. Jika in datang dan ada kata illa setelahnya, maka ia adalah nafiyah.

Maksudnya: Tidaklah ia, yaitu Al-Qur’an yang dibawa oleh Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan dibawa turun oleh Jibril ke dalam hatinya, “melainkan peringatan bagi seluruh alam”. Dzikr bermakna tadzkir (memberi peringatan) dan tadzakkur (sarana untuk mengambil pelajaran), maka ia adalah peringatan bagi seluruh alam dan sarana untuk mengambil pelajaran bagi mereka; artinya mereka menjadi ingat dan mengambil pelajaran dengannya.

(وَالۡمُرَادُ بِالۡعَالَمِينَ) مَنۡ بُعِثَ إِلَيۡهِمۡ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ، كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَىٰ: ﴿وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةً لِّلۡعَٰلَمِينَ﴾ [الأنبياء: ١٠٧]، وَقَالَ تَعَالَىٰ: ﴿تَبَارَكَ ٱلَّذِى نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا﴾ [الفرقان: ١]، فَالۡمُرَادُ بِالۡعَالَمِينَ هُنَا مَنۡ أُرۡسِلَ إِلَيۡهِمۡ مُحَمَّدٌ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ.

Yang dimaksud dengan alamin adalah orang-orang yang Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam—diutus kepada mereka sebagaimana firman Allah taala:

وَمَآ أَرۡسَلۡنَٰكَ إِلَّا رَحۡمَةً لِّلۡعَٰلَمِينَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS Al-Anbiya: 107).

Dan Allah taala berfirman,

تَبَارَكَ ٱلَّذِى نَزَّلَ ٱلۡفُرۡقَانَ عَلَىٰ عَبۡدِهِۦ لِيَكُونَ لِلۡعَٰلَمِينَ نَذِيرًا

“Maha Suci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS Al-Furqan: 1).

Maka yang dimaksud dengan alamin di sini adalah orang-orang yang Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—diutus kepada mereka.

Ayat Ke-28

﴿لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ﴾ ﴿لِمَن شَآءَ﴾ هَٰذِهِ الۡجُمۡلَةُ بَدَلٌ مِّمَّا قَبۡلَهَا، لَٰكِنَّهَا بِإِعَادَةِ الۡعَامِلِ، وَهُوَ (إِلَّا)؛ كَأَنَّهُ قَالَ: (إِلَّا ذِكۡرٌ لِّمَنۡ شَاءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ)، فَخَصَّ بَعۡدَ التَّعۡمِيمِ، وَأَمَّا مَنۡ لَّا يَشَاءُ الۡاِسۡتِقَامَةَ فَإِنَّهُ لَا يَتَذَكَّرُ بِهَٰذَا الۡقُرۡءَانِ وَلَا يَنۡتَفِعُ بِهِ؛ كَمَا قَالَ تَعَالَىٰ: ﴿إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَذِكۡرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُۥ قَلۡبٌ أَوۡ أَلۡقَى ٱلسَّمۡعَ وَهُوَ شَهِيدٌ﴾ [ق: ٣٧].

“(Yaitu) bagi siapa di antara kalian yang menghendaki menempuh jalan yang lurus.” (QS At-Takwir: 28). “Bagi siapa yang menghendaki” kalimat ini adalah badal (pengganti) dari kalimat sebelumnya, tetapi dengan mengulang ‘amil-nya yaitu illa, seolah-olah Dia berkata: “melainkan peringatan bagi siapa di antara kalian yang menghendaki untuk istikamah.” Maka ia bersifat mengkhususkan setelah pengumuman. Adapun orang yang tidak menghendaki keistikamahan, maka ia tidak akan mengingat dengan Al-Qur’an ini dan tidak mengambil manfaat darinya sebagaimana firman Allah taala:

إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَذِكۡرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُۥ قَلۡبٌ أَوۡ أَلۡقَى ٱلسَّمۡعَ وَهُوَ شَهِيدٌ

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (QS Qaf: 37).

فَالۡإِنۡسَانُ الَّذِي لَا يُرِيدُ الۡاِسۡتِقَامَةَ لَا يُمۡكِنُ أَنۡ يَنۡتَفِعَ بِهَٰذَا الۡقُرۡءَانِ، وَلَٰكِنۡ إِذَا قَالَ قَائِلٌ: هَلۡ مَشِيئَةُ الۡإِنۡسَانِ بِاخۡتِيَارِهِ؟

Maka manusia yang tidak menginginkan keistikamahan tidak mungkin bisa mengambil manfaat dengan Al-Qur’an ini. Akan tetapi, jika seseorang bertanya: Apakah keinginan manusia itu berdasarkan pilihannya sendiri?

نَقُولُ: نَعَمۡ، مَشِيئَةُ الۡإِنۡسَانِ بِاخۡتِيَارِهِ؛ فَاللهُ عَزَّ وَجَلَّ جَعَلَ لِلۡإِنۡسَانِ اخۡتِيَارًا وَإِرَادَةً، إِنۡ شَاءَ فَعَلَ وَإِنۡ شَاءَ لَمۡ يَفۡعَلۡ؛ لِأَنَّهُ لَوۡ لَمۡ يَكُنۡ كَذٰلِكَ لَمۡ تَقُمِ الۡحُجَّةُ عَلَى الۡخَلۡقِ الَّذِينَ أُرۡسِلَتۡ إِلَيۡهِمُ الرُّسُلُ بِإِرۡسَالِ الرُّسُلِ، فَمَا نَفۡعَلُهُ هُوَ بِاخۡتِيَارِنَا وَإِرَادَتِنَا، وَلَوۡلَا ذٰلِكَ مَا كَانَ لِإِرۡسَالِ الرُّسُلِ حُجَّةٌ عَلَيۡنَا، فَالۡإِنۡسَانُ لَا شَكَّ فَاعِلٌ بِاخۡتِيَارِهِ.

Kami katakan: Ya, kehendak manusia itu berdasarkan pilihannya sendiri. Allah—‘azza wa jalla—telah memberikan pilihan dan kemauan bagi manusia. Jika dia menghendaki maka dia melakukan (suatu perbuatan) dan jika dia menghendaki maka dia tidak melakukannya; karena seandainya tidak demikian, niscaya tidak akan tegak hujah atas para makhluk yang diutus para rasul kepada mereka dengan diutusnya para rasul tersebut. Maka apa yang kita lakukan adalah dengan pilihan dan kemauan kita sendiri, dan seandainya tidak demikian, niscaya pengutusan para rasul tidak bisa menjadi alasan untuk menyalahkan kita. Oleh karena itu, manusia tidak diragukan lagi adalah pelaku yang bertindak berdasarkan pilihannya sendiri.

وَكُلُّ إِنۡسَانٍ يَعۡرِفُ أَنَّهُ إِذَا أَرَادَ أَنۡ يَذۡهَبَ إِلَىٰ مَكَّةَ فَهُوَ بِاخۡتِيَارِهِ، وَإِذَا أَرَادَ أَنۡ يَذۡهَبَ إِلَى الۡمَدِينَةِ فَهُوَ بِاخۡتِيَارِهِ، وَإِذَا أَرَادَ أَنۡ يَذۡهَبَ إِلَىٰ بَيۡتِ الۡمَقۡدِسِ فَهُوَ بِاخۡتِيَارِهِ، وَإِذَا أَرَادَ أَنۡ يَذۡهَبَ إِلَى الرِّيَاضِ فَهُوَ بِاخۡتِيَارِهِ، أَوۡ إِلَىٰ أَيِّ شَيۡءٍ أَرَادَهُ فَهُوَ بِاخۡتِيَارِهِ، لَا يَرَىٰ أَنَّ أَحَدًا أَجۡبَرَهُ عَلَيۡهِ، وَلَا يَشۡعُرُ أَنَّ أَحَدًا أَجۡبَرَهُ عَلَىٰ ذٰلِكَ، كَذٰلِكَ أَيۡضًا مَنۡ أَرَادَ أَنۡ يَقُومَ بِطَاعَةِ اللهِ فَهُوَ بِاخۡتِيَارِهِ، وَمَنۡ أَرَادَ أَنۡ يَعۡصِيَ اللهَ فَهُوَ بِاخۡتِيَارِهِ؛ فَلِلۡإِنۡسَانِ مَشِيئَةٌ، وَلٰكِنۡ نَعۡلَمُ عِلۡمَ الۡيَقِينِ أَنَّهُ مَا شَاءَ شَيۡئًا إِلَّا وَقَدۡ شَاءَهُ اللهُ مِنۡ قَبۡلُ.

Dan setiap manusia mengetahui bahwa jika dia ingin pergi ke Makkah, maka hal itu adalah atas pilihannya sendiri. Jika dia ingin pergi ke Madinah, maka hal itu atas pilihannya sendiri. Jika dia ingin pergi ke Baitulmaqdis, maka hal itu atas pilihannya sendiri. Dan jika dia ingin pergi ke Riyadh, maka hal itu atas pilihannya sendiri. Atau ke mana pun yang dia inginkan, maka hal itu atas pilihannya sendiri. Dia tidak melihat ada seseorang yang memaksanya untuk melakukan hal itu dan tidak pula merasakan ada seseorang yang memaksanya atas hal tersebut. Demikian pula halnya, barang siapa yang ingin melaksanakan ketaatan kepada Allah, maka hal itu adalah atas pilihannya sendiri, dan barang siapa yang ingin bermaksiat kepada Allah, maka hal itu atas pilihannya sendiri. Manusia memang memiliki kehendak, akan tetapi kita mengetahui dengan seyakin-yakinnya bahwa tidaklah dia menghendaki sesuatu melainkan Allah telah menghendakinya terlebih dahulu.

Ayat Ke-29

وَلِهٰذَا قَالَ: ﴿وَمَا تَشَآءُونَ إِلَّآ أَن يَشَآءَ ٱللَّهُ﴾ مَا نَشَاءُ شَيۡئًا إِلَّا بَعۡدَ أَنۡ يَكُونَ اللهُ قَدۡ شَاءَهُ، فَإِذَا شِئۡنَا الشَّيۡءَ عَلِمۡنَا أَنَّ اللهُ قَدۡ شَاءَهُ، وَلَوۡلَا أَنَّ اللهَ شَاءَهُ مَا شِئۡنَاهُ، كَمَا قَالَ تَعَالَىٰ: ﴿وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلَ ٱلَّذِينَ مِنۢ بَعۡدِهِم مِّنۢ بَعۡدِ مَا جَآءَتۡهُمُ ٱلۡبَيِّنَٰتُ وَلَٰكِنِ ٱخۡتَلَفُوا۟ فَمِنۡهُم مَّنۡ ءَامَنَ وَمِنۡهُم مَّن كَفَرَ ۚ وَلَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَا ٱقۡتَتَلُوا۟﴾ [البقرة: ٢٥٣].

Oleh karena itu, Dia berfirman, “Dan kalian tidak dapat menghendaki (sesuatu) kecuali apabila dikehendaki Allah.” Tidaklah kita menghendaki sesuatu melainkan setelah Allah benar-benar telah menghendakinya. Maka apabila kita menghendaki sesuatu, kita mengetahui bahwa Allah telah menghendakinya, dan seandainya bukan karena Allah menghendakinya, niscaya kita tidak akan menghendakinya. Sebagaimana firman-Nya taala: “Dan kalau Allah menghendaki, niscaya orang-orang setelah mereka tidak akan berbunuh-bunuhan, setelah beberapa macam keterangan sampai kepada mereka. Tetapi mereka berselisih, maka ada di antara mereka yang beriman dan ada pula di antara mereka yang kafir. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak berbunuh-bunuhan.” (QS Al-Baqarah: 253).

فَنَحۡنُ إِذَا عَمِلۡنَا الشَّيۡءَ نَعۡمَلُهُ بِمَشِيئَتِنَا وَاخۡتِيَارِنَا، وَلٰكِنۡ نَعۡلَمُ أَنَّ هٰذِهِ الۡمَشِيئَةَ وَالۡاِخۡتِيَارَ كَانَتۡ بَعۡدَ مَشِيئَةِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَوۡ شَاءَ اللهُ مَا فَعَلۡنَا.

Maka kita apabila melakukan sesuatu, kita melakukannya dengan kehendak dan pilihan kita sendiri, akan tetapi kita mengetahui bahwa kehendak dan pilihan ini ada setelah kehendak Allah—‘azza wa jalla—, dan seandainya Allah tidak menghendaki, niscaya kita tidak akan melakukannya.

Loading

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *