Tafsir Surah At-Takwir

ismail  

فَإِنۡ قَالَ قَائِلٌ: إِذَنۡ لَنَا حُجَّةٌ فِي الۡمَعۡصِيَةِ؛ لِأَنَّنَا مَا شِئۡنَاهَا إِلَّا بَعۡدَ أَنۡ شَاءَهَا اللهُ.

Maka jika ada seseorang yang berkata: “Kalau begitu, kita memiliki alasan untuk melakukan maksiat karena tidaklah kita menghendaki maksiat tersebut melainkan setelah Allah menghendakinya.”

فَالۡجَوَابُ: أَنَّهُ لَا حُجَّةَ لَنَا؛ لِأَنَّنَا لَمۡ نَعۡلَمۡ أَنَّ اللهَ شَاءَهَا إِلَّا بَعۡدَ أَنۡ فَعَلۡنَاهَا، وَفِعۡلُنَا إِيَّاهَا بِاخۡتِيَارِنَا؛ وَلِهٰذَا لَا يُمۡكِنُ أَنۡ نَقُولَ: إِنَّ اللهَ شَاءَ كَذَا. إِلَّا بَعۡدَ أَنۡ يَقَعَ، فَإِذَا وَقَعَ فَبِأَيِّ شَيۡءٍ وَقَعَ؟ وَقَعَ بِإِرَادَتِنَا وَمَشِيئَتِنَا؛ لِهٰذَا لَا يَتَّجِهُ أَنۡ يَكُونَ لِلۡعَاصِي حُجَّةٌ عَلَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Maka jawabannya adalah: Bahwasanya kita tidak memiliki alasan sama sekali, karena kita tidak mengetahui bahwa Allah telah menghendaki maksiat tersebut melainkan setelah kita melakukannya, dan kita melakukannya atas pilihan kita sendiri. Oleh karena itu, tidak mungkin kita mengatakan bahwa Allah menghendaki demikian melainkan setelah hal itu terjadi. Lalu jika hal itu telah terjadi, dengan apa hal itu bisa terjadi? Hal itu terjadi dengan kemauan dan kehendak kita sendiri. Oleh karena itu, tidaklah tepat jika pelaku maksiat memiliki alasan untuk mengelak di hadapan Allah—‘azza wa jalla—.

وَقَدۡ أَبۡطَلَ اللهُ هٰذِهِ الۡحُجَّةَ فِي قَوۡلِهِ: ﴿سَيَقُولُ ٱلَّذِينَ أَشۡرَكُوا۟ لَوۡ شَآءَ ٱللَّهُ مَآ أَشۡرَكۡنَا وَلَآ ءَابَآؤُنَا وَلَا حَرَّمۡنَا مِن شَىۡءٍ ۚ كَذَٰلِكَ كَذَّبَ ٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِهِمۡ حَتَّىٰ ذَاقُوا۟ بَأۡسَنَا ﴾ [الأنعام: ١٤٨]، فَلَوۡلَا أَنَّهُ لَا حُجَّةَ لَهُمۡ مَا ذَاقُوا بَأۡسَ اللهِ، وَلَسَلِمُوا مِنۡ بَأۡسِ اللهِ، وَلٰكِنَّهُ لَا حُجَّةَ لَهُمۡ؛ فَلِهٰذَا ذَاقُوا بَأۡسَ اللهِ.

Dan Allah benar-benar telah membatalkan alasan ini dalam firman-Nya:

Orang-orang musyrik akan berkata, “Jika Allah menghendaki, tentu kami tidak mempersekutukan-Nya dan begitu pula bapak-bapak kami, dan kami tidak akan mengharamkan apa pun.” Demikianlah orang-orang sebelum mereka telah mendustakan (para rasul) sampai mereka merasakan azab Kami.

QS Al-An’am: 148

Seandainya mereka memiliki alasan, niscaya mereka tidak akan merasakan azab Allah dan pasti akan selamat dari azab Allah. Akan tetapi, kenyataannya mereka tidak memiliki alasan sama sekali, oleh karena itulah mereka merasakan azab Allah.

وَكُلُّنَا نَعۡلَمُ أَنَّ الۡإِنۡسَانَ لَوۡ ذُكِرَ لَهُ أَنَّ بَلَدًا آمِنًا مُطۡمَئِنًّا، يَأۡتِيهِ رِزۡقُهُ رَغَدًا مِنۡ كُلِّ مَكَانٍ، فِيهِ مِنَ الۡمَتَاجِرِ وَالۡمَكَاسِبِ مَا لَا يُوجَدُ فِي الۡبِلَادِ الۡأُخۡرَىٰ، وَأَنَّ بَلَدًا آخَرَ بَلَدٌ خَائِفٌ غَيۡرُ مُسۡتَقِرٍّ، مُضۡطَرِبٌ فِي الۡاِقۡتِصَادِ، مُضۡطَرِبٌ فِي الۡخَوۡفِ وَالۡأَمۡنِ، فَإِلَىٰ أَيِّهِمَا يَذۡهَبُ؟ بِالتَّأۡكِيدِ سَيَذۡهَبُ إِلَى الۡأَوَّلِ وَلَا شَكَّ، وَلَا يَرَىٰ أَنَّ أَحَدًا أَجۡبَرَهُ أَنۡ يَذۡهَبَ إِلَى الۡأَوَّلِ، يَرَىٰ أَنَّهُ ذَهَبَ إِلَى الۡأَوَّلِ بِمَحۡضِ إِرَادَتِهِ، وَهٰكَذَا الۡآنَ طَرِيقُ الۡخَيۡرِ وَطَرِيقُ الشَّرِّ، فَاللهُ بَيَّنَ لَنَا: هٰذِهِ طَرِيقُ جَهَنَّمَ، وَهٰذِهِ طَرِيقُ الۡجَنَّةِ، وَبَيَّنَ لَنَا مَا فِي الۡجَنَّةِ مِنَ النَّعِيمِ، وَمَا فِي النَّارِ مِنَ الۡعَذَابِ. فَأَيَّهُمَا نَسۡلُكُ؟ بِالۡقِيَاسِ الۡوَاضِحِ الۡجَلِيِّ أَنَّنَا سَنَسۡلُكُ طَرِيقَ الۡجَنَّةِ لَا شَكَّ، كَمَا أَنَّنَا فِي الۡمِثَالِ الَّذِي قَبۡلُ نَسۡلُكُ طَرِيقَ الۡبَلَدِ الۡآمِنِ الَّذِي يَأۡتِيهِ رِزۡقُهُ رَغَدًا مِنۡ كُلِّ مَكَانٍ.

Dan kita semua mengetahui bahwa seandainya disebutkan kepada seseorang mengenai suatu negeri yang aman lagi tenteram, rezekinya datang melimpah ruah dari segenap tempat, di dalamnya terdapat berbagai perniagaan dan keuntungan yang tidak dijumpai di negeri-negeri lain; lalu ada negeri lain yang merupakan negeri yang mencekam lagi tidak stabil, perekonomiannya goncang, serta keamanannya kacau-balau, maka ke negeri manakah dia akan pergi? Tentu saja dia akan pergi ke negeri yang pertama tanpa ragu, dan dia tidak memandang ada seseorang yang memaksanya untuk pergi ke negeri yang pertama itu, melainkan dia memandang bahwa dia pergi ke negeri yang pertama itu murni atas kemauannya sendiri. Demikian pulalah sekarang halnya dengan jalan kebaikan dan jalan keburukan. Allah telah menjelaskan kepada kita: ini jalan menuju neraka jahanam dan ini jalan menuju janah, serta menjelaskan kepada kita kenikmatan apa saja yang ada di janah dan azab apa saja yang ada di neraka. Maka jalan manakah yang akan kita tempuh? Berdasarkan kias yang jelas lagi terang, kita tentu akan menempuh jalan janah tanpa ragu, sebagaimana kita pada contoh sebelumnya menempuh jalan menuju negeri yang aman yang rezekinya datang melimpah ruah dari segenap tempat.

ولَوۡ أَنَّنَا سَلَكۡنَا طَرِيقَ النَّارِ فَإِنَّهُ سَيَكُونُ عَلَيۡنَا الۡعَتَبُ وَالتَّوۡبِيخُ وَاللَّوۡمُ، وَيُنَادَىٰ عَلَيۡنَا بِالسَّفَهِ، كَمَا لَوۡ سَلَكۡنَا فِي الۡمِثَالِ الۡأَوَّلِ طَرِيقَ الۡبَلَدِ الۡمَخُوفِ الۡمُتَزَعۡزِعِ الَّذِي لَيۡسَ فِيهِ اسۡتِقۡرَارٌ، فَإِنَّ كُلَّ أَحَدٍ يَلُومُنَا وَيُوَبِّخُنَا.

Seandainya kita menempuh jalan neraka, maka tentu kita layak mendapatkan celaan, kecaman, dan cacian, serta kita akan dicap sebagai orang bodoh. Sebagaimana halnya jika pada contoh pertama kita menempuh jalan menuju negeri yang mencekam lagi goyah yang tidak ada stabilitas di dalamnya, niscaya setiap orang akan mencela dan mengecam kita.

إِذًا فَفِي قَوۡلِهِ: ﴿لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ﴾ تَقۡرِيرٌ لِكَوۡنِ الۡإِنۡسَانِ يَفۡعَلُ الشَّيۡءَ بِمَشِيئَتِهِ وَاخۡتِيَارِهِ، وَلٰكِنۡ بَعۡدَ أَنۡ يَفۡعَلَ الشَّيۡءَ وَيَشَاءَ الشَّيۡءَ نَعۡلَمُ أَنَّ اللهَ قَدۡ شَاءَهُ مِنۡ قَبۡلُ، وَلَوۡ شَاءَ اللهُ مَا فَعَلَهُ، وَكَثِيرًا مَا يَعۡزِمُ الۡإِنۡسَانُ عَلَىٰ شَيۡءٍ وَيَتَّجِهُ بَعۡدَ الۡعَزِيمَةِ إِلَىٰ هٰذَا الشَّيۡءِ، وَفِي لَحۡظَةٍ يَجِدُ نَفۡسَهُ مُنۡصَرِفًا عَنۡهُ، أَوۡ يَجِدُ نَفۡسَهُ مَصۡرُوفًا عَنۡهُ؛ لِأَنَّ اللهَ لَمۡ يَشَأۡهُ، كَثِيرًا مَا نُرِيدُ أَنۡ نَذۡهَبَ مَثَلًا إِلَى الۡمَسۡجِدِ لِنَسۡتَمِعَ إِلَىٰ مُحَاضَرَةٍ، وَإِذَا بِنَا نَنۡصَرِفُ بِسَبَبٍ أَوۡ بِغَيۡرِ سَبَبٍ، أَحۡيَانًا بِسَبَبٍ بِحَيۡثُ نَتَذَكَّرُ أَنَّ لَنَا شُغۡلًا فَنَرۡجِعُ، وَأَحۡيَانًا نَرۡجِعُ بِدُونِ سَبَبٍ لَا نَدۡرِي إِلَّا وَقَدۡ صَرَفَ اللهُ تَعَالَىٰ هِمَّتَنَا عَنۡ ذٰلِكَ فَرَجَعۡنَا؛ وَلِهٰذَا قِيلَ لِأَعۡرَابِيٍّ: بِمَ عَرَفۡتَ رَبَّكَ؟ قَالَ: بِنَقۡضِ الۡعَزَائِمِ، وَصَرۡفِ الۡهِمَمِ.

Oleh karena itu, dalam firman-Nya: “bagi siapa di antara kalian yang menghendaki menempuh jalan yang lurus” terdapat ketetapan bahwa manusia melakukan sesuatu berdasarkan kehendak dan pilihannya sendiri. Akan tetapi, setelah dia melakukan sesuatu dan menghendaki sesuatu tersebut, kita mengetahui bahwa Allah telah menghendakinya terlebih dahulu, dan seandainya Allah tidak menghendaki niscaya dia tidak akan melakukannya. Betapa sering manusia membulatkan tekad atas sesuatu lalu melangkah menuju hal tersebut setelah adanya tekad, namun dalam sekejap dia mendapati dirinya berpaling darinya atau dipalingkan darinya; karena Allah tidak menghendakinya. Betapa sering kita ingin pergi ke masjid—misalnya—untuk mendengarkan ceramah, namun tiba-tiba kita berpaling baik karena suatu sebab maupun tanpa sebab. Terkadang karena suatu sebab seperti kita teringat memiliki suatu urusan lalu kita kembali pulang, dan terkadang kita kembali pulang tanpa sebab; kita tidak menyadari melainkan Allah taala telah memalingkan keinginan kuat kita dari hal tersebut sehingga kita pun kembali pulang. Oleh karena itu, pernah dikatakan kepada seorang Arab badui, “Dengan apa kamu mengenal Rabmu?” Dia menjawab, “Dengan dibatalkannya berbagai tekad dan dipalingkannya berbagai keinginan kuat.”

(بِنَقۡضِ الۡعَزَائِمِ) يَعۡنِي: الۡإِنۡسَانَ يَعۡزِمُ عَلَى الشَّيۡءِ عَزۡمًا مُؤَكَّدًا، وَإِذَا بِهِ يَنۡتَقِضُ!! مَنۡ نَقَضَ عَزِيمَتَهُ، لَا يَشۡعُرُ أَنَّ هُنَاكَ مُرَجِّحًا أَوۡجَبَ أَنۡ يَعۡدِلَ عَنِ الۡعَزِيمَةِ الۡأُولَىٰ، بَلۡ بِمَحۡضِ إِرَادَةِ اللهِ.

“Dengan dibatalkannya berbagai tekad” artinya manusia membulatkan tekad pada sesuatu dengan tekad yang kuat, namun tiba-tiba tekad itu batal. Siapakah yang membatalkan tekadnya? Dia tidak merasakan adanya faktor penguat yang mengharuskan dirinya beralih dari tekad semula, melainkan hal itu terjadi murni karena kehendak Allah.

(صَرۡفِ الۡهِمَمِ) يَهُمُّ الۡإِنۡسَانُ بِالشَّيۡءِ وَيَتَّجِهُ إِلَيۡهِ تَمَامًا وَإِذَا بِهِ يَجِدُ نَفۡسَهُ مُنۡصَرِفًا عَنۡهُ سَوَاءً كَانَ الصَّارِفُ مَانِعًا حِسِّيًّا، أَوۡ كَانَ الصَّارِفُ مُجَرَّدَ اخۡتِيَارٍ.. اِخۡتَارَ الۡإِنۡسَانُ أَنۡ يَنۡصَرِفَ، كُلُّ هٰذَا مِنَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ.

“Dipalingkannya berbagai keinginan kuat” yaitu manusia menginginkan sesuatu dan sudah benar-benar melangkah menuju ke sana, namun tiba-tiba dia mendapati dirinya berpaling dari hal tersebut, baik faktor pemalingnya berupa penghalang yang bersifat indrawi maupun faktor pemalingnya sekadar pilihan belaka yang mana manusia itu sendiri memilih untuk berpaling. Semua hal ini berasal dari Allah—‘azza wa jalla.

Loading

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *