Tafsir Surah At-Takwir

ismail  

فَالۡحَاصِلُ: أَنَّ اللهَ يَقُولُ: ﴿لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ﴾، وَالۡاِسۡتِقَامَةُ هِيَ الۡاِعۡتِدَالُ، وَلَا عَدۡلَ أَقۡوَمُ مِنۡ عَدۡلِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِي شَرِيعَتِهِ، فِي الشَّرَائِعِ السَّابِقَةِ كَانَتِ الشَّرَائِعُ تُنَاسِبُ حَالَ الۡأُمَمِ زَمَانًا وَمَكَانًا وَحَالًا، وَبَعۡدَ بَعۡثَةِ الرَّسُولِ ﷺ كَانَتۡ شَرِيعَتُهُ تُنَاسِبُ الۡأُمَّةَ الَّتِي بُعِثَ النَّبِيُّ ﷺ إِلَيۡهَا مِنۡ أَوَّلِ بَعۡثَتِهِ إِلَىٰ نِهَايَةِ الدُّنۡيَا؛ وَلِهٰذَا كَانَ مِنَ الۡعِبَارَاتِ الۡمَعۡرُوفَةِ (أَنَّ الدِّينَ الۡإِسۡلَامِيَّ صَالِحٌ لِكُلِّ زَمَانٍ وَمَكَانٍ وَحَالٍ)، لَوۡ تَمَسَّكَ النَّاسُ بِهِ لَأَصۡلَحَ اللهُ الۡخَلۡقَ.

Kesimpulannya, bahwasanya Allah berfirman: “bagi siapa di antara kalian yang menghendaki beristikamah (menempuh jalan yang lurus),” istikamah itu adalah ketegakan/keadilan, dan tidak ada keadilan yang lebih lurus daripada keadilan Allah—‘azza wa jalla—di dalam syariat-Nya. Pada syariat-syariat terdahulu, syariat tersebut menyesuaikan dengan kondisi umat-umat kala itu secara zaman, tempat, dan keadaan. Namun setelah pengutusan Rasul—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, syariat beliau sesuai untuk umat yang Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—diutus kepada mereka sejak awal pengutusannya hingga akhir dunia. Oleh karena itu, termasuk ungkapan yang masyhur adalah “sesungguhnya agama Islam itu layak/sesuai untuk setiap zaman, tempat, dan keadaan”. Seandainya manusia berpegang teguh kepadanya, niscaya Allah akan memperbaiki keadaan para makhluk.

اُنۡظُرۡ مَثَلًا الۡإِنۡسَانَ يُصَلِّي أَوَّلًا قَائِمًا، فَإِنۡ عَجَزَ فَقَاعِدًا، فَإِنۡ عَجَزَ فَعَلَىٰ جَنۡبٍ، إِذَنۡ الشَّرِيعَةُ تَتَطَوَّرُ بِحَسَبِ حَالِ الشَّخۡصِ؛ لِأَنَّ الدِّينَ صَالِحٌ لِكُلِّ زَمَانٍ وَمَكَانٍ وَحَالٍ.

Lihatlah sebagai contoh, seseorang pada awalnya salat dengan berdiri, jika tidak mampu maka dengan duduk, dan jika tidak mampu maka dengan berbaring miring. Oleh karena itu, syariat menyesuaikan keadaan seseorang; karena agama ini layak untuk setiap zaman, tempat, dan keadaan.

يَجِبُ عَلَى الۡمُحۡدِثِ أَنۡ يَتَطَهَّرَ بِالۡمَاءِ، فَإِنۡ تَعَذَّرَ اسۡتِعۡمَالُ الۡمَاءِ لِعَجۡزٍ أَوۡ عَدَمٍ عَدَلَ إِلَى التَّيَمُّمِ، فَإِنۡ لَمۡ يُوجَدۡ وَلَا تُرَابٌ، أَوۡ كَانَ عَاجِزًا عَنِ اسۡتِعۡمَالِ التُّرَابِ فَإِنَّهُ يُصَلِّي بِلَا شَيۡءٍ، لَا بِطَهَارَةِ مَاءٍ وَلَا بِطَهَارَةِ تَيَمُّمٍ، كُلُّ هٰذَا لِأَنَّ شَرِيعَةَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ كُلَّهَا مَبۡنِيَّةٌ عَلَى الۡعَدۡلِ، لَيۡسَ فِيهَا جَوۡرٌ، وَلَيۡسَ فِيهَا ظُلۡمٌ، وَلَيۡسَ فِيهَا حَرَجٌ، لَيۡسَ فِيهَا مَشَقَّةٌ؛ وَلِهٰذَا قَالَ: ﴿أَن يَسۡتَقِيمَ﴾ وَضِدُّ الۡاِسۡتِقَامَةِ انۡحِرَافَانِ: اِنۡحِرَافٌ إِلَىٰ جَانِبِ الۡإِفۡرَاطِ وَالۡغُلُوِّ، وَانۡحِرَافٌ إِلَىٰ جَانِبِ التَّفۡرِيطِ وَالتَّقۡصِيرِ؛ وَلِهٰذَا كَانَ النَّاسُ فِي دِينِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ ثَلَاثَةَ أَشۡكَالٍ: طَرَفَانِ وَوَسَطٌ، طَرَفٌ غَالٍ مُبَالِغٌ مُتَنَطِّعٌ مُتَعَنِّتٌ، وَطَرَفٌ آخَرُ مُفَرِّطٌ مُقَصِّرٌ مُهۡمِلٌ، الثَّالِثُ: وَسَطٌ بَيۡنَ الۡإِفۡرَاطِ وَالتَّفۡرِيطِ، مُسۡتَقِيمٌ عَلَىٰ دِينِ اللهِ، هٰذَا هُوَ الَّذِي يُحۡمَدُ، أَمَّا الۡأَوَّلُ الۡغَالِي، وَالثَّانِي الۡجَافِي فَكِلَاهُمَا هَالِكٌ بِحَسَبِ مَا عِنۡدَهُ مِنَ الۡغُلُوِّ، أَوۡ مِنَ التَّقۡصِيرِ، وَقَدۡ نَهَى النَّبِيُّ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَنِ الۡغُلُوِّ وَالۡإِفۡرَاطِ وَالتَّعَنُّتِ وَالتَّنَطُّعِ حَتَّىٰ إِنَّهُ قَالَ: (هَلَكَ الۡمُتَنَطِّعُونَ، هَلَكَ الۡمُتَنَطِّعُونَ، هَلَكَ الۡمُتَنَطِّعُونَ)؛ لِأَنَّ التَّنَطُّعَ فِيهِ إِشۡقَاقٌ عَلَى النَّفۡسِ، وَفِيهِ خُرُوجٌ عَنۡ دِينِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ؛ كَمَا أَنَّهُ ذَمَّ الۡمُفَرِّطِينَ الۡمُهۡمِلِينَ وَقَالَ فِي وَصۡفِ الۡمُنَافِقِينَ: ﴿وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ﴾ [النساء: ١٤٢].

Wajib bagi orang yang berhadas untuk bersuci dengan air. Jika penggunaan air itu berhalangan karena ketidakmampuan atau ketiadaan air, maka beralih kepada tayamum. Lalu jika tidak ada air dan tidak ada pula debu, atau dia tidak mampu menggunakan debu, maka sesungguhnya dia tetap salat tanpa menggunakan apa-apa, tidak dengan bersuci menggunakan air dan tidak pula dengan bersuci menggunakan tayamum. Semua ini karena syariat Allah—‘azza wa jalla—seluruhnya dibangun di atas keadilan, tidak ada kezaliman di dalamnya, tidak ada aniaya, tidak ada kesempitan, dan tidak pula ada kesulitan. Oleh karena itu, Dia berfirman, “menempuh jalan yang lurus.”

Lawan dari istikamah (lurus) adalah dua penyimpangan: penyimpangan ke arah berlebih-lebihan dan melampaui batas, serta penyimpangan ke arah meremehkan dan melalaikan. Oleh karena itu, manusia dalam agama Allah—‘azza wa jalla—terbagi menjadi tiga golongan: dua golongan yang berada di kutub ekstrem dan satu golongan yang berada di tengah. Satu golongan bersikap melampaui batas, berlebihan, memberat-beratkan diri, dan kaku. Golongan lainnya bersikap meremehkan, melalaikan, dan masa bodoh. Golongan ketiga: berada di tengah-tengah antara berlebih-lebihan dan meremehkan, mereka istikamah di atas agama Allah, dan inilah golongan yang dipuji.

Adapun golongan pertama yang melampaui batas dan golongan kedua yang menjauh (meremehkan), maka keduanya binasa sesuai dengan kadar sikap melampaui batas atau kelalaian yang ada pada diri mereka. Nabi—‘alaihish-shalatu was-salam—benar-benar telah melarang dari sikap melampaui batas, berlebihan, kaku, dan memberat-beratkan diri, hingga beliau bersabda, “Binasalah orang-orang yang memberat-beratkan diri. Binasalah orang-orang yang memberat-beratkan diri. Binasalah orang-orang yang memberat-beratkan diri.”1 HR Muslim nomor 2670 dari hadis Ibnu Mas’ud.

Karena sikap memberat-beratkan diri itu mengandung unsur menyusahkan diri sendiri dan keluar dari koridor agama Allah—‘azza wa jalla—. Sebagaimana beliau juga mencela orang-orang yang meremehkan lagi masa bodoh. Allah berfirman dalam menyifati orang-orang munafik,

وَإِذَا قَامُوٓا۟ إِلَى ٱلصَّلَوٰةِ قَامُوا۟ كُسَالَىٰ

Dan apabila mereka berdiri untuk salat, mereka berdiri dengan malas.

QS An-Nisa’: 142

فَدِينُ اللهِ وَسَطٌ بَيۡنَ الۡغَالِي فِيهِ وَالۡجَافِي عَنۡهُ؛ وَلِهٰذَا قَالَ هُنَا: ﴿لِمَن شَآءَ مِنكُمۡ أَن يَسۡتَقِيمَ﴾ لَا يَمِيلُ يَمِينًا وَلَا شِمَالًا، يَكُونُ سَيۡرُهُ سَيۡرَ اسۡتِقَامَةٍ عَلَىٰ دِينِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَالۡاِسۡتِقَامَةُ كَمَا تَكُونُ فِي مُعَامَلَةِ الۡخَالِقِ عَزَّ وَجَلَّ -وَهِيَ الۡعِبَادَةُ- تَكُونُ أَيۡضًا فِي مُعَامَلَةِ الۡمَخۡلُوقِ، فَكُنۡ مَعَ النَّاسِ بَيۡنَ طَرَفَيۡنِ، بَيۡنَ طَرَفَيِ الشِّدَّةِ وَالۡغِلۡظَةِ وَالۡعُبُوسِ، وَطَرَفِ التَّرَاخِي وَالتَّهَاوُنِ وَبَذۡلِ النَّفۡسِ وَانۡحِطَاطِ الرُّتۡبَةِ، كُنۡ حَازِمًا مِنۡ وَجۡهٍ، وَلَيِّنًا مِنۡ وَجۡهٍ.

Jadi, agama Allah itu berada di tengah-tengah antara orang yang melampaui batas di dalamnya dan orang yang menjauh (meremehkan) darinya. Oleh karena itu, Dia berfirman di sini, “bagi siapa di antara kalian yang menghendaki menempuh jalan yang lurus” tidak condong ke kanan dan tidak pula ke kiri. Perjalanannya merupakan perjalanan yang lurus di atas agama Allah—‘azza wa jalla—.

Istikamah itu, sebagaimana ada dalam bermuamalah dengan Sang Pencipta— ‘azza wa jalla—, yaitu ibadah, ada pula dalam bermuamalah dengan makhluk. Jadilah kamu bersama manusia di antara dua kutub ekstrem: antara kutub sikap keras, kaku, dan bermuka masam, dengan kutub sikap terlalu longgar, meremehkan, merendahkan diri secara berlebihan, dan menjatuhkan martabat. Jadilah orang yang tegas pada satu sisi dan lembut pada sisi yang lain.

وَلِهٰذَا قَالَ الۡفُقَهَاءُ رَحِمَهُمُ اللهُ فِي الۡقَاضِي: (يَنۡبَغِي أَنۡ يَكُونَ لَيِّنًا مِنۡ غَيۡرِ ضَعۡفٍ، قَوِيًّا مِنۡ غَيۡرِ عُنۡفٍ)، فَلَا يَكُونُ لِينُهُ يَشۡطَحُ بِهِ إِلَى الضَّعۡفِ، وَلَا قُوَّتُهُ إِلَى الۡعُنۡفِ، يَكُونُ بَيۡنَ ذٰلِكَ، لَيِّنًا مِنۡ غَيۡرِ ضَعۡفٍ، قَوِيًّا مِنۡ غَيۡرِ عُنۡفٍ؛ حَتَّىٰ تَسۡتَقِيمَ الۡأُمُورُ، فَبَعۡضُ النَّاسِ مَثَلًا يُعَامِلُ النَّاسَ دَائِمًا بِالۡعُبُوسِ وَالشِّدَّةِ وَإِشۡعَارِ نَفۡسِهِ بِأَنَّهُ فَوۡقَ النَّاسِ وَأَنَّ النَّاسَ تَحۡتَهُ، وَهٰذَا خَطَأٌ، وَمِنَ النَّاسِ مَنۡ يَحُطُّ قَدۡرَ نَفۡسِهِ وَيَتَوَاضَعُ إِلَىٰ حَدِّ التَّهَاوُنِ وَعَدَمِ الۡمُبَالَاةِ بِحَيۡثُ يَبۡقَىٰ بَيۡنَ النَّاسِ وَلَا حُرۡمَةَ لَهُ، وَهٰذَا أَيۡضًا خَطَأٌ، فَالۡوَاجِبُ أَنۡ يَكُونَ الۡإِنۡسَانُ بَيۡنَ هٰذَا وَبَيۡنَ هٰذَا كَمَا هُوَ هَدۡيُ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ، فَإِنَّهُ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ يَشۡتَدُّ فِي مَوۡضِعِ الشِّدَّةِ، وَيَلِينُ فِي مَوۡضِعِ اللَّينِ، فَيَجۡمَعُ الۡإِنۡسَانُ هُنَا بَيۡنَ الۡحَزۡمِ وَالۡعَزۡمِ، وَاللَّيۡنِ وَالۡعَطۡفِ وَالرَّحۡمَةِ.

Oleh karena itu, para ahli fikih—semoga Allah merahmati mereka—mengatakan tentang seorang hakim, “Seyogianya dia bersikap lembut tanpa ada unsur kelemahan dan bersikap tegas tanpa ada unsur kekerasan.”

Jangan sampai kelembutannya menyeretnya pada kelemahan dan jangan pula ketegasannya menyeretnya pada kekerasan. Hendaklah dia berada di antara hal itu; lembut tanpa menjadi lemah, tegas tanpa menjadi keras, sehingga segala perkara menjadi seimbang. Sebagian orang—misalnya—selalu memperlakukan manusia dengan bermuka masam dan keras, serta menanamkan kesan pada dirinya bahwa dia berada di atas manusia dan manusia berada di bawahnya. Ini adalah suatu kesalahan. Di antara manusia ada pula yang menjatuhkan harga dirinya dan berendah hati secara berlebihan hingga batas meremehkan dan acuh tak acuh, sekadar keberadaannya di tengah manusia tanpa memiliki kehormatan lagi. Ini juga suatu kesalahan.

Yang wajib adalah seseorang berada di antara ini dan itu, sebagaimana petunjuk Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan keluarganya. Sesungguhnya beliau—‘alaihish-shalatu was-salam—bersikap keras pada tempat yang butuh kekerasan dan bersikap lembut pada tempat yang butuh kelembutan. Di sinilah seseorang memadukan antara ketegasan dan kebulatan tekad, dengan kelembutan, kasih sayang, serta kerahmatan.

Loading

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *