مِنۡ آدَابِ الشَّرَابِ
١١ – وَعَنۡهُ [أَيۡ: عَنۡ أَبِي هُرَيۡرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ] قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَا يَشۡرَبَنَّ أَحَدٌ مِنۡكُمۡ قَائِمًا). أَخۡرَجَهُ مُسۡلِمٌ.
11. Dan darinya [yaitu: dari Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—], ia berkata: Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Janganlah sekali-kali salah seorang di antara kalian minum sambil berdiri.”[1] (HR. Muslim).
الشَّرۡحُ
Syarah
وَهٰذَا مِنۡ آدَابِ الشَّرَابِ، أَنَّ الۡأَفۡضَلَ أَنۡ يَشۡرَبَ الۡإِنۡسَانُ وَهُوَ جَالِسٌ، كَمَا كَانَ النَّبِيُّ ﷺ يَفۡعَلُ ذٰلِكَ.
Ini termasuk adab minum, bahwa yang lebih utama adalah seseorang minum dalam keadaan duduk, sebagaimana Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—melakukan hal itu.
وَمِنۡ آدَابِ الشَّرَابِ أَنۡ لَا يَشۡرَبَ بِنَفَسٍ وَاحِدٍ كَمَا يَشۡرَبُ الۡبَعِيرُ، وَإِنَّمَا يَشۡرَبُ (… بِثَلَاثَةِ أَنۡفَاسٍ)، وَيُخۡرِجُ فَمَهُ مِنَ الۡإِنَاءِ عِنۡدَ التَّنَفُّسِ، (لَا يَتَنَفَّسُ فِي الۡإِنَاءِ)؛ لِأَنَّ ذٰلِكَ يُقَذِّرُهُ عَلَىٰ مَنۡ بَعۡدَهُ فَيَشۡرَبُ بِثَلَاثَةِ أَنۡفَاسٍ فِي كُلِّ مَرَّةٍ يُخۡرِجُ فَمَهُ عَنِ الۡإِنَاءِ وَيَتَنَفَّسُ خَارِجَهُ، وَيَشۡرَبُ وَهُوَ جَالِسٌ، هٰذَا هُوَ الۡأَفۡضَلُ، وَيُكۡرَهُ أَنۡ يَشۡرَبَ وَهُوَ قَائِمٌ، وَلَا يَحۡرُمُ ذٰلِكَ؛ لِأَنَّ النَّبِيَّ ﷺ صَحَّ عَنۡهُ أَنَّهُ شَرِبَ وَهُوَ قَائِمٌ لِيُبَيِّنَ الۡجَوَازَ لِأُمَّتِهِ، فَقَدۡ جَاءَ إِلَىٰ زَمۡزَمَ بَعۡدَ مَا فَرَغَ مِنۡ طَوَافِ الۡعُمۡرَةِ وَالصَّلَاةِ عِنۡدَ مَقَامِ إِبۡرَاهِيمَ فِي طَوَافِ الۡإِفَاضَةِ يَوۡمَ النَّحۡرِ، جَاءَ إِلَىٰ زَمۡزَمَ وَتَنَاوَلَ دَلۡوًا مِنۡهَا وَشَرِبَ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ وَهُوَ قَائِمٌ، لِيُبَيِّنَ لِأُمَّتِهِ الۡجَوَازَ وَأَنَّهُ يَجُوزُ لِلۡإِنۡسَانِ أَنۡ يَشۡرَبَ وَهُوَ قَائِمٌ، وَلٰكِنَّ الۡأَفۡضَلَ أَنۡ يَشۡرَبَ وَهُوَ جَالِسٌ.
Dan di antara adab minum adalah tidak minum dengan satu kali napas sebagaimana unta minum, melainkan minum “dengan tiga kali napas”[2], dan menjauhkan mulutnya dari wadah saat bernapas, “tidak bernapas di dalam wadah”[3]; karena hal itu membuat orang setelahnya merasa jijik. Maka ia minum dengan tiga kali napas, yang mana pada setiap kali jeda ia menjauhkan mulutnya dari wadah dan bernapas di luarnya, serta minum dalam keadaan duduk. Inilah yang lebih utama.
Tidak disukai minum dalam keadaan berdiri, namun hal itu tidaklah haram; karena Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah sah diriwayatkan darinya bahwa beliau pernah minum sambil berdiri untuk menjelaskan kebolehannya bagi umat beliau. Sungguh beliau pernah mendatangi Zamzam setelah selesai dari tawaf umrah dan salat di sisi makam Ibrahim pada saat tawaf ifadah di hari Nahar. Beliau mendatangi Zamzam, mengambil satu timba air darinya, lalu beliau—‘alaihish-shalatu was-salam—meminumnya dalam keadaan berdiri, untuk menjelaskan kepada umatnya tentang kebolehannya dan bahwa seseorang boleh minum sambil berdiri[4], akan tetapi yang lebih utama adalah minum dalam keadaan duduk.
[1] HR Muslim nomor 2026.
[2] Sebagaimana terdapat dalam hadis yang dikeluarkan oleh Al-Bukhari nomor 5631 dan Muslim nomor 2028.
[3] Lihat: Shahih Al-Bukhari nomor 5630 dan Shahih Muslim nomor 267.
[4] Syekh—hafizhahullah—mengisyaratkan kepada hadis riwayat Muslim nomor 2027.
Sumber: Ithaf Al-Kiram bi Syarh Kitab Al-Jami’ fi Al-Akhlaq wa Al-Adab min Bulugh Al-Maram syarah Syekh Doktor Shalih bin Fauzan bin ‘Abdullah Al-Fauzan hafizhahullah
Be the first to leave a comment