Hukum ✍️ Menulis Wasiat

ismail  

حكم كتابة الوصية

🎙️ Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz (wafat 1420 H) rahimahullah

السؤال: 

Pertanyaan:

بعد هذا رسالة وصلت إلى البرنامج من المستمع (م) من الرياض، يقول: إذا مات إنسان ولم يكتب وصيته لجهله أو لغير ذلك، وعندما توفي هذا الشخص جاء أحد الناس وقال: لي في ذمة المتوفى مبلغًا معينًا، فقمنا برد ذلك المبلغ ولكن بعد فترة لضيق ذات اليد، فهل يعذب الميت حتى يقضى دينه وحالنا ما ذكرنا جزاكم الله خيرًا؟

Berikutnya adalah surat yang sampai ke program ini dari pendengar (M) di Riyadh, ia berkata, “Jika seseorang meninggal dunia dan tidak menulis wasiatnya karena ketidaktahuannya atau sebab lainnya, lalu ketika orang tersebut wafat, datanglah seseorang dan berkata: ‘Aku memiliki piutang pada tanggungan mendiang sejumlah uang tertentu.’ Kami pun telah mengembalikan uang tersebut, namun setelah beberapa lama karena kondisi ekonomi kami yang sedang sulit. Apakah jenazah tersebut disiksa sampai utangnya dilunasi, sementara kondisi kami adalah sebagaimana yang telah disebutkan? Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.”

الجواب:

Jawaban:

الوصية للميت مستحبة فيما ينفعه، إذا كان عنده مال كثير يستحب أن يوصي بالثلث أو بالربع أو بالخمس في وجوه البر وأعمال الخير ولا تجب عليه، لكن إذا أراد ذلك فينبغي له أن يبادر ويكتبها لقوله ﷺ: ما حق امرئ مسلم له شيء يوصي فيه يبيت ليلتين إلا ووصيته مكتوبة عنده خرجه الشيخان من حديث ابن عمر .

Wasiat hukumnya dianjurkan dalam hal-hal yang bermanfaat bagi orang yang meninggal. Jika ia memiliki harta yang banyak, dianjurkan baginya untuk mewasiatkan sepertiga, seperempat, atau seperlima (dari hartanya) untuk pintu-pintu kebajikan dan amal kebaikan, namun hal itu tidak wajib baginya. Akan tetapi, jika ia menginginkan hal tersebut, hendaknya ia segera menuliskannya berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

مَا حَقُّ امۡرِىءٍ مُسۡلِمٍ، لَهُ شَىۡءٌ يُوصِي فِيهِ، يَبِيتُ لَيۡلَتَيۡنِ إِلَّا وَوَصِيَّتُهُ مَكۡتُوبَةٌ عِنۡدَهُ

Tidak ada hak bagi seorang muslim yang memiliki sesuatu yang ingin ia wasiatkan, ia bermalam selama dua malam melainkan wasiatnya telah tertulis di sisinya.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari1 nomor 2738 dan Muslim2 nomor 1627 dari hadis Ibnu ‘Umar.

فإذا كان يحب أن يوصي فالسنة أن يبادر وأن يكتب الوصية التي يحب أن يوصي بها في ثلثه في ربعه في خمسه، في بيت معين، في نخل معين، أرض معينة، هذا هو المشروع له وهو الأفضل أن يبادر.

Maka jika ia ingin berwasiat, sunahnya adalah bersegera menulis wasiat yang ia inginkan tersebut, baik itu berupa sepertiga, seperempat, atau seperlima hartanya, atau berupa rumah tertentu, kebun kurma tertentu, atau tanah tertentu. Inilah yang disyariatkan baginya dan yang paling utama adalah bersegera melakukannya.

أما إذا كان عليه ديون أو عنده أمانات للناس فإن الوصية واجبة يجب أن يوصي بها وأن يبينها لمن خلفه، أن لفلان كذا ولفلان كذا، عنده أمانة لفلان حتى لا يجحدها الورثة، وحتى توصل إلى أهلها.

Adapun jika ia memiliki utang atau memiliki amanah milik orang lain (titipan), maka wasiat hukumnya wajib. Ia wajib berwasiat dan menjelaskannya kepada orang-orang yang ia tinggalkan; bahwa si fulan memiliki hak sekian dan si fulan memiliki hak sekian, atau ia memegang amanah milik si fulan agar tidak diingkari oleh ahli waris dan agar sampai kepada pemiliknya.

المقصود إذا كان عنده حقوق للناس فيجب عليه أن يوصي بالديون والأمانات ونحوها حتى يبرأ ذمته من حق الناس، نعم.

Maksudnya, jika ia memiliki tanggungan hak orang lain, maka wajib baginya berwasiat tentang utang, amanah, dan sejenisnya agar lepas tanggungannya dari hak manusia. Sekian.

المقدم: بارك الله فيكم، يقولون: إننا تأخرنا في تسديد ذلك الدين لضيق ذات اليد، فهل … ؟

Pewara:

Semoga Allah memberkahi Anda. Mereka berkata, “Sesungguhnya kami terlambat dalam melunasi utang tersebut karena kondisi ekonomi kami yang sedang sulit, maka apakah…?”

الشيخ: فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ [التغابن:16]، إذا أخروه لعجز مثلًا ما عندهم ما خلف تركة، وهم أحبوا يوفون عنه فلهم أجر ولا شيء عليهم.

Syekh:

فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ مَا ٱسۡتَطَعۡتُمۡ

Maka bertakwalah kepada Allah menurut kesanggupan kalian.

QS At-Taghabun: 16.

Jika mereka menundanya karena ketidakmampuan—misalnya mendiang tidak meninggalkan warisan sama sekali—sedangkan mereka ingin melunasi atas nama mendiang, maka mereka mendapatkan pahala dan tidak ada dosa bagi mereka.

أما إذا كان عنده تركة فالواجب البدار ببيعها وإيفاء الدين منها حتى لا يتأخر الدين؛ لقول النبي ﷺ: نفس المؤمن معلقة بدينه حتى يقضى عنه، فالبدار ببيع العقار حتى يوفى الدين، أو بيع المواشي والحيوانات أو الأمتعة الأخرى، كون الورثة يبادرون ببيع بعض التركة حتى يوفى عن الميت فهذا واجب، وللقاضي أن يلزمهم بذلك، إذا ترافعوا إلى المحكمة القاضي يلزمهم بذلك. نعم. 

Adapun jika mendiang memiliki harta warisan, maka wajib bersegera menjualnya dan melunasi utang darinya agar pelunasan utang tidak tertunda; berdasarkan sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

نَفۡسُ الۡمُؤۡمِنِ مُعَلَّقَةٌ بِدَيۡنِهِ حَتَّى يُقۡضَى عَنۡهُ

Jiwa seorang mukmin tergantung pada utangnya sampai utang itu dilunasi.3 (HR Ibnu Majah nomor 2413 dan At-Tirmidzi nomor 1078, 1079).

Maka wajib bersegera menjual tanah atau bangunan agar utang terlunasi, atau menjual hewan ternak maupun aset lainnya. Tindakan ahli waris yang bersegera menjual sebagian harta warisan untuk melunasi utang mendiang adalah suatu kewajiban, bahkan hakim berhak memaksa mereka melakukan itu jika perkara tersebut diajukan ke pengadilan. Sekian.

المقدم: بارك الله فيكم. 

Pewara:

Semoga Allah memberkahi Anda.

Sumber fatwa: Situs resmi Syekh Ibnu Baz.

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *