ضرورة الرجوع إلى أهل العلم لتصحيح المفاهيم المغلوطة
🎙️ Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz (wafat 1420 H) rahimahullah
السؤال:
Pertanyaan:
سماحة الشيخ لو تكرمتم بنصيحة لأولئك الذين يستمعون إلى الأشرطة والندوات بحيث يكون هناك تركيز حتى لا يكون الفهم مقلوبًا؟
Yang Mulia, mohon kiranya Anda memberi nasihat kepada mereka yang mendengarkan rekaman dan seminar dengan alasan bisa lebih konsentrasi sehingga pemahaman tidak terbalik?
الجواب:
Jawaban:
نعم على كل من يسمع الأشرطة، ويشك في شيء من معناها أن يسأل أهل العلم، بالكتابة بالهاتف، لا يسكت على شيء يجهله، أو كان صاحب الشريط غير معروف، قد يغلط صاحب الشريط، قد يكون ليس معروفًا من أهل العلم، قد يكون من الطلبة الذين ما عندهم بصيرة في العلم، فإذا سمع الرجل، أو المرأة ما يشكل عليه، أو يظن أنه خطأ، أو من إنسان غير معروف من أهل العلم يسأل، يسأل المعروفين من أهل العلم، بالمكاتبة، أو بالهاتف بالتلفون عما أشكل عليه؛ لأن الله سبحانه يقول: فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ [النحل:43]، وروي عنه ﷺ: أن قومًا أفتوا بغير علم، فقال -عليه الصلاة والسلام-: ألا سألوا إذ لم يعلموا؟! إنما شفاء العي السؤال.
Ya, setiap orang yang mendengarkan rekaman dan meragukan sebagian maknanya hendaknya bertanya kepada para ulama, baik secara tertulis maupun melalui telepon. Mereka tidak boleh berdiam diri tentang sesuatu yang tidak mereka ketahui, atau jika orang yang membuat rekaman itu tidak dikenal. Orang yang membuat rekaman itu mungkin keliru, atau mungkin tidak dikenal di kalangan ulama, atau mungkin seorang penuntut ilmu yang tidak memiliki wawasan tentang subjek tersebut. Jadi, jika seorang pria atau wanita mendengar sesuatu yang tidak jelas bagi mereka, atau mereka menganggapnya salah, atau jika itu berasal dari seseorang yang tidak dikenal di kalangan ulama, mereka hendaknya bertanya kepada orang-orang yang dikenal di kalangan ulama, baik secara tertulis maupun melalui telepon, tentang apa yang tidak jelas bagi mereka. Ini karena Allah subhanah berfirman,
فَسۡـَٔلُوٓا۟ أَهۡلَ ٱلذِّكۡرِ إِن كُنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ
Maka tanyakanlah kepada orang-orang yang berilmu jika kalian tidak mengetahui.
QS An-Nahl: 43
Diriwayatkan dari beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa sebagian orang memberikan fatwa tanpa ilmu, maka beliau ‘alaihish-shalatu was-salam berkata,
أَلَّا سَأَلُوا إِذۡ لَمۡ يَعۡلَمُوا؟! فَإِنَّمَا شِفَاءُ الۡعِيِّ السُّؤَالُ
“Mengapa mereka tidak bertanya ketika mereka tidak mengetahui? Sesungguhnya obat untuk ketidaktahuan adalah bertanya.”1 HR Abu Dawud nomor 336.
فالواجب على الرجل والمرأة، وعلى طالب العلم أن يتثبت في الأمور، وأن يسأل عما أشكل عليه بالمشافهة، بالمكاتبة، من طريق التلفون، لا يتأخر عن السؤال ولا يستحي (إن الله لا يستحي من الحق) فالسؤال مطلوب، والفائدة مطلوبة، والتعلم واجب حتى يعلم الإنسان ما أوجب الله عليه، وما حرم الله عليه بالأدلة الشرعية، والعامي يسأل أهل العلم، ويستفصل عما أشكل عليه من أهل العلم، ويتحرى أهل العلم المعروفين بالعلم والفضل والورع، ولا يسأل من هب ودب ممن لا يعرفهم، ولا يعلم ورعهم ولا علمهم، ولكن يتحرى سؤال أهل العلم المعروفين، إما بالسفر إليهم وسؤالهم مشافهة، أو بالمكاتبة، أو بالهاتف (التلفون) أو بالإبراق، أو بالفاكس أي طريق يمكنه أن يستعمله في هذا الباب. نعم.
Oleh karena itu, wajib bagi laki-laki dan perempuan, serta bagi para penuntut ilmu, untuk memastikan suatu perkara dan menanyakan apa yang tidak jelas bagi mereka, baik secara langsung, tertulis, atau melalui telepon. Mereka tidak boleh menunda untuk bertanya dan tidak boleh malu (karena Allah tidak malu akan kebenaran). Bertanya itu perlu, faedah itu dicari, dan belajar itu wajib agar seseorang mengetahui apa yang telah Allah wajibkan kepadanya dan apa yang telah Dia haramkan kepadanya berdasarkan dalil syariat. Orang awam hendaknya bertanya kepada para ulama dan meminta penjelasan dari mereka mengenai apa yang tidak jelas baginya. Ia hendaknya mencari ulama yang dikenal karena ilmu, kebajikan, dan ketakwaannya, dan tidak bertanya kepada sembarang orang yang tidak dikenalnya, atau yang ketakwaan atau ilmunya tidak diketahuinya. Sebaliknya, ia hendaknya mencari ulama yang terkenal, baik dengan mengunjungi mereka dan bertanya secara langsung, atau dengan menulis, atau melalui telepon, atau melalui telegraf, atau melalui faks, atau cara apa pun yang dapat digunakannya dalam hal ini. Sekian.
المقدم: جزاكم الله خيرًا.
Pembawa acara: Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.
Sumber fatwa: Situs resmi Syekh Ibnu Baz
Be the first to leave a comment