Syarah Al-Jami’ li ‘Ibadatillah

ismail  

شَرۡح الۡجَامِع لِعِبَادَةِ اللّٰهِ

لِشَيۡخِ الۡإِسۡلَامِ مُحَمَّدِ بۡنِ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ رَحِمَهُ اللهُ

شرح معالي الشيخ الدكتور

صَالِح بۡن فَوۡزَان بۡنِ عَبۡدِ اللهِ الۡفَوۡزَان

الۡحَمۡدُ لِلهِ رَبِّ الۡعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ وَبَارَكَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحۡبِهِ أَجۡمَعِينَ:

Segala puji bagi Allah Rabb alam semesta. Semoga Allah mencurahkan selawat, salam, dan berkah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga, dan sahabat beliau semuanya.

قَالَ الشَّيۡخُ الۡإِمَامُ مُحَمَّدُ بۡنُ عَبۡدِ الۡوَهَّابِ –رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى-:

Syekh Imam Muhammad bin ‘Abdul Wahhab—semoga Allah taala merahmatinya—berkata:

فَإِنۡ قِيلَ: فَمَا الۡجَامِعُ لِعِبَادَةِ اللهِ وَحۡدَهُ؟

قُلۡتَ: طَاعَتُهُ بِامۡتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجۡتِنَابِ نَوَاهِيهِ.

Jika ada yang bertanya, “Apa cakupan ibadah kepada Allah semata?”

Maka, engkau jawab, “Menaati-Nya dengan mengerjakan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.”[1]

فَإِنۡ قِيلَ: فَمَا أَنۡوَاعُ الۡعِبَادَةِ الَّتِي لَا تَصۡلُحُ إِلَّا لِلهِ تَعَالَى؟

قُلۡتَ: مِنۡ أَنۡوَاعِهَا الدُّعَاءُ وَالۡاسۡتِعَانَةُ وَالۡاسۡتِغَاثَةُ وَذَبۡحُ الۡقُرۡبَانِ وَالنَّذَرُ وَالۡخَوۡفُ وَالرَّجَاءُ وَالتَّوَكُّلُ وَالۡإِنَابَةُ وَالۡمَحَبَّةُ وَالۡخَشۡيَةُ وَالرَّغۡبَةُ وَالرَّهۡبَةُ وَالتَّأَلُّهُ وَالرُّكُوعُ وَالسُّجُودُ وَالۡخُشُوعُ وَالتَّذَلُّلُ وَالتَّعۡظِيمُ الَّذِي هُوَ مِنۡ خَصَائِصِ الۡإِلٰهِيَّةِ.

Jika ada yang bertanya, “Apa saja macam-macam ibadah yang hanya boleh untuk Allah taala?”[2]

Maka, engkau jawab, “Termasuk jenis-jenis ibadah adalah doa[3], istianah (meminta pertolongan)[4], istigasah (meminta keselamatan dari musibah yang menimpa)[5], menyembelih hewan kurban[6], nazar[7], khauf (kekhawatiran)[8], harapan[9], tawakal[10], inabah (kembali kepada Allah)[11], mahabah (cinta)[12], khasyyah (takut)[13], raghbah (rasa harap)[14], rahbah (cemas)[15], penyembahan[16], rukuk, sujud[17], khusyuk[18], perendahan diri[19], dan pengagungan yang termasuk kekhususan ilahi[20].”

وَدَلِيلُ الدُّعَاءِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَأَنَّ ٱلۡمَسَـٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًا﴾ [الجن: ١٨].

وَقَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿لَهُۥ دَعۡوَةُ ٱلۡحَقِّ ۖ وَٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ لَا يَسۡتَجِيبُونَ لَهُم بِشَىۡءٍ إِلَّا كَبَـٰسِطِ كَفَّيۡهِ إِلَى ٱلۡمَآءِ لِيَبۡلُغَ فَاهُ وَمَا هُوَ بِبَـٰلِغِهِۦ ۚ وَمَا دُعَآءُ ٱلۡكَـٰفِرِينَ إِلَّا فِى ضَلَـٰلٍ﴾ [الرعد: ١٤].

Dalil doa[21] adalah firman Allah taala yang artinya, “Dan bahwa masjid-masjid itu adalah milik Allah, jadi janganlah kalian berdoa kepada sesuatupun di samping Allah.” (QS. Al-Jinn: 18)[22]. Dan firman Allah yang artinya, “Hanya bagi-Nya lah doa yang benar. Dan orang-orang yang berdoa kepada sesembahan selain Dia, maka sesembahan itu tidak sanggup untuk memenuhi permintaan mereka sedikit pun, kecuali seperti orang yang membentangkan telapak tangannya di air agar air itu bisa sampai ke mulutnya dan ternyata air itu tidak bisa sampai ke mulutnya. Dan tidaklah doa orang-orang kafir itu kecuali sia-sia belaka.” (QS. Ar-Ra’d: 14)[23].

وَدَلِيلُ الۡاسۡتِعَانَةِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ﴾ [الفاتحة: ٥].

Dalil istianah adalah firman Allah taala yang artinya, “Hanya kepada-Mu kami beribadah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)[24].

وَدَلِيلُ الۡاسۡتِغَاثَةِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿إِذۡ تَسۡتَغِيثُونَ رَبَّكُمۡ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ﴾ [الأنفال: ٩].

Dalil istigasah adalah firman Allah yang artinya, “Ketika kalian beristigasah kepada Rabb kalian, lalu Dia memenuhi permintaan kalian.” (QS. Al-Anfal: 9)[25].

وَدَلِيلُ الذَّبۡحِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿قُلۡ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحۡيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ﴾ [الأنعام: ١٦٢].

Dalil penyembelihan adalah firman Allah taala yang artinya, “Katakan, sesungguhnya salatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku untuk Allah Rabb alam semesta.” (QS. Al-An’am: 162)[26].

وَدَلِيلُ النَّذۡرِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ وَيَخَافُونَ يَوۡمًا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرًا﴾ [الإنسان: ٧].

Dalil nazar adalah firman Allah taala yang artinya, “Mereka menunaikan nazar dan takut terhadap suatu hari ketika keburukan hari itu merata.” (QS. Al-Insan: 7)[27].

وَدَلِيلُ الۡخَوۡفِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّمَا ذ‌ٰلِكُمُ ٱلشَّيۡطَـٰنُ يُخَوِّفُ أَوۡلِيَآءَهُۥ فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ﴾ [آل عمران: ١٧٥].

Dalil khauf adalah firman Allah taala yang artinya, “Itu hanyalah setan yang menakut-nakuti (kalian) dengan teman-temannya, maka janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 175)[28].

وَدَلِيلُ الرَّجَاءِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿فَمَن كَانَ يَرۡجُوا۟ لِقَآءَ رَبِّهِۦ فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلًا صَـٰلِحًا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا﴾ [الكهف: ١١٠].

Dalil raja` (berharap) adalah firman Allah taala yang artinya, “Barang siapa yang mengharap perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaknya dia beramal dengan amalan saleh dan tidak menyekutukan sesuatupun dalam beribadah kepada Rabbnya.” (QS. Al-Kahfi: 110)[29].

وَدَلِيلُ التَّوَكُّلِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ﴾ [الۡمَائدة: ٢٣].

Dalil tawakal adalah firman Allah taala yang artinya, “Dan kepada Allah sajalah, kalian bertawakal jika kalian adalah orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23)[30].

وَدَلِيلُ الۡإِنَابَةِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَأَنِيبُوٓا۟ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُوا۟ لَهُۥ مِن قَبۡلِ أَن يَأۡتِيَكُمُ ٱلۡعَذَابُ ثُمَّ لَا تُنصَرُونَ﴾ [الزمر: ٥٤].

Dalil inabah adalah firman Allah taala yang artinya, “Dan kembalilah kalian kepada Rabb kalian dan berserah dirilah kepada-Nya sebelum azab datang kepada kalian kemudian kalian tidak akan ditolong.” (QS. Az-Zumar: 54)[31].

وَدَلِيلُ الۡمَحَبَّةِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَمِنَ ٱلنَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ ٱللَّهِ أَندَادًا يُحِبُّونَهُمۡ كَحُبِّ ٱللَّهِ ۖ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ﴾ [البقرة: ١٦٥].

Dalil mahabah adalah firman Allah taala yang artinya, “Di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan yang mereka mencintainya seperti mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman mereka sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)[32].

وَدَلِيلُ الۡخَشۡيَةِ: ﴿فَلَا تَخۡشَوُا۟ ٱلنَّاسَ وَٱخۡشَوۡنِ﴾ [الۡمَائدة: ٤٤].

Dalil khasyyah, “Maka janganlah kalian takut kepada manusia dan takutlah kepada-Ku.” (QS. Al-Maidah: 44)[33].

وَدَلِيلُ الرَّغۡبَةِ وَالرَّهۡبَةِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿إِنَّهُمۡ كَانُوا۟ يُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبًا وَرَهَبًا ۖ وَكَانُوا۟ لَنَا خَـٰشِعِينَ﴾ [الأنبياء: ٩٠].

Dalil raghbah dan rahbah adalah firman Allah taala yang artinya, “Sesungguhnya mereka bersegera dalam kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan perasaan harap dan cemas, serta mereka khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya`: 90)[34].

وَدَلِيلُ التَّأَلُّهِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَإِلَـٰهُكُمۡ إِلَـٰهٌ وَٰحِدٌ ۖ لَّآ إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ ٱلرَّحۡمَـٰنُ ٱلرَّحِيمُ﴾ [البقرة: ١٦٣].

Dalil ta`alluh (penyembahan) adalah firman Allah taala yang artinya, “Sembahan kalian adalah sembahan yang esa, tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Dia Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah: 163)[35].

وَدَلِيلُ الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿ يَـٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱرۡكَعُوا۟ وَٱسۡجُدُوا۟ وَٱعۡبُدُوا۟ رَبَّكُمۡ وَٱفۡعَلُوا۟ ٱلۡخَيۡرَ لَعَلَّكُمۡ تُفۡلِحُونَ﴾ [الحج: ٧٧].

Dalil rukuk dan sujud adalah firman Allah taala yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman, rukuklah, sujudlah, dan sembahlah Rabb kalian, serta berbuatlah kebaikan agar kalian beruntung.” (QS. Al-Hajj: 77)[36].

وَدَلِيلُ الۡخُشُوعِ: قَوۡلُهُ تَعَالَى: ﴿وَإِنَّ مِنۡ أَهۡلِ ٱلۡكِتَـٰبِ لَمَن يُؤۡمِنُ بِٱللَّهِ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡكُمۡ وَمَآ أُنزِلَ إِلَيۡهِمۡ خَـٰشِعِينَ لِلَّهِ لَا يَشۡتَرُونَ بِـءَايَـٰتِ ٱللَّهِ ثَمَنًا قَلِيلًا ۗ﴾ [آل عمران: ١٩٩] وَنَحۡوُهَا.

Dalil khusyuk adalah firman Allah taala yang artinya, “Dan sesungguhnya di antara ahli kitab itu benar-benar ada yang beriman kepada Allah, beriman dengan wahyu yang diturunkan kepada kalian dan yang diturunkan kepada mereka. Mereka khusyuk kepada Allah dan tidak menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit.” (QS. Ali ‘Imran: 199)[37].

Dan ayat-ayat semisal itu.

فَمَنۡ صَرَفَ شَيۡئًا مِنۡ هَٰذِهِ الۡأَنۡوَاعِ لِغَيۡرِ اللهِ تَعَالَى فَقَدۡ أَشۡرَكَ بِاللهِ غَيۡرَهُ.

Sehingga, siapa saja yang memalingkan salah satu jenis ibadah ini kepada selain Allah taala, maka dia telah berbuat syirik kepada Allah[38].

فَإِنۡ قِيلَ: فَمَا أَجَلُّ أَمۡرٍ أَمَرَ اللهُ بِهِ؟

قِيلَ: تَوۡحِيدُهُ بِالۡعِبَادَةِ، وَقَدۡ تَقَدَّمَ بَيَانُهُ، وَأَعۡظَمُ نَهۡيٍ نَهَى اللهُ عَنۡهُ الشِّرۡكُ بِهِ، وَهُوَ أَنۡ يَدۡعُوَ مَعَ اللهِ غَيۡرَهُ، أَوۡ يُقۡصِدُهُ بِغَيۡرِ ذٰلِكَ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ.

فَمَنۡ صَرَفَ شَيۡئًا مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ لِغَيۡرِ اللهِ تَعَالَى فَقَدِ اتَّخَذَهُ رَبًّا وَإِلٰهًا، وَأَشۡرَكَ مَعَ اللهِ غَيۡرَهُ، أَوۡ يُقۡصِدُهُ بِغَيۡرِ ذٰلِكَ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، وَقَدۡ تَقَدَّمَ مِنَ الۡآيَاتِ مَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ هَٰذَا هُوَ الشِّرۡكُ الَّذِي نَهَى اللهُ عَنۡهُ، وَأَنۡكَرَهُ عَلَى الۡمُشۡرِكِينَ، وَقَدۡ قَالَ تَعَالَى: ﴿إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ وَمَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ ضَلَّ ضَلَـٰلًۢا بَعِيدًا﴾ [النساء: ١١٦]. وَقَالَ تَعَالَى: ﴿مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ وَمَأۡوَىٰهُ ٱلنَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّـٰلِمِينَ مِنۡ أَنصَارٍ﴾ [المائدة: ٧٢]. وَاللهُ أَعۡلَمُ.

Jika ada yang bertanya, “Lalu apa perkara paling mulia yang Allah perintahkan?”

Maka engkau katakan, “Menauhidkan Allah dalam ibadah. Hal itu telah dijelaskan sebelumnya. Dan larangan terbesar yang Allah larang darinya adalah berbuat syirik kepada Allah, yaitu di samping berdoa kepada Allah juga berdoa kepada selain-Nya atau menujukan jenis-jenis ibadah yang lain kepada selain-Nya.”[39]

Jadi siapa saja yang memalingkan sedikit saja dari berbagai macam ibadah tadi untuk selain Allah taala, maka dia telah menjadikannya sebagai tuhan dan sesembahan dan dia telah menjadikannya sekutu di samping Allah. Atau dia menujukan sebagian ibadah kepada selain Allah. Dan telah berlalu ayat-ayat yang menunjukkan bahwa ini merupakan kesyirikan yang telah Allah larang dan Allah ingkari terhadap orang-orang musyrik. Allah taala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia dan Dia mengampuni dosa yang di bawah syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” (QS. An-Nisa`: 116). Allah taala berfirman yang artinya, “Siapa saja yang berbuat syirik kepada Allah, maka Allah haramkan baginya surga dan tempat kembalinya adalah neraka. Tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Ma`idah: 72).[40] Wallahualam.

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحۡبِهِ أَجۡمَعِينَ.

Semoga Allah mencurahkan selawat kepada Nabi kita Muhammad, seluruh keluarga dan sahabatnya.


[1]

الۡحَمۡدُ لِلهِ رَبِّ الۡعَالَمِينَ، وَصَلَّى اللهُ وَسَلَّمَ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصۡحَابِهِ أَجۡمَعِينَ، وَبَعۡدُ:

Segala puji untuk Allah Rabb semesta alam. Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, keluarganya, dan para sahabat beliau seluruhnya. Amabakdu,

فَإِنَّ اللهَ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى خَلَقَ الۡجِنَّ وَالۡإِنۡسَ لِعِبَادَتِهِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ﴾ [الذاريات: ٥٦]. بَلۡ إِنَّهُ سُبۡحَانَهُ خَلَقَ الۡمَلَائِكَةَ أَيۡضًا لِعِبَادَتِهِ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَنۡ عِندَهُۥ لَا يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِهِۦ وَلَا يَسۡتَحۡسِرُونَ ۝١٩ يُسَبِّحُونَ ٱلَّيۡلَ وَٱلنَّهَارَ لَا يَفۡتُرُونَ﴾ [الأنبياء: ١٩-٢٠]، وَالۡعِبَادَةُ مَأۡخُوذَةٌ مِنَ التَّعَبُّدِ وَهُوَ التَّذَلُّلُ.

يُقَالُ: طَرِيقٌ مُعَبَّدٌ، إِذَا ذَلَّلَتۡهُ الۡأَقۡدَامُ، هَٰذَا مِنۡ نَاحِيَةِ اللُّغَةِ.

Sesungguhnya Allah subhanahu wa taala telah menciptakan jin dan manusia untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana Allah taala berfirman (yang artinya), “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56). Bahkan Allah subhanahu wa taala telah menciptakan malaikat juga untuk beribadah kepada-Nya, sebagaimana Allah taala berfirman (yang artinya), “Dan malaikat-malaikat yang ada di dekat-Nya, mereka tidak mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak pula merasa letih. Mereka bertasbih malam dan siang, tidak henti-hentinya.” (QS. Al-Anbiya`: 19-20). Ibadah diambil dari kata ta’abbud (penyembahan), yaitu perendahan diri.

Ada yang berkata: thariq mu’abbad (jalan yang mudah), yaitu apabila banyak telapak kaki telah menginjakinya. Ini dari sisi bahasa.

وَأَمَّا فِي الشَّرۡعِ: فَعَرَّفَهَا الۡعُلَمَاءُ تَعَارِيفَ كَثِيرَةً.

التَّعۡرِيفُ الۡأَوَّلُ: أَنَّهَا غَايَةُ الۡحُبِّ مَعَ غَايَةِ الذُّلِّ.

Adapun dalam istilah syariat, para ulama memberikan arti dengan banyak pengertian. Pengertian pertama: Bahwa ibadah adalah puncak kecintaan disertai puncak ketundukan/perendahan diri.

كَمَا قَالَ الۡإِمَامُ ابۡنُ الۡقَيِّمِ –رَحِمَهُ اللهُ تَعَالَى- فِي النُّونِيَّةِ:

وَعِبَادَةُ الرَّحۡمَٰنِ غَايَةُ حُبِّهِ   مَعَ ذُلِّ عَابِدِهِ هُمَا قُطۡبَانِ

وَعَلَيۡهِمَا فَلَكُ الۡعِبَادَةِ دَائِرٌ    مَا دَارَ حَتَّى قَامَتِ الۡقُطۡبَانِ

وَمَدَارُهُ بِالۡأَمۡرِ أَمۡرِ رَسُولِهِ  لَا بِالۡهَوَى وَالنَّفۡسِ وَالشَّيۡطَانِ

Sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu Al-Qayyim rahimahullah dalam Nuniyyah, “Ibadah kepada Allah adalah puncak cinta kepadanya disertai puncak ketundukan hamba-Nya. Itulah dua poros. Di atas dua poros inilah ibadah terus beredar hingga kedua poros ini tegak. Dan sumbunya adalah agama, yaitu agama yang dibawa Rasul-Nya, bukan dengan hawa nafsu dan setan.”

فَلَا بُدَّ مِنَ الۡجَمۡعِ بَيۡنَ الۡأَمۡرَيۡنِ: غَايَةُ الۡحُبِّ مَعَ غَايَةِ الذُّلِّ، فَمَنۡ أَحَبَّ شَيۡئًا وَلَمۡ يَذِلَّ لَهُ، لَمۡ يَكُنۡ ذٰلِكَ عِبَادَةً لَهُ.

Jadi harus mengumpulkan dua perkara ini, yaitu: puncak kecintaan serta puncak ketundukan. Sehingga, siapa saja yang mencintai sesuatu namun tidak merendahkan diri kepadanya, maka hal itu bukan merupakan ibadah kepadanya.

كَمَا يُحِبُّ الۡإِنۡسَانُ زَوۡجَتَهُ، وَيُحِبُّ أَوۡلَادَهُ، لَكِنَّهُ لَا يَذِلُّ لَهُمۡ، فَحُبُّ الزَّوۡجِ لِزَوۡجَتِهِ وَحُبُّهُ لِأَوۡلَادِهِ، وَحُبُّ الۡوَلَدِ لِأَبَوَيۡهِ وَأَقَارِبِهِ، لَا يُسَمَّى عِبَادَةً، لِأَنَّهُ لَيۡسَ مَعَهُ ذُلٌّ.

Seperti seseorang yang mencintai istrinya dan mencintai anaknya, akan tetapi dia tidak merendahkan diri kepada mereka, maka cinta suami kepada istri dan kepada anak-anaknya, juga cinta seorang anak kepada kedua orang tua dan kerabatnya, tidak dinamakan ibadah karena tidak disertai sikap perendahan diri.

وَكَذٰلِكَ مَنۡ ذَلَّ لِشَيۡءٍ وَلَمۡ يُحِبُّهُ فَلَيۡسَ ذٰلِكَ عِبَادَةً لَهُ، كَمَنۡ ذَلَّ لِجَبَّارٍ مِنَ الۡجَبَابِرَةِ، أَوۡ لِظَالِمٍ مِنَ الۡظَّلَمَةِ، لَكِنَّهُ لَا يُحِبُّهُ، فَهَٰذَا لَيۡسَ بِعِبَادَةٍ، إِنَّمَا الۡعِبَادَةُ مَا جَمَعَتۡ بَيۡنَ الۡأَمۡرَيۡنِ: غَايَةِ الۡحُبِّ مَعَ غَايَةِ الذُّلِّ، وَهَٰذَا لَا يَكُونُ إِلَّا لِلهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، وَلَا بُدَّ أَنۡ تَدُورَ عَلَيۡهِمَا أَفۡلَاكُ الۡعِبَادَةِ بِجَمِيعِ أَنۡوَاعِهَا، وَلِهَٰذَا قَالَ:

وَعَلَيۡهِمَا فَلَكُ الۡعِبَادَةِ دَائِرٌ    مَا دَارَ حَتَّى قَامَتِ الۡقُطۡبَانِ

يَعۡنِي: عَلَى الۡأَصۡلَيۡنِ: الۡحُبِّ وَالذُّلِّ.

Demikian pula, barang siapa yang merendahkan diri kepada sesuatu namun dia tidak mencintainya, maka bukan merupakan penyembahan kepadanya. Seperti orang yang tunduk kepada seorang penguasa yang sewenang-wenang atau kepada seorang yang zalim, namun dia tidak mencintainya, maka ini bukanlah ibadah. Ibadah itu hanya apabila terkumpul dua perkara, yaitu: puncak kecintaan disertai puncak ketundukan. Dan ini tidak boleh kecuali untuk Allah subhanahu wa taala. Ibadah dengan segala macamnya harus beredar di atas dua poros ini. Karena itulah Ibnu Al-Qayyim mengatakan, “Di atas kedua poros ini, ibadah terus beredar hingga kedua poros ini tegak.” Yakni di atas dua pokok: cinta dan ketundukan.

فَإِنۡسَانٌ يَقۡتَصِرُ عَلَى الۡحُبِّ وَالذُّلِّ مِنۡ غَيۡرِ أَنۡ يَفۡعَلَ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ، وَأَنۡ يَتۡرُكَ مَا نَهَى اللهُ عَنۡهُ، لَا يُعۡتَبَرُ عَابِدًا لِلهِ، فَغَايَةُ الۡحُبِّ مَعَ غَايَةِ الذُّلِّ يَقۡتَضِيَانِ امۡتِثَالَ أَوَامِرِ اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى وَاجۡتِنَابَ نَوَاهِيهِ، وَبِهَٰذَا تَتَحَقَّقَ الۡعِبَادَةُ.

Seseorang yang hanya mencukupkan diri dengan rasa cinta dan ketundukan, tanpa melakukan apa saja yang Allah perintahkan dan tidak meninggalkan apa saja yang Allah larang, tidaklah dianggap orang yang beribadah kepada Allah. Karena puncak kecintaan dibarengi puncak ketundukan akan berkonsekuensi mengerjakan perintah-perintah Allah subhanahu wa taala dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Dan dengan inilah peribadahan akan terwujud.

وَعَرَّفَهَا شَيۡخُ الۡإِسۡلَامِ ابۡنُ تَيۡمِيَّةَ بِتَعۡرِيفٍ شَامِلٍ دَقِيقٍ، فَقَالَ: الۡعِبَادَةُ: اسۡمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَرۡضَاهُ مِنَ الۡأَعۡمَالِ وَالۡأَقۡوَالِ الظَّاهِرَةِ وَالۡبَاطِنَةِ، كُلُّ ذٰلِكَ عِبَادَةٌ، وَلَهُ رِسَالَةٌ فِي هَٰذَا جَيِّدَةٌ، اسۡمُهَا (الۡعُبُودِيَّةُ)، ذَكَرَ فِيهَا هَٰذَا التَّعۡرِيفَ، وَذَكَرَ أَنۡوَاعَ الۡعِبَادَةِ الَّتِي أَمَرَ اللهُ تَعَالَى بِهَا فِي كِتَابِهِ، أَوۡ أَمَرَ بِهَا رَسُولُهُ ﷺ فِي سُنَّتِهِ.

Syekh Islam Ibnu Taimiyyah memberi pengertian ibadah dengan pengertian yang lengkap dan rinci. Beliau mengatakan, “Ibadah adalah suatu nama yang mencakup setiap apa yang Allah cintai dan ridai berupa amalan dan ucapan baik lahir maupun batin.” Semua itu adalah ibadah. Beliau memiliki sebuah risalah yang bagus tentang ibadah. Judulnya adalah Al-‘Ubudiyyah. Beliau menyebutkan pengertian ibadah ini di dalamnya. Beliau juga menyebutkan macam-macam ibadah yang Allah taala perintahkan di dalam Alquran dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam perintahkan di dalam sunahnya.

وَالشَّيۡخُ هُنَا يَقُولُ: (فَإِنۡ قِيلَ) يَعۡنِي: لَوۡ سُئِلۡتَ (مَا الۡجَامِعُ لِعِبَادَةِ اللهِ؟) أَيۡ: مَا هُوَ التَّعۡرِيفُ الۡجَامِعُ لِعِبَادَةِ اللهِ بِاخۡتِصَارٍ، فَإِنَّكَ تَقُولُ: (طَاعَتُهُ بِامۡتِثَالِ أَوَامِرِهِ وَاجۡتِنَابِ نَوَاهِيهِ).

Syekh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab di sini berkata, “Jika ada yang berkata,” yakni andai engkau ditanya. “Apa cakupan ibadah kepada Allah?” Yakni, apakah pengertian secara ringkas yang mencakup ibadah kepada Allah. Maka engkau bisa katakan, “Taat kepada Allah dengan melakukan perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya.”

[2] الۡعِبَادَةُ أَنۡوَاعٌ كَثِيرَةٌ كَمَا قَالَ شَيۡخُ الۡإِسۡلَامِ: الۡعِبَادَةُ اسۡمٌ جَامِعٌ لِكُلِّ مَا يُحِبُّهُ اللهُ وَيَرۡضَاهُ مِنَ الۡأَقۡوَالِ وَالۡأَعۡمَالِ الظَّاهِرَةِ وَالۡبَاطِنَةِ، فَتَكُونُ ظَاهِرَةً عَلَى الۡجَوَارِحِ: كَالصَّلَاةِ وَالصِّيَامِ وَالۡجِهَادِ وَالۡأَمۡرِ بِالۡمَعۡرُوفِ وَالنَّهۡيِ عَنِ الۡمُنۡكَرِ وَصِلَةِ الرَّحِمِ وَغَيۡرِ ذٰلِكَ، وَهَٰذِهِ عِبَادَاتٌ ظَاهِرَةٌ،

Ibadah ada banyak macam sebagaimana Syekh Islam Ibnu Taimiyyah katakan, “Ibadah adalah suatu nama yang mencakup setiap yang Allah cintai dan ridai berupa ucapan dan amalan yang lahir maupun batin.” Jadi ibadah bisa tampak pada anggota badan, seperti salat, puasa, jihad, amar makruf nahi mungkar, silaturahmi dan lain sebagainya. Ini adalah ibadah-ibadah lahiriah.

وَالۡعِبَادَاتُ الۡبَاطِنَةُ تَكُونُ فِي الۡقُلُوبِ: مِنَ الۡخَوۡفِ وَالۡخَشۡيَةِ وَالرَّغۡبَةِ وَالرَّهۡبَةِ وَالۡمَحَبَّةِ وَالتَّوَكُّلِ وَالۡإِنَابَةِ هَٰذِهِ كُلُّهَا عِبَادَاتٌ قَلۡبِيَّةٌ لَا يَعۡلَمُهَا إِلَّا اللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى،

Adapun ibadah-ibadah batin adalah di dalam hati, di antaranya khauf (rasa takut), khasyyah, raghbah (rasa harap), rahbah (cemas), mahabah (cinta), tawakal, dan inabah (tobat). Semua ini adalah ibadah hati yang hanya diketahui oleh Allah subhanahu wa taala.

وَمِنۡهَا مَا هُوَ عَلَى اللِّسَانِ مِثۡلُ: ذِكۡرِ اللهِ، وَالتَّسۡبِيحِ وَالتَّهۡلِيلِ وَالتَّحۡمِيدِ، وَالدَّعۡوَةِ إِلَى اللهِ، وَالۡأَمۡرِ بِالۡمَعۡرُوفِ وَالنَّهۡيِ عَنِ الۡمُنۡكَرِ، وَتَعۡلِيمِ الۡعِلۡمِ النَّافِعِ.

Termasuk ibadah pula adalah yang menggunakan lisan semisal zikir kepada Allah, tasbih, tahlil, tahmid, berdakwah kepada Allah, amar makruf nahi mungkar, dan mengajarkan ilmu yang bermanfaat.

[3] أَنۡوَاعُ الۡعِبَادَةِ كَثِيرَةٌ أَعۡظَمُهَا: الدُّعَاءُ، قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِىٓ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡ ۚ إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِى سَيَدۡخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ﴾ [غافر: ٦٠].

Macam-macam ibadah ada banyak. Ibadah yang paling agung adalah doa. Allah azza wajalla berfirman (yang artinya), “Rabb kalian berkata: Berdoalah kepadaku niscaya akan Aku kabulkan doa kalian. Sesungguhnya yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku, mereka akan masuk ke dalam neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.” (QS. Ghafir: 60).

أَمَرَ اللهُ بِدُعَائِهِ وَسَمَّى ذٰلِكَ عِبَادَةً، فَقَالَ: ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ يَسۡتَكۡبِرُونَ عَنۡ عِبَادَتِى﴾ أَيۡ: عَنۡ دُعَائِي، وَقَالَ النَّبِيُّ ﷺ: (الدُّعَاءُ هُوَ الۡعِبَادَةُ).

Allah memerintahkan untuk berdoa kepada-Nya dan menamakan hal itu sebagai ibadah. Allah berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku,” yaitu dari berdoa kepada-Ku. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda, “Doa adalah ibadah.” (HR. At-Tirmidzi nomor 2969).

فَالدُّعَاءُ هُوَ أَعۡظَمُ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، فَمَنۡ دَعَا غَيۡرَ اللهِ مِنَ الۡمَوۡتَى وَالۡمَقۡبُورِينَ وَالۡجِنِّ وَالشَّيَاطِينِ، فَقَدۡ أَشۡرَكَ بِاللهِ الشِّرۡكَ الۡأَكۡبَرَ، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَأَنَّ ٱلۡمَسَـٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدۡعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًا﴾ [الجن: ١٨].

Jadi doa adalah jenis ibadah yang paling agung. Siapa saja yang berdoa kepada selain Allah, di antaranya kepada orang-orang yang sudah mati, orang-orang yang sudah dikubur, jin, dan setan, maka dia telah berbuat syirik kepada Allah dengan syirik akbar. Allah taala berfirman (yang artinya), “Sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kalian menyembah seorang pun di samping (menyembah) Allah.” (QS. Al-Jinn: 18).

وَقَالَ سُبۡحَانَهُ: ﴿فَٱدۡعُوا۟ ٱللَّهَ مُخۡلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ﴾ [غافر: ١٤]. مُخۡلِصِينَ لَهُ فِي الدُّعَاءِ، فَسَمَّى الدُّعَاءَ دِينًا، كَمَا سَمَّاهُ فِي الۡأُخۡرَى عِبَادَةً، إِذَنۡ فَالدُّعَاءُ دِينٌ، وَالدُّعَاءُ عِبَادَةٌ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَهَٰذَا مِمَّا يَدُلُّ عَلَى عِظَمِ الدُّعَاءِ، وَأَنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنۡ يَدۡعُوَ غَيۡرَ اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، فَإِنَّهُ هُوَ الۡقَادِرُ عَلَى كُلِّ شَيۡءٍ، وَهُوَ الَّذِي إِذَا دَعَوۡتَهُ فَإِنَّهُ يَقۡدِرُ عَلَى إِجَابَتِكَ وَيَقۡدِرُ عَلَى إِعۡطَاءِكَ مَا تُرِيدُ، أَمَّا غَيۡرُ اللهِ فَإِنَّهُ عَاجِزٌ.

Allah subhanahu wa taala berfirman (yang artinya), “Berdoalah kepada Allah dengan memurnikan agama untuk-Nya.” (QS. Ghafir: 14). Yaitu memurnikan doa untuk-Nya. Allah menamakan doa dengan agama, sebagaimana Allah menamakannya di ayat lain sebagai ibadah. Jadi, doa adalah agama dan doa adalah ibadah kepada Allah azza wajalla. Ini adalah di antara hal yang menunjukkan keagungan doa dan bahwa tidak boleh berdoa kepada selain Allah subhanahu wa taala. Karena Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. Allah adalah yang jika engkau berdoa kepada-Nya, maka Dia mampu untuk mengabulkan dan Dia mampu memberikan apa saja yang engkau inginkan kepadamu. Adapun selain Allah, maka dia tidak mampu.

كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿قُلِ ٱدۡعُوا۟ ٱلَّذِينَ زَعَمۡتُم مِّن دُونِ ٱللَّهِ ۖ لَا يَمۡلِكُونَ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلۡأَرۡضِ وَمَا لَهُمۡ فِيهِمَا مِن شِرۡكٍ وَمَا لَهُۥ مِنۡهُم مِّن ظَهِيرٍ ۝٢٢ وَلَا تَنفَعُ ٱلشَّفَـٰعَةُ عِندَهُۥٓ إِلَّا لِمَنۡ أَذِنَ لَهُۥ ۚ﴾ [سبأ: ٢٢-٢٣].

Sebagaimana Allah taala berfirman yang artinya, “Katakanlah: Serulah mereka yang kalian anggap (sebagai tuhan) selain Allah, mereka tidak memiliki (kekuasaan) seberat zarahpun di langit dan di bumi, dan mereka tidak mempunyai suatu sahampun dalam (penciptaan) langit dan bumi dan sekali-kali tidak ada di antara mereka yang menjadi pembantu bagi-Nya. Dan tiadalah berguna syafaat di sisi Allah melainkan bagi orang yang telah diizinkan-Nya memperoleh syafaat itu.” (QS. Saba`: 22-23).

﴿وَمَنۡ أَضَلُّ مِمَّن يَدۡعُوا۟ مِن دُونِ ٱللَّهِ مَن لَّا يَسۡتَجِيبُ لَهُۥٓ إِلَىٰ يَوۡمِ ٱلۡقِيَـٰمَةِ وَهُمۡ عَن دُعَآئِهِمۡ غَـٰفِلُونَ﴾ [الأحقاف: ٥].

“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang menyembah sembahan-sembahan selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa)nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka?” (QS. Al-Ahqaf: 5).

﴿إِن تَدۡعُوهُمۡ لَا يَسۡمَعُوا۟ دُعَآءَكُمۡ﴾ [فاطر: ١٤]. لِأَنَّهُمۡ أَمۡوَاتٌ أَوۡ جَمَادَاتٌ لَا تَسۡمَعُ الدُّعَاءَ

“Jika kalian menyeru mereka, mereka tiada mendengar seruan kalian.” (QS. Fathir: 14). Karena mereka adalah orang-orang mati atau benda-benda mati yang tidak bisa mendengar seruan.

﴿وَلَوۡ سَمِعُوا۟ مَا ٱسۡتَجَابُوا۟﴾ [فاطر: ١٤] مَا يَقۡدِرُونَ عَلَى الۡإِجَابَةِ؛

“Andai mereka mendengar, mereka tidak dapat mengabulkan permintaan.” (QS. Fathir: 14). Mereka tidak mampu untuk mengabulkan doa.

لِأَنَّهُمۡ فُقَرَاءُ لَا يَمۡلِكُونَ شَيۡئًا، ﴿لَا يَمۡلِكُونَ مِثۡقَالَ ذَرَّةٍ فِى ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَلَا فِى ٱلۡأَرۡضِ﴾ [سبأ: ٢٢]

Karena mereka adalah orang-orang yang fakir, tidak memiliki sesuatu pun. “Mereka tidak memiliki seberat zarah pun di langit dan di bumi.” (QS. Saba`: 22).

فَكَيۡفَ يَدۡعُونَ مَعَ اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى؟! بَلۡ كَيۡفَ يُتۡرَكُ دُعَاءُ اللهِ وَيُصۡرَفُ الدُّعَاءُ لِغَيۡرِ اللهِ مِنۡ هَٰؤُلَاءِ الۡأَمۡوَاتِ، وَالۡأَشۡجَارِ وَالۡأَحۡجَارِ وَالۡغَائِبِينَ؟! أَيۡنَ عُقُولُ بَنِي آدَمَ؟! تَدۡعُو أُنَاسًا لَا يَسۡمَعُونَ، وَلَوۡ أَنَّهُمۡ سَمِعُوا لَمۡ يَقۡدِرُوا عَلَى الۡإِجَابَةِ؛ لِأَنَّهُمۡ لَا يَمۡلِكُونَ شَيۡئًا؟!

Lalu bagaimana mereka di samping berdoa kepada Allah juga berdoa kepada selain Allah subhanahu wa taala?! Bahkan bagaimana doa kepada Allah ditinggalkan dan doa dialihkan kepada selain Allah, seperti kepada orang-orang mati, pepohonan, bebatuan, dan orang-orang yang sedang tidak hadir?! Di mana akal-akal bani Adam?! Mereka berdoa kepada orang-orang yang tidak mendengar. Andai mereka mendengar, mereka tidak mampu untuk mengabulkan doa karena mereka tidak memiliki sesuatu pun.

[4] الۡاسۡتِعَانَةُ: طَلَبُ الۡعَوۡنِ عَلَى أَمۡرٍ مِنَ الۡأُمُورِ، وَطَلَبُ الۡعَوۡنِ عَلَى قِسۡمَيۡنِ:

الۡقِسۡمُ الۡأَوَّلُ: أَنۡ تَطۡلُبَ الۡعَوۡنَ مِمَّنۡ يَقۡدِرُ عَلَى إِعَانَتِكَ، وَهَٰذَا يَجُوزُ أَنۡ تَسۡتَعِينَ بِالۡمَخۡلُوقِ فِيمَا يَقۡدِرُ عَلَيۡهِ، وَاللهُ –جَلَّ وَعَلَا- يَقُولُ: ﴿وَتَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلۡبِرِّ وَٱلتَّقۡوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا۟ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَ‌ٰنِ ۚ﴾ [الۡمائدة: ٢].

Istianah artinya meminta pertolongan dalam suatu perkara. Permintaan pertolongan ini ada dua bagian:

Bagian pertama: Engkau meminta pertolongan dari siapa saja yang mampu untuk menolongmu. Hal ini boleh, yaitu engkau boleh meminta tolong kepada sesama makhluk dalam hal yang dia mampui. Allah jalla wa ‘ala berfirman yang artinya, “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS. Al-Ma`idah: 2).

فَالتَّعَاوُنُ بَيۡنَ النَّاسِ فِيمَا يَقۡدِرُونَ عَلَيۡهِ وَيَنۡفَعُهُمۡ أَمۡرٌ طَيِّبٌ، إِذَا كَانَ الۡإِنۡسَانُ حَيًّا حَاضِرًا قَادِرًا عَلَى أَنۡ يُعِينَكَ فَهَٰذَا لَا بَأۡسَ بِهِ، كَأَنۡ تَطۡلُبَ مَنۡ يُسَاعِدُكَ بِالۡمَالِ، أَوۡ يُعِينُكَ عَلَى حَمۡلِ شَيۡءٍ، أَوۡ يُعِينُكَ عَلَى بِنَاءِ حَائِطٍ، أَوۡ يُعِينُكَ عَلَى حَصَادِ زَرۡعٍ، وَهَٰذِهِ أُمُورٌ يَقۡدِرُ عَلَيۡهَا النَّاسُ، لَا بَأۡسَ بِالۡاسۡتِعَانَةِ بِالۡمَخۡلُوقِينَ فِيهَا، وَلَا يَعُدُّ هَٰذَا شِرۡكًا (وَاللهُ فِي عَوۡنِ الۡعَبۡدِ مَا كَانَ الۡعَبۡدُ فِي عَوۡنِ أَخِيهِ).

Jadi tolong-menolong antara manusia dalam hal yang mereka mampu dan bermanfaat adalah perkara yang baik. Apabila orang itu hidup, ada di tempat, dan mampu untuk membantumu, maka ini tidak mengapa. Seperti apabila engkau meminta orang agar membantumu dengan harta, atau menolongmu membawakan sesuatu, atau menolongmu membangun dinding, atau membantumu memanen hasil tanaman. Ini adalah perkara-perkara yang manusia mampu melakukannya. Tidak mengapa meminta tolong kepada makhluk dalam hal ini dan hal ini tidak dianggap kesyirikan. Nabi bersabda, “Allah senantiasa menolong hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya.” (HR. Muslim nomor 2699, Ahmad, Abu Dawud nomor 4946, At-Tirmidzi nomor 1425, dan Ibnu Majah nomor 225 dari hadis Abu Hurairah).

النَّوۡعُ الثَّانِي: الۡاسۡتِعَانَةُ بِغَيۡرِ اللهِ فِيمَا لَا يَقۡدِرُ عَلَيۡهِ إِلَّا اللهُ، كَالۡاسۡتِعَانَةِ فِي حُصُولِ الرِّزۡقِ، أَوِ الۡاسۡتِعَانَةِ بِحُصُولِ الۡوَلَدِ وَالذُّرِّيَّةِ، أَوِ الۡاسۡتِعَانَةِ فِي شِفَاءِ الۡمَرۡضَى، أَوۡ غَيۡرِ ذٰلِكَ، فَهَٰذَا لَا يُطۡلَبُ إِلَّا مِنَ اللهِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ﴾ [الفاتحة: ٥].

Bagian kedua adalah meminta pertolongan kepada selain Allah pada perkara yang tidak ada yang mampu melakukannya kecuali Allah, seperti minta tolong untuk mendatangkan rezeki, atau minta tolong untuk memberikan anak dan keturunan, atau minta tolong untuk menyembuhkan orang sakit, atau  selain itu. Ini tidak boleh diminta kecuali dari Allah. Allah taala berfirman yang artinya, “Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5).

﴿إِيَّاكَ نَعۡبُدُ﴾ أَيۡ: لَا نَعۡبُدُ سِوَاكَ؛ لِأَنَّ تَقۡدِيمَ الۡمَعۡمُولِ يُفِيدُ الۡحَصۡرَ، ثُمَّ قَالَ: ﴿وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ﴾ الۡاسۡتِعَانَةُ نَوۡعٌ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ وَهِيَ طَلَبُ الۡعَوۡنِ مِنَ اللهِ تَعَالَى، وَعَطۡفُهَا عَلَيۡهَا مِنۡ بَابِ عَطۡفِ الۡخَاصِّ عَلَى الۡعَامِّ اهۡتِمَامًا بِهِ، فَالۡاسۡتِعَانَةُ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ فِيمَا لَا يَقۡدِرُ عَلَيۡهِ إِلَّا اللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى: كَشِفَاءِ الۡمَرۡضَى وَإِنۡزَالِ الۡمَطَرِ، وَإِيجَادِ الرِّزۡقِ، وَغَيۡرِ ذٰلِكَ مِنَ الۡأُمُورِ الَّتِي لَا يَقۡدِرُ عَلَيۡهَا إِلَّا اللهُ، فَهَٰذِهِ لَا تُطۡلَبُ إِلَّا مِنَ اللهِ، لَا تُطۡلَبُ مِنَ الۡأَمۡوَاتِ، وَلَا مِنَ الۡقُبُورِ، وَلَا مِنَ الۡأَضۡرِحَةِ، وَلَا مِنَ الۡأَصۡنَامِ، وَلَا مِنَ الۡأَحۡجَارِ وَالۡأَشۡجَارِ، فَمَنۡ طَلَبَهَا مِنۡ غَيۡرِ اللهِ فَإِنَّهُ يَكُونُ مُشۡرِكًا الشِّرۡكَ الۡأَكۡبَرَ الۡمُخۡرِجَ مِنَ الۡمِلَّةِ.

“Hanya kepada Engkau kami beribadah,” artinya kami tidak beribadah kepada selain-Mu. Karena didahulukannya ma’mul (objek) memberi faedah pembatasan. Kemudian Allah berfirman yang artinya, “Hanya kepada Engkau kami minta pertolongan.” Istianah adalah salah satu jenis ibadah, yaitu meminta pertolongan dari Allah taala. Dikaitkannya istianah kepada ibadah adalah termasuk bab pengaitan yang khusus kepada yang umum dalam rangka agar menjadi perhatian. Jadi istianah kepada Allah azza wajalla dalam perkara yang hanya dimampui oleh Allah subhanahu wa taala, seperti: menyembuhkan orang sakit, menurunkan hujan, mendatangkan rezeki, dan perkara lain yang hanya Allah mampui, maka hal ini tidak diminta kecuali dari Allah. Tidak boleh diminta dari orang-orang mati, kuburan, berhala, bebatuan, dan pepohonan. Siapa saja yang memintanya dari selain Allah, maka dia menjadi musyrik dengan syirik akbar yang mengeluarkan dari agama.

[5] الۡاسۡتِغَاثَةُ: نَوۡعٌ مِنَ الۡاسۡتِعَانَةِ لَكِنَّهَا أَخَصُّ، فَالۡاسۡتِعَانَةُ عَامَّةٌ وَالۡاسۡتِغَاثَةُ خَاصَّةٌ؛ لِأَنَّهَا لَا تَكُونُ إِلَّا فِي أُمُورِ الشِّدَّةِ، ﴿إِذۡ تَسۡتَغِيثُونَ رَبَّكُمۡ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ﴾ [الأنفال: ٩].

Istigasah adalah satu jenis istianah, namun lebih khusus. Istianah umum sedangkan istigasah khusus karena istigasah hanya dilakukan dalam perkara-perkara yang genting. Allah berfirman yang artinya, “(Ingatlah), ketika kalian memohon pertolongan kepada Rabb kalian, lalu Dia perkenankan bagi kalian.” (QS. Al-Anfal: 9).

هَٰذَا فِي وَقۡعَةِ بَدۡرٍ لَمَّا اشۡتَدَّ الۡأَمۡرُ بِالۡمُسۡلِمِينَ، اسۡتَغَاثُوا بِرَبِّهِمۡ، لَكِنَّهَا أَخَصُّ مِنَ الۡاسۡتِعَانَةِ لِأَنَّهَا لَا تَكُونُ إِلَّا فِي حَالِ الشِّدَّةِ، فَيَجِبُ إِخۡلَاصُ الۡاسۡتِغَاثَةِ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَا يَجُوزُ الۡاسۡتِغَاثَةُ بِالۡأَمۡوَاتِ، كَثِيرٌ مِمَّنۡ يَدَّعُونَ الۡإِسۡلَامَ، إِذَا وَقَعُوا فِي شِدَّةٍ يَسۡتَغِيثُونَ بِأَمۡوَاتِهِمۡ وَأَوۡلِيَائِهِمۡ، وَيَصۡرُخُونَ بِأَسۡمَائِهِمۡ فِي الۡبَرِّ وَالۡبَحۡرِ، وَهَٰذَا مِنۡ غِلۡظَةِ شِرۡكِهِمۡ، فَصَارُوا أَغۡلَظَ شِرۡكًا مِنَ الۡأَوَّلِينَ؛ لِأَنَّ الۡمُشۡرِكِينَ الۡأَوَّلِينَ يُشۡرِكُونَ فِي حَالَةِ الرَّخَاءِ، لَكِنَّهُمۡ فِي حَالِ الشِّدَّةِ يُخۡلِصُونَ الدُّعَاءَ وَالۡأسۡتِغَاثَةَ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ؛ لِأَنَّهُمۡ يَعۡلَمُونَ أَنَّهُ لَا يُنۡقِذُ مِنَ الشَّدَائِدِ إِلَّا اللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، أَمَّا مُشۡرِكُو هَٰذَا الزَّمَانِ فَإِنَّهُمۡ عَلَى الۡعَكۡسِ، إِذَا وَقَعُوا فِي شِدَّةٍ اسۡتَغَاثُوا بِغَيۡرِهِ اللهِ، وَنَادُوا بِأَسۡمَاءِ مَعۡبُودَاتِهِمۡ كَمَا هُوَ مَعۡلُومٌ عَنۡهُمۡ.

Ayat ini tentang perang Badr ketika kaum muslimin mengalami keadaan yang genting. Mereka beristigasah kepada Rabb mereka. Akan tetapi istigasah lebih khusus daripada istianah karena istigasah hanya dilakukan dalam keadaan genting. Sehingga, wajib untuk memurnikan istigasah untuk Allah azza wajalla dan tidak boleh istigasah dengan orang-orang mati. Banyak orang yang mengaku muslim ketika terjatuh dalam suatu peristiwa yang genting, mereka beristigasah dengan orang-orang mati dan wali-wali mereka. Mereka meneriakkan nama-nama mereka di daratan dan lautan. Ini termasuk parahnya kesyirikan mereka. Mereka menjadi lebih parah syiriknya daripada musyrikin jaman dahulu. Karena musyrikin jaman dahulu melakukan kesyirikan dalam keadaan lapang saja, sedangkan ketika keadaan genting, mereka memurnikan doa dan istigasah kepada Allah azza wajalla. Karena mereka mengetahui bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan dari keadaan-keadaan genting tersebut kecuali Allah subhanahu wa taala. Adapun musyrikin zaman ini, mereka kebalikannya. Ketika mereka mengalami keadaan genting, mereka malah beristigasah dengan selain Allah dan memanggil-manggil nama-nama sembahan-sembahan mereka, sebagaimana hal itu telah diketahui dari mereka.

[6] الذَّبۡحُ عَلَى قِسۡمَيۡنِ:

الۡقِسۡمُ الۡأَوَّلُ: الذَّبۡحُ لِأَكۡلِ اللَّحۡمِ، هَٰذَا مُبَاحٌ وَلَيۡسَ هُوَ عِبَادَةً، وَإِنَّمَا هُوَ ذَبۡحٌ لِلۡأَكۡلِ، فَهُوَ مُبَاحٌ، إِلَّا أَنَّهُ لَا بُدَّ أَنۡ يَذۡكُرَ عَلَيۡهِ اسۡمَ اللهِ عِنۡدَ الذَّبۡحِ، ﴿وَلَا تَأۡكُلُوا۟ مِمَّا لَمۡ يُذۡكَرِ ٱسۡمُ ٱللَّهِ عَلَيۡهِ﴾ [الأنعام: ١٢١].

Penyembelihan ada dua bagian. Bagian pertama: Penyembelihan untuk makan daging. Ini hukumnya mubah dan bukan ibadah. Ini hanyalah penyembelihan untuk dimakan, jadi hukumnya mubah. Hanya saja harus menyebut nama Allah ketika hendak menyembelih. Allah berfirman yang artinya, “Dan janganlah kalian memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya.” (QS. Al-An’am: 121).

النَّوۡعُ الثَّانِي: الذَّبۡحُ عَلَى وَجۡهِ التَّقَرُّبِ لِلهِ –جَلَّ وَعَلَا-، فَهَٰذَا نَوۡعٌ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، كَذَبۡحِ الۡأَضَاحِي، وَذَبۡحِ الۡهَدۡيِ، وَذَبۡحِ الۡعَقِيقَةِ لِلۡمَوۡلُودِ، هَٰذِهِ ذَبَائِحُ عِبَادَةٌ لَا يَجُوزُ التَّقَرُّبُ بِهَا إِلَّا لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَمَنۡ ذَبَحَ لِغَيۡرِ اللهِ عَلَى وَجۡهِ التَّقَرُّبِ فَإِنَّهُ يَكُونُ مُشۡرِكًا الشِّرۡكَ الۡأَكۡبَرَ، قَالَ تَعَالَى: ﴿قُلۡ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحۡيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ﴾ [الأنعام: ١٦٢]. النُّسُكُ: الذَّبۡحُ وَقَرَنَهُ مَعَ الصَّلَاةِ.

Bagian atau jenis kedua adalah penyembelihan dalam bentuk takarub kepada Allah jalla wa ‘ala. Ini adalah salah satu jenis ibadah seperti penyembelihan kurban, penyembelihan hady (hewan kurban haji), dan akikah untuk anak yang baru lahir, ini adalah penyembelihan ibadah. Tidak boleh takarub dengannya kecuali kepada Allah azza wajalla. Sehingga, siapa saja yang menyembelih kepada selain Allah dalam bentuk takarub, maka dia menjadi seorang musyrik dengan kesyirikan yang besar. Allah taala berfirman yang artinya, “Katakanlah: sesungguhnya salatku, nusuk-ku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam.” (QS. Al-An’am: 162). Nusuk adalah penyembelihan. Dan Allah menyandingkannya dengan salat.

وَقَالَ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى: ﴿فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَٱنۡحَرۡ﴾ [الكوثر: ٢]. قَرَنَ النَّحۡرَ مَعَ الصَّلَاةِ، فَكَمَا أَنَّهُ لَا تَجُوزُ الصَّلَاةُ لِغَيۡرِ اللهِ، فَكَذٰلِكَ الذَّبۡحُ وَالنَّحۡرُ عَلَى وَجۡهِ التَّقَرُّبِ لَا يَكُونُ إِلَّا لِلهِ، فَمَنۡ ذَبَحَ يَتَقَرَّبُ إِلَى مَيِّتٍ أَوۡ إِلَى قَبۡرٍ أَوۡ إِلَى ضَرِيحٍ كَمَا عَلَيۡهِ عُبَّادُ الۡقُبُورِ الۡيَوۡمَ، فَإِنَّهُ يَكُونُ مُشۡرِكًا الشِّرۡكَ الۡأَكۡبَرَ.

Allah subhanahu wa taala berfirman yang artinya, “Maka salatlah karena Rabb-mu dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 2). Allah menyandingkan kurban bersama salat, sehingga sebagaimana tidak boleh salat untuk selain Allah, maka demikian pula penyembelihan dan kurban dalam bentuk takarub, tidak boleh kecuali untuk Allah. Maka, siapa saja yang menyembelih dalam rangka mendekatkan diri kepada orang mati atau kuburan sebagaimana yang biasa dilakukan oleh para penyembah kubur pada hari ini, maka dia menjadi seorang yang musyrik dengan kesyirikan yang besar.

وَفِي الۡحَدِيثِ عَنۡ عَلِيٍّ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ: (لَعَنَ اللهُ مَنۡ ذَبَحَ لِغَيۡرِ اللهِ، لَعَنَ اللهُ مَنۡ لَعَنَ وَالِدَيۡهِ، لَعَنَ اللهُ مَنۡ آوَى مُحۡدِثًا، لَعَنَ اللهُ مَنۡ غَيَّرَ مَنَارَ الۡأَرۡضِ).

Di dalam hadis dari ‘Ali radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah melaknat siapa saja yang menyembelih untuk selain Allah. Allah melaknat siapa saja yang melaknat orang tuanya. Allah melaknat siapa saja yang melindungi orang yang berbuat dosa atau bidah dalam agama. Allah melaknat siapa saja yang mengubah tanda batas tanah.” (HR. Muslim nomor 1978 dan Ahmad nomor 855).

فَمِنۡ هَٰذِهِ الۡأُمُورِ الۡمَلۡعُونِ مَنۡ فَعَلَهَا: الذَّبۡحُ لِغَيۡرِ اللهِ، مَنۡ ذَبَحَ لِغَيۡرِ اللهِ كَأَنۡ يَذۡبَحَ لِلۡقُبُورِ يَتَقَرَّبُ إِلَيۡهِمۡ لِيَقۡضُوا لَهُ حَوَائِجَهُ، أَوۡ يَذۡبَحَ لِلۡجِنِّ مِنۡ أَجۡلِ أَلَّا يَضُرُّوهُ، كَمَا يَفۡعَلُهُ بَعۡضُ النَّاسِ إِذَا نَزَلَ مَنۡزِلًا جَدِيدًا يَذۡبَحُ لِلۡجِنِّ مِنۡ أَجۡلِ أَنَّهُمۡ لَا يَضُرُّونَهُ فِي هَٰذَا الۡمَنۡزِلِ، يَذۡبَحُ عِنۡدَ الۡبَابِ وَيَرُشُّ مِنۡ دَمِهِ عَلَى الۡجُدۡرَانِ، يَتَقَرَّبُ إِلَى الۡجِنِّ، أَوۡ إِذَا أَقَامَ مَشۡرُوعًا مِنَ الۡمَشَارِيعِ كَالۡمَصَانِعِ يَذۡبَحُ عِنۡدَ أَوَّلِ حَرَكَةِ الۡآلِيَّاتِ لِأَجۡلِ أَنَّ الۡمَصَانِعَ تَسۡلَمُ، وَكَذٰلِكَ إِذَا قَدِمَ مَلَكٌ مِنَ الۡمُلُوكِ أَوۡ رَئِيسُ مِنَ الرُّؤَسَاءِ يَذۡبَحُونَ عِنۡدَ وُصُولِهِ، وَالسَّلَامُ عَلَيۡهِ تَعۡظِيمًا لَهُ، ذَبۡحَ تَحِيَّةٍ، أَمَّا لَوۡ كَانُوا يَذۡبَحُونَ لَهُ وَلِيمَةً، فَلَا بَأۡسَ، هَٰذَا مِنَ الۡمُبَاحَاتِ، لَكِنۡ يَذۡبَحُونَ تَعۡظِيمًا لَهُ، إِذَا نَزَلَ مِنَ الطَّائِرَةِ أَوۡ نَزَلَ مِنَ السَّيَّارَةِ يَذۡبَحُونَ تَحۡتَ السَّيَّارَةِ وَتَحۡتَ الطَّائِرَةِ، تَعۡظِيمًا لِهَٰذَا الۡوَافِدِ، هَٰذَا مِنَ الشِّرۡكِ؛ لِأَنَّهُ مِنۡ بَابِ التَّحِيَّةِ وَالتَّعۡظِيمِ.

Di antara perbuatan-perbuatan yang dilaknat pelakunya ini adalah penyembelihan untuk selain Allah. (Dilaknat) siapa saja yang menyembelih untuk selain Allah, seperti:

  • seseorang yang menyembelih untuk penghuni kubur dalam rangka mendekatkan diri kepada mereka agar mereka dapat memenuhi kebutuhan dia.
  • Atau menyembelih untuk jin agar para jin tersebut tidak membahayakannya sebagaimana yang dilakukan sebagian orang ketika hendak tinggal di suatu rumah yang baru. Dia menyembelih untuk jin agar jin tersebut tidak dapat membahayakannya di rumah itu. Dia menyembelih di dekat pintu dan menyiramkan sebagian darah sembelihan ke dinding-dinding dalam rangka mendekatkan diri kepada jin.
  • Atau ketika memulai salah satu proyek seperti pabrik-pabrik, dia menyembelih ketika awal penggerakan mesin agar pabrik itu selamat.
  • Demikian pula ketika ada salah seorang raja atau pemimpin yang datang, mereka menyembelih ketika kedatangannya dan memberikan salam kepadanya sebagai bentuk penghormatan. Yakni penyembelihan penghormatan. Adapun seandainya mereka menyembelih dalam rangka jamuan makanan untuknya, maka tidak mengapa. Ini termasuk perkara yang mubah. Akan tetapi mereka menyembelih dalam rangka mengagungkannya. Yaitu ketika raja atau pemimpin itu turun dari pesawat atau mobil, mereka menyembelih di bawah kendaraan atau pesawat itu dalam rangka mengagungkan orang yang datang itu. Ini termasuk kesyirikan karena termasuk bentuk penyembelihan penghormatan dan pengagungan.

[7] النَّذۡرُ: هُوَ الۡتِزَامُ عِبَادَةٍ لَمۡ يَلۡزَمۡ بِهَا الشَّرۡعُ، وَهُوَ نَوۡعٌ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿يُوفُونَ بِٱلنَّذۡرِ وَيَخَافُونَ يَوۡمًا كَانَ شَرُّهُۥ مُسۡتَطِيرًا﴾ [الإنسان: ٧]. فَأَثۡنَى عَلَيۡهِمۡ أَنَّهُمۡ يُوفُونَ بِالنَّذۡرِ، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَمَآ أَنفَقۡتُم مِّن نَّفَقَةٍ أَوۡ نَذَرۡتُم مِّن نَّذۡرٍ فَإِنَّ ٱللَّهَ يَعۡلَمُهُۥ ۗ﴾ [البقرة: ٢٧٠]. قَرَنَهُ مَعَ النَّفَقَةِ وَالصَّدَقَةِ، وَالنَّفَقَةُ وَالصَّدَقَةُ عِبَادَةٌ، فَيَكُونُ النَّذۡرُ عِبَادَةً، قَالَ سُبۡحَانَهُ: ﴿وَلۡيُوفُوا۟ نُذُورَهُمۡ وَلۡيَطَّوَّفُوا۟ بِٱلۡبَيۡتِ ٱلۡعَتِيقِ﴾ [الحج: ٢٩]. قَرَنَهُ مَعَ الطَّوَافِ، وَالطَّوَافُ عِبَادَةٌ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَالۡوَفَاءُ بِالنَّذۡرِ عِبَادَةٌ، هَٰذَا فِي نَذۡرِ الطَّاعَةِ، إِذَا نَذَرَ أَنۡ يَتَصَدَّقَ، إِذَا نَذَرَ أَنۡ يُصَلِّيَ، إِذَا نَذَرَ أَنۡ يَصُومَ، إِذَا نَذَرَ أَنۡ يَحُجَّ، إِذَا نَذَرَ أَنۡ يَعۡتَمِرَ، قَالَ ﷺ: (مَنۡ نَذَرَ أَنۡ يُطِيعَ اللهَ فَلۡيُطِعۡهُ)، أَمَّا نَذۡرُ الۡمَعۡصِيَةِ فَإِنَّهُ يَحۡرُمُ الۡوَفَاءُ بِهِ، قَالَ ﷺ: (وَمَنۡ نَذَرَ أَنۡ يَعۡصِيَ اللهَ فَلَا يَعۡصِهِ).

Nazar adalah mengharuskan suatu ibadah yang tidak diharuskan oleh syariat. Nazar adalah salah satu jenis ibadah. Allah taala berfirman yang artinya, “Mereka menunaikan nazar dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (QS. Al-Insan: 7). Allah menyanjung mereka karena mereka menunaikan nazar. Allah taala juga berfirman yang artinya, “Apa saja yang kalian nafkahkan atau apa saja yang kalian nazarkan, maka sesungguhnya Allah mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah: 270). Allah menyandingkan nazar dengan nafkah dan sedekah, sementara nafkah dan sedekah merupakan ibadah, sehingga nazar pun juga ibadah. Allah subhanahu wa taala berfirman yang artinya, “Dan hendaklah mereka menyempurnakan nazar-nazar mereka dan hendaklah mereka melakukan melakukan tawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS. Al-Hajj: 29). Allah menyandingkan nazar dengan tawaf. Tawaf adalah ibadah untuk Allah azza wajalla, sehingga penunaian nazar juga ibadah. Ini dalam hal nazar ketaatan, yaitu seperti ketika ia bernazar bersedekah, salat, puasa, haji, atau umrah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa saja yang bernazar untuk menaati Allah, maka taatilah Allah.” (HR. Al-Bukhari nomor 6696 dan Ahmad nomor 24075 dari hadis ‘Aisyah). Adapun nazar kemaksiatan, maka haram menunaikannya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dan siapa saja yang bernazar untuk bermaksiat kepada-Nya, maka janganlah ia bermaksiat pada-Nya.”

وَمِنۡ نَذۡرِ الۡمَعۡصِيَةِ: النَّذۡرُ لِلۡقُبُورِ، فَمَنۡ نَذَرَ لِقَبۡرٍ أَوۡ نَذَرَ لِمَيِّتٍ فَإِنَّهُ يَكُونُ مُشۡرِكًا شِرۡكًا أَكۡبَرَ؛ لِأَنَّهُ صَرَّفَ نَوۡعًا مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ لِغَيۡرِ اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى.

Termasuk nazar kemaksiatan adalah nazar kepada kuburan. Sehingga siapa saja yang nazar untuk suatu kubur atau orang yang sudah mati, maka dia menjadi orang musyrik dengan kesyirikan akbar karena dia telah memalingkan salah satu jenis ibadah untuk selain Allah subhanahu wa taala.

[8] الۡخَوۡفُ مِنۡ أَعۡمَالِ الۡقُلُوبِ، فَهُوَ عِبَادَةٌ قَلۡبِيَّةٌ، وَالۡمُرَادُ خَوۡفُ الۡعِبَادَةِ، وَهُوَ الۡخَوۡفُ الَّذِي يَكُونُ مَعَهُ تَعۡظِيمٌ وَمَحَبَّةٌ لِلۡمَخُوفِ، يُحِبُّهُ وَيَخَافُهُ، هَٰذَا خَوۡفُ الۡعِبَادَةِ وَيُسَمَّى خَوۡفَ السِّرِّ، وَهُوَ لَا يَجُوزُ إِلَّا لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَالَّذِي يَخَافُ مِنۡ مَخۡلُوقٍ خَوۡفَ الۡعِبَادَةِ فَإِنَّهُ أَشۡرَكَ، وَإِذَا عَمِلَ لَهُ نَوۡعًا مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ لِأَنَّهُ يَخَافُهُ، مِثۡلَ الَّذِي يَخَافُ مِنَ الۡجِنِّ فَيَذۡبَحُ لَهُمۡ، أَوِ الَّذِي يَخَافُ مِنَ الۡمَيِّتِ فَيَذۡبَحُ لَهُ، هَٰذَا خَوۡفُ عِبَادَةٍ، فَإِنَّهُ يَكُونُ مُشۡرِكًا الشِّرۡكَ الۡأَكۡبَرَ، أَمَّا الۡخَوۡفُ الطَّبِيعِيُّ كَأَنۡ تَخَافَ مِنَ الۡعَدُوِّ، وَتَخَافَ مِنَ السِّبَاعِ، وَتَخَافَ مِنَ الثَّعَابِينَ، فَهَٰذَا خَوۡفٌ طَبِيعِيٌّ، لَيۡسَ هُوَ بِعِبَادَةٍ.

Khauf (rasa takut) termasuk amalan hati. Jadi khauf adalah ibadah hati dan yang dimaksud adalah khauf ibadah. Yaitu rasa takut yang ada disertai pengagungan dan kecintaan kepada yang ditakuti. Dia mencintainya dan takut kepadanya. Khauf ibadah ini juga dinamakan khauf sirr. Khauf semacam ini tidak boleh kecuali kepada Allah azza wajalla. Sehingga orang yang takut kepada makhluk dengan khauf ibadah, maka sungguh dia telah berbuat syirik. Jika dia melakukan suatu jenis ibadah karena takut kepada makhluk, seperti takut dari jin lalu menyembelih untuk mereka atau takut dari orang yang sudah mati lalu menyembelih untuknya, maka ini adalah khauf ibadah sehingga dia menjadi seorang musyrik dengan kesyirikan akbar. Adapun khauf thabi’i (tabiat rasa takut) seperti engkau takut dari musuh, binatang buas, atau ular besar, maka ini adalah rasa takut yang bersifat tabiat, bukan ibadah.

[9] مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ: الرَّجَاءُ: وَهُوَ تَأۡمِيلُ الۡخَيۡرِ فِيمَا لَا يَقۡدِرُ عَلَيۡهِ إِلَّا اللهُ، فَلَا يَجُوزُ أَنۡ تَرۡجُوَ غَيۡرَ اللهِ فِيمَا لَا يَقۡدِرُ عَلَيۡهِ إِلَّا اللهُ، أَمَّا الرَّجَاءُ فِي الۡأُمُورِ الۡعَادِيَّةِ، كَأَنۡ تَرۡجُوَ مِنۡ شَخۡصٍ أَنۡ يُعۡطِيَكَ مَالًا أَوۡ يُسَاعِدَكَ فِيمَا يَقۡدِرُ عَلَيۡهِ، فَهَٰذَا لَيۡسَ مِنَ الۡعِبَادَةِ.

Termasuk jenis ibadah adalah raja` (harapan) yaitu perasaan mengangankan kebaikan pada perkara yang hanya Allah mampui, sehingga tidak boleh engkau mengharap kepada selain Allah pada perkara yang hanya Allah mampui. Adapun harapan pada perkara umum seperti engkau berharap dari seseorang agar memberikan harta kepadamu atau membantumu dalam perkara yang dia mampu, maka harapan semacam ini bukan termasuk ibadah.

تَقُولُ: يَا أَخِي، أَرۡجُوكَ أَنۡ تَعۡطِيَنِي كَذَا وَكَذَا، مِمَّا يَقۡدِرُ عَلَيۡهِ، لَكِنۡ لَا تَرۡجُ مَخۡلُوقًا فِيمَا لَا يَقۡدِرُ عَلَيۡهِ إِلَّا اللهُ، كَالَّذِينَ يَرۡجُونَ الۡأَمۡوَاتَ وَالۡغَائِبِينَ وَالۡجِنَّ، هَٰذَا رَجَاءُ الۡعِبَادَةِ فَلَا يَجُوزُ، وَهُوَ شِرۡكٌ أَكۡبَرُ.

Engkau boleh mengatakan, “Wahai saudaraku, aku berharap engkau memberikan ini dan ini,” dari hal-hal yang dia mampu. Namun engkau jangan berharap kepada satu makhluk pun dalam hal-hal yang hanya Allah yang mampu, seperti orang-orang yang berharap kepada orang-orang yang sudah meninggal, yang tidak hadir di tempat, atau jin. Ini adalah rasa harap ibadah, sehingga tidak boleh dan merupakan syirik akbar.

[10] مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ: التَّوَكُّلُ: وَهُوَ تَفۡوِيضُ الۡأُمُورِ إِلَى اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى وَالۡاعۡتِمَادُ عَلَيۡهِ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ﴾ [الۡمائدة: ٢٣]. وَقَالَ: ﴿فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِ ۚ﴾ [هود: ١٢٣]. قَرَنَهُ مَعَ الۡعِبَادَةِ، ﴿وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟﴾ هَٰذَا حَصۡرٌ؛ لِأَنَّ تَقۡدِيمَ الۡجَارِّ وَالۡمَجۡرُورِ عَلَى الۡفِعۡلِ يُفِيدُ الۡحَصۡرَ، ﴿وَعَلَى ٱللَّهِ﴾ أَيۡ: لَا عَلَى غَيۡرِهِ ﴿فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ﴾ ﴿إِنَّمَا ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ ٱللَّهُ وَجِلَتۡ قُلُوبُهُمۡ وَإِذَا تُلِيَتۡ عَلَيۡهِمۡ ءَايَـٰتُهُۥ زَادَتۡهُمۡ إِيمَـٰنًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ يَتَوَكَّلُونَ﴾ [الأنفال: ٢]. ﴿وَعَلَىٰ رَبِّهِمۡ﴾ أَيۡ: لَا عَلَى غَيۡرِهِ، فَالتَّوَكُّلُ عِبَادَةٌ لَا يَجُوزُ إِلَّا لِلهِ.

Termasuk jenis-jenis ibadah adalah tawakal. Yaitu, menyerahkan urusan kepada Allah subhanahu wa taala dan bersandar pada-Nya. Allah taala berfirman yang artinya, “Dan hanya bertawakallah kepada Allah jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23). Dan Allah berfirman yang artinya, “Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.” (QS. Hud: 123). Allah menyandingkan tawakal dengan ibadah. “Dan bertawakallah hanya kepada Allah,” ini adalah pembatasan karena didahulukannya jarr dan majrur dari fiil memberi faedah pembatasan. “Dan hanya kepada Allah,” artinya tidak kepada selain Dia. “bertawakallah, jika kalian orang-orang yang beriman.” “Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Rabb mereka bertawakal.” (QS. Al-Anfal: 2). Yaitu: tidak kepada selain Dia. Jadi tawakal adalah ibadah yang tidak boleh kecuali untuk Allah.

أَمَّا التَّوۡكِيلُ فِيمَا يَقۡدِرُ عَلَيۡهِ الۡمَخۡلُوقُ، كَأَنۡ تُوَكِّلَ أَحَدًا يَشۡتَرِي لَكَ حَاجَةً، وَتُوَكِّلَ أَحَدًا يَعۡمَلُ لَكَ عَمَلًا، هَٰذَا جَائِزٌ، الرَّسُولُ ﷺ وَكَّلَ مَنۡ يَشۡتَرِي لَهُ، وَكَانَ يُوَكِّلُ الۡعُمَّالَ يَنُوبُونَ عَنۡهُ فِي بَعۡضِ الۡأُمُورِ، قَالَ تَعَالَى عَنۡ أَصۡحَابِ الۡكَهۡفِ أَنَّهُمۡ قَالُوا: ﴿فَٱبۡعَثُوٓا۟ أَحَدَكُم بِوَرِقِكُمۡ هَـٰذِهِۦٓ إِلَى ٱلۡمَدِينَةِ فَلۡيَنظُرۡ أَيُّهَآ أَزۡكَىٰ طَعَامًا فَلۡيَأۡتِكُم بِرِزۡقٍ مِّنۡهُ وَلۡيَتَلَطَّفۡ وَلَا يُشۡعِرَنَّ بِكُمۡ أَحَدًا﴾ [الكهف: ١٩]. هَٰذَا تَوۡكِيلٌ، فَالتَّوۡكِيلُ جَائِزٌ، أَمَّا التَّوَكُّلُ فَإِنَّهُ يَكُونُ خَاصًّا بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Adapun mewakilkan dalam urusan yang makhluk mampu melakukannya, seperti engkau mewakilkan kepada seseorang untuk membelikan suatu kebutuhan untukmu dan mewakilkan kepada seseorang untuk melakukan suatu pekerjaan, maka ini boleh. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewakilkan kepada orang untuk membelikan sesuatu untuk beliau dan beliau pernah mewakilkan kepada para petugas yang menggantikan beliau dalam sebagian urusan. Allah taala berkata tentang orang-orang yang mendiami gua bahwa mereka mengatakan, “Utuslah salah seorang di antara kalian dengan membawa uang perak kalian ini ke kota dan hendaknya dia melihat makanan mana yang paling bersih lalu hendaknya dia datang membawa makanan itu kepada kalian. Dan hendaknya dia berlaku lemah lembut dan jangan sampai dia memberitahu seorang pun tentang kalian.” (QS. Al-Kahfi: 19). Ini adalah perbuatan mewakilkan. Jadi hukum mewakilkan adalah boleh, adapun tawakal khusus kepada Allah azza wajalla.

[11] وَالۡإِنَابَةُ: الرُّجُوعُ، وَالۡإِنَابَةُ وَالتَّوۡبَةُ بِمَعۡنًى وَاحِدٍ، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَأَنِيبُوٓا۟ إِلَىٰ رَبِّكُمۡ وَأَسۡلِمُوا۟ لَهُۥ﴾ [الزمر: ٥٤].

Inabah artinya kembali. Inabah dan tobat adalah semakna. Allah taala berfirman yang artinya, “Dan kembalilah kepada Rabb kalian dan berserah dirilah kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar: 54).

[12] الۡمَحَبَّةُ: لَهَا مَقَامٌ عَظِيمٌ فِي الۡعِبَادَةِ، وَهِيَ مَحَبَّةُ اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى؛ لِأَنَّ الۡمَحَبَّةَ عَلَى قِسۡمَيۡنِ:

Mahabah (cinta) memiliki tempat yang agung dalam ibadah. Yaitu cinta kepada Allah subhanahu wa tala. Karena cinta ada dua bagian:

مَحَبَّةُ عِبَادَةٍ: وَهِيَ الَّتِي يَكُونُ مَعَهَا ذُلٌّ وَخُضُوعٌ لِلۡمَحۡبُوبِ، وَهَٰذِهِ لَا تَكُونُ إِلَّا لِلهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى؛ لِأَنَّهَا مَحَبَّةُ عِبَادَةٍ.

Jenis pertama adalah mahabah ibadah. Yaitu cinta yang disertai kerendahan dan ketundukan kepada yang dicinta dan ini tidak boleh terjadi kecuali untuk Allah subhanahu wa taala karena ini merupakan mahabah ibadah.

أَمَّا النَّوۡعُ الثَّانِي: وَهُوَ الۡمَحَبَّةُ الطَّبِيعِيَّةِ كَأَنۡ تُحِبَّ الۡمَالَ، وَتُحِبَّ زَوۡجَتَكَ، وَتُحِبَّ أَوۡلَادَكَ، وَتُحِبَّ وَالِدَيۡكَ، وَتُحِبَّ مَنۡ أَحۡسَنَ إِلَيۡكَ، هَٰذِهِ مَحَبَّةٌ طِبِيعِيَّةٌ لَا تُعَدُّ مِنَ الۡعِبَادَةِ؛ لِأَنَّهَا لَيۡسَ مَعَهَا ذُلٌّ، وَلَيۡسَ مَعَهَا خُضُوعٌ، وَإِنَّمَا هِيَ مَوَدَّةٌ مُجَرَّدَةٌ، إِلَّا إِذَا قَدَّمَ مَحَبَّةَ هَٰذِهِ الۡأَشۡيَاءِ عَلَى مَحَبَّةِ اللهِ تَعَالَى فَإِنَّهُ يَكُونُ عَلَيۡهِ وَعِيدٌ شَدِيدٌ، كَمَا قَالَ تَعَالَى: ﴿قُلۡ إِن كَانَ ءَابَآؤُكُمۡ وَأَبۡنَآؤُكُمۡ وَإِخۡوَٰنُكُمۡ وَأَزۡوَٰجُكُمۡ وَعَشِيرَتُكُمۡ وَأَمۡوَٰلٌ ٱقۡتَرَفۡتُمُوهَا وَتِجَـٰرَةٌ تَخۡشَوۡنَ كَسَادَهَا وَمَسَـٰكِنُ تَرۡضَوۡنَهَآ أَحَبَّ إِلَيۡكُم مِّنَ ٱللَّهِ وَرَسُولِهِۦ وَجِهَادٍ فِى سَبِيلِهِۦ فَتَرَبَّصُوا۟ حَتَّىٰ يَأۡتِىَ ٱللَّهُ بِأَمۡرِهِۦ ۗ﴾ [التوبة: ٢٤].

Adapun jenis kedua adalah mahabah yang merupakan tabiat. Seperti jika engkau mencintai harta, mencintai istrimu, mencintai anak-anakmu, mencintai kedua orang tuamu, dan mencintai orang yang berbuat baik kepadamu. Ini adalah mahabah yang merupakan tabiat dan tidak terhitung sebagai ibadah karena mahabah ini tidak disertai dengan kerendahan dan ketundukan. Mahabah jenis ini hanya murni rasa cinta. Kecuali, apabila kecintaan terhadap semua perkara ini dikedepankan daripada kecintaan kepada Allah taala, maka hal ini diancam dengan ancaman yang keras, sebagaimana Allah taala berfirman yang artinya, “Katakanlah, jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, keluarga-keluarga, harta-harta yang kalian usahakan, perdagangan yang kalian khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah yang kalian senangi, lebih kalian cintai daripada Allah dan Rasul-Nya, serta jihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS. At-Taubah: 24)

فَاللهُ لَا يُقَدَّمُ عَلَى مَحَبَّتِهِ شَيۡءٌ مِنَ الۡأَمۡوَالِ وَالۡأَوۡلَادِ وَالۡبِلَادِ وَغَيۡرِ ذٰلِكَ، فَإِنۡ تَعَارَضَتۡ مَحَبَّةُ اللهِ مَعَ مَحَبَّةِ غَيۡرِهِ مِنَ الۡأَمۡوَالِ وَالۡأَوۡلَادِ فَإِنَّهُ يُقَدَّمُ مَحَبَّةُ اللهِ.

Jadi cinta terhadap harta, anak, negeri, dan lain-lain tidak boleh lebih dikedepankan daripada cinta kepada Allah. Sehingga jika cinta kepada Allah saling berbenturan dengan cinta kepada selain-Nya berupa harta atau anak, maka cinta kepada Allah harus dikedepankan.

[13] الۡخَشۡيَةُ: هِيَ نَوۡعٌ مِنَ الۡخَوۡفِ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿فَلَا تَخۡشَوۡهُمۡ وَٱخۡشَوۡنِى﴾ [البقرة: ١٥٠]. فَلَا تُقَدَّمُ خَشۡيَةُ الۡمَخۡلُوقِ عَلَى خَشۡيَةِ اللهِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿ٱلَّذِينَ يُبَلِّغُونَ رِسَـٰلَـٰتِ ٱللَّهِ وَيَخۡشَوۡنَهُۥ وَلَا يَخۡشَوۡنَ أَحَدًا إِلَّا ٱللَّهَ ۗ﴾ [الأحزاب: ٣٩].

Khasyyah adalah satu jenis khauf (rasa takut). Allah taala berfirman yang artinya, “Janganlah engkau takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 150). Jadi takut kepada makhluk tidak boleh lebih dikedepankan daripada takut kepada Allah. Allah taala berfirman yang artinya, “Yaitu orang-orang yang menyampaikan risalah Allah dan mereka takut kepada-Nya. Dan mereka tidak takut kepada siapapun selain kepada Allah.” (QS. Al-Ahzab: 39).

[14] فَالرَّغۡبَةُ تَكُونُ إِلَى اللهِ –جَلَّ وَعَلَى- وَهِيَ الطَّمۡعُ فِيمَا عِنۡدَهُ، قَالَ تَعَالَى: ﴿إِنَّآ إِلَى ٱللَّهِ رَٰغِبُونَ﴾ [التوبة: ٥٩] وَهِيَ الرَّغۡبَةُ فِيمَا عِنۡدَ اللهِ، وَالتَّعَلُّقُ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِذَا رَغِبَ فِيمَا عِنۡدَ اللهِ حَمَلَهُ ذٰلِكَ عَلَى طَاعَةِ اللهِ، وَتَقۡدِيمِ رِضَا اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى.

Raghbah dilakukan kepada Allah jalla wa ‘ala, artinya adalah mengharap yang ada di sisi-Nya. Allah taala berfirman yang artinya, “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berharap kepada Allah.” (QS. At-Taubah: 59). Yaitu berharap apa yang di sisi Allah dan bergantung kepada Allah azza wajalla. Sehingga ketika dia berharap apa yang di sisi Allah, hal itu akan mendorongnya untuk taat kepada Allah dan mengedepankan rida Allah subhanahu wa taala.

[15] وَالرَّهۡبَةُ كَذٰلِكَ هِيَ نَوۡعٌ مِنَ الۡخَوۡفِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَإِيَّـٰىَ فَٱرۡهَبُونِ﴾ [البقرة: ٤٠]. يَجِبُ أَنۡ تَرۡهَبَ اللهَ وَتَخَافَ مِنَ اللهِ وَتَخۡشَى اللهَ، وَلَا تَرۡهَبَ الۡمَخۡلُوقِينَ رَهۡبَةً تَجۡعَلُهُمۡ فِي مَنۡزِلَةِ اللهِ أَوۡ يُسَاوُونَ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ، لَا تَرۡهَبَ مِنۡهُمۡ فَتَتۡرُكَ طَاعَةَ اللهِ مِنۡ أَجۡلِهِمۡ.

Demikian pula, rahbah (rasa cemas) adalah satu jenis dari khauf. Allah taala berfirman yang artinya, “Dan hanya kepada-Ku kalian harus takut.” (QS. Al-Baqarah: 40). Wajib engkau rahbah kepada Allah, khauf dari Allah, dan khasyyah kepada Allah. Engkau tidak boleh takut kepada makhluk-makhluk dengan suatu rasa takut yang menjadikan mereka pada kedudukan Allah atau menjadikan mereka menyamai Allah azza wajalla. Jangan engkau takut dari mereka sehingga menyebabkan engkau meninggalkan ketaatan kepada Allah karena mereka.

[16] التَّأَلُّهُ: التَّعَبُّدُ، وَيُطۡلَقُ التَّأَلُّهُ وَيُرَادُ بِهِ الۡمَحَبَّةَ مِنَ الۡوَلَهِ، وَهُوَ الۡمَحَبَّةُ، هَٰذَا حَقٌّ لِلهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، فَالۡأُلُوهِيَّةُ حَقٌّ لِلهِ –جَلَّ وَعَلَا-، لَا يَجُوزُ أَنۡ يُتَّخَذَ مَعَهُ إِلٰهٌ آخَرُ يُؤَلَّهُ وَيُحَبُّ وَيُعۡبَدُ مَعَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَالۡأُلُوهِيَّةُ حَقٌّ لِلهِ، ﴿وَهُوَ ٱلَّذِى فِى ٱلسَّمَآءِ إِلَـٰهٌ وَفِى ٱلۡأَرۡضِ إِلَـٰهٌ ۚ وَهُوَ ٱلۡحَكِيمُ ٱلۡعَلِيمُ﴾ [الزخرف: ٨٤]. يَعۡنِي: يُأَلِّهُهُ وَيَعۡبُدُهُ وَيُحِبُّهُ أَهۡلُ السَّمَاءِ وَأَهۡلُ الۡأَرۡضِ.

Ta`alluh adalah penyembahan. Disebutkan ta`alluh secara mutlak, namun yang diinginkan dengannya adalah mahabah dari kata al-walah, yaitu kecintaan. Ini hak milik Allah subhanahu wa taala. Jadi uluhiyyah (penyembahan) adalah hak milik Allah jalla wa ‘ala. Tidak boleh dijadikan sesembahan lain di samping Dia sehingga dicintai dan disembah di samping Allah azza wajalla. Jadi uluhiyyah adalah hak milik Allah. Allah berfirman yang artinya, “Dan Dialah Yang disembah di langit dan Yang disembah di bumi. Dan Dialah Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.” (QS. Az-Zukhruf: 84). Yakni Allah disembah, diibadahi, dan dicintai oleh penduduk langit dan penduduk bumi.

[17] الرُّكُوعُ عِبَادَةٌ لَا يَكُونُ إِلَّا لِلهِ، لَا يَرۡكَعُ الۡإِنۡسَانُ لِأَحَدٍ، وَلَا يَخۡضَعُ لِأَحَدٍ وَلَا يَنۡحَنِي لِأَحَدٍ تَعۡظِيمًا لَهُ، فَالۡانۡحِنَاءُ عَلَى وَجۡهِ الذُّلِّ وَالتَّعۡظِيمِ لِمَنۡ أُنۡحَنَي لَهُ رُكُوعٌ لِغَيۡرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَا يَسۡجُدُ إِلَّا لِلهِ، لَا يَسُجُدُ لِلصَّنَمِ، وَلَا لِلۡقَبۡرِ وَلَا لِلضَّرِيحِ، وَلَا لِعَظِيمٍ مِنَ الۡعُظَمَاءِ، لَا يَجُوزُ السُّجُودُ إِلَّا لِلهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، كَانَ الۡفُرۡسُ وَالرُّومُ يُعَظِّمُونَ مُلُوكَهُمۡ فَيَسۡجُدُونَ لَهُمۡ، وَلَمَّا رَآهُمۡ مُعَاذُ بۡنُ جَبَلٍ رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ وَقَدِمَ عَلَى النَّبِيِّ ﷺ أَرَادَ أَنۡ يَسۡجُدَ لَهُ، فَمَنَعَهُ –عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ- مِنۡ ذٰلِكَ وَقَالَ: (لَوۡ كُنۡتَ آمِرًا أَحَدًا أَنۡ يَسۡجُدَ لِأَحَدٍ لَأَمَرۡتُ الۡمَرۡأَةَ أَنۡ تَسۡجُدَ لِزَوۡجِهَا لِعِظَمِ حَقِّهِ عَلَيۡهَا). فَالسُّجُودُ لَا يَكُونُ إِلَّا لِلهِ عَزَ وَجَلَّ.

Rukuk adalah ibadah yang tidak boleh dilakukan kecuali untuk Allah. Seorang manusia tidak boleh rukuk kepada seorang pun, tidak boleh menunduk kepada seorang pun, dan tidak boleh merunduk kepada seorang pun dalam rangka mengagungkannya. Jadi merunduk dalam rangka merendahkan diri dan mengagungkan orang yang dirunduki adalah rukuk kepada selain Allah azza wajalla. Tidak boleh pula sujud kecuali kepada Allah. Tidak boleh sujud kepada berhala, kuburan, atau salah satu pembesar. Tidak boleh sujud kecuali kepada Allah subhanahu wa taala. Dahulu orang-orang Persia dan Romawi mengagungkan raja-raja mereka sampai-sampai sujud kepada mereka. Ketika Mu’adz bin Jabal radhiyallahu ‘anhu melihat mereka, lalu beliau datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hendak sujud kepada beliau. Namun Nabi ‘alaihish shalatu was salam melarang Mu’adz dari hal itu dan beliau bersabda, “Andai aku boleh memerintahkan seseorang untuk sujud kepada orang lain, niscaya aku perintahkan seorang istri untuk sujud kepada suaminya saking besarnya hak suami terhadapnya.” Jadi sujud tidak boleh dilakukan kecuali untuk Allah azza wajalla.

[18] الۡخُشُوعُ مِنۡ أَعۡمَالِ الۡقُلُوبِ، وَالۡخُشُوعُ هُوَ الرِّقَّةُ الَّتِي تَكُونُ فِي الۡقَلۡبِ، وَهَٰذَا لَا يَكُونُ إِلَّا اللهَ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، فَلَا تَخۡشَعۡ لِمَخۡلُوقٍ وَإِنَّمَا تَخۡشَعُ لِلۡخَالِقِ تَعۡظِيمًا لَهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، تَرِقُّ لَهُ وَتَفۡتَقِرُ إِلَيۡهِ، وَتَبۡكِي مِنۡ خَوۡفِهِ وَخَشۡيَتِهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ هُم مِّنۡ خَشۡيَةِ رَبِّهِم مُّشۡفِقُونَ﴾ [الۡمُؤمنون: ٥٧].

Khusyuk termasuk amalan hati. Khusyuk adalah kehinaan yang ada di dalam hati dan ini tidak boleh ditujukan kecuali untuk Allah subhanahu wa taala. Jadi engkau tidak boleh khusyuk kepada satu makhluk pun. Engkau hanya boleh khusyuk kepada Sang Pencipta dalam rangka mengagungkan-Nya subhanahu wa taala. Engkau merendahkan diri kepada-Nya, engkau sangat butuh kepada-Nya, dan engkau menangis karena takut kepada-Nya subhanahu wa taala. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya orang-orang yang berhati-hati karena takut akan Rabb mereka.” (QS. Al-Mu`minun: 57).

[19] التَّذَلُّلُ هُوَ الۡخُضُوعُ، وَهُوَ –كَمَا سَبَقَ- رُكۡنٌ مِنۡ أَرۡكَانِ الۡعِبَادَةِ، فَالۡعِبَادَةُ تَدُورُ عَلَى الۡحُبِّ وَالذُّلِّ، وَالۡخَوۡفِ وَالرَّجَاءِ، فَلَا يَكُونُ الذُّلُّ إِلَّا لِلهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى لَا تَذِلُّ لِمَخۡلُوقٍ مِثۡلِكَ.

Tadzallul adalah ketundukan dan hal itu—sebagaimana telah disebutkan—merupakan salah satu rukun ibadah. Jadi ibadah berporos pada kecintaan dan kehinaan, rasa takut dan harap. Jadi kehinaan tidak boleh dilakukan kecuali untuk Allah subhanahu wa taala. Tidak boleh menghinakan diri kepada makhluk semisal dirimu.

[20] وَهُوَ التَّعۡظِيمُ الَّذِي يَكُونُ مَعَهُ خُضُوعٌ لِلۡمُعَظَّمِ، وَصَرۡفُ شَيۡءٍ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ لِهَٰذَا الۡمُعَظَّمِ، وَصَرۡفُ هَٰذَا النَّوۡعِ مِنَ التۡعَظِيمِ لِغَيۡرِ اللهِ شِرۡكٌ بِاللهِ عَزَّ وَجَلَّ.

Yaitu pengagungan yang disertai ketundukan kepada yang diagungkan dan mengarahkan sedikit saja dari jenis-jenis ibadah kepada yang diagungkan ini. Perbuatan memalingkan jenis ibadah pengagungan ini kepada selain Allah merupakan perbuatan kesyirikan kepada Allah azza wajalla.

[21] لَمَّا ذَكَرَ أَهَمَّ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ أَرَادَ أَنۡ يَسۡتَدِلَّ لِكُلِّ نَوۡعٍ مِنۡ هَٰذِهِ الۡأَنۡوَاعِ؛ لِأَنَّ الۡكَلَامَ بِدُونِ دَلِيلٍ لَا يُقۡبَلُ، لَا سِيَّمَا الۡكَلَامُ فِي هَٰذَا الۡأَمۡرِ الۡعَظِيمِ الۡمُهِمِّ وَهُوَ الۡكَلَامُ فِي الۡعِبَادَاتِ؛ لِأَنَّ الۡعِبَادَاتِ تَوۡقِيفِيَّةٌ، لَا يُفۡعَلُ مِنۡهَا شَيۡءٌ إِلَّا بِدَلِيلٍ.

Ketika Syekh Muhammad bin ‘Abdul Wahhab rahimahullah telah menyebutkan jenis-jenis ibadah yang terpenting, beliau hendak menunjukkan dalil setiap jenis ibadah ini, karena ucapan tanpa dalil tidak bisa diterima terlebih ucapan dalam hal perkara yang agung dan penting ini, yaitu pembicaraan dalam masalah ibadah-ibadah. Karena ibadah merupakan perkara tauqifiyyah artinya sedikit saja dari ibadah tidak boleh dilakukan kecuali dengan dalil.

[22] هَٰكَذَا يَجِبُ أَنۡ تَكُونَ الۡمَسَاجِدُ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، لَا تُبۡنَى لِلرِّيَاءِ وَالسُّمۡعَةِ، أَوۡ تُبۡنَى عَلَى الۡأَضۡرِحَةِ وَالۡقُبُورِ، وَإِنَّمَا تُبۡنَى لِعِبَادَةِ اللهِ وَحۡدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، فَهِيَ بُيُوتُ اللهِ، ﴿فَلَا تَدۡعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًا﴾ [الجن: ١٨]. هَٰذَا مَحَلُّ الشَّاهِدِ، حَيۡثُ نَهَى أَنۡ يُدۡعَى مَعَهُ غَيۡرُهُ.

Demikianlah, wajib agar masjid-masjid itu untuk Allah azza wajalla. Masjid tidak boleh dibangun untuk ria dan sumah. Tidak boleh dibangun di atas kuburan. Masjid hanya dibangun untuk ibadah kepada Allah semata tidak ada sekutu bagi-Nya. Masjid adalah rumah-rumah Allah. Allah berfirman yang artinya, “Jadi janganlah kalian berdoa kepada sesuatupun di samping Allah.” (QS. Al-Jinn: 18). Inilah letak pendalilannya, yaitu Allah melarang di samping berdoa kepada Allah, juga berdoa kepada selain Dia.

[23] أَيۡ: هُوَ الَّذِي يُدۡعَى حَقًّا، وَأَمَّا غَيۡرُهُ مِنَ الۡأَصۡنَامِ وَالۡأَحۡجَارِ وَالۡقُبُورِ وَالۡأَضۡرِحَةِ فَدُعَاؤُهَا بَاطِلٌ؛ لِأَنَّهَا لَا تَسۡمَعُ وَلَا تَقۡدِرُ عَلَى إِجَابَةِ مَنۡ دَعَاهَا، ﴿وَٱلَّذِينَ يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ لَا يَسۡتَجِيبُونَ لَهُم بِشَىۡءٍ إِلَّا كَبَـٰسِطِ كَفَّيۡهِ إِلَى ٱلۡمَآءِ لِيَبۡلُغَ فَاهُ﴾ [الرعد: ١٤]. لَوۡ جِئۡتَ إِلَى مَاءٍ فِي قَعۡرِ بِئۡرٍ وَلَيۡسَ مَعَكَ دَلۡوٌ وَلَا حَبۡلٌ، وَجَعَلۡتَ تُشِيرُ إِلَى الۡمَاءِ لِيَرۡتَفِعَ إِلَى فَمِكَ فَإِنَّهُ لَا يَصِلُ إِلَيۡكَ، وَهَٰذَا مَثَلُ مَنۡ يَدۡعُو غَيۡرَ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّ حُصُولَ نَفۡعِهِ لَهُ مِنَ الۡمُسۡتَحِيلِ كَاسۡتِحَالَةِ وُصُولِ الۡمَاءِ إِلَى مَنۡ يَبۡسُطُ يَدَهُ إِلَى الۡمَاءِ لِيَرۡتَفِعَ إِلَى فَمِهِ دُونَ أَنۡ يَكُونَ مَعَهُ سَبَبٌ يَرۡفَعُهُ.

Artinya, Allah adalah Zat yang tepat untuk menujukan doa. Adapun selain Allah, seperti berhala-berhala, bebatuan, kuburan, maka berdoa kepada mereka adalah batil karena benda-benda tersebut tidak bisa mendengar dan tidak mampu memperkenankan siapa saja yang berdoa kepadanya. Allah berfirman yang artinya, “Dan orang-orang yang berdoa kepada sesembahan selain Dia, maka sesembahan itu tidak sanggup untuk memenuhi permintaan mereka sedikit pun, kecuali seperti orang yang membentangkan telapak tangannya di air agar air itu bisa sampai ke mulutnya.” (QS. Ar-Ra’d: 14). Andai engkau datang ke tempat air di bibir sumur dalam keadaan tidak ada timba dan tali, lalu engkau memberi isyarat ke arah air agar naik ke mulutmu, niscaya air itu tidak bisa sampai kepadamu. Ini adalah permisalan orang yang berdoa kepada selain Allah azza wajalla karena terwujudnya kemanfaatan untuknya termasuk perkara yang mustahil sebagaimana kemustahilan air bisa sampai kepada orang yang membentangkan tangannya ke arah air agar naik ke mulutnya tanpa ada satu sebab pun yang bisa membuat air itu naik kepadanya.

[24] الدَّلِيلُ عَلَى أَنَّ الۡاسۡتِعَانَةَ نَوۡعٌ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ هَٰذِهِ الۡآيَةُ ﴿إِيَّاكَ نَعۡبُدُ وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ﴾ [الفاتحة: ٥]. فَقُدِّمَ الۡمَعۡمُولُ فِي ﴿وَإِيَّاكَ نَسۡتَعِينُ﴾ عَلَى الۡعَامِلِ وَهُوَ ﴿نَسۡتَعِينُ﴾ وَهَٰذَا يُفِيدُ الۡحَصۡرَ، أَيۡ: لَا نَسۡتَعِينُ بِغَيۡرِكَ فِي الۡأُمُورِ الَّتِي لَا يَقۡدِرُ عَلَيۡهَا إِلَّا أَنۡتَ، لَا نَسۡتَعِينُ بِصَنَمٍ وَلَا بِوَثَنٍ وَلَا بِقَبۡرٍ وَلَا بِحَجَرٍ وَلَا بِشَجَرٍ.

Dalil bahwa istianah merupakan salah satu jenis ibadah adalah ayat ini, yaitu ayat yang artinya, “Hanya kepada Engkau kami beribadah dan hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5). Dikedepankannya ma’mul (obyek) dalam kalimat “Hanya kepada Engkau kami meminta pertolongan” dari ‘amil, yaitu “kami meminta pertolongan” memberi faedah pembatasan. Artinya, kami tidak meminta pertolongan kepada selain Engkau dalam perkara-perkara yang tidak ada yang mampu melakukannya kecuali Engkau. Kami tidak meminta pertolongan kepada patung, berhala, kuburan, batu, atau pohon.

[25] يُذَكِّرُ اللهُ الۡمُؤۡمِنِينَ بِمَا حَصَلَ لَهُمۡ فِي بَدۡرٍ، حِينَ اشۡتَدَّ بِهِمُ الۡأَمۡرُ فَاسۡتَغَاثُوا بِهِ فَأَغَاثَهُمۡ، قَالَ تَعَالَى: ﴿إِذۡ تَسۡتَغِيثُونَ رَبَّكُمۡ فَٱسۡتَجَابَ لَكُمۡ أَنِّى مُمِدُّكُم بِأَلۡفٍ مِّنَ ٱلۡمَلَـٰٓئِكَةِ مُرۡدِفِينَ﴾ [الأنفال: ٩] فَأَغَاثَهُمُ اللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى بِالۡمَلَائِكَةِ تُثَبِّتُهُمۡ وَتُعِينُهُمۡ عَلَى الۡقِتَالِ، وَتُوقِعُ الرُّعۡبَ فِي قُلُوبِ الۡأَعۡدَاءِ ﴿إِذۡ يُوحِى رَبُّكَ إِلَى ٱلۡمَلَـٰٓئِكَةِ أَنِّى مَعَكُمۡ فَثَبِّتُوا۟ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ۚ سَأُلۡقِى فِى قُلُوبِ ٱلَّذِينَ كَفَرُوا۟ ٱلرُّعۡبَ﴾ [الأنفال: ١٢]. فَالۡمَلَائِكَةُ نَزَلَتۡ فِي سَاحَةِ الۡقِتَالِ فِي بَدۡرٍ مَعَ الۡمُؤۡمِنِينَ تُثَبِّتُهُمۡ وَتُقَوِّي قُلُوبَهُمۡ، وَتَطۡمَئِنُّهُمۡ وَتُوقِعُ الرُّعۡبَ فِي قُلُوبِ أَعۡدَائِهِمۡ، وَتُعِينُ الۡمُؤۡمِنِينَ عَلَى الۡقِتَالِ، فَالَّذِينَ يَقۡتُلُونَ الۡكُفَّارَ هُمُ الۡمُؤۡمِنُونَ، لَكِنۡ الۡمَلَائِكَةُ تُمِدُّهُمۡ وَتُعِينُهُمۡ وَتُقَوِّيهِمۡ وَتُثَبِّتُهُمۡ.

Allah mengingatkan kaum mukminin dengan apa yang telah terjadi pada mereka di perang Badr ketika keadaan yang sangat gawat menimpa mereka. Lalu mereka beristigasah kepada Allah dan Allah pun memperkenankan doa mereka. Allah taala berfirman yang artinya, “(Ingatlah), ketika kalian memohon pertolongan kepada Rabb kalian, lalu Allah memperkenankan permintaan kalian. Sesungguhnya Aku akan mendatangkan bala bantuan kepada kalian dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (QS. Al-Anfal: 9). Allah subhanahu wa taala memperkenankan istigasah kaum mukminin dengan mengirim malaikat yang mengokohkan dan membantu mereka dalam peperangan itu. Dan Allah menyusupkan perasaan takut di hati-hati para musuh itu. Allah berfirman yang artinya, “(Ingatlah), ketika Rabb-mu mewahyukan kepada para malaikat: Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang beriman. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir.” (QS. Al-Anfal: 12). Jadi para malaikat turun di medan tempur perang Badr bersama kaum mukminin untuk meneguhkan dan menguatkan hati-hati mereka; menenteramkan mereka dan menyusupkan perasaan takut di hati-hati musuh kaum mukminin; membantu kaum mukminin pada peperangan itu. Jadi yang membunuh orang-orang kafir adalah kaum mukminin, sedangkan para malaikat membantu, menolong, menguatkan, dan meneguhkan mereka.

[26] قُرِنَ النُّسُكُ وَهُوَ الذَّبۡحُ مَعَ الصَّلَاةِ، وَالصَّلَاةُ عِبَادَةٌ، فَالنُّسُكُ عِبَادَةٌ ﴿قُلۡ إِنَّ صَلَاتِى وَنُسُكِى وَمَحۡيَاىَ وَمَمَاتِى لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَـٰلَمِينَ﴾ [الأنعام: ١٦٢] مَا أَحۡيَا عَلَيۡهِ وَمَا أَمُوتُ عَلَيۡهِ كُلُّهُ لِلهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى ثُمَّ قَالَ: ﴿لَا شَرِيكَ لَهُۥ ۖ﴾ نَفَى الشِّرۡكَ فِي الذَّبۡحِ وَفِي الصَّلَاةِ، وَنَفَى الشِّرۡكَ فِي الۡحَيَاةِ وَالۡمَوۡتِ، ثُمَّ قَالَ: ﴿وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ﴾ أَيۡ: يَقُولُ الرَّسُولُ ﷺ: ﴿وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ﴾ أَيۡ: أَمَرَنِيَ اللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى ﴿وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ﴾ [الأنعام: ١٦٣]. أَيۡ: أَوَّلُ الۡمُنۡقَادِينَ الۡمُمۡتَثِلِينَ لِهَٰذَا الۡأَمۡرِ.

Nusuk, yaitu penyembelihan, disandingkan dengan salat. Salat adalah ibadah, sehingga nusuk juga ibadah. Allah berfirman yang artinya, “Katakan, sesungguhnya salatku, sembelihanku, hidupku, dan matiku untuk Allah Rabb alam semesta.” (QS. Al-An’am: 162). Kehidupanku dan kematianku seluruhnya untuk Allah subhanahu wa taala. Kemudian Allah berfirman yang artinya, “Tidak ada sekutu bagi-Nya.” Allah menafikan kesyirikan dalam penyembelihan dan salat. Allah juga menafikan kesyirikan dalam hidup dan mati. Kemudian Allah berfirman yang artinya, “Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku,” maksudnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku,” yaitu Allah subhanahu wa taala memerintahkan aku. “Dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah).” (QS. Al-An’am: 163). Yaitu yang pertama-tama tunduk dan melaksanakan perintah ini.

[27] فَدَلَّ عَلَى أَنَّ النَّذۡرَ عِبَادَةٌ يَجِبُ إِخۡلَاصُهَا لِلهِ، فَمَنۡ نَذَرَ لِغَيۡرِ اللهِ كَالۡمَوۡتَى وَالۡقُبُورِ وَالۡأَضۡرِحَةِ فَهُوَ مُشۡرِكٌ، وَهَٰذَا يَقَعُ كَثِيرًا مِنَ الَّذِينَ يَنۡذُرُونَ لِلۡقُبُورِ وَيَنۡذُرُونَ لِلۡأَمۡوَاتِ يَتَقَرَّبُونَ إِلَيۡهِمۡ بِذٰلِكَ، وَهَٰذَا نَذۡرُ مَعۡصِيَةٍ وَنَذۡرُ شِرۡكٍ، لَا يَجُوزُ الۡوَفَاءُ بِهِ، أَمَّا مَنۡ نَذَرَ لِلهِ فَإِنَّهُ يَجِبُ عَلَيۡهِ الۡوَفَاءُ لِأَنَّهُ عِبَادَةٌ.

Ayat ini menunjukkan bahwa nazar adalah ibadah yang wajib diikhlaskan untuk Allah. Sehingga siapa saja yang bernazar kepada selain Allah seperti kepada orang mati atau kuburan, maka dia menjadi musyrik. Hal ini sering terjadi pada orang-orang yang bernazar kepada kuburan-kuburan dan orang-orang yang telah mati dalam rangka mendekatkan diri kepada mereka dengan cara itu. Ini adalah nazar kemaksiatan dan nazar kesyirikan yang tidak boleh ditunaikan. Adapun siapa saja yang bernazar kepada Allah, maka dia wajib menunaikan karena nazar tersebut merupakan ibadah.

[28] لَمَّا تَوَعَّدَ الۡمُشۡرِكُونَ رَسُولَ اللهِ ﷺ وَأَصۡحَابَهُ بَعۡدَ وَقۡعَةِ أُحُدٍ وَقَالُوا: إِنَّا سَنَرۡجِعُ إِلَيۡكُمۡ وَنَسۡتَأۡصِلُكُمۡ، فَالۡمُؤۡمِنُونَ مَا زَادُوا عَلَى أَنۡ قَالُوا: ﴿حَسۡبُنَا ٱللَّهُ وَنِعۡمَ ٱلۡوَكِيلُ﴾ [آل عمران: ١٧٣]. يَعۡنِي نَحۡنُ نَعۡتَمِدُ عَلَى اللهِ وَلَا يَهُمُّنَا تَهۡدِيدُكُمۡ أَوۡ وَعِيدُكُمۡ، فَنَحۡنُ نَعۡتَمِدُ عَلَى اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، ثُمَّ قَالَ –جَلَّ وَعَلَا-: ﴿إِنَّمَا ذ‌ٰلِكُمُ ٱلشَّيۡطَـٰنُ يُخَوِّفُ أَوۡلِيَآءَهُۥ ﴾ [آل عمران: ١٧٥] هَٰذَا التَّخۡوِيفُ إِنَّمَا هُوَ مِنَ الشَّيۡطَانِ، ﴿يُخَوِّفُ أَوۡلِيَآءَهُۥ ﴾ يَعۡنِي: يُخَوِّفُكُمۡ بِأَوۡلِيَائِهِ ﴿فَلَا تَخَافُوهُمۡ وَخَافُونِ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ﴾ [آل عمران: ١٧٥] هَٰذَا هُوَ مَحَلُّ الشَّاهِدِ، دَلَّ عَلَى أَنَّ الۡخَوۡفَ نَوۡعٌ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ يَجِبُ أَنۡ يُفۡرَدَ اللهُ بِهِ.

Ketika orang-orang musyrik mengancam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabat beliau setelah perang Uhud dan berkata, “Sesungguhnya kami akan kembali kepada kalian dan kami akan menumpas kalian seakar-akarnya.” Maka orang-orang mukmin tidak lebih dari mengatakan, “Cukuplah Allah bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung.” (QS. Ali ‘Imran: 173). Yakni kami bersandar kepada Allah dan gertakan atau ancaman kalian tidak membuat kami sedih. Kami bersandar kepada Allah subhanahu wa taala. Kemudian Allah jalla wa ‘ala berfirman yang artinya, “Itu hanyalah setan yang menakut-nakuti kalian dengan kawan-kawannya.” (QS. Ali ‘Imran: 175). Upaya untuk menakut-nakuti ini hanyalah dari setan. “Menakut-nakuti (dengan) kawan-kawannya,” yakni menakut-nakuti kalian dengan kawan-kawannya. “Jadi janganlah kalian takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran: 175). Penggalan ayat inilah yang menjadi argumen yang menunjukkan bahwa khauf (rasa takut) adalah salah satu jenis ibadah yang wajib mengesakan Allah padanya.

[29] قَالَ الۡمُفَسِّرُونَ: مَعۡنَاهَا –وَاللهُ أَعۡلَمُ-: يَرۡجُو أَنۡ يَرَى رَبَّهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ فِي الۡجَنَّةِ، ﴿فَلۡيَعۡمَلۡ عَمَلًا صَـٰلِحًا وَلَا يُشۡرِكۡ بِعِبَادَةِ رَبِّهِۦٓ أَحَدًۢا ﴾ [الكهف: ١١٠] فَجَعَلَ الرَّجَاءَ مِنَ الۡعِبَادَةِ وَأَمَرَ أَلَّا يُشۡرِكَ بِهِ مَعَهُ غَيۡرَهُ.

Para mufasir berkata, “Makna ayat tersebut—wallahualam—, mereka berharap agar dapat melihat Rabb-nya subhanahu wa taala pada hari kiamat di janah.” Allah berfirman yang artinya, “Hendaknya dia mengerjakan amal saleh dan tidak menyekutukan sesuatupun dalam beribadah kepada Rabb-nya.” (QS. Al-Kahfi: 110). Allah menjadikan raja` (rasa harap) termasuk ibadah dan memerintahkan agar tidak mempersekutukan selain Allah di samping Allah dalam ibadah tersebut.

[30] التَّوَكُّلُ مِنۡ أَعۡظَمِ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿فَٱعۡبُدۡهُ وَتَوَكَّلۡ عَلَيۡهِ ۚ﴾ [هود: ١٢٣]. ﴿وَعَلَى ٱللَّهِ فَتَوَكَّلُوٓا۟ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ﴾ [المائدة: ٢٣]. فَمَنۡ تَوَكَّلَ عَلَى اللهِ كَفَاهُ، ﴿وَمَن يَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِ فَهُوَ حَسۡبُهُۥٓ ۚ﴾ [الطلاق: ٣]. يَعۡنِي: كَافِيهِ، وَمَنۡ يَتَوَكَّلُ عَلَى مَخۡلُوقٍ فَإِنَّ اللهَ يَكِلُهُ إِلَى ذٰلِكَ الۡمَخۡلُوقِ الضَّعِيفِ.

وَفِي هَٰذِهِ الۡآيَةِ الَّتِي سَاقَهَا الۡمُصَنِّفُ جَعَلَ اللهُ التَّوَكُّلَ شَرۡطًا فِي صِحَّةِ الۡإِيمَانِ. فَمَنۡ لَمۡ يَتَوَكَّلۡ عَلَى اللهِ فَلَيۡسَ بِمُؤۡمِنٍ.

Tawakal termasuk jenis ibadah yang paling agung. Allah taala berfirman yang artinya, “Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya.” (QS. Hud: 123). “Dan kepada Allah saja, kalian bertawakal jika kalian orang-orang yang beriman.” (QS Al-Maidah: 23). Siapa saja yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupinya, “Siapa saja yang bertawakal kepada Allah, niscaya Dia yang akan mencukupinya.” (QS. Ath-Thalaq: 3). Yakni, Allah Yang akan mencukupinya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada makhluk, maka sesungguhnya Allah akan menyerahkannya kepada makhluk yang lemah itu.

Di dalam ayat yang dibawakan oleh penulis ini, Allah menjadikan tawakal sebagai sebuah syarat keabsahan iman. Jadi siapa saja yang tidak bertawakal kepada Allah, maka dia bukan seorang mukmin.

[31] الۡإِنَابَةُ: الرُّجُوعُ، وَأَنِيبُوا: يَعۡنِي: ارۡجِعُوا إِلَيۡهِ بِالطَّاعَةِ وَتَرۡكِ الۡمَعۡصِيَةِ، فَالۡإِنَابَةُ نَوۡعٌ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ.

Inabah adalah kembali. Ber-inabah-lah kalian, yakni kembalilah kalian kepada-Nya dengan ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan. Jadi inabah salah satu jenis ibadah.

[32] ﴿وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ أَشَدُّ حُبًّا لِّلَّهِ ۗ﴾ [البقرة: ١٦٥] لِأَنَّهُمۡ أَحَبُّوا اللهَ وَحۡدَهُ، وَلَمۡ يُحِبُّوا مَعَهُ غَيۡرَهُ، أَمَّا الۡمُشۡرِكُونَ فَإِنَّهُمۡ أَحَبُّوا مَعَ اللهِ غَيۡرَهُ؛ وَلِذٰلِكَ صَارُوا مُشۡرِكِينَ.

Firman Allah yang artinya, “Sedangkan orang-orang yang beriman, mereka sangat cinta kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165). Karena mereka mencintai Allah semata dan di samping mencintai Allah, mereka tidak mencintai selain Allah. Adapun orang-orang musyrik, mereka di samping mencintai Allah, juga mencintai selain Dia. Karena itulah mereka menjadi orang-orang musyrik.

[33] فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الۡخَشۡيَةَ نَوۡعٌ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، وَأَنَّ مَنۡ خَشِيَ غَيۡرَ اللهِ فَتَرَكَ مَا أَوۡجَبَهُ اللهُ عَلَيۡهِ فَقَدۡ أَشۡرَكَ بِهِ.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa khasyyah (rasa takut) adalah salah satu jenis ibadah dan bahwa siapa saja yang takut kepada selain Allah sehingga meninggalkan apa yang diwajibkan Allah kepadanya, maka dia telah berbuat syirik kepada Allah.

[34] لَمَّا ذَكَرَ اللهُ فِي سُورَةِ الۡأَنۡبِيَاءِ مَوَاقِفَ الۡأَنۡبِيَاءِ فِي الۡعِبَادَةِ وَمَوَاقِفَهُمۡ عِنۡدَ الۡابۡتِلَاءِ وَالۡامۡتِحَانِ، قَالَ: ﴿إِنَّهُمۡ كَانُوا۟ يُسَـٰرِعُونَ فِى ٱلۡخَيۡرَٰتِ وَيَدۡعُونَنَا رَغَبًا﴾ أَيۡ: طَمۡعًا فِيمَا عِنۡدَ اللهِ، ﴿وَرَهَبًا ۖ﴾ [الأنبياء: ٩٠] أَيۡ: خَوۡفًا مِنۡ عِقَابِهِ، فَدَلَّ عَلَى أَنَّ الرَّغۡبَةَ وَالرَّهۡبَةَ نَوۡعَانِ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ يَجِبُ إِخۡلَاصُهُمَا لِلهِ، قَالَ تَعَالَى: ﴿وَإِيَّـٰىَ فَٱرۡهَبُونِ﴾ [البقرة: ٤٠]. قُدِّمَ الۡجَارُّ وَالۡمَجۡرُورُ لِيُفِيدُ الۡحَصۡرَ؛ أَيۡ: لَا نَرۡغَبُ إِلَى غَيۡرِهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى.

Ketika Allah telah menyebutkan di dalam surah Al-Anbiya` tentang pendirian para Nabi dalam ibadah dan pendirian mereka ketika ujian dan cobaan, Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya mereka bersegera dalam berbagai kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan raghbah,” yakni sangat mengharap apa yang ada di sisi Allah. “Serta rahbah,” (QS. Al-Anbiya`: 90, yakni takut dari hukuman-Nya. Sehingga ayat ini menunjukkan bahwa raghbah dan rahbah adalah dua jenis di antara sekian jenis ibadah yang wajib mengikhlaskan dua ibadah itu untuk Allah. Allah taala berfirman yang artinya, “Dan hanya kepada-Ku, kalian harus takut.” (QS. Al-Baqarah: 40). Dikedepankannya jarr dan majrur adalah untuk memberi faedah pembatasan. Maksudnya, kami tidak takut kepada selain Allah subhanahu wa taala.

وَفِي الۡآيَةِ رَدٌّ عَلَى الصُّوفِيَّةِ الَّذِينَ يَقُولُونَ: لَا نَعۡبُدُهُ خَوۡفًا مِنۡ نَارِهِ وَلَا طَمۡعًا فِي جَنَّتِهِ، وَإِنَّمَا نَعۡبُدُهُ لِأَنَّنَا نُحِبُّهُ وَهَٰذَا مُخَالِفٌ لِمَا عَلَيۡهِ الۡأَنۡبِيَاءُ.

Di dalam ayat ini ada bantahan kepada kelompok Shufiyyah (penganut Sufisme) yang mengatakan, “Kami tidak beribadah kepada Allah karena takut dari neraka-Nya dan mengharap janah-Nya. Kami beribadah kepada Allah hanya karena kami mencintai-Nya.” Ucapan ini menyelisihi pendirian para Nabi.

[35] إِلٰهُكُمۡ: يَعۡنِي: مَعۡبُودُكُمۡ الۡمُسۡتَحِقُّ لِلۡعِبَادَةِ، إِلٰهٌ وَاحِدٌ وَهُوَ اللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى لَا يَسۡتَحِقُّ الۡعِبَادَةَ غَيۡرُهُ ﴿ذَٰلِكَ بِأَنَّ ٱللَّهَ هُوَ ٱلۡحَقُّ وَأَنَّ مَا يَدۡعُونَ مِن دُونِهِۦ هُوَ ٱلۡبَـٰطِلُ﴾ [الحج: ٦٢]. وَكُلُّ مَنۡ عَبَدَ غَيۡرَ اللهِ فَقَدۡ اتَّخَذَهُ إِلٰهًا، لَكِنَّهُ إِلٰهٌ بَاطِلٌ، وَالۡإِلٰهُ الۡحَقُّ هُوَ اللهُ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، فَالۡأُلُوهِيَّةُ حَقٌّ لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَجُوزُ أَنۡ نَتَأَلَّهَ لِغَيۡرِهِ.

Ilah kalian artinya sembahan kalian yang berhak diibadahi, sembahan yang esa, yaitu Allah subhanahu wa taala. Adapun selain Allah tidak berhak diibadahi. Allah berfirman yang artinya, “Yang demikian itu karena Allah Dialah (Ilah) yang Mahabenar. Adapun apa saja yang mereka seru selain Dia adalah batil.” (QS. Al-Hajj: 62). Setiap orang yang menyembah selain Allah, maka dia telah menjadikan yang disembah itu sebagai ilah, namun ilah yang batil. Adapun ilah yang benar adalah Allah subhanahu wa taala. Jadi uluhiyyah adalah hak milik Allah subhanahu wa taala, tidak boleh kita menjadikan selain Allah sebagai ilah.

[36] حَيۡثُ أَمَرَ اللهُ بِالرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ، وَالرُّكُوعُ هُوَ الۡخُضُوعُ بِالرَّأۡسِ وَالۡانۡحِنَاءُ، وَالسُّجُودُ: وَضۡعُ الۡجَبۡهَةِ عَلَى الۡأَرۡضِ عَلَى وَجۡهِ التَّعۡظِيمِ، هَٰذَا لَا يَكُونُ إِلَّا لِلهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، لَا يَجُوزُ لِأَحَدٍ أَنۡ يَرۡكَعَ لِأَحَدٍ، وَلَا أَنۡ يَسۡجُدَ لِأَحَدٍ، فَإِنۡ رَكَعَ لِغَيۡرِ اللهِ أَوۡ سَجَدَ لِغَيۡرِ اللهِ فَهُوَ مُشۡرِكٌ.

Dalam ayat tersebut, Allah memerintahkan rukuk dan sujud. Rukuk adalah menundukkan kepala dan merunduk. Sujud adalah meletakkan dahi di atas bumi sebagai bentuk pengagungan. Ini tidak boleh dilakukan kecuali untuk Allah subhanahu wa taala. Tidak boleh bagi seorang pun untuk rukuk atau sujud kepada orang lain. Jika dia rukuk atau sujud untuk selain Allah, maka dia seorang musyrik.

[37] الۡخُشُوعُ هُوَ الۡانۡخِفَاضُ وَعَدَمُ التَّرَفُّعِ، وَهُوَ نَوۡعٌ مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، وَهَٰذِهِ فِيهَا الثَّنَاءُ عَلَى مُؤۡمِنِي أَهۡلِ الۡكِتَابِ الۡمُتَّصِفِينَ بِهَٰذِهِ الصِّفَةِ، فَهُمۡ لَا يَخۡشَعُونَ لِغَيۡرِهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى.

Khusyuk adalah merendah dan tidak merasa tinggi. Khusyuk ini adalah satu jenis dari sekian jenis ibadah. Dalam ayat tersebut, ada sanjungan bagi orang-orang mukmin ahli kitab yang berhias dengan sifat khusyuk ini. Mereka tidak khusyuk kepada selain Allah subhanahu wa taala.

[38] لِأَنَّ هَٰذِهِ كُلَّهَا مِنۡ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، فَمَنۡ صَرَفَ مِنۡهَا نَوۡعًا فَإِنَّهُ يَكُونُ مُشۡرِكًا بِاللهِ فِي عِبَادَتِهِ الشِّرۡكَ الۡأَكۡبَرَ الَّذِي لَا يُغۡفَرُ إِلَّا بِالتَّوۡبَةِ، وَكَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ يَدَّعُونَ الۡإِسۡلَامَ وَيَصۡرِفُونَ أَنۡوَاعًا كَثِيرَةً مِنۡ هَٰذِهِ الۡأَنۡوَاعِ لِغَيۡرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، نَسۡأَلُ اللهَ الۡعَافِيَةَ، وَيَعۡتَبِرُونَ هَٰذَا لَيۡسَ مِنَ الۡعِبَادَةِ وَإِنَّمَا هَٰؤُلَاءِ شُفَعَاءُ وَوَسَائِطُ تُقَرِّبُهُمۡ إِلَى اللهِ، يُزَيِّنُ لَهُمۡ شَيَاطِينُ الۡجِنِّ وَالۡإِنۡسِ هَٰذَا الۡعَمَلَ، وَيُسَمُّونَ الشِّرۡكَ بِغَيۡرِ اسۡمِهِ، يُسَمُّونَهُ طَلَبًا لِلشَّفَاعَةِ، يُسَمُّونَهُ تَوَسُّلًا إِلَى اللهِ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَى، إِلَى غَيۡرِ ذٰلِكَ مِنَ الۡأَسۡمَاءِ الَّتِي أَضَلُّوا بِهَا كَثِيرًا مِنَ الرِّعَاعِ، لَا سِيَّمَا وَأَنَّهُمۡ يُرَغِّبُونَ بِأَنَّهُ مَنۡ فَعَلَ هَٰذَا حَصَلَ لَهُ كَذَا، وَأَنۡ مَنۡ لَمۡ يَفۡعَلۡهُ يَحۡصُلُ عَلَيۡهِ كَذَا، وَيُرَهِّبُونَهُمۡ، فَالنَّاسُ الَّذِينَ لَيۡسَ فِيهِمۡ إِيمَانٌ قَوِيٌّ يُتَأَثَّرُونَ بِهَٰذَا الۡوَعِيدِ أَوۡ بِهَٰذِهِ الۡوُعُودِ وَالتَّرۡهِيبَاتِ، فَيُمَارِسُونَ هَٰذِهِ الۡأَنۡوَاعَ إِمَّا خَوۡفًا وَإِمَّا رَجَاءً، تَأَثُّرًا بِمَا يَسۡمَعُونَ وَمَا يَقۡرَءُونَ مِنَ الدِّعَايَةِ لِعِبَادَةِ غَيۡرِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَلَا يُسَمُّونَهَا شِرۡكًا بَلۡ يَقُولُونَ إِنَّهَا مِنۡ صَمِيمِ التَّوۡحِيدِ، وَالَّذِي يُنۡكِرُهَا يَصِفُونَهُ بِأَنَّهُ خَارِجِيٌّ، وَهُوَ الَّذِي لَا يَعۡرِفُ قَدۡرَ الصَّالَحِينَ.

Karena semua ini termasuk jenis-jenis ibadah, maka siapa saja yang memalingkan satu jenis dari ibadah-ibadah tersebut, maka dia menjadi orang yang berbuat syirik kepada Allah di dalam ibadah kepada-Nya dengan syirik akbar yang tidak akan diampuni kecuali dengan tobat. Banyak orang yang mengaku Islam namun mereka memalingkan banyak dari jenis-jenis ibadah ini untuk selain Allah azza wajalla. Kita memohon penjagaan kepada Allah. Mereka menganggap ini bukan termasuk ibadah dan mereka ini hanyalah pemberi syafaat dan perantara yang dapat mendekatkan mereka kepada Allah. Para setan dari kalangan jin dan manusia menghias-hiasi amalan ini dan mereka menamakan syirik dengan nama lain. Mereka menamakannya dengan permintaan syafaat. Mereka menamakannya dengan tawasul kepada Allah subhanahu wa taala. Mereka juga menamakannya dengan nama-nama selain itu sehingga mereka menyesatkan banyak rakyat jelata dengannya. Terlebih lagi mereka memberi motivasi bahwa siapa yang melakukan ini, maka akan memperoleh ini. Dan siapa yang tidak melakukannya akan tertimpa musibah ini dalam rangka menakut-nakuti mereka. Sehingga orang-orang yang tidak memiliki iman yang kuat menjadi terpengaruh dengan ancaman, janji, dan intimidasi ini. Lalu mereka pun mencoba melakukan amalan syirik ini, bisa jadi dengan rasa takut atau rasa harap karena pengaruh apa yang mereka dengar atau baca dari propaganda/ajakan untuk beribadah kepada selain Allah azza wajalla. Para setan dari kalangan jin dan manusia itu tidak menamakannya dengan kesyirikan, bahkan mereka menamakannya sebagai bagian dari inti tauhid. Sementara orang yang mengingkari amalan kesyirikan ini, akan mereka sifati bahwa dia adalah orang berpemikiran khawarij dan orang tersebut tidak mengerti kedudukan orang-orang saleh.

وَلَا يَتَأَمَّلُونَ الۡقُرۡآنَ وَالسُّنَّةَ؛ لِأَنَّ اللهَ أَعۡمَى بَصَائِرَهُمۡ فَلَمۡ يَلۡتَفِتُوا إِلَى دَلَائِلِ الۡقُرۡآنِ وَالسُّنَّةِ، وَإِنَّمَا يَلۡتَفِتُونَ إِلَى أَقۡوَالِ شُيُوخِهِمۡ وَمُعَظَّمِيهِمۡ وَيَقُولُونَ: هُمۡ أَعۡلَمُ مِنَّا بِالۡقُرۡآنِ، وَأَعۡلَمُ مِنَّا بِالسُّنَّةِ، هَٰذَا مِنۡ نَاحِيَةٍ.

Mereka tidak mau memperhatikan Alquran dan Sunah karena Allah telah membutakan mata hati mereka sehingga mereka tidak menoleh kepada dalil-dalil Alquran dan Sunah. Mereka hanya menoleh kepada ucapan-ucapan syekh-syekh dan tokoh-tokoh mereka. Mereka berkata, “Mereka lebih mengetahui Alquran daripada kami dan mereka lebih mengerti Sunah daripada kami.” Ini dari satu segi.

وَالنَّاحِيَةُ الثَّانِيَةُ: أَنَّهُمۡ يَقُولُونَ إِنَّ مَنۡ قَالَ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ فَإِنَّهُ مُسۡلِمٌ مُؤۡمِنٌ وَلَوۡ عَمِلَ مَا عَمِلَ مِنَ الۡأُمُورِ، لَوۡ يَدۡعُو الۡأَمۡوَاتِ وَيَسۡتَغِيثُ بِهِمۡ وَيَذۡبَحُ لَهُمۡ، مَا دَامَ أَنَّهُ يَقُولُ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ فَهُوَ مُسۡلِمٌ.

Segi yang kedua, bahwa mereka mengatakan, “Siapa saja yang telah mengatakan: Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah, maka dia adalah seorang muslim dan mukmin, walaupun dia mengerjakan amalan apa saja. Jadi, andai dia berdoa kepada orang-orang mati, istigasah kepada mereka, dan menyembelih untuk mereka, selama dia mengatakan: Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi kecuali Allah, maka dia tetap muslim.”

وَهُوَ إِنَّمَا يَقُولُ: لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ لَفۡظًا وَيُنَاقِضُهَا مَعۡنًى، وَهَٰذَا لَا يُفِيدُهُ شَيۡئًا، هُوَ قَالَهَا بِلِسَانِهِ لَكِنۡ خَالَفَهَا بِاعۡتِقَادِهِ وَخَالَفَهَا بِأَفۡعَالِهِ، فَلَا تُفِيدُهُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ شَيۡئًا لِأَنَّهُ أَبۡطَلَهَا وَنَاقَضَهَا.

Padahal orang yang hanya mengucapkan, “Tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah,” secara lafal saja, namun dia malah menggugurkan makna dari ucapan itu, maka ini tidak memberi faedah apa-apa untuknya. Dia hanya mengatakan dengan lisannya saja, namun iktikad dan perbuatannya menyelisihinya. Sehingga ucapan “tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah” tidak memberi faedah apapun baginya karena dia sendiri yang membatalkan dan menggugurkannya.

[39] أَعۡظَمُ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ التَّوۡحِيدُ، وَأَعۡظَمُ مَا نَهَى اللهُ عَنۡهُ الشِّرۡكُ، فَالتَّوۡحِيدُ هُوَ أَعۡظَمُ الۡمَأۡمُورَاتِ، وَالشِّرۡكُ أَعۡظَمُ الۡمَنۡهِيَّاتِ أَعۡظَمُ مِنۡ شُرۡبِ الۡخَمۡرِ، وَأَعۡظَمُ مِنۡ قَتۡلِ النَّفۡسِ بِغَيۡرِ حَقٍّ.

Perintah Allah yang paling agung adalah tauhid dan larangan Allah yang paling besar adalah syirik. Jadi tauhid adalah seagung-agung perkara yang diperintahkan, sedangkan syirik adalah perkara terbesar yang dilarang, lebih besar daripada meminum khamar dan lebih besar daripada membunuh jiwa tanpa alasan yang benar.

وَالتَّوۡحِيدُ هُوَ أَعۡظَمُ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ، أَعۡظَمُ مِنَ الصَّلَاةِ وَأَعۡظَمُ مِنَ الزَّكَاةِ، وَأَعۡظَمُ مِنۡ جَمِيعِ أَنۡوَاعِ الۡعِبَادَةِ، وَلِذٰلِكَ أَوَّلُ مَا بَدَأَ بِهِ الرَّسُولُ بِالدَّعۡوَةِ إِلَى التَّوۡحِيدِ، شَهَادَةُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَإِذَا نَطَقَ بِالشَّهَادَتَيۡنِ فَإِنَّكَ تَأۡمُرُهُ بِالصَّلَاةِ، وَتَأۡمُرُهُ بِالزَّكَاةِ، وَتَأۡمُرُهُ بِالۡحَجِّ، أَمَّا مَا دَامَ أَنَّهُ لَمۡ يَنۡطِقۡ بِالشَّهَادَتَيۡنِ لَا تَقُلۡ لَهُ: صَلِّ؛ لِأَنَّهُ لَوۡ صَلَّى فَلَا فَائِدَةَ فِي ذٰلِكَ، وَلَا تُقۡبَلۡ صَلَاتُهُ، وَلِهَٰذَا قَالَ النَّبِيُّ ﷺ لِمُعَاذٍ: (إِنَّكَ تَأۡتِي قَوۡمًا مِنۡ أَهۡلِ الۡكِتَابِ، فَلۡيَكُنۡ أَوَّلُ مَا تَدۡعُوهُمۡ إِلَيۡهِ شَهَادَةَ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَإِنۡ هُمۡ أَجَابُوكَ لِذٰلِكَ فَأَعۡلِمۡهُمۡ أَنَّ اللهَ افۡتَرَضَ عَلَيۡهِمۡ خَمۡسَ صَلَوَاتٍ فِي الۡيَوۡمِ وَاللَّيۡلَةِ، فَإِنۡ هُمۡ أَجَابُوكَ لِذٰلِكَ فَأَعۡلِمۡهُمۡ أَنَّ اللهَ افۡتَرَضَ عَلَيۡهِمۡ صَدَقَةً). يَعۡنِي: الزَّكَاةَ، فَلَمۡ يَأۡمُرۡهُمۡ بِالصَّلَاةِ وَلَا بِالزَّكَاةِ قَبۡلَ أَنۡ يَشۡهَدُوا أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُولُ اللهِ، فَأَعۡظَمُ مَا أَمَرَ اللهُ بِهِ التَّوۡحِيدُ؛ لِأَنَّهُ الۡأَصۡلُ وَالۡأَسَاسُ وَالۡقَاعِدَةُ لِهَٰذَا الدِّينِ.

Tauhid adalah perintah Allah yang paling agung. Lebih agung daripada salat dan zakat, bahkan lebih agung dari seluruh jenis ibadah. Oleh karena itulah, awal yang rasul dakwahkan adalah memulai dengan tauhid, syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah dan syahadat bahwa Muhammad adalah Rasulullah. Jika seseorang telah mengucapkan dua kalimat syahadat, maka baru engkau perintah dia untuk salat, zakat, dan haji. Adapun selama dia belum mengucapkan dua kalimat syahadat, maka engkau jangan katakan kepadanya, “Salatlah!” Karena andai dia salat, hal itu tidak berfaedah dan tidak diterima salatnya. Karena inilah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada Mu’adz, “Sesungguhnya engkau akan mendatangi suatu kaum dari ahli kitab. Jadikanlah awal yang engkau dakwahkan kepada mereka adalah syahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jika mereka menyambut ajakanmu itu, maka beritahu mereka bahwa Allah mewajibkan salat lima waktu dalam sehari semalam kepada mereka. Jika mereka menyambut seruanmu, maka beritahu mereka bahwa Allah mewajibkan sedekah kepada mereka.” (HR. Al-Bukhari nomor 1458 dan Muslim nomor 19). Yakni zakat. Beliau tidak memerintahkan mereka salat dan zakat sebelum mereka bersyahadat bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah. Jadi, perintah Allah yang paling agung adalah tauhid karena tauhid adalah pokok, asas, dan fondasi agama ini.

[40] هَٰذَا وَاضِحٌ، وَهَٰذَا يَدُلُّ عَلَى أَنَّ الشِّرۡكَ هُوَ أَعۡظَمُ الذُّنُوبِ: ﴿إِنَّ ٱللَّهَ لَا يَغۡفِرُ أَن يُشۡرَكَ بِهِۦ وَيَغۡفِرُ مَا دُونَ ذَٰلِكَ لِمَن يَشَآءُ ۚ﴾ [النساء: ٤٨]. فَإِذَا كَانَ الشِّرۡكُ لَا يَقۡبَلُ الۡمَغۡفِرَةَ وَغَيۡرُهُ يَقۡبَلُ الۡمَغۡفِرَةَ، فَهَٰذَا دَلِيلٌ عَلَى أَنَّ الشِّرۡكَ هُوَ أَعۡظَمُ الذُّنُوبِ، الزِّنَا وَالسَّرِقَةُ وَشُرۡبُ الۡخَمۡرِ وَأَكۡلُ الرِّبَا هَٰذِهِ قَابِلَةٌ لِلۡمَغۡفِرَةِ فَهِيَ تَحۡتَ الۡمَشِيئَةِ، إِنۡ شَاءَ اللهُ غَفَرَ لِأَصۡحَابِهَا، وَإِنۡ شَاءَ عَذَّبَهُمۡ، وَلَكِنۡ لَا يَخۡلُدُونَ فِي النَّارِ، وَإِنَّمَا يُعَذَّبُونَ بِقَدۡرِ ذُنُوبِهِمۡ ثُمَّ يَخۡرُجُونَ مِنَ النَّارِ؛ لِأَنَّهُمۡ مِنۡ أَهۡلِ التَّوۡحِيدِ وَأَهلِ الۡإِيمَانِ، أَمَّا الشِّرۡكُ فَإِنَّهُ لَا يُغۡفَرُ، وَصَاحِبُهُ لَا يَخۡرُجُ مِنَ النَّارِ أَبَدًا، ﴿كَذٰلِكَ يُرِيهِمُ ٱللَّهُ أَعۡمَـٰلَهُمۡ حَسَرَٰتٍ عَلَيۡهِمۡ ۖ وَمَا هُم بِخَـٰرِجِينَ مِنَ ٱلنَّارِ﴾ [البقرة: ١٦٧]. ﴿إِنَّهُۥ مَن يُشۡرِكۡ بِٱللَّهِ فَقَدۡ حَرَّمَ ٱللَّهُ عَلَيۡهِ ٱلۡجَنَّةَ﴾ [المائدة: ٧٢].

Ayat ini sudah jelas dan ayat ini menunjukkan bahwa kesyirikan adalah dosa terbesar. Allah berfirman yang artinya, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik dan Allah mengampuni dosa di bawah itu bagi siapa saja yang Dia kehendaki.” (QS. An-Nisa`: 48). Maka jika dosa kesyirikan tidak diampuni, sedangkan dosa lainnya bisa diampuni, maka ini merupakan dalil bahwa kesyirikan adalah dosa terbesar. Zina, pencurian, meminum khamar, memakan harta riba; ini semua bisa diampuni jika Allah kehendaki. Jika Allah ingin, maka Dia ampuni pelakunya, dan jika Dia ingin, Dia siksa mereka. Akan tetapi mereka tidak kekal di dalam neraka. Mereka disiksa sekadar dosa-dosa mereka, kemudian mereka akan keluar dari neraka karena mereka masih termasuk orang yang memiliki tauhid dan keimanan. Adapun dosa kesyirikan tidak diampuni (selama belum tobat) dan pelakunya tidak akan keluar dari neraka selama-lamanya. Allah berfirman yang artinya, “Demikianlah, Allah perlihatkan amalan-amalan mereka agar menjadi penyesalan bagi mereka dan mereka tidak akan keluar dari neraka.” (QS. Al-Baqarah: 167). “Sesungguhnya siapa saja yang berbuat syirik terhadap Allah, maka sungguh Allah haramkan janah baginya.” (QS. Al-Maidah: 72).

وَصَلَّى اللهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحۡبِهِ وَسَلَّمَ.

Semoga Allah mencurahkan selawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad, seluruh keluarga, dan sahabatnya.

2 thoughts on “Syarah Al-Jami’ li ‘Ibadatillah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *