حكم النظر في الصلاة إلى غير موضع السجود وكثرة الحركات
🎙 Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz (wafat 1420 H) rahimahullah
السؤال: يسأل أيضاً ويقول: نحن نصلي في الصحراء ولا يتقيد الواحد منا بالنظر إلى مكان سجوده، بل يمد بصره في الصحراء، فهل هذا يبطل الصلاة؟
Pertanyaan: Ia juga bertanya dan berkata: Kami salat di padang pasir dan salah seorang dari kami tidak membatasi pandangannya ke tempat sujudnya, melainkan ia melayangkan pandangannya ke padang pasir. Apakah hal ini membatalkan salat?
الجواب: مد البصر إلى جهة الأمام في الصحراء أو عن يمين أو شمال لا يبطل الصلاة، لكنه مكروه والسنة الخشوع في الصلاة والإقبال عليها وطرح البصر إلى محل السجود، كما قال الله : قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ [المؤمنون:1-2] وروي عن النبي ﷺ أن من الخشوع طرح البصر إلى محل السجود، وهكذا نص الأئمة والعلماء على شرعية طرح البصر إلى موضع السجود؛ لأن هذا أجمع للقلب وأبعد عن الحركة والعبث، فالسنة للمؤمن أن يطرح بصره وأن لا ينظر هاهنا وهاهنا لا في الصحراء ولا في غير الصحراء، بل يخشع في صلاته ويقبل عليها ويدع الحركات. بعض الناس قد يعبث بالساعة أو بلحيته أو بأنفه أو بشيء من ثيابه وهذا خلاف المشروع، العبث يكره إلا من حاجة إذا كان قليلاً، أما العبث الكثير المتوالي فإنه يبطل الصلاة، فينبغي للمؤمن أن يتحرى الخشوع ويحرص على الخشوع في صلاته والسكون وعدم الحركة حتى يكملها، عملاً بقوله سبحانه: قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ هُمْ فِي صَلاتِهِمْ خَاشِعُونَ [المؤمنون:1-2] وعملاً بقول النبي ﷺ: اسكنوا في الصلاة، لما رأى ناساً يشيرون بأيديهم في الصلاة قال: اسكنوا في الصلاة فأمرهم بالسكون وهو ترك الحركة وترك العبث، وفق الله الجميع.
Jawaban:
Melayangkan pandangan ke arah depan di padang pasir atau ke arah kanan atau kiri tidak membatalkan salat, akan tetapi hal itu makruh. Sunahnya adalah khusyuk dalam salat, menghadap kepadanya, dan mengarahkan pandangan ke tempat sujud, sebagaimana Allah taala berfirman,
قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِى صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ
Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.
QS Al-Mu’minun: 1-2
Diriwayatkan dari Nabi ﷺ bahwa di antara kekhusyukan adalah mengarahkan pandangan ke tempat sujud. Demikian pula para imam dan ulama telah menegaskan tentang disyariatkannya mengarahkan pandangan ke tempat sujud; karena hal ini lebih mengumpulkan (memfokuskan) hati serta lebih menjauhkan dari gerakan dan perbuatan sia-sia.
Jadi, sunah bagi seorang mukmin adalah mengarahkan pandangannya dan tidak melihat ke sana dan ke sini, tidak di padang pasir dan tidak pula di selain padang pasir, melainkan ia harus khusyuk dalam salatnya, menghadap kepadanya, dan meninggalkan gerakan-gerakan. Sebagian orang terkadang bermain-main dengan jam tangan, jenggotnya, hidungnya, atau sesuatu dari pakaiannya, dan ini menyelisihi syariat. Perbuatan sia-sia hukumnya makruh kecuali karena ada kebutuhan jika hal itu sedikit. Adapun perbuatan sia-sia yang banyak lagi berturut-turut, maka sesungguhnya hal itu membatalkan salat. Oleh karena itu, sepantasnya bagi seorang mukmin untuk mengupayakan kekhusyukan dan menjaga kekhusyukan dalam salatnya serta ketenangan dan tidak bergerak hingga ia menyempurnakannya, karena mengamalkan firman Allah yang Maha Suci:
قَدۡ أَفۡلَحَ ٱلۡمُؤۡمِنُونَ ١ ٱلَّذِينَ هُمۡ فِى صَلَاتِهِمۡ خَٰشِعُونَ
“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam salatnya.” (QS Al-Mu’minun: 1-2).
Dan karena mengamalkan sabda Nabi ﷺ: “Tenanglah kalian dalam salat.”1 HR Muslim nomor 430. Ketika beliau melihat orang-orang berisyarat dengan tangan-tangan mereka dalam salat, beliau bersabda: “Tenanglah kalian dalam salat,” maka beliau memerintahkan mereka untuk tenang, yaitu meninggalkan gerakan dan meninggalkan perbuatan sia-sia.
Semoga Allah memberikan taufik kepada semuanya.
المقدم: أثابكم الله.
Pembawa Acara: Semoga Allah memberi Anda pahala.
Sumber fatwa: Situs resmi Syekh Ibnu Baz.
![]()
Be the first to leave a comment