ما المقصود بصيام الأيام البيض؟ وما الأيام التي يستحب صيامها؟
🎙️ Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz (wafat 1420 H) rahimahullah
السؤال: أخيراً يقول صاحبنا هذا من سلطنة عمان: أريد أن أعرف منكم صيام أيام البيض، ما المقصود به وما أجره؟ وهل هو سنة؟ وما هي الأيام التي حرص الرسول ﷺ على صيامها؟ وهل إذا صام الإنسان في رجب وشعبان فقط الإثنين والخميس له أجر أم لا؟
Pertanyaan: Terakhir, saudara kita ini dari Kesultanan Oman berkata: Saya ingin mengetahui dari Anda mengenai puasa ayyamul-bidh, apa yang dimaksud dengannya dan apa pahalanya? Apakah hal itu sunah? Hari-hari apa sajakah yang Rasul—shallallahu ‘alaihi wa sallam—sangat menjaga untuk berpuasa di dalamnya? Jika seseorang berpuasa di bulan Rajab dan Syakban saja pada hari Senin dan Kamis, apakah ia mendapatkan pahala atau tidak?
الجواب: ثبت عن رسول الله عليه الصلاة والسلام: أنه كان يصوم الإثنين والخميس عليه الصلاة والسلام، وثبت عنه ﷺ أنه رغب في صيام يوم الإثنين والخميس وقال: إنهما يومان تعرض فيهما الأعمال على الله، وأحب أن يعرض عملي وأنا صائم ورغب الناس في ذلك عليه الصلاة والسلام وحث عبد الله بن عمرو وأبا هريرة وأبا الدرداء وغيرهم على صيام ثلاثة أيام من كل شهر، فالسنة صيام ثلاثة أيام من كل شهر، وإذا كانت في أيام البيض كان أفضل، وهي: الثالث عشر والرابع عشر والخامس عشر هذه أيام البيض، إذا صامها كان ذلك أفضل؛ لأنها في وسط الشهر وسميت: بيضاً؛ لأن ليلها أبيض بالقمر ونهارها أبيض بضوء الشمس، وإن صام الثلاثة في غير أيام البيض صامها في العشر الأول أو في العشر الوسط أو في العشر الأخيرة في غير أيام البيض فهذا كله لا بأس به، المقصود أن يصوم ثلاثة أيام هذا المقصود أن يصوم ثلاثة أيام من كل شهر، هذا هو المشروع والسنة، لكن إذا صامها في أيام البيض كان ذلك أفضل كان هذا مزيد فضيلة، وإذا صامها من رجب أو من شعبان فلا بأس، لكن إذا استمر فيها يكون أفضل، وإن صامها في بعض الشهور وتركها في بعض الشهور فلا حرج. نعم.
Jawaban: Telah sahih dari Rasulullah—‘alaihish-shalatu was-salam—bahwasanya beliau dahulu terbiasa berpuasa pada hari Senin dan Kamis—‘alaihish-shalatu was-salam—. Telah sahih pula dari beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bahwasanya beliau memotivasi untuk berpuasa pada hari Senin dan Kamis, beliau bersabda, “Sesungguhnya keduanya adalah dua hari yang amalan-amalan dihadapkan kepada Allah di dalamnya, dan aku suka amalan-amalanku dihadapkan dalam keadaan aku sedang berpuasa.”1 (HR At-Tirmidzi nomor 747 dan An-Nasa`i nomor 2358)
Beliau—‘alaihish-shalatu was-salam—memotivasi manusia dalam perkara tersebut, serta menganjurkan ‘Abdullah bin ‘Amr2 (HR Al-Bukhari nomor 1976 dan Muslim nomor 1159), Abu Hurairah3 (HR Al-Bukhari nomor 1981 dan Muslim nomor 721), Abu Ad-Darda`4 (HR Muslim nomor 722), dan selain mereka untuk berpuasa tiga hari dari setiap bulan. Jadi, yang sunah adalah berpuasa tiga hari dari setiap bulan, dan apabila puasa tersebut dilakukan pada ayyamul-bidh, maka itu lebih utama5 (HR At-Tirmidzi nomor 761). Yaitu hari ke-tiga belas, empat belas, dan lima belas; inilah ayyamul-bidh.
Apabila ia berpuasa pada hari-hari tersebut, maka hal itu lebih utama karena berada di tengah bulan. Dinamakan bidh (putih) karena malam-malamnya terang benderang oleh rembulan dan siang-siangnya terang benderang oleh cahaya matahari. Jika ia berpuasa tiga hari di selain ayyamul-bidh—misal, ia berpuasa di sepuluh hari pertama, sepuluh hari pertengahan, atau sepuluh hari terakhir di selain ayyamul-bidh—maka ini semua tidak mengapa. Maksud utamanya adalah ia berpuasa tiga hari, inilah maksud utamanya yaitu berpuasa tiga hari dari setiap bulan, inilah yang disyariatkan dan sunah. Akan tetapi, apabila ia berpuasa pada ayyamul-bidh, maka hal itu lebih utama dan ini merupakan tambahan keutamaan.
Jika ia berpuasa pada hari-hari tersebut di bulan Rajab atau bulan Syakban, maka tidak mengapa, tetapi jika ia terus-menerus melakukannya (di bulan-bulan lainnya), itu lebih utama, dan jika ia berpuasa di sebagian bulan lalu meninggalkannya di sebagian bulan yang lain, tidak ada dosa baginya. Naam.
المقدم: بارك الله فيكم، لكن تخصيص رجب وشعبان؟
Pembawa Acara: Semoga Allah memberkahi Anda, akan tetapi mengenai pengkhususan bulan Rajab dan Syakban?
الشيخ: ما يضر؛ لأن الرسول كان يصوم شعبان كله عليه الصلاة والسلام، والمكروه إفراد رجب أما إذا صام بعضه ما يضر.
Syekh: Tidak mengapa, karena Rasul dahulu berpuasa pada bulan Syakban seluruhnya—‘alaihish-shalatu was-salam—6 (HR Al-Bukhari nomor 1970). Yang dimakruhkan adalah menyendirikan bulan Rajab (berpuasa sebulan penuh), adapun jika ia berpuasa pada sebagiannya saja maka tidak mengapa.
المقدم: بارك الله فيكم.
Pembawa Acara: Semoga Allah memberkahi Anda.
Sumber fatwa: Situs resmi Syekh Ibnu Baz.
![]()
Be the first to leave a comment