Hukum Duduk Istirahat bagi Imam, Makmum, dan Orang yang Salat Sendirian

ismail  

حكم جلسة الاستراحة للإمام والمأموم والمنفرد

🎙️ Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz (wafat 1420 H) rahimahullah

س: كثير من الإخوان يهتم بجلسة الاستراحة وينكر على من تركها فما حكمها؟ وهل تشرع للإمام والمأموم كما تشرع للمنفرد؟

Pertanyaan: Banyak dari saudara-saudara kita yang sangat memperhatikan duduk istirahat dan mengingkari orang yang meninggalkannya, maka apa hukumnya? Apakah hal itu disyariatkan bagi imam dan makmum sebagaimana disyariatkan bagi orang yang salat sendirian?

ج: جلسة الاستراحة مستحبة للإمام والمأموم والمنفرد، وهي من جنس الجلسة بين السجدتين، وهي جلسة خفيفة لا يشرع فيها ذكر ولا دعاء ومن تركها فلا حرج، والأحاديث فيها ثابتة عن النبي ﷺ من حديث مالك بن الحويرث، ومن حديث أبي حميد الساعدي، وجماعة من الصحابة . والله ولي التوفيق[1].

Jawaban: Duduk istirahat hukumnya mustahab (dianjurkan) bagi imam, makmum, dan orang yang salat sendirian. Duduk ini sejenis dengan duduk di antara dua sujud, yaitu duduk yang ringan yang tidak disyariatkan zikir maupun doa di dalamnya. Barang siapa yang meninggalkannya, maka tidak mengapa. Hadis-hadis mengenai hal ini telah sahih dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dari hadis Malik bin Al-Huwairits, hadis Abu Humaid As-Sa‘idi, dan sekelompok sahabat—radhiyallahu ‘anhum—. Dan Allah-lah pemilik taufik.


من ضمن أسئلة موجهة إلى سماحته، طبعها الأخ محمد الشايع في كتاب، ضمن أسئلة موجهة إلى سماحته طبعها الأخ محمد الشايع في كتاب، (مجموع فتاوى ومقالات الشيخ ابن باز: 11/99).

Di antara pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan kepada Syekh, yang dicetak oleh Saudara Muhammad Asy-Syayi’ dalam sebuah kitab, (Majmu‘ Fatawa wa Maqalat Asy-Syaikh Ibn Baz: 11/99).

Sumber fatwa: Situs resmi Syekh Ibnu Baz.

Loading

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *