Al-Alamah Syekh Shalih bin Fauzan Al-Fauzan
﷽
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
الۡحَمۡدُ للهِ عَلَى فَضۡلِهِ وَإِحۡسَانِهِ، يُوَالِي مَوَاسِمَ الۡخَيۡرِ عَلَى عِبَادِهِ عَلَى مَدَارِ الۡأَيَّامِ وَالشُّهُورِ، لِيُوَفِّيَهُمۡ أُجُورَهُمۡ وَيَزِيدَهُمۡ مِنۡ فَضۡلِهِ إِنَّهُ غَفُورٌ شَكُورٌ، وَأَشۡهَدُ أَنۡ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحۡدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشۡهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبۡدُهُ وَرَسُولُهُ أَوَّلُ سَابِقٍ إِلَى الۡخَيۡرَاتِ، —صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصۡحَابِهِ— ذَوِي الۡمَنَاقِبِ وَالۡكَرَامَاتِ، وَسَلَّمَ تَسۡلِيمًا كَثِيرًا.
Segala puji bagi Allah atas karunia dan kebaikan-Nya, yang mendatangkan musim-musim kebaikan silih berganti kepada hamba-hamba-Nya sepanjang hari dan bulan, agar Dia menyempurnakan pahala mereka dan menambah karunia-Nya kepada mereka. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri. Aku bersaksi bahwa tidak ada sembahan yang benar selain Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya. Aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya, orang pertama yang bersegera menuju kebaikan. Semoga Allah mencurahkan selawat kepada beliau, keluarga, dan para sahabat beliau yang memiliki kedudukan luhur dan kemuliaan, serta semoga Dia memberikan keselamatan yang banyak.
أَمَّا بَعۡدُ:
-أَيُّهَا النَّاسُ- اتَّقُوا اللهَ -تَعَالَى-، وَاغۡتَنِمُوا مَوَاسِمَ الۡخَيۡرَاتِ قَبۡلَ فَوَاتِهَا. -عِبَادَ اللهِ-، لَمَّا انۡقَضَتۡ أَشۡهُرُ الۡحَجِّ الۡمُبَارَكَةُ أَعۡقَبَهَا شَهۡرٌ كَرِيمٌ هُوَ شَهۡرُ اللهِ الۡمُحَرَّمُ؛ فَقَدۡ رَوَى مُسۡلِمٌ مِنۡ حَدِيثِ أَبِي هُرَيۡرَةَ —رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ— عَنِ النَّبِيِّ —صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ— قَالَ: (أَفۡضَلُ الصِّيَامِ بَعۡدَ شَهۡرِ رَمَضَانَ شَهۡرُ اللهِ الَّذِي تَدۡعُونَهُ الۡمُحَرَّمَ، وَأَفۡضَلُ الصَّلَاةِ بَعۡدَ الۡفَرِيضَةِ قِيَامُ اللَّيۡلِ)، فَقَدۡ سَمَّى النَّبِيُّ —صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ— الۡمُحَرَّمَ شَهۡرَ اللهِ، وَإِضَافَتُهُ إِلَى اللهِ تَدُلُّ عَلَى شَرَفِهِ وَفَضۡلِهِ فَإِنَّ اللهَ -تَعَالَى- لَا يُضِيفُ إِلَيۡهِ إِلَّا خَوَاصَّ مَخۡلُوقَاتِهِ،
Amabakdu. Wahai manusia, bertakwalah kepada Allah taala, dan manfaatkanlah musim-musim kebaikan sebelum berlalu. Wahai hamba-hamba Allah, ketika bulan-bulan haji yang penuh berkah telah usai, ia disusul oleh bulan yang mulia, yaitu bulan Allah, Muharam. Muslim meriwayatkan dari hadis Abu Hurairah—radhiyallahu ‘anhu—dari Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Beliau bersabda, “Puasa yang paling utama setelah bulan Ramadan adalah bulan Allah yang kalian sebut Muharam, dan salat yang paling utama setelah salat fardu adalah salat malam.”1 (HR Muslim nomor 1163)
Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—telah menyebut Muharam sebagai bulan Allah. Penyandaran bulan ini kepada Allah menunjukkan kemuliaan dan keutamaannya, karena Allah taala tidak menyandarkan sesuatu kepada diri-Nya kecuali makhluk-makhluk-Nya yang istimewa.
وَهُوَ مِفۡتَاحُ السَّنَةِ، وَفِيهِ نَصَرَ اللهُ نَبِيَّهُ وَكَلِيمَهُ مُوسَى —عَلَيۡهِ السَّلَامُ— عَلَى إِمَامِ الۡكَفَرَةِ وَالۡمُلۡحِدِينَ فِرۡعَوۡنَ الَّذِي طَغَى وَعَلَا فِي الۡأَرۡضِ وَقَالَ: أَنَا رَبُّكُمُ الۡأَعۡلَى، قَالَ اللهُ -تَعَالَى-: ﴿إِنَّ فِرۡعَوۡنَ عَلَا فِي الۡأَرۡضِ وَجَعَلَ أَهۡلَهَا شِيَعًا يَسۡتَضۡعِفُ طَائِفَةً مِنۡهُمۡ يُذَبِّحُ أَبۡنَاءَهُمۡ وَيَسۡتَحۡيِي نِسَاءَهُمۡ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الۡمُفۡسِدِينَ﴾ (القصص: الآية ٤)، أَيۡ قَسَّمَ رَعِيَّتَهُ إِلَى أَقۡسَامٍ ﴿يَسۡتَضۡعِفُ طَائِفَةً مِنۡهُمۡ﴾ [القصص: الآية ٤]، وَهُمۡ شَعۡبُ بَنِي إِسۡرَائِيلَ الَّذِينَ هُمۡ مِنۡ سُلَالَةِ نَبِيِّ اللهِ يَعۡقُوبَ بۡنِ إِسۡحَاقَ بۡنِ إِبۡرَاهِيمَ خَلِيلِ اللهِ، وَكَانُوا إِذۡ ذَاكَ خِيَارَ أَهۡلِ الۡأَرۡضِ فَجَعَلَ يَسۡتَعۡبِدُهُمۡ فِي أَخَسِّ الصَّنَائِعِ وَمَعَ هٰذَا ﴿يُذَبِّحُ أَبۡنَاءَهُمۡ وَيَسۡتَحۡيِي نِسَاءَهُمۡ﴾ [القصص: الآية ٤]، وَكَانَ الۡحَامِلُ لَهُ عَلَى هٰذَا الصُّنۡعِ الۡقَبِيحِ أَنَّ بَنِي إِسۡرَائِيلَ كَانُوا يَتَدَارَسُونَ فِيمَا بَيۡنَهُمۡ مَا يَأۡثُرُونَهُ عَنۡ إِبۡرَاهِيمَ —عَلَيۡهِ السَّلَامُ— مِنۡ أَنَّهُ سَيَخۡرُجُ فِي ذُرِّيَّتِهِ غُلَامٌ يَكُونُ هَلَاكُ مُلۡكِ مِصۡرَ عَلَى يَدَيۡهِ، وَكَانَتۡ هٰذِهِ الۡبُشَارَةُ مَشۡهُورَةً فِي بَنِي إِسۡرَائِيلَ فَتَحَدَّثَ بِهَا الۡقِبۡطُ فِيمَا بَيۡنَهُمۡ وَصَلَتۡ إِلَى فِرۡعَوۡنَ فَأَمَرَ عِنۡدَ ذٰلِكَ بِقَتۡلِ أَبۡنَاءِ بَنِي إِسۡرَائِيلَ حَذَرًا مِنۡ وُجُودِ هٰذَا الۡغُلَامِ،
Bulan ini adalah pembuka tahun, dan di bulan ini Allah menolong nabi dan orang yang diajak-Nya berbicara, Musa—‘alaihis-salam—, dalam melawan pemimpin orang-orang kafir dan ateis, yaitu Firaun, yang telah melampaui batas, berlaku sombong di bumi, dan berkata, “Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” Allah taala berfirman,
إِنَّ فِرۡعَوۡنَ عَلَا فِى ٱلۡأَرۡضِ وَجَعَلَ أَهۡلَهَا شِيَعًا يَسۡتَضۡعِفُ طَآئِفَةً مِّنۡهُمۡ يُذَبِّحُ أَبۡنَآءَهُمۡ وَيَسۡتَحۡىِۦ نِسَآءَهُمۡ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلۡمُفۡسِدِينَ
Sungguh, Firaun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah-belah. Dia menindas segolongan dari mereka. Dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka. Sungguh, dia termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
QS Al-Qasas: 4
Yaitu dia membagi rakyatnya menjadi beberapa golongan, “dia menindas segolongan dari mereka” (QS Al-Qasas: 4).
Mereka adalah kaum Bani Israil yang merupakan keturunan Nabi Yakub bin Ishak bin Ibrahim khalilullah. Mereka pada saat itu adalah penduduk bumi yang terbaik, lalu Firaun memperbudak mereka dalam pekerjaan-pekerjaan yang paling rendah. Di samping itu, “dia menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak perempuan mereka” (QS Al-Qasas: 4).
Hal yang mendorongnya melakukan perbuatan keji ini adalah karena kaum Bani Israil saling mempelajari apa yang mereka riwayatkan dari Ibrahim—‘alaihis-salam—bahwa akan lahir dari keturunannya seorang anak laki-laki yang menjadi penyebab hancurnya kerajaan Mesir di tangannya. Kabar gembira ini sangat masyhur di kalangan Bani Israil, lalu orang-orang Koptik membicarakannya di antara mereka hingga sampailah berita itu kepada Firaun. Maka pada saat itu Firaun memerintahkan untuk membunuh anak-laki-laki Bani Israil karena takut akan keberadaan anak tersebut.
وَلَنۡ يُغۡنِيَ حَذَرٌ مِنۡ قَدَرٍ، فَقَدۡ شَاءَ اللهُ أَنۡ لَا يُرَبَّى هٰذَا الۡمَوۡلُودُ إِلَّا فِي دَارِ فِرۡعَوۡنَ وَيَتَغَذَّى بِطَعَامِهِ وَشَرَابِهِ، فَلَمَّا حَمَلَتۡ أُمُّ مُوسَى بِهِ احۡتَرَزَتۡ مِنۡ أَنۡ يَعۡلَمَ بِحَمۡلِهَا وَلَمۡ يَكُنۡ يَظۡهَرُ عَلَيۡهَا عَلَامَاتُ الۡحَمۡلِ فَلَمَّا وَلَدَتۡهُ ضَاقَتۡ بِهِ ذَرۡعًا فَإِذۡ خَشِيَتۡ مِنۡ أَحَدٍ وَضَعَتۡهُ فِي ذٰلِكَ التَّابُوتِ فَأَرۡسَلَتۡهُ إِلَى الۡبَحۡرِ وَكَانَ فِي التَّابُوتِ حَبۡلٌ تَمَسَّكَ بِهِ وَأَرۡسَلَتۡهُ ذَاتَ يَوۡمٍ وَنَسِيَتۡ أَنۡ تَرۡبِطَ الۡحَبۡلَ فَذَهَبَ التَّابُوتُ وَفِيهِ وَلَدُهَا مَعَ النِّيلِ فَمَرَّ عَلَى دَارِ فِرۡعَوۡنَ ﴿فَالۡتَقَطَهُ آلُ فِرۡعَوۡنَ﴾ [القصص: الآية ٨]، وَوُضِعَ بَيۡنَ يَدَيۡ امۡرَأَةِ فِرۡعَوۡنَ وَرَآهُ أَمَرَ بِذَبۡحِهِ فَدَافَعَتۡ عَنۡهُ وَقَالَتۡ: ﴿قُرَّتُ عَيۡنٍ لِي وَلَكَ لَا تَقۡتُلُوهُ عَسَى أَنۡ يَنۡفَعَنَا﴾ [القصص: الآية ٩]، وَقَدۡ حَقَّقَ اللهُ لَهَا مَا رَجَتۡ فَهَدَاهَا اللهُ بِهِ وَأَسۡكَنَهَا جَنَّتَهُ بِسَبَبِهِ.
Namun, kewaspadaan tidak akan mampu menolak takdir. Allah telah menghendaki agar bayi ini tidak diasuh melainkan di istana Firaun sendiri, serta tumbuh dengan makanan dan minumannya. Ketika ibu Musa mengandungnya, dia menyembunyikan kehamilannya, dan tanda-tanda kehamilan pun tidak tampak pada dirinya. Begitu melahirkannya, dia merasa sangat khawatir. Karena takut ketahuan oleh seseorang, dia memasukkannya ke dalam peti lalu menghanyutkannya ke sungai. Pada peti itu terdapat tali yang dipeganginya, namun suatu hari dia menghanyutkannya dan lupa mengikatkan tali tersebut, sehingga peti yang berisi anaknya itu terbawa aliran sungai Nil, lalu melewati istana Firaun, “maka dia dipungut oleh keluarga Firaun” (QS Al-Qasas: 8).
Peti itu diletakkan di hadapan istri Firaun, dan ketika Firaun melihatnya, dia memerintahkan untuk menyembelihnya. Namun, sang istri membelanya dan berkata, “(Dia) adalah penyejuk mata bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuh-nya, mudah-mudahan dia bermanfaat kepada kita.” (QS Al-Qasas: 9).
Allah benar-benar mewujudkan apa yang dia harapkan. Allah memberi istri Firaun petunjuk melaluinya dan menempatkannya di janah-Nya karena sebab itu.
وَلَمَّا أَرَادَ أَنۡ يَغۡذُوهُ بِالرَّضَاعَةِ لَمۡ يَقۡبَلۡ ثَدۡيًا فَحَارُوا فِي أَمۡرِهِ فَأَرۡسَلُوهُ مَعَ الۡقَوَابِلِ إِلَى السُّوقِ لَعَلَّهُمۡ يَجِدُونَ لَهُ مُرۡضِعَةً يَقۡبَلُ ثَدۡيَهَا، فَرَأَتۡهُ أُخۡتُهُ وَلَمۡ تُظۡهِرۡ أَنَّهَا تَعۡرِفُهُ بَلۡ قَالَتۡ: ﴿هَلۡ أَدُلُّكُمۡ عَلَى أَهۡلِ بَيۡتٍ يَكۡفُلُونَهُ لَكُمۡ وَهُمۡ لَهُ نَاصِحُونَ﴾ [القصص: الآية ١٢]، فَذَهَبُوا إِلَى مَنۡزِلِهِمۡ فَأَخَذَتۡهُ أُمُّهُ فَلَمَّا أَرۡضَعَتۡهُ الۡتَقَمَ ثَدۡيَهَا فَفَرِحُوا بِذٰلِكَ فَرَحًا شَدِيدًا.
Ketika mereka hendak memberinya minum susu, bayi itu tidak mau menyusu pada satu pun wanita. Mereka pun kebingungan dengan urusannya, lalu membawanya bersama para bidan ke pasar, berharap mereka dapat menemukan ibu susuan yang mau diterimanya. Maka saudara perempuannya melihatnya tanpa menunjukkan bahwa dia mengenalnya, melainkan berkata, “Maukah aku tunjukkan kepadamu keluarga yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat berlaku baik kepadanya?” (QS Al-Qasas: 12).
Lalu mereka pergi ke rumah mereka dan ibunya pun mengambilnya. Begitu ibunya menyusuinya, dia langsung menyusu pada payudaranya, sehingga mereka pun merasa sangat gembira karena hal tersebut.
وَأَجۡرَوۡا لَهَا مُرَتَّبًا مِنَ النَّفَقَةِ وَالۡكِسۡوَةِ وَجَمَعَ اللهُ شَمۡلَهَا بِابۡنِهَا قَالَ -تَعَالَى-: ﴿فَرَدَدۡنَاهُ إِلَى أُمِّهِ كَيۡ تَقَرَّ عَيۡنُهَا وَلَا تَحۡزَنَ وَلِتَعۡلَمَ أَنَّ وَعۡدَ اللهِ حَقٌّ﴾ [القصص: الآية ١٣]، ثُمَّ نَشَأَ مُوسَى —عَلَيۡهِ السَّلَامُ— بِرِعَايَةِ اللهِ وَحِفۡظِهِ فِي بَيۡتِ فِرۡعَوۡنَ يَتَغَذَّى بِأَطۡيَبِ الۡمَآكِلِ وَيَلۡبَسُ أَحۡسَنَ الۡمَلَابِسِ ﴿وَلَمَّا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَاسۡتَوَى﴾ [القصص: الآية ١٤]، أَيۡ تَكَامَلَ خَلۡقُهُ وَخُلُقُهُ فِي سِنِّ الۡأَرۡبَعِينَ آتَاهُ اللهُ حُكۡمًا وَعِلۡمًا وَهُوَ النُّبُوَّةُ وَالرِّسَالَةُ، ثُمَّ وَجَدَ رَجُلَيۡنِ يَقۡتَتِلَانِ أَيۡ يَتَضَارَبَانِ أَحَدُهُمَا مِنۡ بَنِي إِسۡرَائِيلَ شِيعَةِ مُوسَى وَالثَّانِي مِنَ الۡقِبۡطِ أَعۡدَاءِ مُوسَى فَطَلَبَ الۡإِسۡرَائِيلِيُّ مُنَاصَرَتَهُ عَلَى الۡقِبۡطِيِّ فَأَجَابَهُ وَضَرَبَ الۡقِبۡطِيَّ فَمَاتَ عَلَى أَثَرِ الضَّرۡبَةِ، وَعِنۡدَ ذٰلِكَ أَدۡرَكَ مُوسَى أَنَّهُ أَسَاءَ فَاسۡتَغۡفَرَ رَبَّهُ -عَزَّ وَجَلَّ- فَغَفَرَ لَهُ.
Mereka pun memberikan upah tetap kepadanya berupa nafkah dan pakaian, dan Allah menyatukan kembali dirinya dengan putranya. Allah taala berfirman, “Maka Kami kembalikan dia (Musa) kepada ibunya, agar senang hatinya dan tidak bersedih hati, dan agar dia mengetahui bahwa janji Allah itu benar.” (QS Al-Qasas: 13).
Kemudian Musa—‘alaihis-salam—tumbuh dewasa di bawah pengawasan dan perlindungan Allah di istana Firaun, menikmati makanan yang paling lezat dan mengenakan pakaian yang paling bagus. “Dan setelah dia (Musa) dewasa dan sempurna akalnya” (QS Al-Qasas: 14), yaitu fisik dan akhlaknya telah sempurna pada usia empat puluh tahun, Allah menganugerahkan kepadanya hikmah dan pengetahuan, yaitu kenabian dan risalah.
Kemudian dia mendapati dua orang laki-laki yang sedang berkelahi, yaitu saling memukul, yang satu dari Bani Israil termasuk golongan Musa, dan yang lain dari kaum Koptik musuh Musa. Maka orang bani Israil itu meminta pertolongannya untuk menghadapi orang Koptik tersebut. Musa pun memenuhinya lalu memukul orang Koptik itu, hingga dia mati seketika akibat pukulan tersebut. Saat itulah Musa menyadari bahwa dirinya telah berbuat kesalahan, maka dia memohon ampunan kepada Rabnya ‘azza wa jalla, lalu Dia mengampuninya.
ثُمَّ خَافَ مِنۡ فِرۡعَوۡنَ وَمَلَئِهِ أَنۡ يَطۡلُبُوهُ مِنۡ جَرَّاءِ ذٰلِكَ الۡقَتۡلِ، فَخَرَجَ مِنۡ مِصۡرَ إِلَى تِلۡقَاءِ مَدۡيَنَ وَهِيَ الۡمَدِينَةُ الَّتِي أَهۡلَكَ اللهُ فِيهَا قَوۡمَ شُعَيۡبٍ، فَوَصَلَ إِلَيۡهَا وَبَقِيَ فِيهَا وَتَزَوَّجَ هُنَاكَ فِي مُقَابِلِ رِعَايَتِهِ الۡغَنَمَ ثَمَانِيَ سِنِينَ أَوۡ عَشۡرَ سِنِينَ.
Kemudian dia merasa takut terhadap Firaun dan para pemuka kaumnya kalau-kalau mereka akan mencarinya akibat pembunuhan tersebut. Maka dia keluar meninggalkan Mesir menuju arah Madyan, yaitu negeri tempat Allah membinasakan kaum Syuaib. Dia pun sampai di sana, menetap, dan menikah di tempat itu dengan imbalan menggembalakan kambing selama delapan atau sepuluh tahun.
فَلَمَّا أَكۡمَلَ الۡأَجَلَ سَارَ بِأَهۡلِهِ إِلَى أَرۡضِ مِصۡرَ وَبَيۡنَمَا هُوَ فِي الطَّرِيقِ أَكۡرَمَهُ اللهُ بِرِسَالَتِهِ وَبَعَثَهُ إِلَى فِرۡعَوۡنَ فَبَلَّغَهُ رِسَالَةَ رَبِّهِ وَلَكِنَّهُ عَصَى وَتَكَبَّرَ وَعَانَدَ وَخَاصَمَ، فَأَقَامَ مُوسَى عَلَيۡهِ الۡحُجَجَ وَالۡبَرَاهِينَ وَعِنۡدَ ذٰلِكَ عَدَلَ فِرۡعَوۡنُ إِلَى اسۡتِعۡمَالِ الۡقُوَّةِ لِصَدِّ الۡحَقِّ فَأَمَرَ اللهُ نَبِيَّهُ مُوسَى —عَلَيۡهِ السَّلَامُ— أَنۡ يَخۡرُجَ بِمَنۡ مَعَهُ مِنَ الۡمُسۡلِمِينَ إِلَى بِلَادِ الشَّامِ، فَخَرَجَ بِهِمۡ لَيۡلًا فَلَمَّا عَلِمَ فِرۡعَوۡنُ بِخُرُوجِهِمۡ غَضِبَ عَلَيۡهِمۡ وَجَمَعَ جُنُودَهُ وَسَارَ فِي طَلَبِهِمۡ فَأَدۡرَكَهُمۡ عِنۡدَ شُرُوقِ الشَّمۡسِ وَقَدِ انۡتَهَوۡا إِلَى الۡبَحۡرِ ﴿فَلَمَّا تَرَاءَى الۡجَمۡعَانِ قَالَ أَصۡحَابُ مُوسَى إِنَّا لَمُدۡرَكُونَ﴾ [الشعراء: الآية ٦١]، لِأَنَّ الۡعَدُوَّ خَلۡفَهُمۡ وَالۡبَحۡرَ أَمَامَهُمۡ وَالۡجِبَالَ عَنۡ يَمِينِهِمۡ وَشِمَالِهِمۡ وَهِيَ شَاهِقَةٌ، فَقَالَ لَهُمُ الرَّسُولُ الصَّادِقُ الۡمَصۡدُوقُ —عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ— ﴿قَالَ كَلَّا إِنَّ مَعِيَ رَبِّي سَيَهۡدِينِ﴾ [الشعراء: الآية ٦٢].
Setelah memenuhi waktu tersebut, dia berjalan bersama keluarganya menuju tanah Mesir. Di tengah perjalanan, Allah memuliakannya dengan risalah-Nya dan mengutusnya kepada Firaun, lalu dia menyampaikan risalah Rabnya. Namun Firaun durhaka, sombong, membangkang, dan menentang. Musa pun menegakkan berbagai argumen dan bukti di hadapannya. Ketika itu, Firaun beralih menggunakan kekuatan untuk menghalangi kebenaran, maka Allah memerintahkan nabi-Nya, Musa—‘alaihis-salam—, untuk keluar bersama orang-orang muslim yang bersamanya menuju negeri Syam. Dia pun membawa mereka keluar pada malam hari. Ketika Firaun mengetahui kepergian mereka, dia murka kepada mereka lalu mengumpulkan tentaranya dan bergerak mengejar mereka. Firaun berhasil menyusul mereka saat matahari terbit, ketika mereka telah sampai di tepi laut. “Maka ketika kedua golongan itu saling melihat, kawan-kawan Musa berkata: ‘Sesungguhnya kita benar-benar akan tersusul.'” (QS Asy-Syu’ara: 61), karena musuh berada di belakang mereka, laut di depan mereka, sedangkan gunung-gunung yang menjulang tinggi berada di sebelah kanan dan kiri mereka. Maka rasul yang jujur lagi dibenarkan perkataannya—‘alaihish-shalatu was-salam—berkata kepada mereka. “Dia (Musa) menjawab: ‘Sekali-kali tidak akan tersusul; sesungguhnya Rabku bersamaku, Dia akan memberi petunjuk kepadaku'” (QS Asy-Syu’ara: 62).
وَتَقَدَّمَ إِلَى الۡبَحۡرِ وَهُوَ يَتَلَاطَمُ، وَهُوَ يَقُولُ: هَاهُنَا أُمِرۡتُ فَأَوۡحَى اللهُ إِلَيۡهِ: ﴿أَنِ اضۡرِبۡ بِعَصَاكَ الۡبَحۡرَ﴾ [الشعراء: الآية ٦٣]، فَلَمَّا ضَرَبَهُ انۡفَلَقَ وَصَارَ اثۡنَيۡ عَشَرَ طَرِيقًا عَلَى عَدَدِ أَسۡباطِ بَنِي إِسۡرَائِيلَ وَصَارَ الۡبَحۡرُ يَابِسًا، فَسَلَكَهُ مُوسَى بِمَنۡ مَعَهُ فَلَمَّا جَاوَزُوهُ وَخَرَجَ آخِرُهُمۡ مِنۡهُ دَخَلَهُ فِرۡعَوۡنُ وَجُنُودُهُ فِي أَثَرِهِمۡ وَعِنۡدَمَا تَكَامَلَا أَطۡبَقَهُ اللهُ عَلَيۡهِمۡ فَأَغۡرَقَهُمۡ أَجۡمَعِينَ وَبَنُو إِسۡرَائِيلَ يَنۡظُرُونَ إِلَيۡهِمۡ.
Dan beliau menuju ke laut yang sedang berombak besar seraya berkata, “Di sinilah aku diperintahkan.” Maka Allah mewahyukan kepadanya,
أَنِ ٱضۡرِب بِّعَصَاكَ ٱلۡبَحۡرَ
Pukullah laut itu dengan tongkatmu.
QS Asy-Syu’ara’: 63
Ketika beliau memukulnya, terbelahlah laut itu dan menjadi dua belas jalan sebanyak jumlah suku Bani Israil dan laut itu pun menjadi kering. Maka Musa melaluinya bersama orang-orang yang bersamanya. Ketika mereka telah melintasinya dan orang yang terakhir dari mereka telah keluar darinya, Firaun dan bala tentaranya masuk ke dalamnya mengikuti jejak mereka. Dan ketika semuanya telah lengkap masuk, Allah menangkupkan laut itu atas mereka, lalu menenggelamkan mereka semua, sementara Bani Israil melihat ke arah mereka.
وَهَكَذَا نَصَرَ اللهُ رَسُولَهُ وَكَلِيمَهُ وَمَنۡ مَعَهُ مِنَ الۡمُؤۡمِنِينَ، وَأَهۡلَكَ فِرۡعَوۡنَ وَمَنۡ مَعَهُ مِنَ الۡكَافِرِينَ، وَكَانَ هٰذَا الۡحَدَثُ الۡعَظِيمُ وَالنَّصۡرُ الۡمُبِينُ فِي الۡيَوۡمِ الۡعَاشِرِ مِنۡ شَهۡرِ اللهِ الۡمُحَرَّمِ وَهُوَ يَوۡمُ عَاشُورَاءَ وَقَدۡ صَامَ مُوسَى -عَلَيۡهِ السَّلَامُ- هٰذَا الۡيَوۡمَ شُكۡرًا للهِ -عَزَّ وَجَلَّ-، وَلَمَّا قَدِمَ النَّبِيُّ -صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ- الۡمَدِينَةَ وَجَدَ الۡيَهُودَ يَصُومُونَهُ فَقَالَ لَهُمۡ: ((مَا هٰذَا الۡيَوۡمُ الَّذِي تَصُومُونَهُ؟، قَالُوا: هٰذَا يَوۡمٌ عَظِيمٌ أَنۡجَى اللهُ فِيهِ مُوسَى وَقَوۡمَهُ وَأَغۡرَقَ فِرۡعَوۡنَ وَقَوۡمَهُ فَصَامَهُ مُوسَى شُكۡرًا فَنَحۡنُ نَصُومُهُ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ-: فَنَحۡنُ أَحَقُّ بِمُوسَى وَأَوۡلَى بِمُوسَى مِنۡكُمۡ))، فَصَامَهُ رَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ- وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ؛ رَوَاهُ الۡبُخَارِيُّ وَمُسۡلِمٌ.
Demikianlah Allah menolong rasul-Nya dan orang yang diajak-Nya berbicara (Kalimullah) serta orang-orang mukmin yang bersamanya, dan membinasakan Firaun serta orang-orang kafir yang bersamanya. Peristiwa yang agung dan kemenangan yang nyata ini terjadi pada hari kesepuluh dari bulan Allah, Muharam, yaitu hari Asyura. Musa—‘alaihis-salam—telah berpuasa pada hari ini sebagai bentuk syukur kepada Allah taala.
Ketika Nabi Muhammad—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tiba di Madinah, beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa padanya. Beliau bertanya kepada mereka, “Hari apa ini yang kalian gunakan untuk berpuasa?”
Mereka menjawab, “Ini adalah hari yang agung, yang padanya Allah menyelamatkan Musa dan kaumnya serta menenggelamkan Firaun dan kaumnya, lalu Musa berpuasa padanya sebagai bentuk syukur, maka kami pun berpuasa padanya.”
Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Maka kami lebih berhak terhadap Musa dan lebih utama terhadap Musa daripada kalian.”
Lalu Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berpuasa padanya dan memerintahkan untuk berpuasa padanya.
Al-Bukhari dan Muslim meriwayatkannya.2 (HR Al-Bukhari nomor 2004 dan Muslim nomor 1130).
وَيُسۡتَحَبُّ صَوۡمُ يَوۡمٍ قَبۡلَهُ أَوۡ بَعۡدَهُ لِمَا رَوَى مُسۡلِمٌ عَنِ ابۡنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اللهُ عَنۡهُمَا- أَنَّهُ قَالَ حِينَ صَامَ رَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ- وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ، ((قَالُوا: يَا رَسُولُ اللهِ إِنَّهُ يَوۡمٌ تُعَظِّمُهُ الۡيَهُودُ وَالنَّصَارَى، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ-: فَإِذَا كَانَ الۡعَامُ الۡمُقۡبِلُ إِنۡ شَاءَ اللهُ صُمۡنَا الۡيَوۡمَ التَّاسِعَ)) وَفِي مُسۡنَدِ الۡإِمَامِ أَحۡمَدَ: ((صُومُوا يَوۡمَ عَاشُورَاءَ وَخَالِفُوا الۡيَهُودَ، صُومُوا يَوۡمًا قَبۡلَهُ أَوۡ يَوۡمًا بَعۡدَهُ)).
Dianjurkan berpuasa sehari sebelum atau sesudahnya karena Muslim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas—radiyallahu ‘anhuma—3nomor 1134 bahwa beliau berkata ketika Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berpuasa dan memerintahkan untuk berpuasa padanya:
Mereka (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani.”
Maka Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda, “Jika datang tahun depan, insya Allah kita akan berpuasa pada hari kesembilan.”
Dan di dalam Musnad Imam Ahmad4 nomor 2154: “Berpuasalah pada hari Asyura dan selisilah orang-orang Yahudi, berpuasalah sehari sebelumnya atau sehari sesudahnya.”
فَيَنۡبَغِي صِيَامُ هٰذَا الۡيَوۡمِ وَيَوۡمٍ قَبۡلَهُ أَوۡ بَعۡدَهُ؛ مُخَالَفَةً لِلۡيَهُودِ، وَتَحۡصِيلًا لِفَضِيلَتِهِ؛ فَعَنۡ أَبِي قَتَادَةَ -رَضِيَ اللهُ عَنۡهُ- أَنَّ رَسُولُ اللهِ -صَلَّى اللهُ عَلَيۡهِ وَسَلَّمَ- سُئِلَ عَنۡ صِيَامِ يَوۡمِ عَاشُورَاءَ فَقَالَ: ((يُكَفِّرُ السَّنَةَ الۡمَاضِيَةَ)) رَوَاهُ مُسۡلِمٌ وَغَيۡرُهُ وَابۡنُ مَاجَهۡ وَلَفۡظُهُ: ((قَالَ صِيَامُ عَاشُورَاءَ إِنِّي أَحۡتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنۡ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي بَعۡدَهُ قَبۡلَهُ))، وَالۡمُرَادُ تَكۡفِيرُ الذُّنُوبِ الصَّغَائِرِ، أَمَّا الذُّنُوبُ الۡكَبَائِرُ كَالزِّنَا وَشُرۡبِ الۡخَمۡرِ وَأَكۡلِ الرِّبَا فَإِنَّهَا لَا تُكَفَّرُ إِلَّا بِالتَّوۡبَةِ مِنۡهَا.
Maka seyogianya berpuasa pada hari ini dan sehari sebelum atau sesudahnya; demi menyelisihi orang-orang Yahudi dan untuk mendapatkan keutamaannya. Abu Qatadah—radiyallahu ‘anhu—meriwayatkan bahwa Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—ditanya tentang puasa hari Asyura, lalu beliau bersabda, “(Puasa itu) menghapuskan (dosa) setahun yang lalu.”
Muslim5 nomor 1162, selain beliau, dan Ibnu Majah meriwayatkannya6 nomor 1738, dan lafaznya: Beliau bersabda, “Puasa Asyura, sesungguhnya aku berharap kepada Allah agar menghapuskan (dosa) setahun yang setelahnya sebelumnya.”
Yang dimaksud adalah penghapusan dosa-dosa kecil. Adapun dosa-dosa besar seperti zina, meminum khamr, dan memakan riba, maka sesungguhnya tidak dapat dihapuskan kecuali dengan bertobat darinya.
فَاتَّقُوا اللهَ -عِبَادَ اللهِ-، وَبَادِرُوا مَوَاسِمَ الۡفَضَائِلِ قَبۡلَ فَوَاتِهَا، وَاعۡتَبِرُوا بِقِصَصِ الۡأَنۡبِيَاءِ وَسِيَرِهِمۡ، أَعُوذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيۡطَانِ الرَّجِيمِ ﴿لَقَدۡ كَانَ فِي قَصَصِهِمۡ عِبۡرَةٌ لِأُولِي الۡأَلۡبَابِ ۗ مَا كَانَ حَدِيثًا يُفۡتَرَىٰ وَلَٰكِنۡ تَصۡدِيقَ الَّذِي بَيۡنَ يَدَيۡهِ وَتَفۡصِيلَ كلِّ شَيۡءٍ وَهُدًى وَرَحۡمَةً لِقَوۡمٍ يُؤۡمِنُونَ﴾ [يوسف: الآية ١١١].
Maka bertakwalah kepada Allah, wahai hamba-hamba Allah, dan bersegeralah memanfaatkan musim-musim keutamaan sebelum hilangnya kesempatan, dan ambillah pelajaran dari kisah-kisah para nabi dan perjalanan hidup mereka. Aku berlindung kepada Allah dari setan yang terkutuk. “Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal. (Al-Qur’an) itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan (kitab-kitab) yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS Yusuf: 111).
بَارَكَ اللهُ لِي وَلَكُمۡ فِي الۡقُرۡآنِ الۡعَظِيمِ..
Semoga Allah memberkahi aku dan kalian di dalam Al-Qur’an yang agung.
Sumber: https://t.me/Miraathalanbeyaa/34937
![]()
Be the first to leave a comment