حكم المداومة على قنوت الوتر والتطويل فيه؟
🎙️ Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz (wafat 1420 H) rahimahullah
السؤال:
Pertanyaan:
إذا داوم على القنوت في الوتر؟
Bagaimana jika seseorang membiasakan kunut dalam salat witir?
الجواب:
Jawaban:
الذي أوصى به النبيُّ ﷺ الحسن: علَّمه ﷺ القنوت: اللهم اهدني فيمَن هديتَ، وعافني فيمَن عافيتَ، وتولَّني فيمَن تولَّيتَ، وبارك لي فيما أعطيتَ، وقني شرَّ ما قضيتَ، فإنك تقضي ولا يُقضى عليك، فإنه لا يذلُّ مَن واليتَ، ولا يعزُّ مَن عاديتَ، تباركتَ ربنا وتعاليت.
Wasiat yang dipesankan oleh Nabi ﷺ kepada Al-Hasan; beliau ﷺ mengajarkannya doa kunut:
اَللّٰهُمَّ اهۡدِنِي فِيمَنۡ هَدَيۡتَ، وَعَافِنِي فِيمَنۡ عَافَيۡتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنۡ تَوَلَّيۡتَ، وَبَارِكۡ لِي فِيمَا أَعۡطَيۡتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيۡتَ، فَإِنَّكَ تَقۡضِي وَلَا يُقۡضَىٰ عَلَيۡكَ، فَإِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنۡ وَالَيۡتَ، وَلَا يَعِزُّ مَنۡ عَادَيۡتَ، تَبَارَكۡتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيۡتَ
“Allāhummahdinī fīman hadait, wa ‘āfinī fīman ‘āfait, wa tawallanī fīman tawallait, wa bārik lī fīmā a‘ṭait, wa qinī syarra mā qaḍait, fa innaka taqḍī wa lā yuqḍā ‘alaik, fa innahū lā yażillu man wālait, wa lā ya‘izzu man ‘ādait, tabārakta rabbanā wa ta‘ālait. (Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk, berilah aku kesehatan sebagaimana orang-orang yang telah Engkau beri kesehatan, pimpinlah aku sebagaimana orang-orang yang telah Engkau pimpin, berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan, dan lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau putuskan. Sesungguhnya Engkau yang memutuskan dan tidak ada yang memutuskan atas-Mu. Sesungguhnya tidak akan hina orang yang Engkau muliakan dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi. Maha Suci Engkau, wahai Rab kami, dan Maha Tinggi Engkau).”1 (HR Abu Dawud nomor 1425, Ibnu Majah nomor 1178, At-Tirmidzi nomor 464)
وكان النبي ﷺ يقول في آخر وتره: اللهم إني أعوذ برضاك من سخطك، وبمُعافاتك من عقوبتك، وأعوذ بك منك، لا أُحصي ثناءً عليك أنت كما أثنيتَ على نفسك خرَّجهما الخمسة: أحمد وأهل السنن.
Nabi ﷺ juga biasa mengucapkan di akhir salat witirnya,
اَللّٰهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِرِضَاكَ مِنۡ سَخَطِكَ، وَبِمُعَافَاتِكَ مِنۡ عُقُوبَتِكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنۡكَ، لَا أُحۡصِي ثَنَاءً عَلَيۡكَ أَنۡتَ كَمَا أَثۡنَيۡتَ عَلَىٰ نَفۡسِكَ
“Allāhumma innī a‘ūżu biriḍāka min sukhtika, wa bimu‘āfātika min ‘uqūbatika, wa a‘ūżu bika minka, lā uḥṣī ṡanā’an ‘alaika anta kamā aṡnaita ‘alā nafsika (Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung dengan rida-Mu dari kemurkaan-Mu, dengan keselamatan-Mu dari hukuman-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari (siksaan)-Mu. Aku tidak mampu menghitung pujian kepada-Mu; Engkau adalah sebagaimana Engkau memuji diri-Mu sendiri).”2 (HR Ahmad nomor 957, At-Tirmidzi nomor 3566, Ibnu Majah nomor 1179, dan An-Nasa`i nomor 1747).
Kedua hadis ini diriwayatkan oleh Al-Khamsah: Ahmad dan para pemilik kitab Sunan.
فهذا يدل على شرعية قنوت الوتر، وأن يقول هذا الدعاء، وحديث الحسن ثابت، وحديث عليٍّ ثابت أيضًا، وهو يدل على شرعية القنوت.
Hal ini menunjukkan disyariatkannya kunut witir dan membaca doa tersebut. Hadis Al-Hasan adalah sabit (kukuh), begitu pula hadis ‘Ali juga sabit, dan ini menunjukkan disyariatkannya kunut.
وكان بعضُ السلف من الصحابة وغيرهم لا يقنتون إلا في النصف الأخير من رمضان، والصواب أنه مشروع دائمًا في الوتر: في رمضان وفي غيره؛ لحديث الحسن وما جاء في معناه.
Dahulu, sebagian salaf dari kalangan sahabat dan selainnya tidak melakukan kunut kecuali pada pertengahan terakhir bulan Ramadan. Namun, yang benar adalah bahwa kunut itu disyariatkan secara terus-menerus dalam witir, baik di bulan Ramadan maupun di luarnya, berdasarkan hadis Al-Hasan dan hadis-hadis yang semakna dengannya.
أما زيادة “ولا يعزُّ مَن عاديتَ” فالمؤلف ذكرها هنا، وذكر الحافظُ رحمه الله وجماعة أنها في بعض نسخ أبي داود، وذكرها البيهقي رحمه الله، وليست عند الترمذي وابن ماجه وأحمد والنَّسائي، والمؤلف ذكرها هنا لأنها جاءت عند أبي داود في بعض النُّسخ.
Adapun tambahan “wa lā ya‘izzu man ‘ādait“, penyusun menyebutkannya di sini, dan Al-Hafizh —rahimahullah— serta sekelompok ulama menyebutkan bahwa tambahan itu terdapat dalam sebagian naskah Abu Dawud. Al-Baihaqi —rahimahullah— juga menyebutkannya, namun tidak terdapat dalam riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Majah, Ahmad, dan An-Nasa’i. Penyusun menyebutkannya di sini karena terdapat dalam sebagian naskah Abu Dawud.
س: بالنسبة لإطالة القنوت والأدعية في هذه الأيام، ما رأيكم فيه؟
Tanya:
Mengenai pemanjangan kunut dan doa-doa pada hari-hari ini, bagaimana pendapat Anda?
ج: لا بأس أن يزيد، ولكن ينبغي أن يُراعي عدم الطول، لا يشقّ على الناس، لو زاد دعوات لا بأس، لكن لا يشقّ على الناس؛ ولهذا كان عمر يزيد: “اللهم إنا نستعينك ونستهديك ..” إلى آخره، فإذا زاد بعض الدَّعوات لكن يُراعي عدم المشقَّة.
Jawab:
Tidak mengapa untuk menambah (doa), tetapi hendaknya memperhatikan agar tidak terlalu panjang sehingga tidak memberatkan orang-orang. Jika menambah beberapa doa, tidaklah mengapa, asalkan tidak menyusahkan orang banyak. Oleh karena itu, dahulu Umar menambah: “Allahumma innaa nasta’iinuka wa nastahdiika (Ya Allah, sesungguhnya kami memohon pertolongan-Mu dan memohon petunjuk-Mu) …” dan seterusnya. Jadi, jika menambah beberapa doa, tetaplah memperhatikan agar tidak menimbulkan kepayahan.
Sumber fatwa: Situs resmi Syekh Ibnu Baz.
Be the first to leave a comment