Pewara:
أحسن الله إليكم فضيلة الشيخ، هذا سائل يقول: ما حكم دراسة علم النفس؟
Semoga Allah membalas kebaikan Anda dengan kebaikan, wahai Syekh yang mulia. Penanya ini bertanya: Apa hukum mempelajari ilmu psikologi (ilmu an-nafs)?
Syekh Dr. ‘Arafat bin Hasan Al-Muhammadi:
علم النفس، ماذا يقصد به السائل؟ إذا جئنا إلى الإسلام، فعندنا في الإسلام تربية النفس في الآداب الشرعية، تهذيب النفس بالأخلاق الحسنة، تزكية النفس بالزهد والورع، فديننا كامل، ما من خير يقربنا إلى الجنة إلا وقد علمناه رسول الله صلى الله عليه وسلم، وما من شر يباعدنا عن النار إلا وقد حذرنا منه.
Apa yang dimaksud oleh penanya dengan ilmu psikologi? Jika kita merujuk kepada Islam, maka di dalam agama kita terdapat pendidikan jiwa melalui adab-adab syariat, penyucian jiwa dengan akhlak yang baik, pensucian jiwa dengan sikap zuhud dan warak. Agama kita adalah agama yang sempurna. Tidak ada satu pun kebaikan yang mendekatkan kita kepada janah melainkan telah diajarkan oleh Rasulullah ﷺ kepada kita, dan tidak ada satu pun keburukan yang menjauhkan kita dari neraka melainkan telah diperingatkan oleh beliau kepada kita.
فلو قال: أنا أقصي بدراسة علم النفس أن ندرس الآيات والأحاديث التي وردت في النفس ووردت في الروح، فنقول: لا باس، هذا من ديننا، هذا صحيح، ويجب دراسة ذلك، أن ندرس ما هي النفس الأمارة بالسوء التي ذكرها الله في القرآن: (وما أبرئ نفسي إن النفس لأمارة بالسوء)، وهكذا أيضا ندرس ما معنى النفس اللوامة، وهي النفس التي تذنب ثم تتوب، وقد ذكرها الله أيضا في القرآن: (ولا أقسم بالنفس اللوامة)، وندرس أيضا النفس المطمئنة: (يا أيتها النفس المطمئنة ارجعي إلى ربك راضية مرضية).
Maka, jika ia berkata: ‘Yang saya maksud dengan mempelajari ilmu psikologi adalah kita mempelajari ayat-ayat dan hadis-hadis yang berbicara tentang jiwa dan ruh,’ maka kita katakan: ‘Tidak mengapa, ini adalah bagian dari agama kita. Ini benar dan wajib untuk mempelajarinya.’ Yaitu kita mempelajari apa itu nafs amarah bis-su’ (jiwa yang mendorong kepada keburukan) yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an,
وَمَآ أُبَرِّئُ نَفۡسِىٓ ۚ إِنَّ ٱلنَّفۡسَ لَأَمَّارَةُۢ بِٱلسُّوٓءِ
Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), karena sesungguhnya jiwa itu selalu mendorong kepada keburukan.
QS Yusuf: 53
Demikian pula kita mempelajari apa arti nafs lawwamah (jiwa yang amat menyesali), yaitu jiwa yang melakukan dosa kemudian bertaubat, yang juga telah disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an:
وَلَآ أُقۡسِمُ بِٱلنَّفۡسِ ٱللَّوَّامَةِ
Dan aku bersumpah demi jiwa yang amat menyesali.
QS Al-Qiyamah: 2
Kita juga mempelajari nafs muthmainnah (jiwa yang tenang):
ٱرۡجِعِىٓ إِلَىٰ رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرۡضِيَّةً
Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Rabmu dengan rida dan diridai.
QS Al-Fajr: 28
هذا هو علم النفس إن أردتم علم النفس في ديننا، أحاديث ونصوص وآيات، وناخذ الأحكام المتعلقة بالنفس، فالنفس مسؤولة ومكلفة، لا يكلف الله نفسا إلا وسعها.
Inilah ilmu jiwa (psikologi) jika yang kalian maksud adalah ilmu jiwa dalam agama kita, yang bersumber dari hadis-hadis, nas-nas, dan ayat-ayat, serta kita mengambil hukum-hukum yang berkaitan dengan jiwa. Jiwa itu diminta pertanggungjawaban dan dibebani syariat. Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.
أما علم نأخذه عن الكفار، وجاءنا منهم، وهو يتعلق بالفلسفة وعلم الكلام، فهذا لا يجوز، وهذا حرام، وعلينا أن ندرس ما جاء في كتابنا وسنة نبينا عليه الصلاة والسلام من أمراض النفس، فالنفس قد تمرض بالبخل والشح، والنفس كذلك قد تمرض أيضا بالخيانة والكذب وعدم الصدق، وهذا كثير أخلاق سيئة وقبيحة اتباع الهوى، وكذلك أيضا ما يتعلق بالمخادعة، وكل ذلك جاء في كتاب الله وفي سنة النبي عليه الصلاة والسلام.
Adapun ilmu psikologi yang kita ambil dari orang-orang kafir dan datang dari mereka, yang berkaitan dengan filsafat dan ilmu kalam, maka ini tidak boleh dan ini haram. Kewajiban kita adalah mempelajari apa yang datang di dalam Kitab kita dan Sunah Nabi kita ﷺ mengenai penyakit-penyakit jiwa. Karena jiwa bisa terserang penyakit bakhil (kikir) dan pelit. Jiwa juga bisa terserang penyakit khianat, berdusta, dan tidak jujur. Ini sangat banyak; akhlak yang buruk dan keji seperti mengikuti hawa nafsu, serta hal-hal yang berkaitan dengan penipuan. Semua itu telah disebutkan di dalam Kitab Allah dan Sunah Nabi ﷺ.
فيجب أن نتعلم ذلك وأن نعرفه، وقد ألف ابن القيم كتابا نفيسا وهو كتاب الروح، وتكلم عن أحكام كثيرة تتعلق بالنفس والروح.
Jadi, kita wajib mempelajari hal tersebut dan mengetahuinya. Ibnu Al-Qayyim telah menulis sebuah kitab yang sangat berharga yaitu kitab Ar-Ruh, dan beliau membicarakan banyak hukum yang berkaitan dengan jiwa dan roh.
أما ما يتعلق بهذا الذي في السؤال إن قصد ما جاءنا من الكفار من علم النفس، فهذا لا يجوز دراسته؛ لأن هذا من علوم الفلسفة وعلم الكلام الذي أفسد به كثير من هؤلاء عقائد المسلمين، وأدخلوا فيها ما ليس منها، ودخل علينا من البلاء الشيء العظيم في تأويل الصفات، وفي عدم الإيمان بالغيب، و إلى آخره.
Adapun mengenai apa yang ada dalam pertanyaan—jika yang dimaksud adalah ilmu psikologi yang datang dari orang-orang kafir—maka ini tidak boleh dipelajari, karena hal tersebut termasuk ilmu filsafat dan ilmu kalam yang dengannya telah merusak akidah banyak dari kalangan umat Islam, memasukkan ke dalamnya hal-hal yang bukan bagian darinya, serta mendatangkan bencana yang sangat besar bagi kita dalam hal takwil sifat-sifat Allah, pengingkaran terhadap perkara gaib, dan seterusnya.
📌السؤال الرابع من اللقاء المفتوح الأول مع فضيلة الشيخ الدكتور عرفات بن حسن المحمدي بتأريخ ٢٢ ربيع الأول ١٤٤٢ هـ
Pertanyaan keempat dari sesi Pertemuan Terbuka Pertama bersama Yang Mulia Syekh Dr. ‘Arafat bin Hasan Al-Muhammadi pada tanggal 22 Rabiulawal 1442 H
Sumber: https://t.me/Arafatbinhassan/3855
![]()
Be the first to leave a comment