Hukum Musafir Menjadi Imam Salat Jumat bagi Masyarakat

ismail  

حكم إمامة المسافر بالناس في صلاة الجمعة ؟

🎙 Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin (wafat 1421 H) rahimahullah

السؤال:

Pertanyaan:

جزاكم الله خيراً على هذا التوجيه المبارك. السائل يقول: مسافر نزل على قرية وبات فيها، وهذا اليوم يوم جمعة، وقدموه جماعة القرية للصلاة بهم، وصلى بهم الجمعة، هل تجوز صلاة المسافر للمقيمين؟

Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan atas arahan yang penuh berkah ini. Penanya berkata: Seorang musafir singgah di suatu desa dan menginap di sana. Hari itu adalah hari Jumat, lalu warga desa memintanya menjadi imam salat Jumat, dan dia pun mengimami mereka. Apakah sah salat yang diimami oleh seorang musafir bagi jemaah yang mukim?

الجواب:

Jawaban:

الشيخ: يريد السائل: هل يجوز أن يكون المسافر إماماً للناس في صلاة الجمعة؟ والجواب على هذه المسألة أن العلماء اختلفوا في ذلك، فمنهم من يقول: إن المسافر لا يصح أن يكون إماماً في الجمعة؛ لأنه ليس من أهل الوجوب، إذ أن المسافر لا تجب عليه الجمعة، ومنهم من قال: إنه يصح أن يكون المسافر إماماً في الجمعة وخطيباً فيها، وهذا القول هو الصحيح، وعلى هذا فنقول لهذا السائل: لا بأس أن تصلي إماماً في الجمعة وأنت مسافر،

Syekh: Maksud penanya adalah: Apakah boleh seorang musafir menjadi imam bagi masyarakat dalam salat Jumat? Jawaban atas masalah ini adalah bahwa para ulama berbeda pendapat mengenai hal tersebut. Di antara mereka ada yang berpendapat: Seorang musafir tidak sah menjadi imam salat Jumat, karena dia tidak termasuk orang yang diwajibkan salat Jumat, mengingat salat Jumat tidak wajib bagi musafir. Di antara mereka ada pula yang berpendapat: Sah bagi musafir untuk menjadi imam dan khatib dalam salat Jumat, dan pendapat inilah yang sahih. Atas dasar ini, kami katakan kepada penanya tersebut: Tidak mengapa engkau menjadi imam salat Jumat dalam keadaan sebagai musafir.

وبهذه المناسبة أقول: إن من كان في بلد وهو مسافر، وأقيمت الجمعة، فإن عليه أن يصلي الجمعة مع الناس، ولا يحل له أن يتخلف عن الجمعة، بحجة أنه مسافر؛ وذلك لعموم قول الله تعالى: ﴿يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسَعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ﴾، والمسافر داخل في هذا الخطاب؛ لأنه من الذين آمنوا، فإذا كان من الذين آمنوا، فإنه أمر أن يسعى إلى ذكر الله إذا نودي للجمعة،

Pada kesempatan ini saya menyampaikan: Sesungguhnya siapa saja yang berada di suatu negeri dalam keadaan musafir, lalu salat Jumat dilaksanakan, maka dia wajib melaksanakan salat Jumat bersama masyarakat dan tidak halal baginya untuk meninggalkannya dengan alasan bahwa dia seorang musafir. Hal itu berdasarkan keumuman firman Allah taala:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓا۟ إِذَا نُودِىَ لِلصَّلَوٰةِ مِن يَوۡمِ ٱلۡجُمُعَةِ فَٱسۡعَوۡا۟ إِلَىٰ ذِكۡرِ ٱللَّهِ وَذَرُوا۟ ٱلۡبَيۡعَ

Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan salat Jumat, maka bersegeralah kalian mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.

QS Al-Jumu’ah: 9

Musafir termasuk dalam seruan ini, karena dia bagian dari orang-orang yang beriman. Apabila dia termasuk orang-orang yang beriman, maka dia diperintahkan untuk bersegera mengingat Allah apabila salat Jumat telah diserukan.

ومثل ذلك صلاة الجماعة أيضاً، فإن على المسافر إذا نزل في بلد، وأذن للصلاة وقد سمع النداء، عليه أن يجيب النداء ويصلي مع الجماعة؛ لأن الجماعة لا تسقط عن المسافر؛ لقول الله تعالى لرسوله صلى الله عليه وعلى آله وسلم: ﴿وَإِذَا كُنْتَ فِيهِمْ فَأَقَمْتَ لَهُمُ الصَّلاةَ فَلْتَقُمْ طَائِفَةٌ مِنْهُمْ مَعَكَ﴾، إلى آخر الآية. فأمر بصلاة الجماعة في حال الخوف، وكان ذلك في السفر، ففي حال الأمن من باب أولى، وقال النبي صلى الله عليه وعلى آله وسلم: « من سمع النداء ولم يجب فلا صلاة له إلا من عذر». وهذا عام للمسافر وغير المسافر. وأما ما اشتهر عند العامة، أن المسافر لا جمعة عليه ولا جماعة، فهذا ليس بصحيح، بل المسافر كالمقيم في وجوب صلاة الجمعة والجماعة ولا فرق. نعم.

Demikian pula halnya dengan salat berjemaah. Sesungguhnya seorang musafir, apabila singgah di suatu negeri dan azan salat dikumandangkan serta dia mendengarnya, maka dia wajib memenuhi panggilan tersebut dan salat bersama jemaah, karena salat berjemaah tidak gugur dari musafir, berdasarkan firman Allah taala kepada Rasul-Nya—shallallahu ‘alaihi wa sallam—:

وَإِذَا كُنتَ فِيهِمۡ فَأَقَمۡتَ لَهُمُ ٱلصَّلَوٰةَ فَلۡتَقُمۡ طَآئِفَةٌ مِّنۡهُم مَّعَكَ

Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan salat bersama-sama mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) besertamu …

QS An-Nisa’: 102 hingga akhir ayat.

Allah memerintahkan salat berjamaah dalam kondisi takut, dan hal tersebut terjadi dalam perjalanan, maka dalam kondisi aman tentu lebih utama. Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—juga bersabda,

Barang siapa mendengar panggilan azan lalu tidak memenuhinya, maka tidak ada salat baginya kecuali karena ada uzur.

HR Ibnu Majah nomor 793, Abu Dawud nomor 551.

Hal ini bersifat umum, berlaku bagi musafir maupun non-musafir. Adapun anggapan yang populer di kalangan awam bahwa musafir tidak ada kewajiban salat Jumat dan salat berjemaah, maka hal ini tidak benar. Justru musafir sama seperti orang mukim dalam kewajiban salat Jumat dan berjemaah, tidak ada perbedaan. Naam.

Sumber fatwa: Situs resmi Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin.

Loading

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *