Hukum Berciuman dan Membungkuk Ketika Mengucapkan Salam

ismail  

حكم التقبيل والانحناء عند السلام

🎙 Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz (wafat 1420 H) rahimahullah

السؤال:

Pertanyaan:

رسالة وصلت إلى البرنامج من أحد الإخوة المستمعين يقول: زكي محمد محمود من دولة قطر، أخونا يسأل ثلاثة أسئلة، يقول: أشاهد بعض الناس عندما يقبل البعض الآخر، ينحني، بل ولربما سلم في يده، هل هذه الطريقة جائزة أو لا؟

Sebuah surat sampai ke program ini dari salah seorang saudara pendengar yang berkata: Zaki Muhammad Mahmud dari Negara Qatar, saudara kita mengajukan tiga pertanyaan. Dia berkata: “Saya melihat sebagian orang ketika mencium sebagian yang lain, dia membungkuk, bahkan terkadang bersalaman pada tangannya. Apakah cara seperti ini boleh atau tidak?”

الجواب:

Jawaban:

لا يجوز الانحناء في السلام، وقد روي عن النبي ﷺ النهي عن ذلك، فقد روي عنه ﷺ أنه نهى عن ذلك، وإن كان في الحديث بعض النظر والضعف، لكنه أمر لا ينبغي، وإنما السنة أن يسلم وهو منتصب، يصافح أخاه أو يعانقه إن كان قدم من سفر، هذا هو السنة أن يصافحه عند اللقاء، ولا بأس بالمعانقة عند القدوم من السفر، وكان أصحاب النبي ﷺ إذا تلاقوا تصافحوا ، وكانوا يصافحون النبي -عليه الصلاة والسلام-، وقال أنس : “كان أصحاب النبي ﷺ إذا تلاقوا تصافحوا، وإذا قدموا من سفر تعانقوا”، وقد روي عنه -عليه الصلاة والسلام- أنه قال: إذا التقى المسلمان وتصافحا واستغفرا الله  حطت عنهما خطاياهما.

Membungkuk ketika mengucapkan salam itu tidak diperbolehkan. Sungguh telah diriwayatkan dari Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—larangan mengenai hal tersebut. Sungguh telah diriwayatkan dari beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bahwa beliau melarang hal tersebut1 (HR At-Tirmidzi nomor 2728), walaupun di dalam hadisnya terdapat sedikit perbincangan dan kelemahan, akan tetapi itu adalah perkara yang tidak seyogianya dilakukan.

Adapun yang sesuai dengan sunah adalah seseorang mengucapkan salam dalam keadaan berdiri tegak, menyalami saudaranya, atau merangkulnya jika ia baru datang dari safar. Inilah yang sunah, yaitu menyalaminya ketika bertemu, dan tidak mengapa merangkul ketika baru datang dari safar. Para sahabat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dahulu apabila saling bertemu, mereka saling bersalaman, dan mereka dahulu menyalami Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Anas berkata, “Para sahabat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dahulu apabila saling bertemu, mereka saling bersalaman, dan apabila mereka datang dari safar, mereka saling merangkul.”2 (HR Ath-Thabarani nomor 97) Dan sungguh telah diriwayatkan dari beliau—‘alaihish-shalatu was-salam—bahwa beliau bersabda, “Jika dua orang muslim bertemu lalu keduanya saling bersalaman dan memohon ampun kepada Allah taala, niscaya dosa-dosa keduanya digugurkan dari mereka berdua.”3 (HR Abu Dawud nomor 5212)

فهذه المصافحة عند اللقاء فيها خير عظيم، وفيها إيناس وتعارف وتقارب ومودة، وإبعاد للوحشة؛ فلا ينبغي ترك ذلك، بل ينبغي المحافظة على هذا الشيء، ولا حاجة إلى تقبيل اليد، ترك التقبيل أولى، فإن فعله بعض الأحيان لأسباب؛ كأن يكون عالمًا، أو أميرًا جرت العادة بتقبيل يديه، فإذا فعله بعض الأحيان لا بأس، أما اتخاذه عادة فأقل أحواله أنه مكروه لا ينبغي أن يتخذ عادة، لكن إذا فعل بعض الأحيان لبعض الأسباب فلا بأس، وتركه أولى بكل حال.

Jadi, bersalaman ketika bertemu ini di dalamnya terdapat kebaikan yang agung, ramah-tamah, saling mengenal, kedekatan, kasih sayang, dan menjauhkan kecanggungan. Oleh karena itu, tidak seyogianya hal tersebut ditinggalkan, bahkan seyogianya menjaga perkara ini. Tidak ada keperluan pula untuk mencium tangan. Meninggalkan mencium tangan itu lebih utama. Namun, jika ia melakukannya sesekali karena adanya alasan, seperti jika orang tersebut adalah seorang ulama, atau seorang pemimpin yang sudah menjadi kebiasaan untuk dicium tangannya, maka jika ia melakukannya sesekali, tidak mengapa. Adapun menjadikannya sebagai kebiasaan, maka keadaan paling ringannya adalah makruh, tidak seyogianya itu dijadikan kebiasaan. Akan tetapi, jika dilakukan sesekali karena sebagian alasan, maka tidak mengapa, dan meninggalkannya itu lebih utama dalam setiap keadaan.

وكان أصحاب النبي ﷺ إذا تلاقوا إذا لقوه ﷺ يصافحونه، ولا يقبلون يده، وربما قبل يده بعض الصحابة بعض الأحيان، لكنها أحوال قليلة، والمشهور عنهم  المصافحة، وهذا هو الأكثر، وتقبيل يده أو قدمه إنما هو شيء قليل جاء في بعض الأحاديث لأسباب فعلها بعض الصحابة عند قدومه من السفر.

Para sahabat Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dahulu apabila saling bertemu, jika mereka bertemu beliau—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, mereka menyalaminya dan tidak mencium tangannya. Terkadang sebagian sahabat mencium tangan beliau sesekali, akan tetapi itu adalah keadaan yang jarang. Yang masyhur dari mereka adalah bersalaman, dan inilah yang paling sering. Adapun mencium tangan atau kaki beliau, sesungguhnya itu adalah perkara jarang yang disebutkan dalam sebagian hadis karena adanya alasan yang dilakukan oleh sebagian sahabat ketika beliau datang dari safar.

فالحاصل: أن السنة الغالبة هي المصافحة عند السلام واللقاء، أما تقبيل اليد إذا فعل بعض الأحيان فلا حرج فيه؛ لمصلحة شرعية أما اتخاذه عادة فهو خلاف السنة، نعم.

Kesimpulannya: Bahwa sunah yang paling sering dilakukan adalah bersalaman ketika mengucapkan salam dan bertemu. Adapun mencium tangan, jika dilakukan sesekali maka tidak ada dosa di dalamnya demi kemaslahatan syariat. Sedangkan menjadikannya sebagai kebiasaan, maka itu menyelisihi sunah. Naam.

المقدم: جزاكم الله خيرًا.

Pembawa acara: Semoga Allah membalas Anda dengan kebaikan.

Sumber fatwa: Situs resmi Syekh Ibnu Baz.

Loading

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *