Hukum Menjual Selain Makanan dengan Makanan Secara Tempo

ismail  

حكم بيع غير الطعام بالطعام مؤجلًا

✍️ Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz (wafat 1420 H) rahimahullah

السؤال: هل يجوز بيع غير الطعام بالطعام نسيئة؛ كبيع الثياب بالقمح مثلًا… إلخ؟

Pertanyaan: Apakah boleh menjual selain makanan dengan makanan secara tempo, seperti menjual pakaian dengan gandum misalnya, dan lain-lain?

الجواب: يجوز ذلك في أصح أقوال أهل العلم، والأدلة عليه كثيرة، منها: عموم الأدلة في حل البيع والمداينة، ومنها: ما ثبت في الصحيحين عن عائشة رضي الله عنها: أن النبي ﷺ اشترى من يهودي طعامًا نسيئة، ورهنه درعًا من حديد[1]، ومنها: بيع السلم، فإن النبي ﷺ قدم المدينة والناس يسلفون في الثمار السنة والسنتين، فقال عليه الصلاة والسلام: من أسلف في شيء، فليسلف في كيل معلوم ووزن معلوم، إلى أجل معلوم[2]، ولم يشترط أن يكون الثمن نقدًا، فدل ذلك على أنه يجوز أن يسلف مكيلًا من الطعام أو موزونًا من الطعام في حيوان أو ثياب أو صوف، أو غيرها مما ينضبط بالصفة، إذا توفرت بقية الشروط، والله سبحانه وتعالى أعلم[3].

Jawaban: Hal tersebut boleh menurut pendapat yang paling sahih dari para ulama. Dalil-dalil mengenai hal ini sangat banyak. Di antaranya adalah keumuman dalil-dalil tentang kehalalan jual beli dan utang piutang. Di antaranya pula: riwayat yang telah tetap dalam dua kitab Shahih dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwasanya Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—membeli makanan dari seorang Yahudi secara tempo, dan menggadaikan baju besi dari besi kepadanya1 HR Al-Bukhari nomor 2251 dan Muslim nomor 1603.

Di antaranya pula: jual beli salam, karena Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—tiba di Madinah sedangkan masyarakat melakukan transaksi salaf/salam pada buah-buahan untuk jangka waktu satu dan dua tahun, maka beliau ‘alaihish-shalatu was-salam bersabda, “Barang siapa yang melakukan transaksi salaf/salam pada sesuatu, hendaklah dia melakukannya dalam takaran yang jelas dan timbangan yang jelas, hingga jangka waktu yang jelas.”2 HR Al-Bukhari nomor 2241 dan Muslim nomor 1604.

Beliau tidak mensyaratkan agar harganya berupa uang tunai, maka hal itu menunjukkan bahwa boleh menyerahkan modal berupa makanan yang ditakar atau makanan yang ditimbang untuk memperoleh hewan, pakaian, wol, atau barang lainnya yang dapat ditentukan kriteria dan sifatnya, apabila syarat-syarat sisanya telah terpenuhi. Wallahu subhanahu wa ta’ala a’lam.3 Diterbitkan di Majalah Al-Jami’ah Al-Islamiyyah di Madinah Al-Munawwarah, edisi ketiga, tahun ketujuh, tahun 1395 H, halaman 134. (Majmu’ Fatawa wa Maqalat Asy-Syaikh Ibn Baz 19/253).

Sumber fatwa: Situs resmi Syekh Ibnu Baz.

Loading

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *