حكم الزيادة في البيع على بعض المشترين والنقص لآخرين
🎙️ Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz (wafat 1420 H) rahimahullah
السؤال: لدينا أيضاً سؤال من الأخ: محمد بن علي الزري من الدمام يقول: الآن عندي أسئلة عن البيع والشراء، والسؤال الأول: أنا أبيع بساعات وغيرها والسعر مثلاً على الساعة مائة وخمسين ريال، فيأتيني رجل وأبيعها عليه عن مائة وخمسة وأربعين ريال، ويأتيني آخر وأبيعها بمائة وخمسة وثلاثين نقداً، ويأتيني صديق وبحكم الصداقة أعطيها له بمائة وخمسة وعشرين ريال، وإذا أتاني واحد أعرفه فقال: آخذ الساعة عن مائة وخمسين لكن الدراهم مؤجلة إلى المعاش، فهل البيع جائز؟ وفقكم الله.
Pertanyaan:
Kami juga memiliki pertanyaan dari Saudara Muhammad bin ‘Ali Az-Zuri dari Dammam. Beliau berkata: “Saat ini saya memiliki beberapa pertanyaan tentang jual beli. Pertanyaan pertama: Saya berjualan jam tangan dan barang-barang lainnya. Harga jam tangan tersebut misalnya 150 riyal. Lalu datang seorang laki-laki dan saya menjualnya kepadanya seharga 145 riyal. Datang pembeli lain dan saya menjualnya seharga 135 riyal secara tunai. Kemudian datang seorang teman, dan karena faktor pertemanan, saya memberikannya seharga 125 riyal. Jika datang seseorang yang saya kenal lalu dia berkata: ‘Saya ambil jam ini seharga 150 riyal, tetapi uangnya diutangkan sampai gajian’, apakah jual beli ini boleh? Semoga Allah memberikan taufik kepada Anda.”
الجواب: الواجب على المؤمن ألا يخدع الناس، بل يتحرى السعر المناسب الذي لا يضر الناس، فإذا كان سعر الساعات مائة وخمسين مثل الناس، يعني يبيع مثل ما يبيع الناس أمثالها مائة وخمسين؛ ولكنه يتنازل عن بعض الناس إذا ألح، أو لكونه صديقاً أو قريباً، لا حرج في ذلك، كونه يتنازل لبعض الأقارب أو لبعض الأصدقاء فيبيع بأقل من السعر المعتاد لا حرج في ذلك.
Jawaban:
Kewajiban bagi seorang mukmin adalah tidak menipu orang lain. Sebaliknya, ia harus memilih harga yang memadai yang tidak merugikan orang-orang. Apabila harga jam tangan tersebut adalah 150 riyal sebagaimana harga pasaran orang-orang—maksudnya ia menjual sebagaimana orang-orang menjual barang sejenis seharga 150 riyal—tetapi ia memberikan potongan harga kepada sebagian orang jika mereka mendesak, atau karena orang tersebut adalah teman atau kerabat, maka tidak mengapa hal itu dilakukan. Perbuatannya memberikan potongan harga kepada sebagian kerabat atau sebagian teman lalu menjual dengan harga yang lebih rendah dari harga biasa, tidak mengapa dilakukan.
أما كونه يغش الناس فإذا رأى الضعيف الجاهل زاد عليه، وإذا رأى الحاذق البصير أعطاه السعر المعتاد، هذا لا يجوز له، بل يجب عليه أن يلاحظ الجاهل كما يلاحظ الآخر فيبيع بسعر معروف للجميع، لا يغش به أحداً ولا يخون به أحداً، بل يبيع بالسعر المعروف الذي يبيع به الناس حتى لا يخدع الناس، وإذا نزل لبعض المحبين أو بعض الأصحاب أو بعض الأقارب شيئاً أو أعطاهم إياه هدية من دون ثمن فلا بأس، هذا إليه، لكن لا يتحرى أن يظلم الجهال والذين لا يعرفون الأسعار فيبيع عليهم بأسعار زائدة، بل يجب عليه أن يكون سعره مطرداً معروفاً مثل ما يبيع الناس، مع الحاذق ومع غير الحاذق، هذا الواجب عليه.
Adapun perbuatannya menipu orang-orang, yaitu apabila melihat pembeli yang lemah dan tidak tahu harga lalu ia menaikkan harganya, sedangkan apabila melihat pembeli yang jeli dan paham harga lalu ia memberikannya harga biasa, maka hal ini tidak boleh baginya. Bahkan wajib baginya untuk memperhatikan pembeli yang tidak tahu harga sebagaimana ia memperhatikan pembeli lainnya, sehingga ia menjual dengan harga yang umum diketahui oleh semua orang, tidak menipu siapa pun dan tidak mengkhianati siapa pun. Sebaliknya, ia menjual dengan harga umum sebagaimana orang-orang menjualnya agar tidak mengecoh orang lain.
Jika ia menurunkan harga untuk sebagian orang yang dicintai, sebagian sahabat, atau sebagian kerabat, atau bahkan membagikannya kepada mereka sebagai hadiah tanpa bayaran, maka tidak mengapa. Hal itu terserah kepadanya. Namun, ia tidak boleh sengaja menzalimi orang-orang yang tidak tahu harga lalu menjual kepada mereka dengan harga yang terlampau mahal. Sebaliknya, wajib baginya untuk menjadikan harganya stabil dan dikenal sebagaimana orang lain menjualnya, baik kepada pembeli yang jeli maupun yang tidak jeli. Inilah yang wajib baginya.
وأما كونه ينزل لبعض الناس مثل ما تقدم لا بأس، أما كونه يبيع إلى المعاش، مؤجل للمعاش، هذا محل نظر، إن كان المعاش معروف يعني إلى آخر الشهر فلا بأس، أما إلى معاش ما يدرى متى يخرج، وفيه جهالة وفيه غرر، هذا لا يجوز، أما إذا كان بينهم معروف، يعني باعه في أول الشهر والأجل بينهم إلى آخر الشهر لأنه صرف المعاش المعروف المعتاد، لا بأس بهذا. نعم.
Adapun keadaannya yang menurunkan harga untuk sebagian orang sebagaimana yang telah dijelaskan, maka tidak mengapa.
Adapun perbuatannya yang menjual dengan pembayaran ditangguhkan sampai gajian, hal ini perlu ditinjau. Jika waktu gajian tersebut sudah umum diketahui—maksudnya sampai akhir bulan—maka tidak mengapa. Namun, jika ditangguhkan sampai waktu gajian yang tidak diketahui kapan keluarnya, yang di dalamnya terdapat ketidakjelasan dan ketidakpastian, maka hal ini tidak boleh. Adapun jika hal tersebut sudah dimaklumi di antara mereka—maksudnya ia menjualnya di awal bulan dan batas waktunya di antara mereka adalah sampai akhir bulan karena merupakan waktu pencairan gaji yang biasa dan dikenal—maka tidak mengapa hal ini dilakukan. Naam.
المقدم: لكن أعتقد سماحة الشيخ يختلف لو مثلاً أعطاه شيئاً سلفة إلى أن يستلم معاش وهو طالب مثلاً، هل يجوز ذلك أو لا يجوز؟
Pembawa Acara:
Akan tetapi, saya yakin—Wahai Syekh yang mulia—perkaranya akan berbeda jika misalnya ia memberikannya sesuatu sebagai pinjaman sampai ia menerima tunjangan, sementara ia adalah seorang pelajar misalnya. Apakah hal itu boleh atau tidak boleh?
السلفة خير، القرض أمره واسع، القرض ما فيه بأس لكن البيع، لا يبيع إلى أجل فيه غرر، إذا كان المعاش معروف هذا لا بأس، مثل آخر الشهر، أو آخر الشهر الثاني، أو الثالث، فلا بأس.
Syekh:
Pinjaman itu baik. Perkara utang-piutang itu kelonggarannya luas, utang-piutang tidak mengapa. Akan tetapi, dalam transaksi jual beli, janganlah ia menjual dengan batas waktu yang mengandung ketidakpastian. Jika waktu gajiannya sudah dikenal, maka hal ini tidak mengapa, seperti akhir bulan, atau akhir bulan kedua, atau bulan ketiga, maka tidak mengapa.
Sumber fatwa: Situs resmi Syekh Ibnu Baz.
![]()
Be the first to leave a comment