Tafsir Surah Al-Infitar

ismail  

Ayat 1—12

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنفَطَرَتۡ ۝١ وَإِذَا ٱلۡكَوَاكِبُ ٱنتَثَرَتۡ ۝٢ وَإِذَا ٱلۡبِحَارُ فُجِّرَتۡ ۝٣ وَإِذَا ٱلۡقُبُورُ بُعۡثِرَتۡ ۝٤ عَلِمَتۡ نَفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ وَأَخَّرَتۡ ۝٥ يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ ٱلۡكَرِيمِ ۝٦ ٱلَّذِى خَلَقَكَ فَسَوَّىٰكَ فَعَدَلَكَ ۝٧ فِىٓ أَىِّ صُورَةٍ مَّا شَآءَ رَكَّبَكَ ۝٨ كَلَّا بَلۡ تُكَذِّبُونَ بِٱلدِّينِ ۝٩ وَإِنَّ عَلَيۡكُمۡ لَحَٰفِظِينَ ۝١٠ كِرَامًا كَٰتِبِينَ ۝١١ يَعۡلَمُونَ مَا تَفۡعَلُونَ﴾ [الانفطار: ١-١٢].

Allah—‘azza wa jalla—berfirman:

  1. Apabila langit terbelah,
  2. dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan,
  3. dan apabila lautan dijadikan meluap,
  4. dan apabila kuburan-kuburan dibongkar,
  5. maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.
  6. Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.
  7. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh)mu seimbang,
  8. dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.
  9. Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.
  10. Padahal sesungguhnya bagi kalian ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi,
  11. yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu),
  12. mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.

اَلۡبَسۡمَلَةُ سَبَقَ الۡكَلَامُ عَلَيۡهَا.

Basmalah telah dijelaskan sebelumnya.

Ayat ke-1

﴿إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنفَطَرَتۡ﴾ يَعۡنِي: انۡشَقَّتۡ كَمَا قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى: ﴿إِذَا ٱلسَّمَآءُ ٱنشَقَّتۡ ۝١ وَأَذِنَتۡ لِرَبِّهَا وَحُقَّتۡ﴾ [الانشقاق: ١-٢].

“Apabila langit terbelah,” (infatharat) artinya (insyaqqat) terbelah sebagaimana firman Allah—tabaraka wa ta’ala—: “Apabila langit terbelah, dan patuh kepada Rabnya, dan sudah semestinya patuh.” (QS Al-Insyiqaq: 1-2).

Ayat ke-2

﴿وَإِذَا ٱلۡكَوَاكِبُ ٱنتَثَرَتۡ﴾ يَعۡنِي: النُّجُومُ صَغِيرُهَا وَكَبِيرُهَا تَنۡتَثِرُ وَتَتَفَرَّقُ وَتَتَسَاقَطُ؛ لِأَنَّ الۡعَالَمَ انۡتَهَى.

“Dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan” artinya bintang-bintang, baik yang kecil maupun yang besar, berserakan, terpisah-pisah, dan berjatuhan karena alam semesta telah berakhir.

Ayat ke-3

﴿وَإِذَا ٱلۡبِحَارُ فُجِّرَتۡ﴾؛ أَيۡ: فُجِّرَ بَعۡضُهَا عَلَى بَعۡضٍ وَمُلِئَتِ الۡأَرۡضُ.

“Dan apabila laut-laut dijebolkan” yaitu sebagiannya meluap ke sebagian yang lain dan memenuhi bumi.

Ayat ke-4

﴿وَإِذَا ٱلۡقُبُورُ بُعۡثِرَتۡ﴾؛ أَيۡ: أُخۡرِجَ مَا فِيهَا مِنَ الۡأَمۡوَاتِ حَتَّى قَامُوا لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، فَهٰذِهِ الۡأُمُورُ الۡأَرۡبَعَةُ إِذَا حَصَلَتۡ:

“Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar” yaitu dikeluarkan isinya berupa orang-orang mati, hingga mereka bangkit menghadap Allah—‘azza wa jalla—. Empat perkara ini apabila telah terjadi:

Ayat ke-5

﴿عَلِمَتۡ نَفۡسٌ مَّا قَدَّمَتۡ وَأَخَّرَتۡ﴾ وَ﴿نَفۡسٌ﴾ هُنَا نَكِرَةٌ وَلَكِنَّهَا بِمَعۡنَى الۡعُمُومِ إِذۡ أَنَّ الۡمَعۡنَى: عَلِمَتۡ كُلُّ نَفۡسٍ مَا قَدَّمَتۡ وَأَخَّرَتۡ، وَذٰلِكَ بِمَا يُعۡرَضُ عَلَيۡهَا مِنَ الۡكِتَابِ، فَكُلُّ إِنۡسَانٍ أَلۡزَمَهُ اللهُ طَائِرَهُ فِي عُنُقِهِ وَيُخۡرِجُ لَهُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ كِتَابًا يَلۡقَاهُ مَنۡشُورًا، اقۡرَأۡ كِتَابَكَ كَفَى بِنَفۡسِكَ الۡيَوۡمَ عَلَيۡكَ حَسِيبًا، وَفِي ذٰلِكَ الۡيَوۡمِ يَقُولُ الۡمُجۡرِمُونَ: مَا لِهٰذَا الۡكِتَابِ لَا يُغَادِرُ صَغِيرَةً وَلَا كَبِيرَةً إِلَّا أَحۡصَاهَا. فَيَعۡلَمُ الۡإِنۡسَانُ مَا قَدَّمَ وَأَخَّرَ، بَيۡنَمَا هُوَ فِي الدُّنۡيَا قَدۡ نَسِيَ، لَكِنۡ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ يُعۡرَضُ الۡعَمَلُ فَتَعۡلَمُ كُلُّ نَفۡسٍ مَا قَدَّمَتۡ وَأَخَّرَتۡ، وَالۡغَرَضُ مِنۡ هٰذَا تَحۡذِيرُ الۡعَبۡدِ مِنۡ أَنۡ يَعۡمَلَ مُخَالَفَةً لِلهِ وَرَسُولِهِ؛ لِأَنَّهُ سَوۡفَ يَعۡلَمُ بِذٰلِكَ وَيُحَاسَبُ عَلَيۡهِ.

“Maka setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.” Kata  “nafs” di sini bermakna nakirah (indefinit), tetapi bermakna umum, karena maknanya adalah: Setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. Hal itu dengan diperlihatkan catatannya, karena setiap manusia telah Allah tetapkan amal perbuatannya di lehernya dan pada hari kiamat Allah akan mengeluarkan baginya sebuah kitab yang dijumpainya dalam keadaan terbuka, “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghitung atas dirimu.”

Pada hari itu orang-orang yang berdosa berkata, “Kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak pula yang besar, melainkan mencatat semuanya.”

Manusia akan mengetahui apa yang telah dia kerjakan dan apa yang dia lalaikan, padahal ketika di dunia dia telah lupa. Namun pada hari kiamat, amalan-amalan akan diperlihatkan sehingga setiap jiwa mengetahui apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. Tujuan dari peringatan ini adalah untuk memperingatkan hamba agar tidak melakukan pelanggaran terhadap Allah dan Rasul-Nya, karena dia kelak akan mengetahuinya dan dihisab atasnya.

Ayat ke-6

﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ﴾ الۡمُرَادُ بِالۡإِنۡسَانِ هُنَا قِيلَ: هُوَ الۡكَافِرُ. وَقِيلَ: الۡإِنۡسَانُ مِنۡ حَيۡثُ هُوَ إِنۡسَانٌ؛ لِأَنَّ الۡإِنۡسَانَ مِنۡ حَيۡثُ هُوَ إِنۡسَانٌ ظَلُومٌ جَهُولٌ، ظَلُومٌ كَفَّارٌ ﴿إِنَّ ٱلۡإِنسَٰنَ لَظَلُومٌ كَفَّارٌ﴾ [إبراهيم: ٣٤].

“Wahai manusia,” yang dimaksud dengan manusia di sini ada yang mengatakan: Dia adalah orang kafir. Ada pula yang mengatakan: Manusia ditinjau dari hakikat dirinya sebagai manusia; sebab manusia ditinjau dari hakikat dirinya adalah sangat zalim lagi sangat bodoh, sangat zalim lagi sangat mengingkari nikmat. “Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari nikmat.” (QS Ibrahim: 34).

فَيَقُولُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلۡإِنسَٰنُ﴾ وَيُخَاطِبُ الۡإِنۡسَانَ مِنۡ حَيۡثُ هُوَ إِنۡسَانٌ بِقَطۡعِ النَّظَرِ عَنۡ دِيَانَتِهِ ﴿مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ ٱلۡكَرِيمِ﴾ يَعۡنِي: أَيُّ شَيۡءٍ غَرَّكَ بِاللهِ حَيۡثُ تُكَذِّبُهُ فِي الۡبَعۡثِ، وَتَعۡصِيهِ فِي الۡأَمۡرِ وَالنَّهۡيِ، بَلۡ رُبَّمَا يُوجَدُ مَنۡ يُنۡكِرُ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فَمَا الَّذِي غَرَّكَ؟! قَالَ بَعۡضُ الۡعُلَمَاءِ: إِنَّ قَوۡلَهُ تَعَالَى: ﴿مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ ٱلۡكَرِيمِ﴾ إِشَارَةٌ إِلَى الۡجَوَابِ، وَهُوَ أَنَّ الَّذِي غَرَّ الۡإِنۡسَانَ كَرَمُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ وَإِمۡهَالُهُ وَحِلۡمُهُ، وَلَكِنَّهُ لَا يَجُوزُ أَنۡ يَغۡتَرَّ الۡإِنۡسَانُ بِذٰلِكَ فَإِنَّ اللهَ يُمۡلِي لِلظَّالِمِ حَتَّى إِذَا أَخَذَهُ لَمۡ يُفۡلِتۡهُ، إِذَنۡ مَا غَرَّكَ بِرَبِّكَ الۡكَرِيمِ؟ الۡجَوَابُ: كَرَمُهُ وَحِلۡمُهُ هٰذَا هُوَ الَّذِي غَرَّ الۡإِنۡسَانَ وَصَارَ يَتَمَادَى فِي الۡمَعۡصِيَةِ فِي التَّكۡذِيبِ، يَتَمَادَى فِي الۡمُخَالَفَةِ.

Maka Allah—‘azza wa jalla—berfirman, “Wahai manusia,” dan Dia menyeru manusia ditinjau dari hakikat dirinya sebagai manusia tanpa memandang agamanya: “Apakah yang telah memperdayakanmu terhadap Tuhanmu Yang Maha Mulia” artinya hal apakah yang membuatmu teperdaya terhadap Allah sehingga engkau mendustakan hari kebangkitan, memaksiati-Nya dalam perintah dan larangan, bahkan mungkin didapati ada orang yang mengingkari Allah—‘azza wa jalla—, lalu apakah yang memperdayakanmu?! Sebagian ulama berkata: Sesungguhnya firman Allah taala: “Apakah yang telah memperdayakanmu terhadap Tuhanmu Yang Maha Mulia,” merupakan isyarat kepada jawaban, yaitu bahwa yang memperdayakan manusia adalah kemurahan Allah—‘azza wa jalla—, penangguhan-Nya, dan kelembutan-Nya. Namun tidak boleh bagi manusia untuk teperdaya dengan hal itu, karena sesungguhnya Allah menangguhkan orang yang zalim hingga ketika Dia menyiksanya, Dia tidak meloloskannya. Jadi, apakah yang memperdayakanmu terhadap Tuhanmu Yang Maha Mulia? Jawabannya: Kemurahan-Nya dan kelembutan-Nya. Inilah yang memperdayakan manusia sehingga dia terus-menerus dalam kemaksiatan, dalam pendustaan, dan terus-menerus dalam pelanggaran.

Ayat ke-7

﴿ٱلَّذِى خَلَقَكَ﴾ خَلَقَكَ مِنَ الۡعَدَمِ، وَأَوۡجَدَكَ مِنَ الۡعَدَمِ، ﴿فَسَوَّىٰكَ﴾ أَيۡ: جَعَلَكَ مُسۡتَوِيَ الۡخِلۡقَةِ لَيۡسَتۡ يَدٌ أَطۡوَلَ مِنۡ يَدٍ، وَلَا رِجۡلَ أَطۡوَلَ مِنۡ رِجۡلٍ، وَلَا أُصۡبُعَ أَطۡوَلَ مِنۡ أُصۡبُعٍ، بِحَسَبِ الۡيَدَيۡنِ وَالرِّجۡلَيۡنِ، فَتَجِدُ الطَّوِيلَ فِي يَدٍ هُوَ الطَّوِيلَ فِي الۡيَدِ الۡأُخۡرَى، وَالۡقَصِيرَ هُوَ الۡقَصِيرَ، وَهَلُمَّ جَرًّا.

“Yang telah menciptakanmu,” menciptakanmu dari ketiadaan, dan mewujudkanmu dari ketiadaan. “Lalu menyempurnakan kejadianmu,” yaitu menjadikan ciptaanmu seimbang, tidak ada satu tangan yang lebih panjang dari tangan lainnya, tidak ada satu kaki yang lebih panjang dari kaki lainnya, tidak ada satu jari yang lebih panjang dari jari lainnya pada pasangan tangan dan kaki, sehingga engkau mendapati jari yang panjang pada satu tangan juga merupakan jari yang panjang pada tangan yang lain, yang pendek adalah yang pendek, dan seterusnya.

سَوَّى اللهُ عَزَّ وَجَلَّ الۡإِنۡسَانَ مِنۡ كُلِّ نَاحِيَةٍ: مِنۡ نَاحِيَةِ الۡخِلۡقَةِ ﴿فَعَدَلَكَ﴾، وَفِي قِرَاءَةٍ سَبۡعِيَّةٍ: ﴿فَعَدَّلَكَ﴾؛ أَيۡ: جَعَلَكَ مُعۡتَدِلَ الۡقَامَةِ، مُسۡتَوِيَ الۡخِلۡقَةِ لَسۡتَ كَالۡبَهَائِمِ الَّتِي لَمۡ تَكُنۡ مُعَدَّلَةً، بَلۡ تَسِيرُ عَلَى يَدَيۡهَا وَرِجۡلَيۡهَا، أَمَّا الۡإِنۡسَانُ فَإِنَّهُ خَصَّهُ اللهُ بِهٰذِهِ الۡخَصِيصَةِ.

Allah—‘azza wa jalla—menyempurnakan manusia dari segala sisi penciptaannya “lalu menjadikan bentuk tubuhmu seimbang” dan dalam qiraah sab’iyyahfa‘addalak” yaitu menjadikanmu berperawakan tegap, berfisik seimbang, tidak seperti hewan ternak yang tidak diciptakan seimbang melainkan berjalan di atas kedua tangan dan kedua kakinya. Adapun manusia, Allah mengkhususkannya dengan keistimewaan ini.

Ayat ke-8

﴿فِىٓ أَىِّ صُورَةٍ مَّا شَآءَ رَكَّبَكَ﴾ يَعۡنِي: اللهُ رَكَّبَكَ فِي أَيِّ صُورَةٍ شَاءَ، فَمِنَ النَّاسِ مَنۡ هُوَ جَمِيلٌ، وَمِنۡهُمۡ مَنۡ هُوَ قَبِيحٌ، وَمِنۡهُمُ الۡمُتَوَسِّطُ، وَمِنۡهُمُ الۡأَبۡيَضُ، وَمِنۡهُمُ الۡأَحۡمَرُ، وَمِنۡهُمُ الۡأَسۡوَدُ، وَمِنۡهُمۡ مَا بَيۡنَ ذٰلِكَ، أَيَّ صُورَةٍ يُرَكِّبُكَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى حَسَبِ مَشِيئَتِهِ، وَلَكِنَّهُ عَزَّ وَجَلَّ شَاءَ لِلۡإِنۡسَانِ أَنۡ تَكُونَ صُورَتُهُ أَحۡسَنَ الصُّوَرِ.

“Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu” artinya Allah menyusun tubuhmu dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki. Di antara manusia ada yang rupawan, ada yang buruk rupa, ada yang sedang, ada yang berkulit putih, merah, hitam, dan ada yang di antara itu. Bentuk mana pun Allah—‘azza wa jalla—menyusun tubuhmu sesuai dengan kehendak-Nya, tetapi Dia—‘azza wa jalla—menghendaki bagi manusia agar bentuk tubuhnya menjadi bentuk yang paling baik.

Ayat ke-9

ثُمَّ قَالَ: ﴿كَلَّا بَلۡ تُكَذِّبُونَ بِٱلدِّينِ﴾ ﴿كَلَّا﴾ لِلۡإِضۡرَابِ يَعۡنِي: مَعَ هٰذَا الۡخَلۡقِ وَالۡإِمۡدَادِ، وَالۡإِعۡدَادِ تُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ أَيۡ: بِالۡجَزَاءِ، وَتَقُولُونَ: إِنۡ هِيَ إِلَّا حَيَاتُنَا الدُّنۡيَا نَمُوتُ وَنَحۡيَا وَمَا نَحۡنُ بِمَبۡعُوثِينَ، فَتُكَذِّبُونَ بِالدِّينِ، أَيۡ: بِالۡجَزَاءِ، وَرُبَّمَا نَقُولُ: وَتُكَذِّبُونَ أَيۡضًا بِالدِّينِ نَفۡسِهِ، فَلَا تُقِرُّونَ بِالدِّينِ الَّذِي جَاءَتۡ بِهِ الرُّسُلُ وَالۡآيَةُ شَامِلَةٌ لِهٰذَا وَهٰذَا؛ لِأَنَّ الۡقَاعِدَةَ فِي عِلۡمِ التَّفۡسِيرِ وَعِلۡمِ شَرۡحِ الۡحَدِيثِ: (أَنَّهُ إِذَا كَانَ النَّصُّ يَحۡتَمِلُ مَعۡنَيَيۡنِ لَا يُنَافِي أَحَدُهُمَا الۡآخَرَ فَإِنَّهُ يُحۡمَلُ عَلَيۡهِمَا).

Kemudian Dia berfirman, “Sekali-kali jangan begitu! Bahkan kalian mendustakan hari pembalasan.” “Kalla” di sini untuk idhrab (sanggahan), artinya bersamaan dengan penciptaan, karunia nikmat, dan penyiapan ini, kalian mendustakan ad-din yaitu pembalasan. Kalian berkata bahwa tidak ada kehidupan selain kehidupan dunia kita. Kita mati dan kita hidup dan kita tidak akan dibangkitkan. Jadi kalian mendustakan ad-din yaitu pembalasan.

Mungkin juga kita katakan: Kalian juga mendustakan agama itu sendiri, sehingga kamu tidak mengakui agama yang dibawa oleh para rasul.

Ayat ini mencakup kedua makna ini, karena kaidah dalam ilmu tafsir dan ilmu syarah hadis menyatakan: Apabila suatu nas mengandung dua makna yang satu sama lain tidak saling bertentangan, maka nas tersebut dibawa pada kedua makna tersebut.

Ayat ke-10 sampai 12

﴿وَإِنَّ عَلَيۡكُمۡ لَحَٰفِظِينَ ۝١٠ كِرَامًا كَٰتِبِينَ ۝١١ يَعۡلَمُونَ مَا تَفۡعَلُونَ﴾ تَأۡكِيدٌ بِمُؤَكِّدَيۡنِ (إِنَّ) وَاللَّامِ ﴿وَإِنَّ عَلَيۡكُمۡ لَحَٰفِظِينَ﴾ الۡإِنۡسَانُ عَلَيۡهِ حَافِظٌ يَحۡفَظُهُ وَيَكۡتُبُ كُلَّ مَا عَمِلَ، قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾ [ق: ١٨]، فَعَلَى كُلِّ إِنۡسَانٍ حَفَظَةٌ يَكۡتُبُونَ كُلَّ مَا قَالَ وَكُلَّ مَا فَعَلَ، وَهَؤُلَاءِ الۡحَفَظَةُ كِرَامٌ لَيۡسُوا لِئَامًا، بَلۡ عِنۡدَهُمۡ مِنَ الۡكَرَمِ مَا يُنَافِي أَنۡ يَظۡلِمُوا أَحَدًا، فَيَكۡتُبُوا عَلَيۡهِ مَا لَمۡ يَعۡمَلۡ، أَوۡ يُهۡدِرُوا مَا عَمِلَ؛ لِأَنَّهُمۡ مَوۡصُوفُونَ بِالۡكَرَمِ.

“Dan sesungguhnya bagi kalian ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi, yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (amal perbuatanmu), mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan.” Ini adalah penegasan dengan dua penegas, yaitu kata inna dan  huruf lam. “Sesungguhnya bagi kalian ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi.” Manusia memiliki malaikat pengawas yang menjaganya dan mencatat segala yang dikerjakannya. Allah taala berfirman, “Tidak ada suatu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat).” (QS Qaf: 18).

Jadi, pada setiap manusia terdapat para malaikat penjaga yang mencatat segala yang diucapkannya dan segala yang diperbuatnya. Para malaikat penjaga ini adalah makhluk yang mulia, bukan makhluk yang hina, bahkan mereka memiliki kemuliaan yang menolak tindakan mencurangi siapa pun, sehingga mereka tidak akan mencatat amal yang tidak dikerjakan manusia, atau menghilangkan amal yang telah dikerjakannya; sebab mereka disifati dengan kemuliaan.

﴿يَعۡلَمُونَ مَا تَفۡعَلُونَ﴾ إِمَّا بِالۡمُشَاهَدَةِ إِنۡ كَانَ فِعۡلًا، وَإِمَّا بِالسَّمَاعِ إِنۡ كَانَ قَوۡلًا، بَلۡ إِنَّ عَمَلَ الۡقَلۡبِ يُطۡلِعُهُمُ اللهُ عَلَيۡهِ، فَيَكۡتُبُونَهُ كَمَا قَالَ النَّبِيُّ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: (مَنۡ هَمَّ بِالۡحَسَنَةِ فَلَمۡ يَعۡمَلۡهَا كُتِبَتۡ حَسَنَةً، وَمَنۡ هَمَّ بِالسَّيِّئَةِ وَلَمۡ يَعۡمَلۡهَا كُتِبَتۡ حَسَنَةً كَامِلَةً)، لِأَنَّهُ تَرَكَهَا لِلهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالۡأَوَّلُ يُثَابُ عَلَى مُجَرَّدِ الۡهَمِّ بِالۡحَسَنَةِ.

“Mereka mengetahui apa yang kalian kerjakan” baik dengan menyaksikan secara langsung jika berupa perbuatan, maupun dengan mendengar jika berupa ucapan. Bahkan amalan hati pun Allah perlihatkan kepada mereka sehingga mereka mencatatnya, sebagaimana Nabi—‘alaihish-shalatu was-salam—bersabda, “Barang siapa berniat melakukan kebaikan lalu tidak mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kebaikan. Barang siapa berniat melakukan kejahatan lalu tidak mengerjakannya, maka dicatat sebagai satu kebaikan yang sempurna”1 HR Al-Bukhari nomor 6491 dan Muslim nomor 131, karena dia meninggalkannya karena Allah—‘azza wa jalla—, sedangkan yang pertama diberi pahala atas semata-mata niat kebaikannya.

Loading

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *