Orang yang Berpegang Teguh dengan Sunah Akan Meraih Kebahagiaan di Dunia dan Akhirat

ismail  

Orang yang berpegang teguh pada sunah adalah orang yang mengikuti perintah Ilahi, menaati perintah Allah—‘azza wa jalla—, dan menjauhi sikap menyelisihi Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

Allah—jalla wa ‘ala—berfirman,

وَمَنۡ أَعۡرَضَ عَن ذِكۡرِى فَإِنَّ لَهُۥ مَعِيشَةً ضَنكًا وَنَحۡشُرُهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ أَعۡمَىٰ

Dan barang siapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.

QS Taha: 124

Dan orang yang berpegang teguh (pada sunah) itu, apakah ia orang yang berpaling atau orang yang mengikuti?

Orang yang berpegang teguh adalah orang yang mengikuti, bukan yang berpaling; maka ia adalah orang yang mengingat Rabnya dan mengikuti Nabinya—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Oleh karena itu, ia dijanjikan kenikmatan yang kekal dan pahala yang luas. Allah taala berfirman,

تِلۡكَ حُدُودُ ٱللَّهِ ۚ وَمَن يُطِعِ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ يُدۡخِلۡهُ جَنَّٰتٍ تَجۡرِى مِن تَحۡتِهَا ٱلۡأَنۡهَٰرُ خَٰلِدِينَ فِيهَا ۚ وَذَٰلِكَ ٱلۡفَوۡزُ ٱلۡعَظِيمُ

Itulah batas-batas (hukum) Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam janah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan itulah kemenangan yang besar.

QS An-Nisa’: 13

Imam Ibnu Al-Qayyim—rahimahullah— berkata dalam Ar-Risalah At-Tabukiyyah1halaman 75-76 saat menjelaskan firman Allah taala:

فَإِن تَنَٰزَعۡتُمۡ فِى شَىۡءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى ٱللَّهِ وَٱلرَّسُولِ إِن كُنتُمۡ تُؤۡمِنُونَ بِٱللَّهِ وَٱلۡيَوۡمِ ٱلۡـَٔاخِرِ ۚ ذَٰلِكَ خَيۡرٌ وَأَحۡسَنُ تَأۡوِيلًا

Kemudian jika kalian berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah dan Rasul, jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.

QS An-Nisa’: 59

“Ini adalah dalil yang tegas bahwa wajib mengembalikan sumber-sumber perselisihan dalam segala hal yang diperselisihkan manusia terkait urusan agama seluruhnya kepada Allah dan Rasul-Nya—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, bukan kepada siapa pun selain Allah dan Rasul-Nya—shallallahu ‘alaihi wa sallam—…”

Sampai beliau berkata:

“Sungguh ulama salaf dan khalaf telah bersepakat bahwa mengembalikan (urusan) kepada Allah adalah dengan mengembalikannya kepada Kitab-Nya, dan mengembalikan kepada Rasul—shallallahu ‘alaihi wa sallam—adalah dengan mendatangi beliau saat beliau masih hidup, serta mengembalikan kepada sunahnya setelah beliau wafat.

Kemudian Allah taala berfirman: “Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya”, maksudnya: Yang Aku perintahkan kepada kalian ini, berupa ketaatan kepada-Ku, ketaatan kepada Rasul-Ku dan ululamri, serta mengembalikan apa yang kalian perselisihkan kepada-Ku dan kepada Rasul-Ku, adalah lebih baik bagi kalian dalam kehidupan dunia maupun akhirat kalian. Itulah kebahagiaan kalian di dua negeri, maka hal itu lebih baik bagi kalian dan lebih bagus akibatnya.

Hal ini menunjukkan bahwa taat kepada Allah dan taat kepada Rasul—shallallahu ‘alaihi wa sallam—serta berhukum kepada Allah dan Rasul-Nya adalah sebab kebahagiaan di dunia maupun di akhirat. Siapa pun yang merenungi dunia dan keburukan-keburukan yang terjadi di dalamnya, niscaya ia mengetahui bahwa setiap keburukan di dunia sebabnya adalah sikap menyelisihi Rasul—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan sikap keluar dari ketaatan kepada beliau. Begitu pula setiap kebaikan di dunia sebabnya adalah ketaatan kepada Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Demikian pula keburukan akhirat, kepedihan, dan azabnya, hanyalah bersumber dari penyelisihan terhadap Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.

Maka keburukan dunia dan akhirat, serta segala akibatnya kembali kepada perkara menyelisihi Rasul—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Seandainya manusia menaati Rasul—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dengan ketaatan yang sebenar-benarnya, niscaya tidak akan ada keburukan sama sekali di muka bumi. Hal ini sebagaimana yang telah diketahui dalam perkara keburukan yang bersifat umum dan musibah-musibah yang terjadi di bumi, demikian pula halnya dalam keburukan, kepedihan, dan kesedihan yang menimpa seorang hamba pada dirinya sendiri, sesungguhnya itu disebabkan oleh penyelisihan terhadap Rasul—shallallahu ‘alaihi wa sallam—. Karena sesungguhnya ketaatan kepada beliau adalah benteng, yang siapa pun memasukinya, maka ia termasuk orang-orang yang aman. Ia adalah gua, yang siapa pun berlindung kepadanya, maka ia termasuk orang-orang yang selamat.

Maka diketahui bahwa keburukan dunia dan akhirat hanyalah disebabkan oleh kebodohan terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—dan keluar dari ajarannya. Ini adalah bukti nyata bahwa tidak ada keselamatan bagi seorang hamba dan tidak ada kebahagiaan kecuali dengan bersungguh-sungguh dalam mengenal ajaran yang dibawa oleh Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—berupa ilmu dan melaksanakannya dalam bentuk amalan.”


Sumber: Min Tsamarat At-Tamassuk bis-Sunnah karya Syekh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahim Al-Bukhari hafizhahullah

Loading

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *