Imam Muhammad bin Nashr Al-Marwazi berkata di dalam kitab As-Sunnah1 Halaman 9.:
Allah—‘azza wa jalla—berfirman:
وَأَنَّ هَـٰذَا صِرَٰطِى مُسۡتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ ذَٰلِكُمۡ وَصَّىٰكُم بِهِۦ
Dan bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah itu. Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain sehingga akan memisahkan kalian dari jalan-Nya. Itulah yang Dia wasiatkan kepada kalian. (QS Al-An’am: 153).
Allah mengabarkan kepada kita bahwa jalan-Nya yang lurus hanya satu dan bahwa jalan yang lain ada banyak. Jalan itu menghalangi orang yang mengikutinya dari jalan-Nya yang lurus. Kemudian Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—menjelaskan hal itu kepada kita melalui sunahnya…
Kemudian beliau menyebutkan sanad hadis ‘Abdullah bin Mas’ud—radhiyallahu ‘anhu—. Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Imam Ahmad dan selain beliau:
خَطَّ لَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ فَقَالَ: هَٰذَا سَبِيلُ اللهِ، ثُمَّ خَطَّ خُطُوطًا عَنۡ شِمَالِهِ وَعَنۡ يَمِينِهِ، ثُمَّ قَالَ: هَٰذِهِ سُبُلٌ، عَلَىٰ كُلِّ سَبِيلٍ مِنۡهَا شَيۡطَانٌ يَدۡعُو إِلَيۡهِ، ثُمَّ قَرَأَ: ﴿وَأَنَّ هَـٰذَا صِرَٰطِى مُسۡتَقِيمًا فَٱتَّبِعُوهُ ۖ وَلَا تَتَّبِعُوا۟ ٱلسُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمۡ عَن سَبِيلِهِۦ ۚ﴾…
Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—membuat garis seraya bersabda, “Ini adalah jalan Allah.” Kemudian beliau membuat banyak garis di samping kiri dan kanan, lalu bersabda, “Ini adalah jalan-jalan. Pada setiap jalan ini ada setan yang mengajak padanya.” Kemudian beliau membaca ayat yang artinya, “Bahwa ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah itu. Dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain yang akan memisahkan kalian dari jalan-Nya.”…
Kemudian Imam Muhammad bin Nashr Al-Marwazi menyebutkan sebagian jalur periwayatan hadis itu. Lalu berkata, “Maka Allah, kemudian Rasul-Nya—shallallahu ‘alaihi wa sallam—memperingatkan kita dari perbuatan yang diada-adakan dan hawa nafsu yang akan menghalangi kita dari mengikuti perintah Allah dan sunah Nabi-Nya—shallallahu ‘alaihi wa sallam—.”
Hadis ini jelas bahwa siapa saja yang berpegang teguh dengan sunah, maka dia akan aman dari terjatuh pada perangkap jalan-jalan setan dan jalan kesesatan, serta dilindungi darinya. Dan siapa saja yang melenceng dari sunah, maka dia akan jatuh ke dalam jerat-jerat setan—kita berlindung kepada Allah—dan akan ditelantarkan. Kita berlindung kepada Allah dari penelantaran-Nya.
Al-Imam Ibnul Qayyim—rahimahullah—berkata di dalam kitab Al-Fawa`id2 Halaman 47. tentang mereka (yang melenceng dari sunah):
Ketika orang-orang
- berpaling dari menjadikan kitab dan sunah sebagai hakim serta berhukum kepada keduanya,
- meyakini tidak cukup dengan keduanya,
- berpindah kepada pendapat, kias, anggapan baik, dan ucapan para syekh,
maka pada mereka akan muncul kerusakan pada fitrah mereka, kegelapan pada hati mereka, kotoran pada pemahaman mereka, kebodohan pada akal mereka. Perkara ini akan semakin menjamur pada mereka dan mendominasi mereka sampai anak kecil semakin banyak dan orang tua semakin renta namun mereka tidak dapat melihatnya sebagai suatu kemungkaran.
Lalu, suatu pemerintahan yang lain akan datang kepada mereka. Di situ bidah akan muncul menggantikan sunah, syahwat menggantikan akal, hawa nafsu menggantikan bimbingan, kesesatan menggantikan petunjuk, kemungkaran menggantikan kemakrufan, kebodohan menggantikan ilmu, ria menggantikan ikhlas, kebatilan menggantikan kebenaran, dusta menggantikan kejujuran, sikap menjilat menggantikan sikap menasihati, dan kezaliman menggantikan keadilan. Sehingga keadaan pemerintahan dan mayoritas masyarakat akan menjadi seperti yang disebutkan, tidak bisa dielakkan. Orang-orang yang berpaling dari sunah ini akan menjadi pemimpin padahal sebelumnya tidak. Ketika engkau melihat suatu pemerintahan yang perkara-perkara ini telah mengarah ke sana, panji-panjinya telah dipancangkan, tentara-tentaranya telah ditunggangi, maka perut bumi—demi Allah—lebih baik dari punggungnya, puncak-puncak gunung lebih baik daripada datarannya, dan berkumpul dengan binatang-binatang lebih selamat daripada berkumpul dengan manusia.
Kemudian beliau menukil dari Imam Syekh Islam3 Al-Fawa`id halaman 104.:
Syekh kami pernah berkata kepada saya, menggambarkan orang-orang ini: Mereka pergi ke para ahli mazhab lalu mendapatkan tujuan yang paling rendah. Cukuplah menjadi dalil bagimu bahwa apa yang mereka miliki bukanlah dari sisi Allah adalah kontradiksi, perbedaan, dan konflik satu sama lain yang engkau lihat di dalamnya. Allah taala berfirman,
وَلَوۡ كَانَ مِنۡ عِندِ غَيۡرِ ٱللَّهِ لَوَجَدُوا۟ فِيهِ ٱخۡتِلَٰفًا كَثِيرًا
Kalau kiranya Al-Qur’an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya. (QS An-Nisa’: 82).
Ini menunjukkan bahwa apa yang berasal dari-Nya—subhanah—tidak ada perselisihan dan bahwa hal-hal yang terdapat perselisihan dan pertentangan bukanlah dari-Nya. Bagaimana mungkin pendapat, khayalan, dan gagasan menjadi agama yang diikuti dan dijadikan untuk menghakimi Allah dan Rasul-Nya—shallallahu ‘alaihi wa sallam—?! Maha Suci Engkau! Ini adalah kebohongan yang sangat besar!
Ilmu para sahabat yang mereka pelajari dan bahas bukanlah ilmu-ilmu yang dimiliki oleh orang-orang yang berbeda pendapat dan berbohong itu. Sebagaimana yang dihikayatkan oleh Al-Hakim dalam biografi Abu ‘Abdullah Al-Bukhari, bahwa para sahabat Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—jika berkumpul, mereka membahas Al-Qur’an dan sunah Rasulullah—shallallahu ‘alaihi wa sallam—, tidak ada pendapat pribadi atau kias di antara mereka.
Yang beliau maksud adalah kias yang dipaksakan.
Oleh karena itu, orang yang berpegang teguh pada sunah akan aman—dengan izin Allah taala—dari jalan-jalan setan.
Sumber: Min Tsamarat At-Tamassuk bis-Sunnah karya Syekh ‘Abdullah bin ‘Abdurrahim Al-Bukhari hafizhahullah
Be the first to leave a comment