اصطحاب النساء لأولادهن إلى المساجد
🎙️ Syekh ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdullah bin Baz (wafat 1420 H) rahimahullah
السؤال: الأخ أيضاً يستمع دائماً للأذان أو نقل الأذان من المسجد الحرام، فيقول: بالرغم من بعد المسافة نسمع دائماً عند صلاة المغرب والعشاء صريخ وضجيج أطفال في بيت الله الحرام، هل هذا يجوز في هذا المكان أو في أي مسجد من المساجد؟
Pertanyaan: Saudara penanya juga selalu mendengarkan azan atau siaran azan dari Masjidilharam, ia berkata: “Meskipun jaraknya jauh, kami selalu mendengar suara teriakan dan keributan anak-anak di Baitullah Al-Haram saat salat Magrib dan Isya. Apakah hal ini diperbolehkan di tempat ini atau di masjid mana pun?”
الجواب:
Jawaban:
لا حرج في ذلك؛ لأن من طبيعة الطفل أنه يحصل منه هذا الشيء، وكان الأطفال في عهد النبي ﷺ يسمعهم النبي يسمع صراخهم، ولم يمنع أمهاتهم من الحضور، بل ذلك جائز، ومن طبيعة الطفل أن يحصل له بعض الصراخ، وقد ثبت عنه ﷺ ما يدل على أنه يسمع ذلك ولم يمنع، بل قال: إنه يقوم في الصلاة ويريد تطويلها فيسمع بكاء الصبي فيخفف؛ لئلا تفتتن أمه.
Tidak ada keberatan dalam hal itu; karena tabiat anak adalah melakukan hal tersebut. Dahulu anak-anak pada zaman Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau mendengar suara mereka, mendengar tangisan mereka, dan beliau tidak melarang ibu-ibu mereka untuk hadir (ke masjid), bahkan hal itu diperbolehkan. Sudah menjadi tabiat anak kecil jika ia menangis sesekali. Telah tetap riwayat dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang menunjukkan bahwa beliau mendengar hal tersebut dan tidak melarangnya. Bahkan beliau bersabda, “Sesungguhnya aku berdiri untuk salat dan ingin memanjangkannya, lalu aku mendengar tangisan bayi, maka aku pun meringankan (salat) karena tidak ingin memberatkan ibunya.”1 (HR Al-Bukhari nomor 709 dan Muslim nomor 470)
هذا يدل على أنه أقرهن على ذلك، وراعهن في الصلاة أيضاً عليه الصلاة والسلام؛ ولأن منع الأطفال معناه وسيلة إلى منع الأمهات من الحضور، وقد يكون حضورهن فيه فائدة للتأسي بالإمام في الصلاة، والطمأنينة فيها، ومعرفتها كما ينبغي، أو لتسمع فائدة من المكبر أو من إمام في العلم.
Hal ini menunjukkan bahwa beliau ‘alaihish-shalatu was-salam menyetujui para wanita atas hal tersebut, dan beliau juga memperhatikan mereka dalam salat. Selain itu, melarang anak-anak berarti menjadi sarana untuk melarang para ibu hadir ke masjid. Padahal kehadiran mereka mungkin mengandung manfaat untuk meneladani imam dalam salat, mendapatkan ketenangan, dan memahami tata cara salat sebagaimana mestinya, atau agar ia mendengar faedah ilmu dari pengeras suara atau dari imam.
فالحاصل: أن حضورها إلى المسجد مع التستر والتحجب والعناية وعدم الطيب فيه فوائد، فإن كانت لا تأتي إلا بتبرج وإظهار محاسنها أو الطيب فلا يجوز لها ذلك، بل صلاتها في بيتها أولى، وبكل حال صلاتها في بيتها أولى وأفضل إلا إذا كان خروجها تستفيد منه فائدة واضحة كالنشاط في قيام رمضان، وكسماع العلم والفائدة، أو التأسي بالإمام في صلاته الراكدة والطمأنينة؛ لأنها تجهل كيفية الصلاة كما ينبغي، فتستفيد صفة الصلاة والطمأنينة فيها، تستفيد سماع المواعظ والذكرى، فهذا قد يعني يجعل خروجها أولى لهذه المصلحة، وإلا فالأصل أن بيتها خير لها، صلاتها في البيت أولى لها.
Walhasil, kehadiran perempuan ke masjid dengan menutup aurat, berhijab, menjaga diri, dan tidak memakai wewangian mengandung banyak manfaat. Namun, jika ia tidak datang kecuali dengan bersolek (tabaruj), menampakkan kecantikannya, atau memakai wewangian, maka hal itu tidak diperbolehkan baginya, bahkan salatnya di rumah lebih utama. Bagaimanapun, salat perempuan di rumahnya lebih utama dan lebih baik, kecuali jika keluarnya ia ke masjid memberikan manfaat yang jelas seperti semangat dalam salat malam di bulan Ramadan, mendengarkan ilmu dan faedah, atau meneladani imam dalam salatnya yang tenang dan tumakninah; karena mungkin ia belum mengetahui tata cara salat sebagaimana mestinya, sehingga ia bisa mengambil pelajaran tentang sifat salat, tumakninah, serta mendengarkan nasihat dan peringatan. Hal-hal ini bisa menjadikan keluarnya ia ke masjid lebih utama karena adanya kemaslahatan tersebut. Jika tidak, maka hukum asalnya adalah rumahnya lebih baik baginya, dan salat di rumah lebih utama baginya.
أما خروجها متبرجة بالملابس الحسنة الفاتنة، أو بإبراز بعض محاسنها، أو إظهار الطيب الذي يعني قد يسبب الفتنة بمن تمر عليهم، فكل هذا لا يجوز، بل يجب عليها أن تبقى في بيتها ولا تخرج بهذه الأحوال التي تفتن الناس وتضر الناس.
Adapun keluarnya ia dengan bersolek mengenakan pakaian bagus yang menggoda, atau dengan menonjolkan sebagian kecantikannya, atau menampakkan wewangian yang dapat menyebabkan fitnah bagi orang-orang yang ia lewati, maka semua ini tidak diperbolehkan. Bahkan wajib baginya untuk tetap di rumahnya dan tidak keluar dengan kondisi yang dapat memfitnah manusia dan merugikan mereka.
أما الطفل فلا بأس بوجوده معها، لكن تتحفظ منه، وتجعله في محل محفوظ حتى لا يقذر المسجد ولا يؤذي المصلين، وإذا دعت الحاجة إلى حمله عند الحاجة ليسكت فلا بأس، فقد حمل النبي ﷺ أمامة بنت زينب ، حملها وهو يصلي بالناس عليه الصلاة والسلام.
Mengenai anak kecil, tidak mengapa keberadaan mereka bersamanya, akan tetapi ia harus menjaganya dan menempatkannya di tempat yang aman agar tidak mengotori masjid dan tidak mengganggu orang-orang yang salat. Jika timbul kebutuhan untuk menggendongnya agar diam, maka tidak mengapa. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menggendong Umamah binti Zainab, beliau menggendongnya saat sedang mengimami orang-orang dalam salat.2 (Lihat HR Al-Bukhari nomor 516 dan Muslim nomor 543)
فالحاصل: أن وجود الأطفال في المسجد وحملهن حتى في الصلاة لا حرج فيه عند الحاجة؛ ولكن ينبغي أن يراعى في ذلك سلامة الطفل من النجاسات حتى لا ينجس أمه.
Walhasil, keberadaan anak-anak di masjid dan menggendong mereka bahkan di dalam salat tidak ada masalah padanya saat dibutuhkan. Namun, hendaknya diperhatikan kesucian anak tersebut dari najis agar tidak menajisi ibunya.
المقدم: أحسنتم.
Moderator: Anda telah berbuat baik.
Sumber fatwa: Situs resmi Syekh Ibnu Baz.
Be the first to leave a comment