Tafsir Surah At-Takwir

ismail  

Ayat 1-14

قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿إِذَا ٱلشَّمۡسُ كُوِّرَتۡ ۝١ وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتۡ ۝٢ وَإِذَا ٱلۡجِبَالُ سُيِّرَتۡ ۝٣ وَإِذَا ٱلۡعِشَارُ عُطِّلَتۡ ۝٤ وَإِذَا ٱلۡوُحُوشُ حُشِرَتۡ ۝٥ وَإِذَا ٱلۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ ۝٦ وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتۡ ۝٧ وَإِذَا ٱلۡمَوۡءُۥدَةُ سُئِلَتۡ ۝٨ بِأَىِّ ذَنۢبٍ قُتِلَتۡ ۝٩ وَإِذَا ٱلصُّحُفُ نُشِرَتۡ ۝١٠ وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتۡ ۝١١ وَإِذَا ٱلۡجَحِيمُ سُعِّرَتۡ ۝١٢ وَإِذَا ٱلۡجَنَّةُ أُزۡلِفَتۡ ۝١٣ عَلِمَتۡ نَفۡسٌ مَّآ أَحۡضَرَتۡ﴾ [التكوير: ١-١٤].

Allah—‘azza wa jalla—berfirman:

  1. Apabila matahari digulung,
  2. dan apabila bintang-bintang berjatuhan,
  3. dan apabila gunung-gunung dihancurkan,
  4. dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan (tidak dipedulikan)
  5. dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan,
  6. dan apabila lautan dijadikan meluap
  7. dan apabila roh-roh dipertemukan (dengan tubuh)
  8. dan apabila bayi-bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya,
  9. karena dosa apakah dia dibunuh,
  10. dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka,
  11. dan apabila langit dilenyapkan,
  12. dan apabila neraka Jahim dinyalakan,
  13. dan apabila surga didekatkan,
  14. maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakannya.

البسملة تقدم الكلام عليها.

Basmalah telah berlalu pembicaraannya.

Ayat Ke-1

﴿إِذَا ٱلشَّمۡسُ كُوِّرَتۡ﴾ هٰذَا يَكُونُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ، وَالتَّكۡوِيرُ: جَمۡعُ الشَّيۡءِ بَعۡضِهِ إِلَىٰ بَعۡضٍ وَلَفُّهُ كَمَا تُكَوَّرُ الۡعِمَامَةُ عَلَى الرَّأۡسِ، وَالشَّمۡسُ كُتۡلَةٌ عَظِيمَةٌ كَبِيرَةٌ وَاسِعَةٌ، فِي يَوۡمِ الۡقِيَامَةِ يُكَوِّرُهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ، فَيَلُفُّهَا جَمِيعًا وَيَطۡوِي بَعۡضَهَا عَلَىٰ بَعۡضٍ، فَيَذۡهَبُ نُورُهَا، وَيُلۡقِيهَا عَزَّ وَجَلَّ فِي النَّارِ عَزَّ وَجَلَّ إِغَاظَةً لِلَّذِينَ يَعۡبُدُونَهَا مِنۡ دُونِ اللهِ، قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَىٰ: ﴿إِنَّكُمۡ وَمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ﴾؛ أَيۡ: تُحۡصَبُونَ فِي جَهَنَّمَ ﴿أَنتُمۡ لَهَا وَٰرِدُونَ﴾ [الأنبياء: ٩٨]، وَيُسۡتَثۡنَى مِنۡ ذٰلِكَ مَنۡ عُبِدَ مِنۡ دُونِ اللهِ مِنۡ أَوۡلِيَاءِ اللهِ فَإِنَّهُ لَا يُلۡقَىٰ فِي النَّارِ كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَىٰ بَعۡدَ هٰذِهِ الۡآيَةِ ﴿إِنَّ ٱلَّذِينَ سَبَقَتۡ لَهُم مِّنَّا ٱلۡحُسۡنَىٰٓ أُو۟لَٰٓئِكَ عَنۡهَا مُبۡعَدُونَ ۝١٠١ لَا يَسۡمَعُونَ حَسِيسَهَا ۖ وَهُمۡ فِى مَا ٱشۡتَهَتۡ أَنفُسُهُمۡ خَٰلِدُونَ﴾ [الأنبياء: ١٠١-١٠٢].

“Apabila matahari digulung” hal ini terjadi pada hari kiamat. At-Takwir artinya mengumpulkan sesuatu satu sama lain dan melilitnya sebagaimana serban dililitkan di atas kepala. Matahari adalah massa yang sangat besar, agung, dan luas; pada hari kiamat Allah—‘azza wa jalla—akan menggulungnya, melilitnya secara keseluruhan, dan melipat satu bagian di atas bagian lainnya sehingga cahayanya hilang. Kemudian Allah—‘azza wa jalla—melemparkannya ke dalam neraka sebagai bentuk penghinaan bagi orang-orang yang menyembahnya selain Allah.

Allah—tabaraka wa ta’ala—berfirman,

إِنَّكُمۡ وَمَا تَعۡبُدُونَ مِن دُونِ ٱللَّهِ حَصَبُ جَهَنَّمَ

“Sungguh, kamu dan yang kalian sembah selain Allah adalah bahan bakar Jahanam”

maksudnya kalian akan dilemparkan ke dalam Jahanam

أَنتُمۡ لَهَا وَٰرِدُونَ

“kalian pasti memasukinya.”

QS Al-Anbiya’: 98

Dikecualikan dari hal itu adalah para wali Allah yang disembah selain Allah, maka sesungguhnya mereka tidak dilemparkan ke dalam neraka sebagaimana firman Allah Taala setelah ayat ini:

إِنَّ ٱلَّذِينَ سَبَقَتۡ لَهُم مِّنَّا ٱلۡحُسۡنَىٰٓ أُو۟لَٰٓئِكَ عَنۡهَا مُبۡعَدُونَ ۝١٠١ لَا يَسۡمَعُونَ حَسِيسَهَا ۖ وَهُمۡ فِى مَا ٱشۡتَهَتۡ أَنفُسُهُمۡ خَٰلِدُونَ

“Sungguh, sejak dahulu bagi orang-orang yang telah ada (ketetapan) yang baik dari Kami, mereka itu dijauhkan darinya (neraka). Mereka tidak mendengar desis api neraka, dan mereka kekal dalam (menikmati) segala yang diinginkan oleh hati mereka.”

QS Al-Anbiya’: 101-102

Ayat Ke-2

﴿وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتۡ﴾ يَعۡنِي: تَسَاقَطَتۡ كَمَا تُفَسِّرُهُ الۡآيَةُ الثَّانِيَةُ: ﴿وَإِذَا ٱلۡكَوَاكِبُ ٱنتَثَرَتۡ﴾ [الانفطار: ٢]، فَالنُّجُومُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ تَتَنَاثَرُ وَتَزُولُ عَنۡ أَمَاكِنِهَا.

“Dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan” inkadarat artinya berjatuhan sebagaimana dijelaskan oleh ayat yang lain:

وَإِذَا ٱلۡكَوَاكِبُ ٱنتَثَرَتۡ

“Dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan.”

QS Al-Infitar: 2

Maka bintang-bintang pada hari kiamat akan tercerai-berai dan lenyap dari tempatnya.

Ayat Ke-3

﴿وَإِذَا ٱلۡجِبَالُ سُيِّرَتۡ﴾ أَيۡ: أَنَّ هٰذِهِ الۡجِبَالَ الۡعَظِيمَةَ الصَّلۡبَةَ الۡعَالِيَةَ الرَّفِيعَةَ تَكُونُ هَبَاءً يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ وَتُسَيَّرُ، كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَىٰ: ﴿وَسُيِّرَتِ ٱلۡجِبَالُ فَكَانَتۡ سَرَابًا﴾ [النبأ: ٢٠].

“Dan apabila gunung-gunung dihancurkan” gunung-gunung yang agung, kokoh, tinggi, dan menjulang ini akan menjadi debu pada hari kiamat dan dijalankan (dilenyapkan) sebagaimana firman Allah Taala,

وَسُيِّرَتِ ٱلۡجِبَالُ فَكَانَتۡ سَرَابًا

“Dan gunung-gunung pun dijalankan sehingga menjadi fatamorgana.”

QS An-Naba: 20

Ayat Ke-4

﴿وَإِذَا ٱلۡعِشَارُ عُطِّلَتۡ﴾ الۡعِشَارُ جَمۡعُ عُشَرَاءَ، وَهِيَ النَّاقَةُ الۡحَامِلُ الَّتِي تَمَّ لِحَمۡلِهَا عَشَرَةُ أَشۡهُرٍ، وَهِيَ مِنۡ أَنۡفَسِ الۡأَمۡوَالِ عِنۡدَ الۡعَرَبِ، وَتَجِدُ صَاحِبَهَا يَرۡقُبُهَا وَيُلَاحِظُهَا، وَيَعۡتَنِي بِهَا وَيَأۡوِي إِلَيۡهَا، وَيَحُفُّ بِهَا فِي الدُّنۡيَا، لٰكِنۡ فِي الۡآخِرَةِ تُعَطَّلُ وَلَا يُلۡتَفَتُ إِلَيۡهَا؛ لِأَنَّ الۡإِنۡسَانَ فِي شَأۡنٍ عَظِيمٍ مُزۡعِجٍ يُنۡسِيهِ كُلَّ شَيۡءٍ، كَمَا قَالَ اللهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَىٰ: ﴿يَوۡمَ يَفِرُّ ٱلۡمَرۡءُ مِنۡ أَخِيهِ ۝٣٤ ‏ وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ ۝٣٥ وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ ۝٣٦ لِكُلِّ ٱمۡرِئٍ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٍ شَأۡنٌ يُغۡنِيهِ﴾ [عبس: ٣٤-٣٧].

“Dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan” al-‘isyar adalah bentuk jamak dari ‘usyara`, yaitu unta betina hamil yang usia kandungannya telah genap sepuluh bulan. Unta ini termasuk harta yang paling berharga bagi orang Arab; engkau akan dapati pemiliknya selalu mengawasi, memperhatikan, merawat, melindunginya, dan menjaganya selama di dunia. Namun di akhirat, unta-unta itu ditinggalkan dan tidak dipedulikan lagi; karena manusia sedang berada dalam urusan besar yang mengerikan yang membuatnya lupa akan segala sesuatu, sebagaimana Allah—tabaraka wa ta’ala—berfirman,

يَوۡمَ يَفِرُّ ٱلۡمَرۡءُ مِنۡ أَخِيهِ ۝٣٤ وَأُمِّهِۦ وَأَبِيهِ ۝٣٥ وَصَٰحِبَتِهِۦ وَبَنِيهِ ۝٣٦ لِكُلِّ ٱمۡرِئٍ مِّنۡهُمۡ يَوۡمَئِذٍ شَأۡنٌ يُغۡنِيهِ

“Pada hari itu manusia lari dari saudaranya, dan dari ibu dan bapaknya, dan dari istri dan anak-anaknya. Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang menyibukkannya.”

QS Abasa: 34-37

Ayat Ke-5

﴿وَإِذَا ٱلۡوُحُوشُ حُشِرَتۡ﴾ الۡوُحُوشُ جَمۡعُ وَحۡشٍ، وَالۡمُرَادُ بِهَا جَمِيعُ الدَّوَابِّ؛ لِقَوۡلِ اللهِ تَعَالَىٰ: ﴿وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلَا طَٰٓئِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيۡهِ إِلَّآ أُمَمٌ أَمۡثَالُكُم ۚ مَّا فَرَّطۡنَا فِى ٱلۡكِتَٰبِ مِن شَىۡءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ يُحۡشَرُونَ﴾ [الأنعام: ٣٨]، فَسَتُحۡشَرُ الدَّوَابُّ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ وَيُشَاهِدُهَا النَّاسُ، وَيُقۡتَصُّ لِبَعۡضِهَا مِنۡ بَعۡضٍ، حَتَّىٰ إِنَّهُ يُقۡتَصُّ لِلۡبَهِيمَةِ الۡجَلۡحَاءِ الَّتِي لَيۡسَ لَهَا قَرۡنٌ مِنَ الۡبَهِيمَةِ الۡقَرۡنَاءِ، فَإِذَا اقۡتُصَّ مِنۡ بَعۡضِ هٰذِهِ الۡوُحُوشِ لِبَعۡضٍ أَمَرَهَا اللهُ تَعَالَىٰ فَكَانَتۡ تُرَابًا، وَإِنَّمَا يَفۡعَلُ ذٰلِكَ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَىٰ؛ لِإِظۡهَارِ عَدۡلِهِ بَيۡنَ خَلۡقِهِ.

“Dan apabila hewan-hewan liar dikumpulkan” al-wuhusy adalah bentuk jamak dari wahsy, yang dimaksud dengannya adalah seluruh binatang melata, berdasarkan firman Allah Taala:

وَمَا مِن دَآبَّةٍ فِى ٱلۡأَرۡضِ وَلَا طَٰٓئِرٍ يَطِيرُ بِجَنَاحَيۡهِ إِلَّآ أُمَمٌ أَمۡثَالُكُم ۚ مَّا فَرَّطۡنَا فِى ٱلۡكِتَٰبِ مِن شَىۡءٍ ۚ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِمۡ يُحۡشَرُونَ

“Dan tidak ada seekor binatang pun yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan semuanya merupakan umat-umat (juga) seperti kamu. Tidak ada sesuatu pun yang Kami luputkan di dalam Kitab (lauhulmahfuz), kemudian kepada Rab mereka dikumpulkan.”

QS Al-An’am: 38

Maka binatang-binatang akan dikumpulkan pada hari kiamat dan disaksikan oleh manusia, lalu sebagian mereka akan dikisas (dibalas) atas sebagian yang lain. Bahkan akan dibalas untuk binatang yang tidak bertanduk atas binatang yang bertanduk. Apabila kisas telah dilakukan antara sebagian hewan liar ini atas sebagian lainnya, Allah taala memerintahkan mereka lalu mereka menjadi tanah. Sesungguhnya Allah—subhanahu wa ta’ala—melakukan hal itu untuk menampakkan keadilan-Nya di antara makhluk-Nya.

Ayat Ke-6

﴿وَإِذَا ٱلۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ﴾ الۡبِحَارُ جَمۡعُ بَحۡرٍ، وَجُمِعَتۡ لِعَظَمَتِهَا وَكَثۡرَتِهَا، فَإِنَّهَا تُمَثِّلُ ثَلَاثَةَ أَرۡبَاعِ الۡأَرۡضِ تَقۡرِيبًا أَوۡ أَكۡثَرَ. هٰذِهِ الۡبِحَارُ الۡعَظِيمَةُ إِذَا كَانَ يَوۡمُ الۡقِيَامَةِ فَإِنَّهَا تُسَجَّرُ، أَيۡ: تُوقَدُ نَارًا، تَشۡتَعِلُ نَارًا عَظِيمَةً، وَحِينِئِذٍ تِيبَسُ الۡأَرۡضُ وَلَا يَبۡقَ فِيهَا مَاءٌ؛ لِأَنَّ بِحَارَهَا الۡمِيَاهَ الۡعَظِيمَةَ تُسَجَّرُ حَتَّىٰ تَكُونَ نَارًا.

“Dan apabila lautan dipanaskan” al-bihar adalah bentuk jamak dari bahr (laut), dan ia disebutkan dalam bentuk jamak karena begitu besar dan begitu banyak, karena laut mencakup hampir tiga perempat bumi atau lebih. Lautan yang luas ini, apabila tiba hari kiamat, maka ia akan dipanaskan, yakni dinyalakan menjadi api. Ia akan berkobar menjadi api yang sangat besar, dan ketika itu bumi menjadi kering serta tidak ada lagi air yang tersisa padanya; karena lautan dengan air yang sangat banyak itu dipanaskan hingga menjadi api.

Ayat Ke-7

﴿وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتۡ﴾ النُّفُوسُ جَمۡعُ نَفۡسٍ، وَالۡمُرَادُ بِهَا نُفُوسُ النَّاسِ كُلِّهَا، فَتُزَوَّجُ النُّفُوسُ، يَعۡنِي: يُضَمُّ كُلُّ صِنۡفٍ إِلَى صِنۡفِهِ؛ لِأَنَّ الزَّوۡجَ يُرَادُ بِهِ الصِّنۡفُ كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿وَكُنتُمۡ أَزۡوَٰجًا ثَلَٰثَةً﴾ [الواقعة: ٧]، أَيۡ: أَصۡنَافًا ثَلَاثَةً، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿وَءَاخَرُ مِن شَكۡلِهِۦٓ أَزۡوَٰجٌ﴾ [ص: ٥٨]، أَيۡ: أَصۡنَافٌ، وَقَالَ تَعَالَى: ﴿ٱحۡشُرُوا۟ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ وَأَزۡوَٰجَهُمۡ﴾ [الصافات: ٢٢]، أَيۡ: أَصۡنَافَهُمۡ وَأَشۡكَالَهُمۡ، فَيَوۡمُ الۡقِيَامَةِ يُضَمُّ كُلُّ شَكۡلٍ إِلَى مِثۡلِهِ؛ أَهۡلُ الۡخَيۡرِ إِلَى أَهۡلِ الۡخَيۡرِ، وَأَهۡلُ الشَّرِّ إِلَى أَهۡلِ الشَّرِّ، وَهَذِهِ الۡأُمَّةُ يُضَمُّ بَعۡضُهَا إِلَى بَعۡضٍ ﴿وَتَرَىٰ كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً﴾ لِوَحۡدِهَا ﴿كُلُّ أُمَّةٍ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَٰبِهَا ٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ﴾ [الجاثية: ٢٨].

“Dan apabila jiwa-jiwa dipertemukan” (QS At-Takwir: 7). An-Nufus adalah bentuk jamak dari nafs, dan yang dimaksud dengannya adalah jiwa manusia secara utuh. Maka, jiwa-jiwa dipertemukan bermakna setiap golongan digabungkan dengan golongannya masing-masing; karena kata zauj (pasangan) juga dimaksudkan sebagai shinf (golongan/jenis), sebagaimana Allah taala berfirman,

وَكُنتُمۡ أَزۡوَٰجًا ثَلَٰثَةً

“Dan kalian menjadi tiga golongan.”

QS Al-Waqi’ah: 7

yaitu tiga macam golongan.

Allah taala berfirman,

وَءَاخَرُ مِن شَكۡلِهِۦٓ أَزۡوَٰجٌ

“Dan berbagai macam yang lain yang serupa dengan itu.”

QS Sad: 58

yaitu bermacam-macam golongan.

Allah taala berfirman,

ٱحۡشُرُوا۟ ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ وَأَزۡوَٰجَهُمۡ

“Kumpulkanlah orang-orang yang zalim beserta teman sejawat/golongan mereka.”

QS As-Saffat: 22

yaitu golongan dan rupa-rupa mereka.

Maka pada hari kiamat, setiap rupa akan digabungkan dengan yang sepertinya: ahli kebaikan dengan ahli kebaikan, ahli keburukan dengan ahli keburukan. Umat ini pun akan digabungkan sebagiannya dengan sebagian yang lain:

وَتَرَىٰ كُلَّ أُمَّةٍ جَاثِيَةً

“Dan kamu lihat tiap-tiap umat berlutut”

dalam kelompoknya sendiri,

كُلُّ أُمَّةٍ تُدۡعَىٰٓ إِلَىٰ كِتَٰبِهَا ٱلۡيَوۡمَ تُجۡزَوۡنَ مَا كُنتُمۡ تَعۡمَلُونَ

“Tiap-tiap umat dipanggil untuk (melihat) buku catatan amalnya. Pada hari ini kalian diberi balasan terhadap apa yang telah kalian kerjakan.”

QS Al-Jasiyah: 28

إِذًا ﴿وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتۡ﴾ يَعۡنِي شُكِّلَتۡ وَضُمَّ بَعۡضُهَا إِلَى بَعۡضٍ، كُلُّ صِنۡفٍ إِلَى صِنۡفِهِ، كُلُّ أُمَّةٍ إِلَى أُمَّتِهَا.

Jadi, “dan apabila jiwa-jiwa dipertemukan” maknanya adalah dikelompokkan dan digabungkan sebagiannya dengan sebagian yang lain; setiap golongan dengan golongannya, setiap umat dengan umatnya.

Ayat Ke-8 dan 9

﴿وَإِذَا ٱلۡمَوۡءُۥدَةُ سُئِلَتۡ ۝٨ بِأَىِّ ذَنۢبٍ قُتِلَتۡ﴾ الۡمَوۡؤُدَةُ هِيَ الۡأُنۡثَى تُدۡفَنُ حَيَّةً، وَذٰلِكَ أَنَّهُ فِي الۡجَاهِلِيَّةِ لِجَهۡلِهِمۡ وَسُوءِ ظَنِّهِمۡ بِاللّٰهِ، وَعَدَمِ تَحَمُّلِهِمۡ يُعَيِّرُ بَعۡضُهُمۡ بَعۡضًا إِذَا أَتَتۡهُ الۡأُنۡثَى، ﴿وَإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِٱلۡأُنثَىٰ ظَلَّ وَجۡهُهُۥ مُسۡوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ﴾ [النحل: ٤٨]، مُمۡتَلِئٌ هَمًّا وَغَمًّا ﴿يَتَوَٰرَىٰ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ﴾ يَعۡنِي: يَخۡتَفِي مِنۡهُمۡ ﴿مِن سُوٓءِ مَا بُشِّرَ بِهِۦٓ ۚ أَيُمۡسِكُهُۥ عَلَىٰ هُونٍ أَمۡ يَدُسُّهُۥ فِى ٱلتُّرَابِ﴾ [النحل: ٥٩]، يَعۡنِي: إِذَا قِيلَ لِأَحَدِهِمۡ: نُبَشِّرُكَ أَنَّ اللّٰهَ جَاءَ لَكَ بِأُنۡثَى بِبِنۡتٍ. اغۡتَمَّ وَاهۡتَمَّ، وَامۡتَلَأَ مِنَ الۡغَمِّ وَالۡهَمِّ، وَصَارَ يُفَكِّرُ هَلۡ يُبۡقِي هٰذِهِ الۡأُنۡثَى عَلَىٰ هُونٍ وَذُلٍّ، أَوۡ يَدُسُّهَا فِي التُّرَابِ وَيَسۡتَرِيحُ مِنۡهَا؟! فَكَانَ بَعۡضُهُمۡ هٰكَذَا، وَبَعۡضُهُمۡ هٰكَذَا. فَمِنۡهُمۡ مَنۡ يَدۡفِنُ الۡبِنۡتَ وَهِيَ حَيَّةٌ، إِمَّا قَبۡلَ أَنۡ تُمَيِّزَ أَوۡ بَعۡدَ أَنۡ تُمَيِّزَ، حَتَّىٰ إِنَّ بَعۡضَهُمۡ كَانَ يَحۡفُرُ الۡحُفۡرَةَ لِبِنۡتِهِ فَإِذَا أَصَابَ لِحۡيَتَهُ شَيۡءٌ مِنَ التُّرَابِ نَفَضَتۡهُ عَنۡ لِحۡيَتِهِ وَهُوَ يَحۡفُرُ لَهَا لِيَدۡفَنَهَا وَلَا يَكُونُ فِي قَلۡبِهِ لَهَا رَحۡمَةٌ، وَهٰذَا يَدُلُّكَ عَلَىٰ أَنَّ الۡجَاهِلِيَّةَ أَمۡرُهَا سَفَالٌ، فَإِنَّ الۡوُحُوشَ تَحۡنُو عَلَىٰ أَوۡلَادِهَا وَهِيَ وُحُوشٌ، وَهٰؤُلَاءِ لَا يَحۡنُونَ عَلَىٰ أَوۡلَادِهِمۡ.

“Dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apakah dia dibunuh.”

Al-Maw’udah adalah bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup. Hal itu terjadi pada masa jahiliah karena kebodohan mereka, buruk sangka mereka kepada Allah, serta ketidaksanggupan mereka (menanggung malu), di mana sebagian mereka mencela sebagian yang lain jika memiliki anak perempuan. Jika salah seorang dari mereka diberi kabar gembira dengan kelahiran anak perempuan, wajahnya menjadi hitam (merah padam) dan dia sangat marah, dipenuhi dengan kegelisahan dan kesedihan.

يَتَوَٰرَىٰ مِنَ ٱلۡقَوۡمِ

“Dia bersembunyi dari orang banyak.”

maksudnya menghilang dari pandangan mereka,

مِن سُوٓءِ مَا بُشِّرَ بِهِۦٓ ۚ أَيُمۡسِكُهُۥ عَلَىٰ هُونٍ أَمۡ يَدُسُّهُۥ فِى ٱلتُّرَابِ

“disebabkan buruknya berita yang disampaikan kepadanya. Apakah dia akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan ataukah akan membenamkannya ke dalam tanah (hidup-hidup)?”

QS An-Nahl: 59

Maksudnya, jika dikatakan kepada salah seorang dari mereka, “Kami kabarkan berita gembira bahwa Allah memberimu seorang anak perempuan—seorang gadis,” maka dia pun merasa sedih dan menderita, hatinya dipenuhi kegundahan dan duka, lalu dia mulai berpikir: apakah dia akan membiarkan anak perempuan ini hidup dalam kehinaan dan kenistaan? Ataukah dia akan menguburnya ke dalam tanah agar dia bisa merasa tenang darinya? Maka sebagian mereka bersikap demikian, dan sebagian lainnya bersikap begitu.

Di antara mereka ada yang mengubur anak perempuannya hidup-hidup, baik sebelum anak itu mencapai usia tamyiz maupun setelahnya. Bahkan ada di antara mereka yang sedang menggali lubang untuk anak perempuannya, lalu ketika ada sedikit tanah yang mengenai jenggot ayahnya, anak itu membersihkan tanah dari jenggotnya, padahal sang ayah sedang menggali lubang untuk menguburnya tanpa ada rasa belas kasihan sedikit pun di dalam hatinya.

Ini menunjukkan kepadamu bahwa urusan jahiliah itu sangatlah rendah, karena sesungguhnya binatang buas sekalipun menyayangi anak-anaknya padahal mereka adalah binatang, sedangkan mereka (orang jahiliah) tidak menyayangi anak-anak mereka.

يَقُولُ عَزَّ وَجَلَّ: ﴿وَإِذَا ٱلۡمَوۡءُۥدَةُ سُئِلَتۡ﴾ تُسۡأَلُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ ﴿بِأَىِّ ذَنۢبٍ قُتِلَتۡ﴾ هَلۡ أَذۡنَبَتۡ؟ فَإِذَا قَالَ قَائِلٌ: كَيۡفَ تُسۡأَلُ وَهِيَ الۡمَظۡلُومَةُ… هِيَ الۡمَدۡفُونَةُ، ثُمَّ هِيَ قَدۡ تُدۡفَنُ وَهِيَ لَا تُمَيِّزُ، وَلَمۡ يَجۡرِ عَلَيۡهَا قَلَمُ التَّكۡلِيفِ، فَكَيۡفَ تُسۡأَلُ؟ قِيلَ: إِنَّهَا تُسۡأَلُ تَوْبِيخًا لِلَّذِي وَأَدَهَا، لِأَنَّهَا تُسۡأَلُ أَمَامَهُ فَيُقَالُ: بِأَيِّ ذَنۡبٍ قُتِلۡتِ أَوۡ قُتِلَتۡ؟ نَظِيرُ ذٰلِكَ لَوْ أَنَّ شَخۡصًا اعۡتَدَىٰ عَلَىٰ آخَرَ فِي الدُّنۡيَا فَأَتَوۡا إِلَى السُّلۡطَانِ -إِلَى الۡأَمِيرِ- فَقَالَ لِلۡمَظۡلُومِ: بِأَيِّ ذَنۡبٍ ضَرَبَكَ هٰذَا الرَّجُلُ؟ وَهُوَ يَعۡرِفُ أَنَّهُ مُعۡتَدًى عَلَيۡهِ، لَيۡسَ لَهُ ذَنۡبٌ، لٰكِنۡ مِنۡ أَجۡلِ التَّوۡبِيخِ لِلظَّالِمِ، فَالۡمَوۡؤُدَةُ تُسۡأَلُ بِأَيِّ ذَنۡبٍ قُتِلَتۡ تَوْبِيخًا لِظَالِمِهَا وَقَاتِلِهَا وَدَافِنِهَا، نَسۡأَلُ اللّٰهَ الۡعَافِيَةَ.

Allah—‘azza wa jalla—berfirman, “Dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya,” Dia ditanya pada hari kiamat, “Karena dosa apakah dia dibunuh?” Apakah dia telah berbuat dosa?

Jika seseorang bertanya: “Bagaimana mungkin dia ditanya padahal dialah pihak yang dizalimi… dialah yang dikubur, apalagi dia terkadang dikubur saat belum mencapai usia tamyiz dan belum berlaku padanya ketentuan syariat (taklif), lalu bagaimana mungkin dia ditanya?”

Maka dijawab: Sesungguhnya dia ditanya sebagai bentuk kecaman bagi orang yang telah menguburnya hidup-hidup, karena dia ditanya di hadapan orang tersebut, lalu dikatakan, “Karena dosa apakah engkau dibunuh?”

Perumpamaannya seperti seseorang yang menganiaya orang lain di dunia, lalu mereka datang menghadap penguasa atau pemimpin, kemudian pemimpin itu bertanya kepada pihak yang dizalimi, “Karena dosa apa laki-laki ini memukulmu?”

Padahal pemimpin itu tahu bahwa orang tersebut dianiaya dan tidak memiliki dosa. Akan tetapi, pertanyaan itu diajukan untuk mengecam si orang yang zalim. Maka bayi yang dikubur hidup-hidup itu ditanya “karena dosa apakah dia dibunuh” sebagai bentuk kecaman bagi orang yang menzalimi, membunuh, dan menguburnya. Kita memohon keselamatan kepada Allah.

Ayat Ke-10

﴿وَإِذَا ٱلصُّحُفُ نُشِرَتۡ﴾ الصُّحُفُ جَمۡعُ صَحِيفَةٍ، وَهِيَ مَا يُكۡتَبُ فِيهَا الۡأَعۡمَالُ. وَاعۡلَمۡ أَيُّهَا الۡإِنۡسَانُ أَنَّ كُلَّ عَمَلٍ تَعۡمَلُهُ مِنۡ قَوۡلٍ أَوۡ فِعۡلٍ فَإِنَّهُ يُكۡتَبُ وَيُسَجَّلُ بِصَحَائِفَ عَلَىٰ يَدِ أُمَنَاءَ كِرَامٍ كَاتِبِينَ يَعۡلَمُونَ مَا تَفۡعَلُ، يُسَجَّلُ كُلُّ شَيۡءٍ تَعۡمَلُهُ حَتَّىٰ تُوَافَىٰ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ فَإِنَّ اللهَ سُبۡحَانَهُ وَتَعَالَىٰ يَقُولُ فِي كِتَابِهِ: ﴿وَكُلَّ إِنسَٰنٍ أَلۡزَمۡنَٰهُ طَٰٓئِرَهُۥ فِى عُنُقِهِۦ﴾ يَعۡنِي عَمَلَهُ فِي عُنُقِهِ ﴿ۖوَنُخۡرِجُ لَهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ كِتَٰبًا يَلۡقَىٰهُ مَنشُورًا﴾ مَفۡتُوحًا ﴿ٱقۡرَأۡ كِتَٰبَكَ كَفَىٰ بِنَفۡسِكَ ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكَ حَسِيبًا﴾ [الإسراء: ١٣-١٤].

“Dan apabila lembaran-lembaran (catatan amal) telah dibuka lebar-lebar.” Ash-Shuhuf adalah bentuk jamak dari shahifah, yaitu media yang digunakan untuk menuliskan amal perbuatan.

Ketahuilah wahai manusia, bahwa setiap amal yang engkau kerjakan, baik berupa perkataan maupun perbuatan, semuanya ditulis dan dicatat dalam lembaran-lembaran melalui perantara para (malaikat) penjaga yang mulia lagi mencatat, mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan. Segala sesuatu yang engkau lakukan dicatat hingga engkau menyempurnakannya pada hari kiamat kelak. Sesungguhnya Allah—subhanahu wa ta’ala—berfirman dalam kitab-Nya,

وَكُلَّ إِنسَٰنٍ أَلۡزَمۡنَٰهُ طَٰٓئِرَهُۥ فِى عُنُقِهِۦ

“Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya.”

Maksudnya adalah amal perbuatannya berada di lehernya.

وَنُخۡرِجُ لَهُۥ يَوۡمَ ٱلۡقِيَٰمَةِ كِتَٰبًا يَلۡقَىٰهُ مَنشُورًا

“Dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya dalam keadaan terbuka lebar.”

Arti mansyura adalah terbuka.

ٱقۡرَأۡ كِتَٰبَكَ كَفَىٰ بِنَفۡسِكَ ٱلۡيَوۡمَ عَلَيۡكَ حَسِيبًا

“Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada hari ini sebagai penghisab terhadapmu.”

QS Al-Isra: 13-14

كَلَامُنَا الۡآنَ وَنَحۡنُ نَتَكَلَّمُ يُكۡتَبُ، كَلَامُ بَعۡضِكُمۡ مَعَ بَعۡضٍ يُكۡتَبُ، كُلُّ كَلَامٍ يُكۡتَبُ ﴿مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ﴾ [ق: ١٨]؛ وَلِهَٰذَا قَالَ النَّبِيُّ عَلَيۡهِ الصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ: (مِنۡ حُسۡنِ إِسۡلَامِ الۡمَرۡءِ تَرۡكُهُ مَا لَا يَعۡنِيهِ)، وَقَالَ: (مَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ فَلۡيَقُلۡ خَيۡرًا أَوۡ لِيَصۡمُتۡ)؛ لِأَنَّ كُلَّ شَيۡءٍ سَيُكۡتَبُ عَلَيۡهِ، وَمَنۡ كَثُرَ كَلَامُهُ كَثُرَ سَقَطُهُ، يَعۡنِي: الَّذِي يُكۡثِرُ الۡكَلَامَ يَكۡثُرُ مِنۡهُ السَّقَطُ وَالزَّلَّاتُ، فَاحۡفَظۡ لِسَانَكَ فَإِنَّ الصُّحُفَ سَوۡفَ يُكۡتَبُ فِيهَا كُلُّ مَا تَقُولُ، وَسَوۡفَ تُنۡشَرُ لَكَ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ.

Ucapan kita sekarang saat kita sedang berbicara ini dicatat. Ucapan sebagian kalian dengan yang lainnya dicatat. Setiap ucapan dicatat.

مَّا يَلۡفِظُ مِن قَوۡلٍ إِلَّا لَدَيۡهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

“Tidak ada suatu kata pun yang terucap melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.”

QS Qaf: 18

Oleh karena itu, Nabi—shallallahu ‘alaihi wa sallam—bersabda,

مِنۡ حُسۡنِ إِسۡلَامِ الۡمَرۡءِ تَرۡكُهُ مَا لَا يَعۡنِيهِ

“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal yang tidak bermanfaat baginya.”1 (HR At-Tirmidzi nomor 2317 dan Ibnu Majah nomor 3976).

Beliau juga bersabda,

مَنۡ كَانَ يُؤۡمِنُ بِاللهِ وَالۡيَوۡمِ الۡآخِرِ فَلۡيَقُلۡ خَيۡرًا أَوۡ لِيَصۡمُتۡ

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik atau diam.”2 (HR Al-Bukhari nomor 6018 dan Muslim nomor 47).

Karena segala sesuatu akan dicatat atasnya. Barang siapa yang banyak bicaranya, akan sering jatuh (dalam kesalahan); maksudnya, orang yang memperbanyak bicara akan banyak mengalami kesalahan dan ketergelinciran. Maka jagalah lisanmu, karena lembaran-lembaran (catatan amal) itu akan ditulis padanya segala apa yang engkau ucapkan dan akan dibentangkan untukmu pada hari kiamat kelak.

Ayat Ke-11

﴿وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتۡ﴾ السَّمَاءُ الۡآنَ سَقۡفٌ مَحۡفُوظٌ قَوِيٌّ شَدِيدٌ، قَالَ تَعَالَىٰ: ﴿وَٱلسَّمَآءَ بَنَيۡنَٰهَا بِأَيۡي۟دٍ﴾ [الذاريات: ٤٧]، أَيۡ: بِقُوَّةٍ، وَقَالَ تَعَالَىٰ: ﴿وَبَنَيۡنَا فَوۡقَكُمۡ سَبۡعًا شِدَادًا﴾ [النبأ: ١٢]، أَيۡ: قَوِيَّةً.

“Dan apabila langit dilenyapkan.” Langit yang sekarang adalah atap yang terpelihara, kokoh, lagi kuat. Allah taala berfirman,

وَٱلسَّمَآءَ بَنَيۡنَٰهَا بِأَيۡي۟دٍ

“Dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan.”

QS Adz-Dzariyat: 47

Maksudnya adalah dengan kekuatan.

Allah taala juga berfirman,

وَبَنَيۡنَا فَوۡقَكُمۡ سَبۡعًا شِدَادًا

“Dan Kami bangun di atas kalian tujuh buah (langit) yang kokoh.”

QS An-Naba: 12

Maksudnya adalah kuat.

وَفِي يَوۡمِ الۡقِيَامَةِ تُكۡشَطُ يَعۡنِي: تُزَالُ عَنۡ مَكَانِهَا، كَمَا يُكۡشَطُ الۡجِلۡدُ عِنۡدَ سَلۡخِ الۡبَعِيرِ عَنِ اللَّحۡمِ، يَكۡشِطُهَا اللهُ عَزَّ وَجَلَّ، ثُمَّ يَطۡوِيهَا جَلَّ وَعَلَا بِيَمِينِهِ، كَمَا قَالَ تَعَالَىٰ: ﴿وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦ﴾ [الزمر: ٦٧]، ﴿يَوۡمَ نَطۡوِى ٱلسَّمَآءَ كَطَىِّ ٱلسِّجِلِّ لِلۡكُتُبِ﴾ [الأنبياء: ١٠٤]، يَعۡنِي: كَمَا يَطۡوِي السِّجِلُّ الۡكُتُبَ، يَعۡنِي: الۡكَاتِبَ إِذَا فَرَغَ مِنۡ كِتَابَتِهِ طَوَى الۡوَرَقَةَ حِفۡظًا لَهَا عَنِ التَّمَزُّقِ وَعَنِ الۡمَحۡوِ، فَالسَّمَاءُ تُكۡشَطُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ وَيَبۡقَى الۡأَمۡرُ فَضَاءً إِلَّا أَنَّ اللهَ تَعَالَىٰ يَقُولُ: ﴿وَيَحۡمِلُ عَرۡشَ رَبِّكَ فَوۡقَهُمۡ يَوۡمَئِذٍ ثَمَٰنِيَةٌ﴾ [الحاقة: ١٧]، يَكُونُ بَدَلَ السَّمَاءِ الَّتِي فَوۡقَنَا الۡآنَ الۡعَرۡشُ؛ لِأَنَّ السَّمَاءَ تُطۡوَى بِيَمِينِ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ يَطۡوِيهَا بِيَمِينِهِ وَيَهُزُّهَا، وَكَذٰلِكَ يَقۡبِضُ الۡأَرۡضَ وَيَقُولُ: (أَنَا الۡمَلِكُ، أَيۡنَ مُلُوكُ الۡأَرۡضِ؟!).

Pada hari kiamat kelak, langit itu dilenyapkan, yaitu dihilangkan dari tempatnya sebagaimana kulit dikelupas saat menguliti unta dari dagingnya. Allah—‘azza wa jalla—melenyapkannya kemudian Dia—jalla wa ‘ala—melipatnya dengan tangan kanan-Nya sebagaimana firman Allah taala,

وَٱلسَّمَٰوَٰتُ مَطۡوِيَّٰتُۢ بِيَمِينِهِۦ

“Dan langit-langit itu digulung dengan tangan kanan-Nya.”

QS Az-Zumar: 67

يَوۡمَ نَطۡوِى ٱلسَّمَآءَ كَطَىِّ ٱلسِّجِلِّ لِلۡكُتُبِ

“(Yaitu) pada hari Kami gulung langit sebagaimana menggulung lembaran-lembaran kertas untuk catatan.”

QS Al-Anbiya: 104

Maksudnya adalah sebagaimana lembaran catatan menggulung tulisan; yaitu seorang penulis apabila telah selesai dari tulisannya, ia melipat kertas tersebut untuk menjaganya agar tidak robek atau terhapus.

Maka langit akan dilenyapkan pada hari kiamat dan yang tersisa adalah ruang hampa, kecuali apa yang Allah taala firmankan,

وَيَحۡمِلُ عَرۡشَ رَبِّكَ فَوۡقَهُمۡ يَوۡمَئِذٍ ثَمَٰنِيَةٌ

“Dan arasy Rabmu pada hari itu dipikul oleh delapan malaikat di atas mereka.”

QS Al-Haqqah: 17

Sebagai ganti dari langit yang ada di atas kita sekarang adalah arasy; karena langit dilipat oleh tangan kanan Allah—‘azza wa jalla—. Dia melipatnya dengan tangan kanan-Nya dan mengguncangkannya. Demikian pula Dia menggenggam bumi dan berkata, “Akulah Raja, di manakah raja-raja bumi?”

Ayat Ke-12

﴿وَإِذَا ٱلۡجَحِيمُ سُعِّرَتۡ﴾ الۡجَحِيمُ هِيَ النَّارُ، وَسُمِّيَتۡ بِذٰلِكَ لِبُعۡدِ قَعۡرِهَا وَظُلۡمَةِ مَرۡآهَا، تُسَعَّرُ أَيۡ: تُوقَدُ، وَمَا وَقُودُهَا الَّذِي تُوقَدُ بِهِ؟ وَقُودُهَا الَّذِي تُوقَدُ بِهِ قَالَ اللهُ عَنۡهُ: ﴿يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ﴾ [التحريم: ٦]، بَدَلَ مَا تُوقَدُ بِالۡحَطَبِ يَكُونُ الۡوَقُودُ النَّاسَ، يَعۡنِي: الۡكُفَّارَ، وَالۡحِجَارَةُ حِجَارَةٌ مِنۡ نَارٍ عَظِيمَةٍ شَدِيدَةِ الۡاِشۡتِعَالِ شَدِيدَةِ الۡحَرَارَةِ، هٰذَا تَسۡعِيرُ جَهَنَّمَ.

“Dan apabila neraka Jahim dinyalakan,” Al-Jahim adalah neraka, dinamakan demikian karena kedalaman dasarnya dan kegelapan tampilannya. Tusa‘‘aru maknanya dinyalakan. Apa bahan bakar yang digunakan untuk menyalakannya? Bahan bakar yang digunakan untuk menyalakannya telah difirmankan oleh Allah tentangnya:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ قُوٓا۟ أَنفُسَكُمۡ وَأَهۡلِيكُمۡ نَارًا وَقُودُهَا ٱلنَّاسُ وَٱلۡحِجَارَةُ

“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah diri kalian dan keluarga kalian dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.”

QS At-Tahrim: 6

Sebagai ganti dinyalakan dengan kayu bakar, maka bahan bakarnya adalah manusia yakni orang-orang kafir. Dan batu tersebut adalah batu dari api yang sangat besar, sangat kuat nyalanya, dan sangat panas; inilah penyalaan neraka Jahanam.

Ayat Ke-13

﴿وَإِذَا ٱلۡجَنَّةُ﴾ الۡجَنَّةُ دَارُ الۡمُتَّقِينَ، فِيهَا مَا لَا عَيۡنٌ رَأَتۡ، وَلَا أُذُنٌ سَمِعَتۡ، وَلَا خَطَرَ عَلَىٰ قَلۡبِ بَشَرٍ، ﴿أُزۡلِفَتۡ﴾ يَعۡنِي: قُرِّبَتۡ وَزُيِّنَتۡ لِلۡمُؤۡمِنِينَ، وَانۡظُرِ الۡفَرۡقَ بَيۡنَ هٰذَا وَذَاكَ، دَارُ الۡكُفَّارِ تُسَعَّرُ، تُوقَدُ، وَدَارُ الۡمُؤۡمِنِينَ تُزَيَّنُ وَتُقَرَّبُ ﴿وَإِذَا ٱلۡجَنَّةُ أُزۡلِفَتۡ﴾ كُلُّ هٰذَا يَكُونُ يَوۡمَ الۡقِيَامَةِ.

“Dan apabila janah,” janah adalah negeri bagi orang-orang yang bertakwa, di dalamnya terdapat hal-hal yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terbetik dalam hati manusia. “Uzlifat” maknanya didekatkan dan dihias untuk orang-orang mukmin.

Lihatlah perbedaan antara ini dan itu. Negeri orang-orang kafir dinyalakan dan dikobarkan, sedangkan negeri orang-orang mukmin dihias dan didekatkan. “Dan apabila janah didekatkan,” semua ini terjadi pada hari kiamat.

إِذَا قَرَأۡنَا هٰذِهِ الۡآيَاتِ: ﴿إِذَا ٱلشَّمۡسُ كُوِّرَتۡ ۝١ وَإِذَا ٱلنُّجُومُ ٱنكَدَرَتۡ ۝٢ وَإِذَا ٱلۡجِبَالُ سُيِّرَتۡ ۝٣ وَإِذَا ٱلۡعِشَارُ عُطِّلَتۡ ۝٤ وَإِذَا ٱلۡوُحُوشُ حُشِرَتۡ ۝٥ وَإِذَا ٱلۡبِحَارُ سُجِّرَتۡ ۝٦ وَإِذَا ٱلنُّفُوسُ زُوِّجَتۡ ۝٧ وَإِذَا ٱلۡمَوۡءُۥدَةُ سُئِلَتۡ ۝٨ بِأَىِّ ذَنۢبٍ قُتِلَتۡ ۝٩ وَإِذَا ٱلصُّحُفُ نُشِرَتۡ ۝١٠ وَإِذَا ٱلسَّمَآءُ كُشِطَتۡ ۝١١ وَإِذَا ٱلۡجَحِيمُ سُعِّرَتۡ ۝١٢ وَإِذَا ٱلۡجَنَّةُ أُزۡلِفَتۡ﴾ هٰذِهِ اثۡنَتَا عَشۡرَةَ جُمۡلَةً إِلَى الۡآنَ لَمۡ يَأۡتِ بِالۡجَوَابِ. لِأَنَّ كُلَّهَا فِي ضِمۡنِ الشَّرۡطِ.

Jika kita membaca ayat-ayat ini: “Apabila matahari digulung, dan apabila bintang-bintang berjatuhan, dan apabila gunung-gunung dihancurkan, dan apabila unta-unta yang bunting ditinggalkan, dan apabila binatang-binatang liar dikumpulkan, dan apabila lautan dipanaskan, dan apabila ruh-ruh dipertemukan, dan apabila bayi perempuan yang dikubur hidup-hidup ditanya, karena dosa apa dia dibunuh, dan apabila catatan-catatan amal dibuka, dan apabila langit dilenyapkan, dan apabila neraka Jahim dinyalakan, dan apabila janah didekatkan,” ini adalah dua belas kalimat yang sampai saat ini belum muncul jawabannya (kalimat penjelas/akibatnya) karena semuanya berada dalam cakupan syarat.

Ayat Ke-14

﴿إِذَا ٱلشَّمۡسُ كُوِّرَتۡ﴾ فَالۡجَوَابُ لَمۡ يَأۡتِ بَعۡدُ، مَاذَا يَكُونُ إِذَا كَانَتۡ هٰذِهِ الۡأَشۡيَاءُ؟ قَالَ اللهُ تَعَالَىٰ: ﴿عَلِمَتۡ نَفۡسٌ مَّآ أَحۡضَرَتۡ﴾؛ أَيۡ: مَا قَدَّمَتۡهُ مِنۡ خَيۡرٍ وَشَرٍّ، كَمَا قَالَ اللهُ تَعَالَى: ﴿يَوۡمَ تَجِدُ كُلُّ نَفۡسٍ مَّا عَمِلَتۡ مِنۡ خَيۡرٍ مُّحۡضَرًا وَمَا عَمِلَتۡ مِن سُوٓءٍ﴾ [آل عمران: ٣٠]، يَعۡنِي: يَكُونُ مُحۡضَرًا أَيۡضًا، ﴿تَوَدُّ لَوۡ أَنَّ بَيۡنَهَا وَبَيۡنَهُۥٓ أَمَدَۢا بَعِيدًا ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ ٱللَّهُ نَفۡسَهُۥ﴾ [آل عمران: ٣٠]، فَتَعۡلَمُ فِي ذٰلِكَ الۡيَوۡمِ كُلُّ نَفۡسٍ مَا أَحۡضَرَتۡ مِنۡ خَيۡرٍ أَوۡ شَرٍّ، وَفِي الدُّنۡيَا نَعۡلَمُ مَا نَعۡمَلُ مِنۡ خَيۡرٍ وَشَرٍّ، لٰكِنۡ سَرۡعَانَ مَا نَنۡسَى، نَسِينَا الشَّيۡءَ الۡكَثِيرَ لَا مِنَ الطَّاعَاتِ وَلَا مِنَ الۡمَعَاصِي، وَلٰكِنۡ هٰذَا لَنۡ يَذۡهَبَ سُدًى كَمَا نَسِينَاهُ؟ بَلۡ وَاللهِ هُوَ بَاقٍ، فَإِذَا كَانَ يَوۡمُ الۡقِيَامَةِ أَحۡضَرۡتَهُ أَنۡتَ بِإِقۡرَارِكَ عَلَىٰ نَفۡسِكَ بِأَنَّكَ عَمِلۡتَهُ؛ وَلِهٰذَا قَالَ تَعَالَىٰ: ﴿عَلِمَتۡ نَفۡسٌ مَّآ أَحۡضَرَتۡ﴾.

“Apabila matahari digulung,” maka jawabannya (kalimat penjelas/akibatnya) belum muncul; apa yang akan terjadi jika hal-hal ini terjadi? Allah taala berfirman,

عَلِمَتۡ نَفۡسٌ مَّآ أَحۡضَرَتۡ

“Maka setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah ia hadirkan,”

yakni apa yang telah ia kerjakan berupa kebaikan dan keburukan.

يَوۡمَ تَجِدُ كُلُّ نَفۡسٍ مَّا عَمِلَتۡ مِنۡ خَيۡرٍ مُّحۡضَرًا وَمَا عَمِلَتۡ مِن سُوٓءٍ

“Pada hari ketika setiap jiwa mendapatkan balasan atas kebajikan yang telah dikerjakannya dihadirkan (di hadapannya), begitu juga balasan atas kejahatan yang telah dikerjakannya”

QS Ali ‘Imran: 30

Maksudnya, kejahatan itu juga dihadirkan.

تَوَدُّ لَوۡ أَنَّ بَيۡنَهَا وَبَيۡنَهُۥٓ أَمَدَۢا بَعِيدًا ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ ٱللَّهُ نَفۡسَهُۥ

“Ia berharap kiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan hari itu; dan Allah memperingatkan kalian akan diri-Nya.”

QS Ali ‘Imran: 30

Maka pada hari itu, setiap jiwa akan mengetahui amalan yang telah ia hadirkan, baik kebaikan maupun keburukan. Di dunia kita mengetahui amalan yang kita kerjakan berupa kebaikan dan keburukan, tetapi kita sangat cepat melupakannya. Kita telah melupakan banyak hal, baik itu ketaatan maupun kemaksiatan, namun apakah hal ini akan hilang sia-sia sebagaimana kita melupakannya? Sama sekali tidak, demi Allah, hal itu tetap ada. Maka apabila hari kiamat tiba, engkau sendirilah yang menghadirkan amal itu dengan pengakuanmu terhadap dirimu sendiri bahwa engkau telah mengerjakannya. Oleh karena itu, Allah taala berfirman,

عَلِمَتۡ نَفۡسٌ مَّآ أَحۡضَرَتۡ

“Maka setiap jiwa akan mengetahui apa yang telah ia hadirkan.”

فَيَنۡبَغِي، بَلۡ يَجِبُ عَلَى الۡإِنۡسَانِ أَنۡ يَتَأَمَّلَ فِي هٰذِهِ الۡآيَاتِ الۡعَظِيمَةِ، وَأَنۡ يَتَّعِظَ بِمَا فِيهَا مِنَ الۡمَوَاعِظِ، وَأَنۡ يُؤۡمِنَ بِهَا كَأَنَّهُ يَرَاهَا رَأۡيَ عَيۡنٍ؛ لِأَنَّ مَا أَخۡبَرَ اللهُ بِهِ وَعَلِمۡنَا مَدۡلُولَهُ فَإِنَّهُ أَشَدُّ يَقِينًا عِنۡدَنَا مِمَّا شَاهَدۡنَاهُ بِأَعۡيُنِنَا أَوۡ سَمِعۡنَاهُ بِآذَانِنَا؛ لِأَنَّ خَبَرَ اللهِ لَا يُكَذَّبُ، صِدۡقٌ، لٰكِنۡ مَا نَرَاهُ أَوۡ نَسۡمَعُهُ كَثِيرًا مَا يَقَعُ فِيهِ الۡوَهۡمُ. قَدۡ تَرَى الشَّيۡءَ الۡبَعِيدَ شَبَحًا تُعَيِّنُهُ فِي تَصَوُّرِكَ وَهُوَ خِلَافُ الۡوَاقِعِ، وَقَدۡ تَسۡمَعُ الصَّوۡتَ فَتَظُنُّهُ شَيۡئًا مُعَيَّنًا فِي ذِهۡنِكَ وَهُوَ خِلَافُ الۡوَاقِعِ، فَالۡوَهۡمُ يَرِدُ عَلَى الۡحَوَاسِّ، لٰكِنۡ خَبَرُ اللهِ عَزَّ وَجَلَّ إِذَا عُلِمَ مَدۡلُولُهُ لَا يُمۡكِنُ أَبَدًا أَنۡ يَرِدَ عَلَيۡهِ شَيۡءٌ مِنَ الۡوَهۡمِ؛ لِأَنَّهُ خَبَرُ صِدۡقٍ، فَهٰذِهِ الۡأُمُورُ الَّتِي ذَكَرَ اللهُ فِي هٰذِهِ الۡآيَاتِ أُمُورٌ حَقِيقِيَّةٌ يَجِبُ أَنۡ تُؤۡمِنَ بِهَا كَأَنَّكَ تَرَاهَا رَأۡيَ عَيۡنٍ، ثُمَّ بَعۡدَ الۡإِيمَانِ بِهَا يَجِبُ أَنۡ تَعۡمَلَ بِمُقۡتَضَىٰ مَا تَدُلُّ عَلَيۡهِ مِنَ الِاتِّعَاظِ وَالۡاِنۡزِجَارِ، وَالۡقِيَامِ بِالۡوَاجِبِ، وَتَرۡكِ الۡمَنۡهِيَّاتِ حَتَّىٰ تَكُونَ مِنۡ أَهۡلِ الۡقُرۡآنِ الَّذِينَ يَتۡلُونَهُ حَقَّ تِلَاوَتِهِ.

Maka sepantasnya, bahkan wajib bagi manusia untuk merenungi ayat-ayat yang agung ini dan mengambil pelajaran dari nasihat-nasihat yang terkandung di dalamnya, serta beriman kepadanya seolah-olah ia melihatnya dengan mata kepala sendiri. Karena apa yang dikabarkan oleh Allah dan telah kita ketahui maknanya, maka hal itu lebih meyakinkan bagi kita daripada apa yang kita saksikan dengan mata kita atau kita dengar dengan telinga kita; karena kabar dari Allah tidak bisa didustakan, ia adalah kebenaran. Sedangkan apa yang kita lihat atau kita dengar, sering kali tertimpa waham. Terkadang engkau melihat sesuatu yang jauh sebagai bayangan yang engkau tentukan dalam imajinasimu, padahal ia menyelisihi kenyataan. Terkadang pula engkau mendengar suara lalu engkau menyangka itu suara sesuatu yang tertentu dalam benakmu, padahal ia menyelisihi kenyataan. Jadi, keraguan bisa menimpa panca indra. Akan tetapi, kabar dari Allah—‘azza wa jalla—apabila telah diketahui maknanya, tidak mungkin selamanya akan tertimpa waham sedikit pun; karena ia adalah kabar yang benar. Maka perkara-perkara yang Allah sebutkan dalam ayat-ayat ini adalah perkara nyata yang wajib engkau imani seolah-olah engkau melihatnya dengan mata kepala sendiri. Kemudian setelah mengimaninya, engkau wajib beramal sesuai dengan konsekuensi yang ditunjukkannya, yaitu berupa pengambilan pelajaran, menjauhkan diri dari larangan, melaksanakan kewajiban, dan meninggalkan hal-hal yang dilarang, sehingga engkau menjadi bagian dari ahli Al-Qur’an yang membacanya dengan sebenar-benarnya bacaan.


Sumber: Tafsir Al-Qur’an Al-Karim Juz ‘Amma, surah At-Takwir, karya Syekh Muhammad bin Shalih Al-‘Utsaimin (wafat 1421 H) rahimahullah

Be the first to leave a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *